
Di perumahan elite, rumahnya orang-orang kaya atau hunian para bangsawan. Mobil sedan hitam Hadra terparkir tepat di depan gerbang besi warna hitam, Eril turun dari mobil, ia juga sempat berterima kasih pada Hadra. Mobil pun melaju pergi, dan Eril mulai menggeser gerbang, ia masuk ke dalam rumah megahnya. Rumah modern bernuansa putih cokelat, dengan pohon cemara di sudut halaman depan rumah memberi kesan alami, rumah ini memiliki dua lantai, kira-kira seluas lapangan sepak bola. Eril telah masuk ke dalam rumah, interior rumah dipenuhi lukisan serta hiasan-hiasan bernuansa keemasan, Eril meniti anak tangga menuju kamarnya, maka ia pun masuk ke dalam kamarnya bergegas untuk tidur.
Di keesokan paginya, udara pagi yang sejuk dan hari yang cerah, kala sekolah diliburkan karena tanggal merah, Eril pun sudah bangun dari tidur nyenyaknya, ia menuruni anak tangga menuju ruang makan, namun Eril melintasi ruang keluarga terlebih dulu, ruang makan ini bersebelahan dengan ruang keluarga serta dapur, Eril masih mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin. Dengan penuh kecerian dia pun duduk di kursi meja makan, meja makan ini berbentuk oval dengan enam kursi yang mengelilingi meja, rupanya papa mamanya telah berada di sini lebih dulu. Sang mama tengah menyiapkan sarapan di dapur, Eril duduk berhadapan dengan papanya, menatap papanya penuh aura positif.
“Papa, papa tahu enggak kemarin aku bertemu wali kota Aseda dan para pejabat kota!” ungkap Eril penuh antusias dengan pembawaan yang ceria.
“Hmmm... ketemu di mana?” tanya papa Eril dengan fokus pada ponsel pintarnya.
Papa Eril pria berumur 45 tahun, seorang pengusaha restoran Jepang di kota ini, laki-laki berbadan kurus tapi tak sekurus Sazan, hanya saja tinggi badannya setara dengan Sazan, memiliki mata cokelat nan bulat seperti kancing kemeja sekolah Eril, rambut kremnya bergaya cepak tentara, kulitnya seputih awan kala langit biru sedang cerah, papa Eril juga bisa dibilang pria yang santai dan cuek, suaranya yang dalam terkesan seperti orang yang berwibawa.
“Di hotel Gugur, aku juga dapat kerja darinya,” jawab Eril masih seceria pembicaraan awal.
“Kamu main jauh lagi ya...?” usut mama Eril yang tiba-tiba datang sambil membawa semangkuk besar bubur kacang hijau.
Seketika kecerian Eril lenyap begitu saja, raut mukanya berubah datar dan malas. Mama Eril menaruh semangkuk bubur kacang hijau tepat di tengah-tengah meja makan.
“Kamu pergi sama siapa?” usut papa Eril dengan serius hingga rela menaruh ponselnya di meja sambil memandang Eril.
“Siapa lagi kalau bukan Fihan,” balas Eril dengan tegas namun pandangannya menunduk geram.
Mama Eril pun duduk di kursi di sebelah sang suami, memandang Eril dengan serius.
“Anak itu lagi, kamu tahu kan kalau rumahnya disita karena itu hasil korupsi...?” tanya mama Eril menyindir yang sebenarnya takut kalau Eril tercemar nama baiknya oleh keluarga Fihan yang kacau.
“Aku tahu! Tapi Fihan adalah orang yang tak sama seperti ayahnya,” bela Eril dengan pandangan tegas pada mamanya.
Mama Eril memiliki mata hitam berbinar layaknya Eril, dia wanita tegas, tapi tak secantik ibu Zeni, dia memiliki rambut hitam bergelombang yang membingkai dengan indah wajah berbentuk ovalnya, namun rambutnya tak sepanjang rambut Eril, kulitnya putih secerah kemeja sekolah Eril, bibirnya tebal nan seksi, tinggi badannya hanya setinggi pundak sang suami, suaranya lugas tapi tetap terasa sisi keibuannya.
