
Seminggu setelah lulus sekolah, sebuah gedung acara di sisi kota Artana, menjadi tempat dilangsungkannya sebuah pernikahan, benar! Farka dan Areny akan menikah.
Pukul 09:10 pagi hari nan cerah hingga awan-awan tak nampak bergerombol seolah ikut hadir dalam acara pernikahan. Seorang gadis bergaun biru, dengan wajah cantik yang telah didandani, serta tas tangan yang dibawanya memberi kesan elegan, Eril melangkahkan kaki ke dalam gedung.
Ternyata cukup banyak manusia-manusia yang hadir dalam pernikahan ini, jamuan nan lezat pun telah tersaji dengan mantap di meja panjang di sisi gedung pernikahan lengkap dengan koki yang sebenarnya terlihat seperti pelayan hotel, tak lupa karpet merah terhampar dari pintu masuk menuju panggung pengantin, dan pengantin belum tiba.
Syukurnya semua raut muka manusia yang hadir nampak ceria, dan bersahaja, tak lupa di sudut gedung terdapat pula panggung hiburan, lengkap dengan sebuah band yang pernah tampil dalam acara lomba Futsal Wanita, kini mereka tengah memainkan sebuah lagu Yellow dari Coldplay, bahkan banyak pula penonton yang ikut bernyanyi. Para remaja adalah mayoritas tamu yang hadir, sisanya orang-orang dewasa serta orang tua yang entah kepentingan mereka dengan Farka itu apa, yang jelas, mereka hadir.
“Woy Eril! Eril!”
Eril mengernyit bingung sekaligus kaget ada seorang pria yang tak asing menyerunya, rupanya seorang pria tinggi yang mengenakan setelan formal memanggil Eril.
“Cepat kemari!” Seru Sazan meminta agar Eril lekas menghampirinya.
Ternyata murid-murid kelas 12 SMA Lily Kasih telah berkumpul di dekat panggung pengantin.
“Eril!” Seru Juvi dan Jiva serentak dengan penampilannya yang kembar namun beda warna kerudung.
Eril mengembangkan senyuman senang dengan melangkah buru-buru pada teman-temannya.
Maka seluruh murid telah berkumpul di dekat meja yang dikhususkan untuk mereka, lengkap dengan kursi bila sewaktu-waktu mereka sudah mulai pegal. Guru Sukada dan Guru Kativia pun ikut hadir menemani kelas 12, mereka wangi dan sama-sama mengenakan pakaian formal bernuansa hitam. Dan hanya si kembar berkerudung yang duduk di kursi sambil memainkan ponsel.
“Wah-wah Eril kamu terlihat cantik,” sanjung Nitia.
“Hem ...” Eril tersenyum tipis dengan wajah kikuk, dan memang gugup.
“Banyak juga ya teman si Farka,” kata Hurta menyanjung dengan bingung bagaimana bisa Farka memiliki teman-teman yang terlihat bermartabat.
“Ahk biasa kali ... di sekolah saja ... memang dia mah mudah bergaul kok,” timpal Estilia dengan santai.
Beberapa teman-teman Estilia mengangguk sependapat, sisanya diam dan sibuk dengan menikmati hidangan yang tersaji.
“He ... si Farka itu cuman beruntung,” Derka menanggapi dengan nada iri yang terkesan menjelekkan Farka.
Dia datang sembari menyeruput segelas kopi arabika.
“Ahk kau mah memang iri dari dulu juga ...” sindir Estilia dengan membuang muka.
Derka menyesap kopinya, tetap santai tak peduli. Tiba-tiba suara cempreng gewa memecah suasana.
“Wah hebat! Hebat!”
Maka arah pusat perhatian langsung tertuju pada Gewa, yang rupanya Fikia tengah bermain juggling dengan kaki kirinya, sebuah garpu menjadi bahannya, dan Gewa membungkuk di depan Fikia sembari merekam video dengan ponsel pintarnya.
“Wah ... keren ...” sanjung Hurta dengan terpukau.
“Bakat lain dari seorang Fikia ...” timpal Nitia.
