
Hari Senin, pukul 09:01 pagi hari nan cerah, udara yang lumayan sejuk, di SMA Lily Kasih tengah diadakan acara perpisahan kelulusan tepatnya penerimaan ijazah, hanya murid kelas 12 yang hadir di sekolah, sisanya di rumah, para murid telah duduk di kursi di lapangan upacara, seluruh guru hadir, suasana tengah berjalan serius sebab sang kepala sekolah tengah menuturkan pidatonya, paling hanya ucapan terima kasih dan mendo'akan agar sukses, sampai membuat Derka tertunduk tidur dengan bersendar.
Riuh tepuk tangan tiba-tiba bergema tanda kepala sekolah telah menyelesaikan pidatonya, maka Derka terbangun kaget mendengar tepuk tangan teman-temannya, buru-buru dia pun ikut bertepuk tangan agar terkesan baik-baik saja.
Farka serta Areny duduk bersebelahan di barisan paling depan, mereka nampak terlihat paling gembira di antara teman-temannya, bahkan Eril, Sazan dan Zeni tampak segar.
Ralat, semua murid mengenakan seragam sekolah lengkap dengan tas gendongnya.
Saat semua menjadi hening, seorang wanita berumur 30 tahun, berhidung mancung layaknya orang Eropa, dengan rambut hitam panjangnya dikucir ke belakang, lengkap dengan pakaian formalnya, ditambah kaca mata hitam yang melekat mantap menutup matanya, Sieren ibu tiri kejam Fihan, akan membacakan surat wasiat yang dibuat Fihan.
Berdiri tegap di depan mikrofon, sembari membacakan surat wasiat tersebut.
Teruntuk semua pelajar dan pengajar di SMA Lily Kasih, saya Fihan, anak yang selalu menentang dan menantang guru-guru, ingin menuturkan kalimat-kalimat terakhir kepergian saya, agar dengan begitu, baik masalah maupun dendam terhadap saya dapat terselesaikan hari ini juga, izinkan saya meminta maaf atas segala kurang ajarnya saya, dan bagi teman-teman saya, selamat atas kelulusan kalian, ada poin-poin penting yang wajib saya utarakan, perihal janji pada teman-teman saya, pertama, Sazan, aku harap, kau sudah lebih kuat dari sebelumnya, kedua Zeni, tentang menunggu hari kelulusan, kamu sudah mendapatkan hari ini, bahwa hari yang tak bisa aku dapati, ketiga untuk Eril, jangan menangisi kematianku, itu sia-sia belaka, do'akan aku agar bertemu dengan Tuhanku, itu baru lebih berarti, keempat untuk Guru Kativa lengkap dengan seluruh guru-guru yang aku lawan, aku punya pernyataan penting jawaban yang tak bisa kalian jawab, tapi aku jawab dengan kiasan, agar otak kalian tidak menganggur, yaitu, aku adalah langit dan bumi, tapi, langit dan bumi bukanlah aku, nah, selamat berpikir, dan untuk semua teman-temanku, aku punya cerita unik dari ibuku tercinta, tolong pasang kuping kalian baik-baik agar tak hanya jadi pajangan semata. 'Kala sang dicinta akan pergi, sang pecinta yang menangis pilu menuntut untuk ikut, tapi sang dicinta berkata, “Aku akan pergi ke neraka.” lalu sang pecinta berkata "Aku tak peduli, aku tetap ikut,“ tapi sang dicinta tak ingin melihat sang pecinta menderita dalam keabadian, sehingga dia berkata, ”Tuhan tak akan membiarkanmu ikut,“ namun sang pecinta bersikukuh sambil berkata, "Aku tidak takut masuk neraka! Dan aku tidak menginginkan surga! Aku tidak percaya Tuhan itu ada, siapa Tuhan? Jika pun Tuhan memperkenalkan dirinya padaku, dan aku memperkenalkan Tuhan padamu, niscaya kamu pasti akan memenggal kepalaku, karena aku tahu! Aku hanya membutuhkan Tuhan, jadi biar aku disiksa bersamamu, dan mari kita pergi ke neraka, kita lihat apakah Tuhan itu ada?” dan mereka kesakitan dalam neraka, bahkan mereka menyesal, yang mereka sesali bukan karena masuk ke dalam neraka, melainkan, karena mereka tidak menemukan Tuhan di sana, setelah seribu tahun, Tuhan melahirkan mereka kembali, namun karena Tuhan menciptakan kebaikan, maka mereka berdua dimasukkan ke dalam surga, sayangnya juga mereka tak menemukan Tuhan di surga, tapi, sekali lagi, mereka dilahirkan kembali, untung bagi mereka, kali ini Tuhan memperkenalkan dirinya pada mereka, sesaat kemudian mereka mati, maka dalam kematian mereka hanya menemukan rahasia,' nah, sekarang aku sudah mati, jadi, selamat merayakan kemantianku, satu hal yang pasti! Persetan dengan kalian semua! Jika aku tetap hidup, aku akan selalu menantang seluruh manusia di dunia untuk bisa memenggal kepalaku, dan persetan jika neraka yang akan aku singgahi, jadi, sampai jumpa di neraka nanti.