“Ahk dia mah anak yang sombong, berapa kali mama sapa, dia pasti diam, kalau enggak ya... pergi,” ungkap mama Eril blak-blakan.
Eril hanya terdiam dengan senderut, ia gusar dengan keluarganya yang memandang keluarga Fihan sebelah mata, hampir setiap hari, jika Eril bermain jauh bersama Fihan, pasti ia akan kena marah, sehingga sering kali Eril berbohong pada orang tuanya, demi menutup kemungkinan amarah yang bisa terjadi, dan hari ini, ia kira dengan membawa nama sang wali kota, ia akan selamat dari amarah, tapi nyatanya tidak!
“Sudah, enggak usah dibawa hati...” kata papa Eril mencoba membuat suasana santai kembali.
Eril pun meraih segelas cokelat panas yang sedari tadi telah tersedia di atas meja, ia menyesapnya.
“Eril ada hal penting yang mau kami bicarakan...” ujar papa Eril dengan serius hingga sorot netra cokelatnya terarah pada wajah cantik Eril.
Eril masih menyesap cokelat panasnya pelan-pelan dengan kedua tangan menggenggam gelas bergagang itu penuh kehati-hatian sebab memang masih panas, dan netra hitamnya tertuju pada netra sang papa, hingga mereka saling bertemu pandang.
“Begini...” kata papa Eril lalu menoleh pada sang istri seolah ingin memberi tahu bahwa inilah waktunya.
Meski terlalu pagi, namun papa Eril mencoba membuat suasana lebih serius karena memang harus sekarang dinyatakan.
“...kita kan sudah punya banyak uang, namun, dalam masalah agama kita bodoh sekali....” lanjutnya kembali memandang Eril.
“...jadi maksud papa, papa ingin harta kita yang nanti diturunkan padamu dan adikmu bisa berguna sampai akhirat nanti,” imbuh papa Eril namun penjelasannya masih samar.
__ADS_1
Eril menaruh gelasnya, memandang sang papa penuh tanya. Sementara mama Eril hanya terdiam dengan pandangan menunduk, memberi kesan bahwa pembicaraan ini sangat serius.
“Jadi papa mau mendatangkan guru agama?” tanya Eril memastikan.
Papa Eril menarik napas panjang dengan raut muka penuh perenungan, sepertinya pembicaraannya sangat berat bahkan sukar untuk diterima Eril. Lantas tatapan tajam penuh harap ia arahkan pada netra hitam Eril.
“Papa mau menjodohkanmu dengan seorang anak kiai,” ungkap papa Eril dengan tegas nan lugas.
Sontak Eril melongo terkaget-kaget.
“Apa!? Kenapa? Biar apa? Untuk apa?” heran Eril berontak tak terima.
Eril memasang raut muka marah dan kecewa, ia marah karena papa dan mamanya terlalu bodoh dalam mengambil keputusan, dan ia kecewa karena orang tuanya tak memahami keinginan Eril.
“Begini... jika suamimu orang yang tahu agama, seluruh harta yang kita miliki bisa menjadi amal ibadah, kamu akan punya orang yang akan menuntunmu pada jalan yang lebih benar, papa dan mama juga ingin punya menantu yang saleh,” ujar sang mama menguatkan argumen suaminya sekaligus berusaha menarik minat hati Eril.
“Wah wah wah... salah cara pikir kalian...” sindir Eril dengan menggeleng-gelengkan kepala tak menyangka.
“Eril!” seru mama Eril dengan raut muka serius.
Maka Eril memandang mamanya dengan bingung.
“Kami sudah bicarakan pada pihak keluarga laki-laki, kami hanya ingin memiliki menantu yang moralnya baik, ilmunya luas, sebab kalau masalah uang itu bisa dicari, jadi... kami harap kamu mau menerimanya,” tutur mama Eril penuh harap namun terkesan memaksa.
Eril terpegun memandang mamanya dengan menyelidik.