Eril dan Zeni hanya diam dengan muka datar namun tersirat pandangan tercengang. Gewa tak berhenti merekam serta Fikia pun masih fokus menjaga keseimbangannya. Maka dengan satu kali ayunan tangan, Fikia berhasil merampas kembali garpu dari udara, yang langsung digenggam erat di tangan kanannya, menghentikan akrobat seadanya itu, membuat semua mata berkedip kagum, namun ada yang kecewa karena kurang puas, kecuali Gewa yang merasa cukup untuk sebuah video akrobat berdurasi satu menit itu, demi ketenaran di sosial medianya.
Guru Sukada berdecak kagum, yang memang baru pertama kalinya melihat Fikia berakrobat dengan sebuah garpu, namun uniknya di wajah manis Guru Kativia hanya ada senyuman kecil dari sudut bibirnya yang terkesan biasa saja. Memang tak ada yang tepuk tangan, karena itu hanya sekadar akrobat dadakan, tapi, cukup membuat mata berbinar kagum. Fikia menusukkan ujung garpunya pada potongan semangka lalu melahapnya tanpa ragu dan duduk di kursi dengan meja yang sama seperti Juvi, Juva serta Jiva, raut mukanya santai tanpa bermasalah, Fikia satu-satunya gadis yang tidak berdandan, karena memang tak berguna juga.
“Hebat, hebat hebat ...”
Beberapa teman Fikia menyanjung, sementara dari kejauhan ada saja manusia penasaran yang rela matanya melihat Fikia memainkan garpu.
“Oke-oke ... tapi itu akan jauh lebih berguna jika dipakai untuk menggaruk punggung,” sindir Derka yang memang selalu memulai masalah.
“Ahk kau lagi kau lagi ...” balas Estilia dengan geram.
__ADS_1
“Hiburan hiburan ...” sela Guru Sukada.
“Hah ... tapi itu tak menghiburku ...” umpat Derka dengan berjalan kembali menuju meja hidangan.
Namun, selang tiga detik, seluruh tamu yang hadir mulai terlihat penuh waspada, band pun berhenti bermain, pembawa acara mulai mengumumkan bahwa pengantin telah tiba.
Jelas seluruh murid-murid kelas 12 mulai mengarahkan pandangan pada pintu masuk, hingga mereka menyempatkan untuk berdiri, agar demi melihat kedua pengantin.
Hingga beberapa orang berdiri di pinggir karpet, mulai menaburkan bunga-bunga, pakaian mereka serba putih, pria dan wanita yang sepertinya bertugas menabur bunga. Maka tak lama kemudian, riuh tepuk tangan bergema dalam gedung ini, pengantin itu telah tiba!
Eril serta teman-temannya pun berjalan ke dekat karpet merah, dengan pandangan tekesima pada Farka dan Areny.
Areny begitu cantik dan elegan mengenakan gaun penganting nuansa putih, melangkah dengan anggun sembari bergandengan tangan pada tangan kanan Farka, dan Farka nampak lebih berkarismatik, bahkan terlihat tampan mengenakan setelan jas nuansa hitam pengantinnya, senyuman simpul tersungging dari kedua pengantin itu, khusus hanya untuk seluruh tamu yang menyambutnya.
“Wah, mereka nampak serasi ...” gumam Estilia menyanjung.
“Kok aku malah menyesal ya ...” sambung Nitia dengan pandangan kagum pada Farka.
“Eh ...?” Estilia cukup kaget mendengar pengakuan Nitia.
Namun ketika seluruh teman-teman Farka telah berkerumun di dekat karpet, Derka tanpa masalah, tetap santai duduk di kursi kesukaannya sambil menikmati segelas kopi yang kini menjadi kopi kedua belasnya.
Farka dan Areny melintas di depan teman-temannya dengan sebuah lambaian tangan serta senyuman sapaan pada seluruh temannya. Dan semua teman mereka hanya tersenyum terkagum-kagum, beberapa di antara mereka ada yang ikut melambaikan tangan dan itu dilakukan oleh Estilia serta Nitia. Semua pandangan pada hari itu terkesima melihat Farka serta Areny. Hingga akhirnya pasangan itu duduk di sofa penganting layaknya raja dan ratu yang kembali pulang ke istananya.
