Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
BINTANG METHUSELAH ...!


__ADS_3

       Seminggu setelah Eril menghilang dari kota Artana, berita kematian Fihan di TV serta surat kabar hingga berita daring, menjadi perbincangan hangat penduduk kota, tapi semua masih berasumsi tentang kematian anak wali kota terdahulu itu, Eril sedang diburu oleh pihak berwajib, sampai-sampai seluruh murid SMA Lily Kasih diintrogasi oleh pihak polisi, tak terkecuali Farka dan Areny, tak ada kebohongan, mereka berdua menceritakan semua kejadian saat Eril datang ke rumah, sampai-sampai pihak polisi menyita buku harian Eril serta Fihan untuk bahan penyelidikan. Jelas keluarga Eril sangat terpukul dengan kejadian itu, mereka tak menyangka jika anak mereka datang hanya untuk berpamitan, sampai-sampai nenek Fihan hanya sanggup menangis pasrah melihat sang cucu tewas terbunuh. Dan di sekolah berita Fihan juga Eril menjadi topik utama perbincangan, seluruh murid serta wali kelas kelas 12 pun sampai menghadiri upacara pemakaman Fihan, sekolah diliburkan selama seminggu sebagai bentuk duka cita.


Di hari Selasa, Farka serta Areny kembali ke sekolah, dan di jam pulang sekolah tepat pukul 14:09 siang hari nan cerah dengan awan-awan putih menggulung-gulung, udara tak sesejuk hari kemarin, tapi suasana di sekolah terasa damai, Farka tengah menghadap Guru Sukada di ruang Guru, dia didampingi oleh si gadis ceria beraura positif, Areny. Sepinya ruang Guru seperti toko buku yang sudah tutup.


“Kami sudah merampungkan buku ini...” ungkap Farka sambil menyodorkan buku autobiografi kelasnya.


Guru Sukada masih terdiam dengan muka serius memandang buku yang disodorkan oleh Farka, duduk dengan bersedekap menyilang. Ada kebanggaan dan kesedihan yang terpancar dari raut mukanya, betapa bangganya dia, kelima muridnya telah menyelesaikan tugasnya, terutama bangga pada Farka yang selalu mendampingi teman-temannya disaat sulit, tapi cukup menyedihkan kala nyatanya, harus ada korban untuk merampungkan buku autobiografi tersebut.


“...bab berjumlah 20 dengan dua ribu kata perbab,” imbuh Farka dengan serius, menegaskan setiap kata yang tertulis sebanding dengan tetesan darah teman-temannya.


Di sana di wajah oval Guru Sukada, bibir tipis kecoklatannya, mulai mengembangkan senyuman secara perlahan penuh kepuasan, tepatnya bersyukur. Maka kedua tangan kasarnya, meraih buku tersebut, sambil membuka lembaran demi lembaran, hanya sekadar memastikan benarnya catatan sejarah para muridnya, tak lama ia membalik lembaran buku, ia menutupnya kembali dengan hati puas, sampai telapak tangan kanannya masih ditempelkan di atas sampul buku, dalam bentuk yang tersirat itu menujukkan dia berhasil sebagai guru, tapi lebih menjurus pada kebanggaan.


“Kenapa autobiografi bintang Methuselah?” usut Guru Sukada dangan serius.


Areny menoleh memandang wajah berkarismatik Farka, menyiratkan ingin kembali mendengar jawaban Farka, dan Farka menarik napasnya ke paru-paru dengan harapan penjelasannya lancar hingga Guru Sukada paham.


“Kami sudah ada di depan sebelum adik kelas generasi kedua itu muncul, mereka mungkin memang lebih berbahaya dari kami, tapi, kami bisa menghentikan mereka hanya dengan sebuah buku,” kata Farka dengan lugas nan tegas tanpa ragu.


Guru Sukada terpegun merenungi penjelasan Farka, matanya memandang ke arah pintu, sedangkan Areny menunduk mengangguk pelan, mencerna maksud Farka.


“Generasi kedua itu, kata kepala sekolah, mereka benci dengan membaca, malas untuk menulis, dan kesenangan adalah tujuan mereka bersekolah...” tutur Guru Sukada menggantung kalimatnya sambil bersedekap menyilang, merenungi buku generasi Farka yang mungkin bisa saja membuka pikiran generasi kedua, tapi cukup meragukan.


