Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
KUCING BERSIN!


__ADS_3

       Ke esokkan harinya, Fihan kembali bersekolah tanpa beban, sebab ia perlahan-lahan bisa melenyapkan beban-beban itu. Sazan tidak hadir di sekolah hari ini karena pemeriksaan rutin di rumah sakit, dan di jam istirahat pertama, pukul 10:01 Fihan tengah menghadap Guru Sukada di ruang Guru, hanya Farka yang boleh menemani Fihan di dalam, sementara Eril sang pecinta, hanya mampu berdiri di luar bersama Areny duduk di pinggir teras berlantai keramik, sambil ngobrol sana sini. Di ruang Guru hanya terdapat Guru Sukada, dan Guru Kativia yang duduk di kursinya, ditambah dua murid yang menghadap meja Guru Sukada. Mereka tengah menjelaskan masalah Fihan serta Guru Kativia.


“Nah, kemarin kamu mabal, kamu juga membuat Guru Kativia ikut mabal,” ungkap Guru Sukada berkelakar.


“He, aku tidak mabal! Aku pulang,” sela Guru Kativia membela diri.


Meja Guru Kativia berada di samping pintu kedua tepat di belakang Fihan. Guru Sukada duduk di kursinya sambil tersenyum menggelengkan kepala, ia memandang Fihan dengan bingung namun kesal, seolah-olah datang ke sekolah hanya untuk main-main semata.


“Nah, Farka sudah menjelaskan semuanya pada saya kemarin,” ungkap Guru Sukada.


Fihan berdiri dengan menyelipkan kedua tangan ke saku celananya sambil memandang ke depan tak peduli, sementara Farka menatap mata Guru Sukada penuh hormat.


“Fihan, bapak sudah memaafkan Guru Kativia, kamu tidak perlu berlagak sok pahlawan,” kata Guru Sukada dengan serius.


Namun Fihan masih kalem sengap, seakan ia tak mendengarkan suara Guru Sukada. Lantas Guru Sukada duduk tegap sambil bersedekap menyilangkan tangan, pandangan matanya tetap melekat pada wajah tampan Fihan, Fihan begitu cuek, dingin, bahkan angkuh, ia sama sekali tak menunjukkan rasa hormatnya pada wali kelasnya sendiri, ia tak menunjukkan rasa bersalahnya, justru Fihan lebih menunjukkan pembangkangan.


“Fihan, bagaimana kamu tahu kalau Guru Kativia itu adalah teman bapak? Selama tiga tahun kita bertemu tak pernah sekalipun saya jelaskan, kamu juga tahu ya cara membuat seorang guru meninggalkan kelas dengan hati gundah?” heran Guru Sukada dengan menyelidik.


Fihan tak menanggapi, dia masih betah menatap ke depan pada jendela kaca, yang memang untuk apa juga dia menjawab perkataan gurunya, bagi Fihan pertanyaan Guru Sukada tak sepenting perbuatan Fihan.


“Guru sebenarnya bangga padamu Fihan, kamu pintar, cerdas, cerdik, dan kaya,” sanjung Guru Sukada.


Fihan masih terdiam.


“Kamu memang mirip seperti ayahmu,” kata Guru Sukada memancing perasaan Fihan.


Sontak pernyataan sang guru, membuat hati dan otak Fihan tersentuh, bukan karena benci pada ayahnya, melainkan karena Guru Sukada terkesan sok kenal, maka dengan jiwa yang terketuk, netra hitamnya diarahkan langsung pada Guru Sukada, dengan sorot mata kaget namun tetap santai, akan tetapi ia kembali berpaling memandang jauh ke depan.


“Nah kan, guru juga berhasil menyentuh psikismu, terkadang orang-orang sepertimu susah ditebak, di sini bisa pendiam di rumah bisa cerewet...” ungkap Guru Sukada.


“Anda, tidak tahu apa-apa tentang diri saya,” balas Fihan yang pada akhirnya buka suara.


Namun Farka sangat terkejut mendengar perkataan Fihan, yang justru seolah menantang Guru Sukada untuk berdebat, Farka mengerling ke kanan pada Fihan, ia mulai waspada, takut-takut kalau Fihan bicara kasar pada gurunya, bagaimana pun Farka harus sanggup menjadi penengah yang baik. Sedangkan Guru Sukada sudah lebih siap menerima balasan dari Fihan.