Eril masih terpegun tak berminat. Lalu sang mama menyodorkan ponsel pintarnya, menujukkan sebuah potret seorang laki-laki muda, wajahnya memang tampan, tapi tak setampan Fihan, justru mirip Farka sang ketua kelas, hanya saja kulitnya lebih putih, pria itu mengenakan serban nuansa putih di kepalanya, dan kumis tipis yang melekat di atas bibir tebal merah jambunya. Mata Eril menatap lekat-lekat potret pria itu.
“Namanya, Ibrahim Alkansyah, dia dipanggil Ustaz Alkan,”
Eril tak menyangka jika hal ini benar-benar serius, kini pandangannya tertunduk merenung, Eril tidak siap, bahkan tidak mau, pikiran, jiwa dan hatinya telah ia arahkan pada Fihan, Eril tidak mencintai laki-laki lain kecuali Fihan, dan tak sudi ia menikah dengan pilihan orang tuanya sekalipun laki-laki itu seorang ustaz.
“Nanti sore, Ustaz Alkan mau datang,” ungkap mama Eril sambil memandang potret Alkan di ponselnya.
“Apa harus aku menikah? Apa enggak boleh aku menolak?” tanya Eril dengan serius.
“Kamu temui dulu orangnya, ini juga demi kebaikan kita, orangnya baik kok, dia juga bertanggung jawab,” jawab mama Eril menyarankan.
“Kalau papa...” ucapan papa Eril terpotong.
“Tunggu dulu!” sergah Eril mulai meradang kesal.
Kini sorot mata Eril memancarkan amarah yang mulai berkobar, dan karena Eril sering melihat Fihan berdebat, maka Eril mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengikuti jejak sang pujaan hatinya, ia memandang orang tuanya secara bergantian memberi kesan perlawanan.
“Kalau masalah baik dan tanggung jawab, itu memang sudah kewajiban semua orang, jadi jangan berikan alasan yang sudah mutlak, dan kalau kalian ingin harta kalian menjadi amal ibadah, kalian, hanya perlu menyumbangkan pada panti asuhan,” tegur Eril dengan tegas.
“Kami ingin menantu dari keluarga bermoral, terhormat dan bisa membawa kita pada jalan yang benar,” balas mama Eril tak gentar tak mau kalah.
__ADS_1
“Ta-tapi, ka...” kata Eril terbata-bata yang pada kenyataannya ia tak bisa berdebat sehebat Fihan.
“Eril, masa depanmu akan sangat cerah dengannya, bayangkan, selain harta, dan aset, kamu juga punya orang yang bisa menuntunmu ke jalan yang benar,” sela mama Eril.
“Masalahnya kenapa sampai harus menjadi suamiku? Kalau hanya untuk jalan yang benar, tidak perlu juga dia menjadi suami,” balas Eril belum menyerah terus berusaha agar dapat seperti Fihan mampu menang dalam perdebatan.
“Kan sudah mama bilang, kami mau, menantu kami orang yang bermoral baik, keluarga yang juga baik,” kukuh mama Eril dengan penekanan disetiap kata.
Eril pun masih kukuh tak mau kalah dalam argumen, maka ia pasang kembali tatapan tajam, napas yang teratur, dan pikiran tajam untuk memotong setiap pendapat orang tuanya, Eril yakin dia bisa seperti Fihan, yang mampu mengalahkan manusia hanya dengan kata-kata.
“Aku bisa mencari laki-laki baik selain si Alkan,” tegas Eril dengan penekanan disetiap kata.
“Kamu enggak usah mencari lagi, kami sudah menemukannya, itu pun dari sekian banyak laki-laki hanya Usataz Alkan yang paling tepat,” sanggah mama Eril.
“Masih ada yang lebih baik dari dia, aku akan menemukannya!” kata Eril dengan lugas dan mantap penuh keyakinan.
“Eh? Kan sudah mama bilang, mama ingin kamu hanya menikah dengan Ustaz Alkan, dia itu masih muda, belum punya istri,” balas mama Eril dengan teguh berusaha mengambil kendali pikiran Eril.