Mata hitam Guru Sukada kembali menyorot netra hitam Farka menyiratkan keingin tahuan.


“Apa kamu mau membantu bapak untuk mengurus mereka?” tanya Guru Sukada dengan serius.


Farka menghela napasnya, menimbang-nimbang langkah apa yang tepat untuk diambil, hingga lima detik lebih Farka tertunduk merenung.


“Akan aku bantu, tapi... dari luar sekolah,” jawab Farka dengan tegas berhati-hati agar tak membuat masalah baru.


Guru Sukada mengangguk mantap, menerima keputusan Farka bahkan sangat berterima kasih, baginya hanya Farka satu-satunya murid yang bisa diandalkan, sebab, generasi kedua yang akan datang jauh lebih berbahaya ketimbang generasi Farka, dan Guru Sukada mau agar setiap generasi mampu mengukir sejarah penting bagi kota Artana, setidaknya mungkin bagi SMA Lily Kasih, terutama berkembangnya kehidupan bersekolah dan bernegara ke arah yang cerah.


“Maaf Pak... memangnya generasi kedua itu kapan datangnya?” tanya Areny penasaran dengan serius.


“Lima tahun lagi,” jawab Guru Sukada dengan pasti.

__ADS_1


“Eh...? Maaf Pak, tahu dari mana lima tahun lagi?” tanya lagi Areny terheran-heran.


Guru Sukada menyunggingkan senyuman lebar, merasa dugaannya benar bahwa akan ada pertanyaan seperti itu, tapi, Guru Sukada tetap santai.


“Dari data kependidikan murid-murid SMP dan SD di kota Artana, kepala sekolah juga yakin bahwa anak-anak itu pasti kemari,” papar Guru Sukada tanpa ragu.


“Hmmmmm.... tapi kan bisa saja kalau itu cuman asumsi...?” balas Areny dengan nada pelan agar terkesan sopan sembari mencerna maksud perkataan Guru Sukada.


Wajah Areny serius berpikir dalam-dalam.


“Mereka menginginkan sekolah terbaik dengan jumlah murid sedikit... dan... kami memancing mereka untuk kemari...” jelas Guru Sukada dengan tersenyum tenang.


“Ooooooooohh.... paham-paham-paham-paham... begitu toh...” kata Areny mengangguk-angguk senang mengetahuinya.


Suasana sekolah kini benar-benar sepi, seperti sekolah berhantu yang ditinggalkan oleh hantu-hantunya sendiri, mentari terhalang oleh gumpalan awan putih yang agak kelabu, udara mulai mendingin dan hanya di ruang Guru kehidupan terasa masih ada. Areny dan Farka masih berdiri dengan kuat di hadapan meja Guru Sukada yang nampak berantakan.


“Ngomong-ngomong, apa Eril datang ke rumah kalian?” tanya Guru Sukada dengan serius.


Farka serta Areny sempat saling menatap untuk memastikan apa di antara mereka pernah bertemu Eril kembali.


“Iya... enggak Pak,” sambung Farka.


“Hem...” Guru Sukada mengangguk-angguk percaya pada dua muridnya dengan pandangan tertunduk merenungi kalimat yang akan diutarakannya.


Maka setelah tiga detik perenungan, Guru Sukada memandang netra hitam Farka serta Areny secara bergantian.


“Padahal Eril tidak bersalah, mentalnya teguncang karena kehilangan orang yang dia sayangi, dia bisa jadi gila kalau tidak didampingi orang yang tepat... jadi... bapak harap, kalau dia datang ke rumah... atau kalian bertemu dengannya, coba untuk tidak mengungkit masalahnya, kecuali... kalau dia yang bicarakan, tapi jangan menyudutkannya, berilah solusi yang tidak membuat itak kebingungan, atau cukup jadi pendengar yang baik,” pesan Guru Sukada dengan sungguh-sungguh.


Farka serta Areny mengangguk mengiakan penuh kesungguhan.


“Bapak juga yakin, Eril bisa melalui ini semua...” imbuh Guru Sukada sambil memandang buku Autobiografi bintang Methuselah.