“Terima kasih,” tutup Sieren lalu kembali ke posisi awalnya.
Seluruh murid hanya terdiam agak kaget dengan surat wasiat Fihan.
“Eh... si cecunguk mah... sudah mati juga... masih saja kukuh menentang kami-kami ini ya...” umpat Derka dengan menggeleng-geleng tak menyangka.
Hanya Eril yang tertunduk dengan kuyu, sampai-sampai Zeni harus mengelus punggung Eril berharap Eril bisa tenang.
Dan acara pun ditutup dengan pemberian ijazah, serta jabat tangan perpisahan, semua murid kelas 12 lulus dengan nilai terbaik, begitu pun dengan Derka si anak bengal. Namun seluruh murid tidak langsung pulang ke rumah, mereka justru masih berkumpul untuk ngobrol sambil berpisah demi menghadapi kehidupan selanjutnya. Farka, serta para penulis autobiografi pun tengah berkumpul berbincang tentang masa depan yang akan mereka bentuk.
“Aku akan bekerja,” kata Zeni dengan singkat tanpa senyuman.
“Aku mau melanjutkan pendidikanku di negara Finlandia, harapannya sih bisa menjadi seorang psikolog,” ungkap Eril.
“Wah jauh banget ya... kenapa jauh banget Eril?” timpal Areny penasaran.
“Hmmmmm.... enggak apa-apa,” jawab Eril sambil menggelengkan kepala penuh rahasia.
Mendadak Areny mengembangkan senyuman dengan wajah konyol.
“Biar lupa sama Fihan ya...?” goda Eril.
“Eh? Bukan begitu... aku memang ingin jauh-jauh saja... lagian kota ini bertambah sesak...” kata Eril dengan bersedekap menyilang sambil membuang muka memberi kesan alasannya benar, namun lebih menjurus pada kebohongan.
“Hmmmmm... begitu...” gumam Areny mengangguk-angguk yang nyatanya tak ingin menggoda Eril lebih jauh lagi.
“Kalau aku!” sela Sazan dengan suara lantang hingga seluruh sorot mata langsung tertuju padanya yang memang dia ingin menjadi pusat perhatian.
“...aku ingin menjadi koki...! Sudah itu saja sih... hehehe...” lanjutnya dengan keceriaan yang kentara.
Semua teman Sazan tersenyum dengan anggukkan mantap, berharap Sazan berhasil meraih mimpinya.
“Nah...” ucapan Farka terpotong.
“Ketua kelas! Ketua kelas!” seru Kahji.
Sontak semua orang langsung mengarahkan perhatian pada Kahji, dengan pandangan serius penuh tanya. Namun semua pandangan justru lebih tertuju pada orang-orang di belakang Kahji, tak disangka, seluruh murid SMA Lily Kasih telah berdiri di belakang Kahji. Tepatnya, para adik kelas yang datang sambil banyak membawa hadiah perpisahan. Sekonyong-konyongnya tangan kanan Farka ditarik untuk menghampiri adik-adik kelas di dekat gerbang sekolah.
“Ketua kelas!” seru gadis berambut lurus panjang kelas 11 yang kini menjadi kelas 12 sambil melambaikan tangan penuh ceria.
Jelas seluruh teman Farka pun ikut menghampiri adik-adik kelas demi melihat perbuatan mereka lebih dekat. Saat Farka telah berdiri di depan adik-adik kelasnya, mendadak seluruh murid langsung mengerumuni Farka, layaknya aktor papan atas yang dikejar-kejar para penggemarnya, sampai-sampai Kahji sang asisten yang hanya setia pada Farka, hingga terdorong ke belakang seolah terabaikan.
