
Semenjak kematian ibuku, aku dirawat oleh ayahku dan ibu Sieren, istri barunya.
Hal yang agak kurang ajar adalah, kematian ibuku dipalsukan, perampokkan adalah judul kasusnya.
Ayahku memaksaku untuk mempelajari banyak buku, mulai dari buku Filsafat, hingga buku Astrologi, setiap hari aku belajar dan belajar di ruang kerja ibuku, aku tidak membantah ayahku, tidak pula dendam, dan tak akan aku jelaskan rupa ayahku, sebab, tidak ada kepentingan bagiku.
Tapi satu hal yang ayahku tidak tahu, aku membaca buku ibuku, aku mempelajari ilmu spiritual, tidak makan dan minum selama tiga hari adalah jalannya.
Maka, saat malam itu, otakku mampu menyerap seluruh ilmu sains yang telah aku pelajari.
Sedangkan ilmu spiritual ini cukup sulit, salah sedikit, bisa menjadi penyihir, maka, aku berguru pada ibuku! Benar pada ibuku yang telah berevolusi.
Setiap makhluk yang mati, pada dasarnya berevolusi, menjadi wujud yang lebih sempurna, atau lebih buruk dari iblis.
Namun dalam cabang spiritual ini, aku bisa tahu, mana ibuku yang asli, mana ibuku yang palsu, bahkan aku tahu bentuk jiwa setiap manusia, sampai-sampai aku tahu kapan aku mati.
Satu kekuranganku, aku tidak tahu bentuk jiwaku, seperti apa jati diriku, dan apa itu cinta.
Di luar sana beberapa manusia menyebut ibuku sesat, tapi, setelah aku dan murid-murid ibuku pelajari keilmuan ibuku, ternyata ilmu ibuku lebih tinggi daripada ilmu yang dipelajari manusia di luar sana.
Ketika para ilmuan mencari cara untuk membuat alat teleportasi, ibuku sudah mengetahui Sang Pencipta alam semesta, bahkan, bagi ibuku sesuatu yang ada bisa ditiadakan, tapi, diakhir buku ibuku justru menulis.
“Tidak bisa diganggu gugat oleh sebuah pertanyaan, tidak bisa diganggu gugat oleh hal apapun yang sejenis dengan maha hebat, tak ada yang serupa dan tak ada yang bisa menyerupainya, tak bisa dicontohkan oleh apapun.”
Aku tahu maksudnya apa, tapi, tergelincir sedikit saja, neraka jahanam telah menungguku, dan setelah mempelajari ilmu ibuku, aku juga memiliki ilmu telekinesis, teleportasi dan menukar jiwa manusia, namun bagi murid-murid ibuku membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mempelajarinya.
Suatu hari aku berada di garasi rumahku, terdapat empat mobil sport nan mewah milik ayahku, lalu aku mencoba kemampuan telekinesisku untuk menerbangkan seluruh mobil yang ada.
Aku berhasil membuat seluruh mobil melayang di udara, maka aku menurunkannya kembali.
“Hebat sekali anak ibu.”
Suara ibuku! Dan memang ibuku telah berdiri di sampingku, pakaiannya pun masih serba hitam dan harum bunga melati.
“Ibu?”
Aku kaget, dan langsung menghadapkan diri padanya dengan menunduk penuh hormat.
“Terlalu berbahaya Fihan, kamu mempelajari semuanya terlalu dini, bahkan usiamu sangatlah pendek, jiwamu akan dimintai pertanggung jawaban.”
Ibuku memberiku pesan penting.
“Aku ...”
Aku tertunduk malu, dan suara ibuku seperti menyentuh jiwaku yang panas, membuatku merasa sejuk kembali.
“Hampir saja ilmumu menyesatkanmu, kemusryikanmu itu tipis dengan hasratmu.”
Ibuku memberi tahu.
“Jadi ...”
Aku meminta saran.
“Hukum, kembali pada hukum agama, ungkap siapa jati dirimu.”
Maka setelah pesan ibuku terpatri di benakku, aku mulai mencari tahu siapa aku sebenarnya.
Dan seluruh ilmu yang aku pegang, aku buang ke laut, dengan begitu aku bisa hidup tenang.
Beberapa hari kemudian, aku melihat ayahku tengah duduk di ruang tamu, ngopi sendirian sambil memainkan ponsel pintarnya.
“Ada apa Fihan?”
Ayahku menyelidik curiga dengan pandangan anehku yang terpasang pada ayahku.