Eril, benar-benar terpegun kagum memandang sepasang sahabat itu yang akhirnya akan berikrar sehidup semati, pernikahan yang mewah ini, seolah hanya mimpi bagi Eril, apa lagi, menikahi orang yang dicintai, terasa seperti keberuntungan. Namun di wajah cantiknya, justru sebuah senyuman simpul tersungging tanpa ragu, karena bagaimana pun, dia sudah berpikir maju, tak akan terus bersedih dengan takdirnya sendiri.
Seluruh tamu pun mulai kembali pada kesibukannya masing-masing, namun tamu bertambah banyak semenjak datangnya pengantin dan seluruh teman-teman Farka kembali ke mejanya masing-masing. Kedua orang tua Areny pun ternyata hadir dalam perkinahan ini, mereka berdiri bersama teman-temannya di meja khusus keluarga, berseberangan dengan meja teman-teman Farka, malah Guru Sukada pun langsung menuju meja keluarga, sebagai wakil ayah Farka.
Pandangan Areny menyapu kesegala penjuru, memandang tamu-tamu yang hadir, hingga senyuman puas nan bahagia tersungging di wajah manisnya.
“Farka ...” panggil Areny dengan riang memandang Farka penuh cinta.
“... nanti setelah akad nikah, aku boleh kan... menggigit kupingmu?” Pinta Areny meminta izin penuh harap.
“Waduh ... kenapa begitu, aneh banget?” Heran Farka terkaget hingga memegang kedua telinganya.
“Ya ... nggak apa-apa sih ... aku suka kupingmu yang bersih itu, kalau enggak mau juga nggak apa-apa ...” jelas Areny dengan memalingkan muka tetap santai.
“Nanti saja ... lihat kondisinya ...” balas Farka.
Areny hanya mengangguk tanpa berkomentar.
Maka, lima belas menit kemudian, akad nikah dilangsungkan di tempat yang berbeda, seluruh kerabat dekat turut hadir, kecuali Derka yang tetap santai meneguk segelas kopi yang kedua puluh satunya, duduk di kursi menikmati suasana bahagia dengan alunan lagu Joe dari The Cranberries yang dibawakan oleh sebuah band.
Tempat akad nikah sendiri, berada di luar gedung tepatnya halaman belakang gedung, taman bunga menjadikan tempat ini terasa tepat sebagai objek foto sekalian prosesi akad nikah, para kerabat dekat duduk manis di kursi panjang menghadap kedua mempelai pria dan wanita. Namun Akad nikah sebenarnya telah selesai, dan fotografer dengan asyiknya memotret Farka serta Areny yang kini tengah saling memasang cincin pernikahan, hingga kala cincin terpasang, seluruh manusia di sini mulai bertepuk tangan.
Zeni dan Eril tersenyum gembira kala kedua teman sekolahnya itu kini telah sah menjadi sepasang suami istri. Farka dan Areny pun berdiri tersenyum lebar hingga gigi putih mereka nampak kentara.
“Nggak nyangka... mereka bakal nikah secepat ini ...” ungkap Erka.
“Hem ... benar,” sambung Kahji.
Sesaat setelah prosesi pasang cincin usai, Farka serta Areny bersua foto bersama kawan-kawannya, membuat sebuah kenangan bergambar.
“Eh, tunggu!” Sela Juvi.
“Mana Derka!?” Tanyanya menyelidik keseluruh teman-temannya.
Jelas semua kebingungan mengetahui Derka tak hadir.
__ADS_1
“Ayo Sazan! Dia pasti masih di dalam gedung!” Ajak Kahji.
“Ayo kita tarik dia!” Sahut Sazan.
“Ayo!” Sambung Erka.
Namun saat mereka bertiga hendak masuk ke dalam gedung, langkah mereka terhenti atas perintah Farka.
“Jangan-jangan!”
Jelas semua kaget dan langsung memandang Farka penuh keheranan.
“Loh, kenapa ketua kelas?” Usut Kahji.
“Ayo, kita datangi Derka dan foto di sana,” jawab Farka dengan serius.
Semua orang hanya mengangguk-angguk setuju, maka tanpa ada penolakan, seluruh teman Farka masuk ke dalam gedung, hanya Guru Sukada yang asyik berbincang-bincang dengan penghulu sambil ngopi-ngopi santai.