“Loh loh loh...” gerutu Kahji dengan terpaksa berdiri di samping Zeni.
“Ini hadiah untukmu ketua kelas...” kata gadis kelas 11 yang kini menjadi kelas 12 sembari menyodorkan sebuah bingkisan.
__ADS_1
“Ketua tanda tangani bukuku!” sambung anak laki-laki.
“Ketua, mari kita foto!”
“Ketua! Minta kancing kemejamu!”
“Waduh waduh waduh... tenang ini tuh ada apa?” tanya Farka tak nyaman dan agak kewalahan.
Seluruh adik-adik kelas pun memberikan banyak hadiah untuk Farka, sekaligus meminta Farka agar memberikan pakaian Farka sebagai kenangan.
“Wah wah wah... ketua kelas sudah kayak presiden saja ya...” kata Kahji terkagum-kagum.
Zeni tak menanggapi hanya terdiam tak peduli, Eril bermuka masam, dia masih mengingat Fihan, Areny tersenyum kagum dan semakin cinta pada Farka. Sedangkan Derka terlihat agak iri dari kejauhan, berdiri di teras ruang Guru bersama Hurta si laki-laki pendek, berhidung pesek, kepala botaknya masih tertutup topi Derbi nuansa biru kebanggaannya.
“Sialan... padahal si Farka anak bodoh kok dikagumi,” umpat Derka dengan bersedekap menyilang.
“Daripada si Fihan, sudah sombong, sok bijak, sok paling benar, mati lagi sekarang...” sela Hurta sembari bersedekap menyilang.
“Ahk... ucapanmu tidak membantuku sama sekali....” ketus Derka.
“Eh? Kau ingin aku membantu apa?” heran Hurta dengan memandang Derka penuh keanehan.
“Ahk sudah-sudah, kagak perlu dibahas,” sanggah Derka dengan geram yang masih iri pada Farka.
“Oooooohhh kau ingin dikenang juga ya... ahk mana ada orang yang suka pada laki-laki rasis dan mesum kayak kau itu... bahkan ibumu sendiri meludah jijik ke wajahmu,” ujar Hurta mencibir.
“Eh konyol kau...” kata Derka tak terima sambil mengarahkan buku tangan yang dikepalkan pada Hurta.
Tapi secara mendadak, Derka kembali ke sikap awal, sedangkan Hurta langsung bersikap tegap dengan wajah senang yang tersirat di raut muka seriusnya, karena ada seorang gadis datang menghampiri mereka, gadis botak, datang dengan tersenyum jengah pada Hurta.
“Eh... Kunia...” kata Hurta menyambut gembira.
“Iya nih! Ada apa?” balas Hurta yang tiba-tiba menyelipkan kedua tangan ke saku celana sekolahnya dan bersikap layaknya pria keren namun jatuhnya seperti laki-laki norak.
Mata hitam bulat Kunia nampak mengerling malu, dan agak membungkuk karena memang benar-benar malu.
“...semoga sukses....” ucap Kunia penuh harap sembari menyodorkan sebungkus mie instan.
“Waduh mie instan tuh... kau kira kita mau berkemah apa?” sindir Derka dengan kedua alis terangkat.
“Maaf... so-soalnya cokelatnya tadi sudah aku makan di jalan, habisnya cokelat makanan kesukaanku, jadi sayang kalau dikasih ke orang lain,” jelas Kunia dengan polos.
“Eh?” heran Derka.
“Tenang enggak apa-apa...” sanggah Hurta berlapang dada namun menjurus pada sok baik.
“...aku suka kok mie kuah,” lanjutnya sambil mendekati Kunia.
“Eh?” Kunia kaget hingga menurunkan kembali tangannya karena mie yang dibawanya tak sesuai harapan, bahkan mukanya tertunduk malu.
“...tapi ini... mie goreng...” lanjutnya menjelaskan dengan tertunduk malu dan agak takut Hurta kecewa.
“Enggak apa-apa, lagian mienya bisa ditambahin air kan?” balas Hurta dengan tersenyum miring.
“Hem... iya juga ya...” Kunia setuju dengan perkataan Hurta.
Lalu Hurta berdiri tepat di depan Kunia hingga menyisakan jarak sejengkal saja, Hurta menatap penuh cinta pada wajah imut Kunia, walaupun nyatanya dia menatap penuh nafsu, lalu secara perlahan, Kunia mulai mengangkat wajah malunya, sekaligus mendongakkan wajah sebab tingginya hanya sehidung Hurta, hingga kedua netra hitam mereka pun saling bertemu pandang.