Farka serta Areny sengap, tak berkomentar sedikit pun, mereka hanya bisa pasrah dengan kejadian dua temannya yang menggemparkan kota Artana ini, bahkan sampai-sampai Farka dan Areny diwawancara oleh beberapa stasiun TV demi untuk mengetahui detilnya kematian Fihan. Sempat terjadi keheningan beberapa saat, sebenarnya Guru Sukada tengah memikirkan pembahasan apa lagi yang cocok untuk dirundingkan selagi dua muridnya masih di sini, apa lagi pertemuan ini adalah pertemuan pertama sejak kasus Fihan merebak sekaligus setelah pemakaman Fihan.


“Nanti tidak ada acara perpisahan, jadi... ya.... begitu-begitu saja sih...” kata Guru Sukada dengan membebaskan murid-muridnya untuk melakukan apapun.

__ADS_1


Farka dan Areny kembali terdiam tak menanggapi, mereka juga pasrah bila memang tak ada acara perpisahan apapun, toh pada dasarnya, semua kegiatan sekolah telah menjadi kenangan dalam hidup.


“Ya sudah... kalian boleh pulang,” kata Guru Sukada mempersilakan.


Namun sayangnya kala Areny ingin berpamitan, tanpa isyarat sedikit pun Farka menyela.


“Oh Pak,”


Maka Areny dan Guru Sukada mengarahkan langsung pandangan mereka pada wajah berkarisma Farka.


“Terima kasih untuk semuanya... terima kasih sudah selalu memberi dukungan moril untuk saya... terima kasih juga sudah mau jadi ayah angkat saya...” ujar Farka penuh syukur sambil memandang penuh hormat pada Guru Sukada.


Guru Sukada terpejam sembari mengangguk penuh syukur dan tersenyum bangga. Sedangkan Areny hanya terdiam, sudah tahu tentang hubungan antara mereka berdua, itu pun mengetahuinya saat membicarakan siapa wali nikah Farka.


“Nah... ingat Farka... kapan pun kamu butuh bantuan, datang saja pada bapak... ingat, aku ayahmu,” saran Guru Sukada tanpa merasa direpotkan dan menegaskan statusnya pada Farka.


“Iya Pak, terima kasih sekali lagi,” balas Farka penuh syukur.


Guru Sukada mengangguk mantap, maka dua muridnya akhirnya berpamitan untuk pulang.


       Buku autobiografi generasi pertama telah rampung, kini, hari-hari terakhir sekolah tetap berjalan seperti biasanya. Meski kelas 12 telah kehilangan dua murid, kegiatan belajar tetap berjalan lancar, meski Eril masih belum diketahui kabar keberadaannya, namun sekolah sendiri sebenarnya telah menyatakan bahwa Eril tetap lulus, jelas pihak keluarga Eril senang dan bersyukur mendengar berita tersebut. Hari terus berlalu bersama berita kematian Fihan yang masih menjadi topik menarik dalam perbincangan kala berkumpul bersama kawan-kawan.


Namun, sebulan kemudian, warga kota Artana digemparkan oleh berita yang menyatakan bahwa, seorang gadis muda bernama Eril datang ke kantor kepolisian pusat kota Artana, dia menyerahkan diri pada polisi, sekaligus memberikan keterangan kronologis kematian Fihan. Keluarga tersangka dan keluarga korban dipertemukan, merundingkan akan dibawa ke mana kasus ini, sempat terjadi tangis haru, antara nenek Fihan dan Eril, mereka saling berpelukan melepas rasa rindu, ujung perundingan ini, meminta kepolisian membebaskan Eril dari segala tuduhan maupun dari segala ancaman pasal, karena memang Eril tak bersalah, nenek Fihan pun sudah mengikhlaskan semua kejadian ini, bahkan Hadra sang pengawal setia tuan muda Fihan memberikan jaminan sejumlah uang agar Eril terbebas dari tuduhan apapun. Untungnya, tanpa perlu ada persidangan, Eril dibebaskan tanpa syarat. Ditambah dari hasil penyelidikan sebulan ke belakang, memang sukar dipercaya jika Eril adalah pembunuhnya, meskipun ada beberapa kecurigaan tentang kaburnya Eril, namun semua sudah terjawab, bahwa Eril memang takut untuk menemui polisi, dia pun sempat menuturkan bahwa dirinya mengikuti apa yang ditulis dalam buku harian Fihan sebagai langkah hidupnya, padahal Eril bisa saja dipenjara jika polisi mau, apa lagi kasus Eril tak melibatkan adanya saksi seorang pun, lebih-lebih Eril yang kabur hingga memunculkan banyak kecurigaan.