“Kalau aku enggak mau bagaimana?” tanya Eril menantang yang akhirnya ia kesulitan dalam memecahkan argumen orang tuanya.
“Kami tidak akan merestuimu dengan laki-laki lain, kalau bukan dengan Ustaz Alkan,” ancam mama Eril.
“Eh? Itu-itu, licik *****...” keluh Eril dengan jijik.
“Kamu kalau ngomong ke orang tua harus sopan!” tegur papa Eril.
“Kami tidak licik! Justru kami mau menyelamatkanmu di dunia dan di akhirat, justru kami mau keluarga yang baik-baik, kalau kami licik dan jahat, kami pasti akan membiarkanmu pergi dengan laki-laki kurang ajar!” bela mama Eril dan terus mendesak Eril agar menurut.
Eril mendengus geram, gigi putih ratanya saling bergigit, matanya menyorot marah pada sang mama, Eril telah kalah! Dia tak mampu seperti Fihan yang sanggup memutar balikan kesalahan, atau sekadar membuka pikiran lawan, Eril benar-benar tidak bisa!
“Eril, kamu anak perempuan kami satu-satunya, kami mau kamu punya kehidupan yang lebih baik dari kami...” ujar papa Eril menggantung kalimatnya namun dengan nada bicara yang penuh kasih sayang.
Eril masih sengap dengan kesal, kedua tangannya mencengkram jemari mengepalnya yang ia tumpukan di pahanya, yang semakin erat bersama emosinya yang terus berkembang, matanya mulai memerah dan berkaca-kaca, hatinya telah tersentuh oleh kekecewaan.
“...mungkin sekarang kamu akan berpikir bahwa ini sukar diterima, tapi, kalau kamu sudah bertemu dengan Alkan, kamu akan jatuh cinta, malah papa yakin kamu akan bersyukur hidup dengannya,” lanjut papa Eril dengan yakin.
”Kamu pasti bahagia kok sama Ustaz Alkan,“ timpal mama Eril tak menyerah untuk membuat Eril semakin tertarik.
Sekonyong-sekonyongnya Eril bangkit berdiri, ia beranjak dari meja makan, melangkah terburu-buru menuju tangga, bergegas untuk pergi ke kamarnya sekaligus mengemas pakaiannya lalu kabur dari rumah. Eril merasa seperti mimpi, tentunya mimpi buruk baginya, padahal seharusnya pagi ini menjadi hari yang menyenangkan bagi keluarganya, pasalnya, Eril seorang gadis muda, yang mampu berbisnis dengan Wali Kota Aseda, tapi kini nyatanya, ia sangat tak mengira bahwa orang tuanya mau menjodohkannya dengan laki-laki yang tidak Eril cintai, ia tak menyangka jika orang tuanya tega menjodohkan Eril hanya demi yang disebut menuntun pada jalan yang benar, jadi apakah keluarganya telah tersesat dari jalan yang benar?
Eril meniti anak tangga dengan hati senak, pipinya yang lembut telah digenangi air mata kekecewaan, setiap langkah kakinya terasa berat menghadapi kenyataan, Eril mau saja menikah muda, tapi bukan dengan pilihan orang tuanya, ia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan pilihan hatinya, yaitu Fihan, bahkan kini Eril berniat untuk mengadu pada Fihan tentang masalahnya, dengan harapan Fihan mau maju menggantikan Alkan sebagai calon suaminya, atau setidaknya Fihan mau memberi solusi terbaik agar Eril tak menikah, ia masih tak menyangka, apakah ini mimpi? Atau orang tuanya hanya bercanda? Namun yang jelas, Eril sangat kecewa pada orang tuanya.
Kedua orang tua Eril masih betah di meja makan, dengan hati bimbang.
”Nah, sekarang bagaimana?“ tanya papa Eril.
”Kita telepon Ustaz Alkan, kita suruh datang sekarang,“ jawab mama Eril dengan tegas dan serius sambil memeriksa ponselnya.
__ADS_1