“Apakah ayah percaya bahwa ada alam lain setelah ini?”
Sebuah pertanyaan yang kembali aku gaungkan demi bisa melihat cara berpikir ayahku.
“Pertanyaan bodoh yang diulang-ulang oleh orang bodoh.”
Sindir ayahku, tapi aku tak gentar sedikit pun.
“Setelah mati ayah mau ke mana?”
Aku mulai mengujinya.
“Kita tidak ke mana-mana, kita akan kembali menjadi tanah.”
Jawaban ayahku terasa meyakinkan tapi bagi dirinya sendiri.
“Adakah bukti autentik, bahwa setiap perkataan ayah adalah kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat oleh pengetahuan sekalipun?”
Aku menguji ilmu pasti ayahku.
“Kemari-kemari, sini biar ayah jelaskan lagi apa itu angan-angan dan apa itu ilmu sains.”
Ayahku ingin kembali mendoktrinku, sampai-sampai merelakan ponselnya digeletakkan di sisi gelas kopinya.
“Tidak ayah, angan-angan yang ayah maksud adalah khyalan, dan sains yang ayah maksud adalah pengetahuan sistematis tentang alam dan dunia fisik, termasuk, botani, kimia, fisika, zoologi, geologi dan seluruh ilmu pengetahuan alam.”
Aku langsung menyimpulkan maksud ayahku.
“Nah kalau begitu, kau mau apa lagi.”
Sindir ayahku dengan serius.
“Sayangnya ilmu pengetahuan bisa terus berkembang, bahkan tidak akan ada ujungnya.”
__ADS_1
Aku membalas menyindir.
“Ya sudah kau maunya apa? Apa kamu ingin ayah mencubit pipimu sambil berkata kamu mirip kura-kura?”
Ayahku mencoba berkelakar.
“Aku mau tahu ayah, apa itu jiwa, sukma, roh, nyawa dan rasa? Dan yang mana kita itu?”
Aku menantang kemampuan ayahku.
“Semuanya itu kita, satu saja rusak, maka rusak hidup kita, semuanya itu terangkum yang disebut energi.”
Ayahku menjawab dengan yakin.
“Kurang tepat, roh tidak akan binasa sekalipun berada dalam neraka.”
Aku membantah jawaban ayahku.
“Sini duduk dulu ... biar kamu paham.”
Ayahku memaksaku, maka aku terpaksa duduk di sebelahnya.
“Begini ... ini pembahasannya berat, tapi, ayah yakin kamu sudah paham ... dan ibumu juga sudah menjelaskannya pada ayah.”
Ayahku memaparkan dengan raut muka penuh perenungan.
“Terus ...”
Aku mencari maksud ayahku.
“Dengar Fihan ... kamu tidak boleh memaksakan keyakinan setiap individu, bahkan ibumu saja tidak memaksa ayah untuk meyakini adanya Tuhan, karena ibumu tahu ... orang yang menyembah rautan pensil pun tetap akan dilihat tingkah lakunya, pada dasarnya, semua orang baik itu adalah penjahat juga.”
Ayahku bersilat lidah tanpa ragu.
“Lalu kenapa ayah membunuh ibu?”
Aku membalas dengan penuh keheranan, mencari kesalahan ayahku.
“Ibumu penyihir, dia sesat dan menyesatkan.”
Ayahku berperasangka buruk dan yakin perasangkanya adalah kebenaran sejati.
”Apa ayah bisa buktikan secara autentik, di mana sesatnya ibu, sesat secara logika? Sesat secara pandangan manusia? Sesat secara hukum? Atau sesat secara keseluruhan?“
Aku mendesak ayahku untuk membuktikan kesalahan ibuku.
”Loh ... dia bisa menyembuhkan manusia tuli hanya dengan mengusap telinganya, dan tak ada manusia yang bisa seperti itu di zaman sekarang kecuali lewat bantuan iblis atau setan.“
Ayahku membalas dengan yakin, tapi aku juga yakin, dia tak percaya iblis dan setan itu ada.
“Nah ... sekarang aku minta bukti secara autentik, keberadaan setan, atau iblis yang membantu ibu, memangnya ayah tahu definisi sesat itu apa?”
“Fihan ... kadang kesesatan bersembunyi dalam kebaikan murah senyum setiap manusia, kemunafikan itu halus, dan kejahatan itu tersembunyi, kamu tidak perlu bukti untuk itu, dizaman sekarang semua manusia adalah pendosa, kematian adalah cara terbaik untuk menghentikan dosa mereka.”