Perkara benar-benar selesai setelah menghabiskan waktu seminggu penuh, Eril kembali hidup bebas, tanpa hukuman apapun, dan Eril tersenyum senang penuh syukur, bukan hanya karena kebebasannya, melainkan karena kalimat yang Fihan tulis di buku hariannya, telah menjadi kenyataan, Eril menghirup kuat-kuat udara kebebasan di kota Artana, kota yang padat, yang hanya akan sangat sepi bila tiba tengah malam, dengan masyarakat kota nan ramah, sampai-sampai siapapun orangnya tak segan diajak makan di rumah mereka, meskipun begitu, tindakan kriminal cukup tinggi di kota ini.


Eril kembali bersekolah, datang sendirian tanpa Fihan sang pujaan hati, sebenarnya sebulan saat Eril kabur, dia menenangkan jiwanya agar mampu merelakan kepergian Fihan, walau masih ada bayang-bayang sorot netra hitam Fihan, Eril tetap mampu melangkah kuat-kuat dan bernapas dengan teratur seperti yang Fihan tulis di buku hariannya. Satu alasan kuat mengapa Eril kembali, yaitu, tak ingin dianggap sebagai pembunuh hanya karena lari dari masalah.


Semua murid sudah Farka minta agar tak ada yang membicarakan kematian Fihan, atau menanyakan tentang detik-detik kematian Fihan pada Eril, dan syukurnya semua murid menyanggupinya. Sayangnya, itu tak terjadi di lingkungan sosial, ada saja warga yang membicarakan kasus Eril, ada yang percaya Eril tak sengaja membunuh Fihan, namun, ada pula yang menganggap Eril sengaja membunuh Fihan, semua asumsi masyarakat lebih meyakini Eril melakukan pembunuhan secara sengaja, namun, Eril selalu acuh tak acuh dengan gosip-gosip yang pernah didengarnya.


Hingga Eril pun bisa belajar dengan lega sekaligus kembali bersosialisasi dengan teman-temannya tanpa masalah apapun. Bahkan Eril masih bisa tertawa bercanda dengan para gadis, seolah tak pernah terjadi masalah apapun. Seminggu Eril telah melalui sekolahnya tanpa ada masalah, hubungan dengan keluarganya juga membaik, tapi, tetap orang tua Eril menginginkan calon menantu yang paham agama, hal itu tidak terlalu masalah bagi Eril, sebab orang tuanya juga tidak terlalu memaksakan Eril untuk mengikuti permintaan mereka, sedangkan nenek Fihan tetap tinggal di rumah yang kini menjadi milik Eril, awalnya nenek akan kembali ke pesantren milik mendiang suaminya, namun Eril meminta sang nenek untuk tinggal bersamanya, sebagai teman agar Eril tak kesepian, lebih-lebih Eril siap menanggung hidup masa tua sang nenek tanpa keberatan.


Dan untuk pekerjaannya yang dulu sempat tertunda, kini tak bisa dilanjutkan, sebab Wali Kota Aseda sudah mengganti Eril dan Fihan oleh Suriva serta Rama, namun untung bagi Eril, dia mendapat pekerjaan dari Farka, sebagai bendahara di butiknya. Walaupun sebenarnya Eril bisa saja meminta pekerjaan pada papanya, tapi dia lebih memilih untuk mandiri. Yang jelas Erilia kini kembali hidup normal, namun, tetap saja mentalnya akan kembali terguncang jika ia didesak untuk mengingat kembali saat-saat kematian Fihan, apa lagi, setiap dia bermimpi tentang Fihan, air matanya bisa kembali mengalir.


Maka kehidupan bersekolah kembali berjalan normal, dan inilah hari-hari terakhir kelas 12 masih bisa saling berkumpul bersama teman-teman sekolah. Satu hal yang penting, menurut Hadra, pistol yang dibawa Fihan, ternyata memang milik Fihan, dia mendapatkannya secara ilegal, tujuannya untuk menjaga diri dari sebuah geng di kota Artana yang kabarnya ingin balas dendam pada ayah Fihan, dengan cara membunuh Fihan, sedangkan pistolnya sendiri, sudah disita oleh pihak berwenang, tentunya amunisinya hanya berkurang satu.

__ADS_1


__ADS_2