“Ahk drama drama,” gumam Derka dengan bersedekap menyilang kembali memandang Farka yang masih dikerubungi oleh adik-adik kelasnya.
__ADS_1
Lalu telapak tangan kanan Hurta di tempelkan pada kepala botak Kunia, sementara tangan kirinya tetap terselip keren di saku celananya.
“Biasanya kamu menghindar kalau tanganku memegang kepalamu?” heran Hurta dengan tersenyum senang.
Karena merasa malu, Kunia kembali menunduk, tapi, Kunia tak bicara sedikit pun.
“Sebenarnya kamu enggak perlu malu kalau rambutmu beruban, kamu can...” ujar Hurta yang terhenti.
Tiba-tiba momentum hilang bersama teriakan Derka.
”Gombal ahk gombal!“ teriak Derka bermaksud mengganggu.
”Sialan kau!“ gerutu Hurta dengan terpaksa menurunkan kembali tangannya.
”Enggak apa-apa kok, kakak Hurta memang suka ngegombalin aku,“ timpal Kunia dengan polosnya.
”Eh?“ Hurta kaget dan merasa malu hingga memandang wajah imut Kunia.
”Oh begitu, jadi dia suka gombalin kamu ya...?“ tanya Derka bercanda dengan raut muka konyol.
”Iya, waktu itu...“ ucapan Kunia dipotong.
”Sudah-sudah-sudah,“ kata Hurta denagan gusar.
”Kau kagak perlu ikut campur!“ imbuh Hurta memandang derka dengan gusar.
Namun Derka diam tak peduli, dan mendadak Kunia menatap layar ponsel pintarnya yang sempat tadi dia ambil dari saku rok panjangnya.
”Eh, maaf Kak, pacar aku sudah jemput...“ ungkap Kunia.
Sontak Hurta langsung terperangah kaget, hingga hatinya dilanda kecewa berat, bahkan baru kali ini Hurta mengetahui, bahwa Kunia memiliki kekasih.
”...aku pulang dulu ya dadah...“ pamit Kunia dengan memutar tubuh ke belakang berjalan buru-buru ke arah gerbang.
”Eh, mie-nya dibawa juga?“ heran Hurta.
Mendadak Kunia berhenti melangkah, sekaligus kembali memutar tubuhnya ke arah Hurta.
”Eh, maaf lupa Kak, nih ambil!“ sesal Kunia dengan sikap polosnya sambil melempar sebungkus mie pada Hurta dalam jarak empat meteran.
”Waduh-waduh-waduh,“ Hurta panik saat berusaha meraih mie yang dilempar Kunia, yang untungnya berhasil Hurta tangkap.
”Jangan lupa Kak pakai nasi biar kenyang,“ pesan Kunia lalu kembali memutar tubuh ke belakang melangkah menuju keluar sekolah.
Dan saat Kunia berjalan di belakang teman-temannya yang masih mengerubungi Farka, dengan usil Kunia menjitak salah satu belakang kepala teman laki-lakinya lantas melenggang pergi tanpa dosa. Jelas anak laki-laki itu celingak-celinguk mancari siapa yang tadi menjitaknya.
”Anjir, siapa itu woy?“
Disaat yang bersaamaan, Hurta hanya mampu tertunduk muram sambil memandang sebungkus mie gorengnya, lantas kembali berdiri di samping Derka.
”Bagaimana rasanya?“ tanya Derka menyindir.
Namun Hurta masih tertunduk muram.
”Ingat kata mama, makannya pakai nasi biar kenyang,“ sindir Derka dengan tersenyum menyeringai.
Dan Hurta hanya berdecak kecewa, kembali memandang Farka yang kini tengah menerima hadiah dari adik-adik kelasnya, bahkan Areny juga diikut sertakan dalam penerimaan hadiah ini, sebagai ucapan selamat juga bagi mereka yang akan melangsungkan pernikahan.
Hari itu berakhir dengan seluruh hadiah dimasukkan ke dalam bagasi mobil sedan Guru Sukada, Guru Sukada memberi tumpangan bagi Farka dan Areny sekalian untuk merundingkan pernikahan anak angkatnya pada keluarga Areny. Mobil pun melesat menuju kompleks Hanataba, dan seluruh adik-adik kelas melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.
__ADS_1