Ayhku berkilah dengan kalimat yang membuat aku percaya pada ayahku.
“Bagaimana dengan kita yang pendosa ini?”
Aku bertanya.
“Kita adalah pemenang, siapa yang bisa mengokang senjata api lebih dulu, dia yang akan mendapat jantung Sang Dewi.”
Jawaban ayahku menggunakan kiasan dan syukurnya aku paham.
“Jadi kepercayaan itu tidak penting?”
Aku mengganti topik, karena sudah tak asyik lagi.
“Segala sesuatu yang penting sudah seharusnya dituju, dan kepercayaan itu penting bagi ayah, hanya saja kepercayaan ayah adalah tidak percaya dengan kepercayaan yang kau dan ibumu percaya.”
Ayahku termenung begitu dalam.
”Apa ayah bisa menunjukkan bukti autentik bahwa teoriku salah, dengan sebuah teori yang mutlak kebenarannya dan tidak bisa diganggu gugat oleh teori lainnya, bisakah ayah tunjukkan ilmu ayah adalah kebenaran sejati?“
Aku menguji ketajaman pikiran ayahku.
”Loh, kamu sendiri bagaimana? Apa bukti secara autentik ilmu yang kamu punya itu kebenaran sejati?“
Ayahku membalas tak mau kalah.
”Begini ... logikanya adalah, tidak berlogika, memikirkan sesuatu yang tidak bisa dipikirkan tidak perlu dipikirkan, apa yang ada di langit dan di bumi itulah buktinya.“
Aku memaparkan sedikit pengetahuanku.
”Nah ... hampir semua warga yang ayah tanyakan jawabannya seperti itu-itu juga, begini ... itu semua berarti cacat logika, tak ada bukti autentiknya, tidak perlu dipuji karena suda terpuji, tidak perlu dimuliakan karena sudah mulia, ujungnya, kita akan saling menodongkan senjata api demi selembar kertas yang disebut uang.“
Ayahku membantah pengetahuanku.
“Bukan cacat logika, tapi lebih menjurus pada tidak bisa dilogikakan, namun justru itulah logikanya, mencapai hal yang tak terbatas dengan sesuatu yang terbatas adalah kesalahan fatal.”
Aku tak mau kalah, karena ini semua demi melihat sejauh mana pemikiran ayahku berkembang.
“Itu artinya hanyalah sekadar imajiner semata.”
Ayahku kembali bersilat lidah, tapi, aku akan berdebat dengan ayahku, sebab, dia sudah aku jadikan guruku, sebuah langkah awal untuk memulai mengalahkan orang-orang dengan kata-kata, satu hal yang pasti, aku tidak maksimal dalam menuturkan pengetahuanku, pasalnya, aku ingin ayahku paham dengan sendirinya.
“Apa yang ayah percayai, pemahaman determinisme? Kebebasan berkehendak atau teori ketidakpastian?”
Aku memancing penjelasan ayahku, mencoba menelusuk cara pikirnya.
__ADS_1
“Kalau bisa semuanya dipelajari kenapa tidak.”
Ayahku menjawab dengan pasti.
“Apa ayah percaya takdir bisa diubah?”
Aku menguji pemahaman ayahku.
“Tentu bisa, sebab kita memiliki kehendak bebas.”
Ayahku kembali menjawab dengan yakin.
“Tentu tidak bisa ayah, ayah dilahirkan laki-laki itu takdir.”
Aku membantah pemahaman ayahku.
“Tapi, siapapun bisa mengubahnya dengan operasi plastik?”
Ayahku membalas dengan pemahamannya.
“Tapi tidak bisa menutupi kebenaran takdirnya, bahwa dia dilahirkan laki-laki, dan apa yang ayah lakukan itu hanya ilusi semata, menutupi takdir dengan nasib, itu sebuah kesalahan.”
Aku membantah pernyataan ayahku.
“Bagusnya kamu ngopi sana, penjelasanmu ngawur, naif dan terkesan kamu baru bangun tidur, sama seperti ibumu.”
Ayahku mengejekku, dan dia tetap santai, sampai menyempatkan diri untuk menyesap kopi robusta kesukaannya.
“Jika kita memang bisa mengubah takdir, sejak dulu aku sudah menikmati nirwana.”
Maka ayahku bergeming, termenung memandang kopi.
“Intinya kehidupan ini paradoks Fihan, dan tak ada yang bisa keluar dari paradoks.”