“Oh maaf-maaf kalau bapak lancang, bapak hanya ingin mengatakan bahwa, tidak semua guru bisa memahami murid-muridnya seperti bapak, jadi...” ucapan Guru Sukada menggantung.


“Ya sudah kalian boleh kembali...” lanjutnya.


“Itu saja Pak?” tanya Farka memastikan.


“Iya, mau apa lagi? Mau dihukum?” kelakar Guru Sukada.


“Hehehe... enggak Pak,” balas Farka.


Tanpa mengucapkan salam, bahkan tanpa sikap hormat, Fihan langsung pergi begitu saja. Untungnya Guru Sukada paham betul dengan sifat Fihan sehingga suasana tetap santai, kala Fihan melangkah menuju pintu, Guru Kativia sempat mengerling memandang Fihan dengan kesan menyelidik, setelah Farka berpamitan pada kedua guru di ruangan itu, ia pun pergi keluar dengan santai, sementara Fihan, telah lebih dulu pergi dengan Eril yang berusaha tetap di dekat Fihan.


“Fihan tunggu!” seru Eril.


Fihan tetap cuek melangkah menuju aula, sementara Farka tengah menjelaskan semua yang tadi terjadi di ruang Guru pada si gadis ceria beraura positif yaitu, Areny, lantas, mereka pun berjalan pergi menuju kelas.


       Tepat di depan kelas 12, Farka dan Areny tengah berdiri di depan jendela kaca memandang Zeni dari luar kelas. Zeni tampak asyik mengetik di ponsel pintarnya. Farka merenungi kalimat Fihan yang menyatakan bahwa perasaan manusia hanya untuk sebuah candaan, Farka mulai mengkhawatirkan Zeni yang selalu menyendiri dan berpaling dari orang-orang yang ingin bersamanya. Farka paham betul perasaan Zeni sekarang, gadis itu sedang butuh teman, tapi, dia tidak tahu harus memulai dari mana.


“Ada apa ketua?” tanya Areny sangat heran pada tatapan aneh Farka.


Suara Areny telah membuyarkan perenungan Farka, ia justru menatap Areny dengan penuh arti, menerawang pada sikap Areny yang selama ini selalu ceria, lalu ada ide yang muncul dalam pikiran Farka yang pelik.

__ADS_1


“Aku khawatir kalau dia selalu sendirian dia enggak punya orang untuk berbagi keluh kesahnya, seluruh beban hidupnya ia tanggung sendiri,” ungkap Farka.


”Ahk ketua berlebihan,“ ucap Areny cuek.


”Justru yang berlebihan itu si Zeni, padahal hidup itu dibawa santai juga tetap ngalir...“ sanggah Farka.


”Sudah cepat temani dia...“ pintanya.


”Loh...? Kenapa aku...?“ heran Areny dengan mengernyitkan kening.


”Kamu perempuan,“ balas Farka.


”Terus kenapa?“ heran lagi Areny yang sebenarnya Areny hanya ingin bersama Farka.


”Begini... kayaknya Zeni punya masalah yang enggan ia bicarakan, dia butuh dukungan untuk menjalankan hidupnya, kamu perempuan yang ceria, pantang menyerah, dan Zeni akan lebih memilihmu ketimbang orang lain, sebab, ahk sudahlah... makin banyak bacot makin sedikit waktu kita...“


”Jelasin dulu ahk,“ kukuh Areny.


”Hadeeeeeeh... Begini-begini...“


Areny pun seketika memasang perhatian serius pada Farka, meski pandangannya nampak serius, namun hatinya hanya ingin bersama Farka enggan untuk bersama Zeni.


”Zeni nggak punya siapapun untuk menyemangati hidupnya, dia punya masalah yang harusnya dia tidak menanggungnya sendirian, maksudku, kamu harus bisa buat dia memiliki harapan hidup,“ jelas Farka penuh harap.


”Tapi ketua...“ sela Areny namun kalimatnya menggantung menimbang-nimbang penjelasan Farka.