Derka rupanya masih duduk di kursi yang sama seperti diawal sambil menghadap pada band yang sedang tampil, tapi, saat Derka hendak menyeruput kopinya, ia terperenyak kaget dengan kehadiran teman-temannya secara serentak.
“Woy woy ini ada apa?!” Tanya Derka terheran-heran melihat teman-temannya yang berjongkok di lantai dan berdiri di sampingnya.
Sang fotografer laki-laki langsung berdiri menghadap Derka dalam jarak sekitar 13 meteran, berdiri penuh kesiapan dengan kamera butiknya.
“Oh foto! Ngomong dong foto!” Umpat Derka.
Maka seluruh teman Farka mulai merapatkan posisi, enam orang berjongkok di depan Derka, sisanya berdiri di samping Derka, dan Derka tetap duduk santai sambil menyeruput kopi ketiga puluhnya.
“Nah ... sekarang kau boleh menggigit kupingku,” kata Farka dengan agak membungkuk memberi peluang untuk Areny.
Namun Areny masih agak kikuk dan malu.
“Satu ...” sang fotografer menghitung maju.
Jelas Areny yang sedari dulu ingin menggigit gemas kuping Farka, kali ini tak mau kehilangan momentum itu, tepat dihitungan ketiga sang fotografer, pada akhirnya Areny berhasil mewujudkan keinginannya, ia menggigit gemas kuping kiri Farka dengan senyuman bahagia, untungnya Areny tak menggigit keras-keras kuping Farka, sehingga Farka bisa tersenyum tenang tanpa ada muka meringis kesakitan. Dan di kedua kali pemotretan Areny menggigit kembali kuping Farka dengan bibir tipisnya.
Beberapa jepretan foto pun dilakukan oleh fotografer, sempat sang fotografer mengangkat alisnya karena merasa aneh dengan tindakan Areny, tapi dia tetap santai tanpa kendala. Dan semua berpose dengan kesukaannya masing-masing, kecuali Derka yang tak peduli, dengan santai menyeruput kopinya sambil memandang band yang masih betah bermain musik.
Sesi pemotretan tak hanya dengan teman-teman sekelas saja, keluarga tiri Areny hingga teman kerja Farka pun ikut terpotret, yang terakhir hanyalah foto mesra Farka dan Areny sebagai bagian akhir pemotretan.
Dan seluruh kegiatan potret itu berakhir dengan kegiatan menonton Guru Ganza, Aqada, serta Farka yang bermain band, Guru Ganza sebagai vokalis lengkap dengan gitarnya, Farka sebagai gitaris, terakhir Aqada sebagai drumer, sisanya penonton.
Guru Sukada dan Derka duduk di kursi memandang dari jauh, mereka menikmati secangkir kopi susu hangat.
“Sudah berapa gelas kau minum kopi?” Tanya Guru Sukada dengan penuh keheranan.
“Tiga puluh lima adalah sekarang,” jawab Derka dengan santai.
“Hmmmm ... sehat kau ya ...” ucap Guru Sukada berkelakar.
“Biasanya lima puluh kok,” balas Derka
“Oh ... sekarang naik ya ... dulu empat puluh kan ...” sangka Guru Sukada.
“Hem,” Derka mengangguk mengiakan.
Gitar pun mengalun, dan Guru Ganza mendekatkan bibir kecokelatannya pada mikrofon sampai-sampai bersentuhan. Para penonton mulai memasang mata serta telinga lekat-lekat pada alunan musik di atas panggung.
“My girl, my girl, don't liiiieee to me... tell me where did you sleep, last night... in the pines, in the pines... where the sun don't ever shine... i would shiveeeer the whole night through... my girl, my girl where wiiilll you go... i'm going where the cold wind blows... in the pines, in the pines... where the sun don't ever shine... i would shivveeer the whole night through... her husband was a hard woorrrking man... just about a mile from here... his head was found in a drrrriiving wheel... but his bodyyy never was found... my girl, my girl don't liiiieee to me... tell me wheeere did you sleep last night... in the pines, in the pines... where the sun don't ever shine... i would shivveeer the whole night through..............”
__ADS_1
...........................................................................................................................................................................