Ayahku kembali kukuh dengan pemahamannya.
“Bisa, jika kita hancurkan paradoks itu, tapi, tanpa logika.”
Aku lagi-lagi menyanggahnya.
“Membuat dunia paralel? Tapi bagaimana kalau paralel itu adalah paradoks juga?”
Ayahku masih mencari celah.
“Di situlah dunia spiritual itu penting, alam semesta tak akan ada ada kesudahannya, terus akan berevolusi, itu kerja sistem, maka hari kiamat tak bisa ditebak, karena itu adalah hak prerogatif Tuhan.”
Jelasku tanpa ragu.
“Itu artinya kita hanyalah mainannya?”
Ayahku menerka-nerka.
“Tak ada permainan bagi Tuhan, rasa sakit tetap rasa sakit, tawa tetaplah tawa, ibu pernah berkata, kinerja Sang Maha Kuasa amat misterius, bahkan ada sebuah cerita, bahwa orang yang membawa kejahatan akan masuk neraka, dan orang yang membawa kebaikan akan masuk surga, tapi, siapa yang membawa pengenalan terhadap Tuhannya, maka itu menjadi rahasianya, sederhananya, dia terlepas dari paradoks itu.”
Aku menjelaskan dan meluruskan.
“Tapi, itu juga bisa termasuk paradoks.”
Ayahku pun tak mau kalah.
“Tidak ayah, ingat, itu adalah rahasianya, artinya sudah tidak bisa diganggu gugat oleh sebuah logika.”
Aku menyangkal dan kukuh dengan pemahamanku.
“Kesesatan memang sangat halus Fihan, lebih baik kamu sekolah yang benar, jadi juara kelas dan jajah teman-temanmu, makan saja masih pakai tangan, malah ingin menguji kepintaran bapakmu ini.”
Ayahku berkilah dengan berkelakar.
“Apa ayah tahu siapa jati diri ayah?”
Lalu aku menguji sejauh mana ayahku memahami kehidupannya.
“Ayah adalah seorang penguasa, jati diri itu ayah yang bentuk.”
Ayahku menjawab dengan yakin dan pasti.
“Itu bukan jati diri, itu pengukuhan diri, jati diri itu seperti angin, tak berwarna tak berwujud, tapi saat berembus kita tahu itu angin, siapa yang mengenal rohnya akan mengenal Tuhan-nya siapa yang mengenal jiwanya akan mengenal tugasnya, siapa yang mengenal raganya akan mengenal tempat kembalinya, dan siapa yang mengenal jati dirinya, akan mengenal rahasianya, dan siapa yang tahu rahasianya, maka merasa bodohlah dirinya.”
Aku menyangkal lagi pemahaman ayahku.
“Itu kesesatan yang nyata.”
Dan ayahku menuduhku.
“Buktikan secara autentik kesesatanku, sebab kita punya kepercayaan masing-masing.”
Aku bangkit berdiri, namun saat hendak pergi, aku tertahan dengan tertawa mengejek dan pertanyaan dari ayahku.
“HE-HE-HE-HE ...”
“Terus seperti apa jati dirimu? Kamu juga tidak bisa membuktikan kebenaranmu?”
Ayahku mengujiku, tapi terkesan hanya ingin tahu.
“Aku belum tahu, malah aku tidak tahu apa yang aku sukai, dan tak tahu seperti apa cinta itu.”
Sejak saat itu, aku tidak bicara lagi pada ayahku, tak lama berselang, dia tewas diracun oleh ibu Sieren, aku tidak menangis, tidak pula tersenyum, bagiku kematian itu adalah hal yang lumrah, maka aku panjatkan do'a sebagai bukti bakti terakhirku pada sang ayah, yang semoga saja dia ditolong oleh keberuntungan, berharap ayah mendapatkan kemerdekaan jiwanya kembali.
Yang memang ujungnya kami lebih menonjolkan sisi keegoisan, aku merasa benar dan ayahku pun merasa benar, tapi pastinya, aku hanya manusia yang selalu ingin tahu, maka apapun itu jalannya aku akan terus menapakinya hingga mendapatkan jati diriku kembali, dan mengukuhkan diri bahwa akulah pemenangnya.
__ADS_1
Sejak saat itu pula, aku menantang guru-guru di SMA-ku mencari sosok guru yang mampu membungkam kata-kataku, sampai seluruh manusia menganggapku angkuk dan sangat jahat, tapi dari situlah aku bisa melihat bagaimana cara akal dan jiwa mereka bekerja.