“Dia terlalu muda untuk menanggung beban seperti itu, mungkin kematian memang cara terbaik untuk menghindari susahnya hidup... tapi, kalau ada satu orang sebagai pendukung layaknya suporter sepak bola, kesempatan untuk bertahan hidup masih ada, karena masih ada orang yang menginginkan dia hidup dan adanya ikatan kepercayaan yang menjadi penguat hatinya,”


“Ahk... ketua tahu dari mana?” tanya Areny.


“Iya, karena... aku begitu...” balas Farka serius.


“Enggak begitu juga kali...” bantah Farka.


“...selayaknya anak muda saja, kita berteman dan membantu teman kita...” lugasnya.


Areny terpegun merenung, hatinya masih agak berat untuk pergi dari Farka, pasalnya, Zeni itu gadis yang sulit didekati, biasanya dia akan mengeluh ingin sendirian, apa lagi Areny masih ingin bersama Farka sehingga berat baginya untuk pergi.


”Bayangkan kamu diposisi Zeni, tanpa ada orang yang mendukung kehidupanmu, singkatnya kamu hanya mengalami, trauma, kematian, tangisan...“


”Iya iya iya,“ sela Areny sambil menerawang lewat jendela kaca memandang Zeni.


”Oh iya, menurut kamu, apa pemikiranku terlalu kolot? Atau aku malah kayak orang tua?“ tanya Farka.


”Ahk, kamu mah memang kelihatan tua,“ kelakar Areny.


”Anjir...“


Areny kemudian kembali menerawang lewat jendela kaca, mengawasi Zeni yang nampak masih fokus pada ponsel pintarnya. Dan karena ini juga demi kebaikan temannya, maka Areny mulai melangkah masuk ke dalam kelas, menghampiri Zeni di bangkunya. Tapi sekonyong-konyongnya, Areny justru malah terpaku di depan kelas, suasana kelas cukup ramai, namun semuanya sibuk pada kesenangannya masing-masing. Farka masih berdiri di luar kelas, mengawasi dari luar, ini memang terasa aneh bagi Farka sendiri, namun jika Farka membiarkan Zeni hidup sendiri di dunianya, kemungkinan untuk bunuh diri akan terulang kembali, bahayanya dia bisa menyakiti psikisnya membuat emosinya terganggu. Areny pun masih terpaku layaknya manusia yang dikutuk jadi patung, ia bingung harus berbuat apa, atau berkata apa, dia tidak tahu harus memulai dari mana. Sebenarnya Aqada yang duduk di bangku sebelah kanan Zeni tengah nyerocos panjang lebar menceritakan cerita-cerita aneh, namun seperti biasanya, Zeni tak peduli, ia tetap fokus pada ponselnya seakan tak menganggap Aqada sedang hidup. Areny buru-buru tersadar dari lamunannya, ia menarik napas panjang, mempersiapkan mentalnya, agar ia siap menerima kalimat pedas Zeni atau menerima sikap dinginnya, lagi pula untuk apa juga dia bingung, padahal hanya perlu bicara layaknya manusia normal, sambil mengatakan 'apa kabarmu?'. Areny pun melangkah ke depan meja Zeni, melangkah dengan pasti, aura positifnya memancar.


“Zeni,” sapa Areny dengan tersenyum hingga gigi putih nan ratanya mengintip dengan berseri-seri.


Zeni tak menggubris, masih betah menunduk fokus pada ponsel pintarnya. Namun Areny pun tertegun tanpa tahu harus berbuat apa dan berkata apa, karena bingung ia menengok ke arah jendela kaca tempat Farka berada, sayangnya Farka sudah tak nampak, entah dia pergi ke mana.


“Hai Zeni, Aqada kayaknya enggak mungkin deh, menyerah,” bisik Areny dengan membungkuk.

__ADS_1


Zeni tetap bersikap dingin.


“Zeni apa, apa, apa ya...?” ucap Areny kebingungan.


Mendadak Zeni mengerjapkan matanya, lalu dengan tatapan tajam ia menyorot pada wajah manis Areny.


“Ada apa?” tanya Zeni dengan raut muka cuek.


“Eh?”


Areny menelan ludahnya karena gugup, ia bingung bicara pada Zeni, gadis pendiam itu jika diajak bicara pasti hanya diam dan pastinya langsung berpaling, parahnya Zeni tanpa segan bisa mengusir atau menghardik si pembicara, sehingga tak ada satu pun orang yang mau berteman dengannya, untuk ngobrol saja berpikir matang-matang. Sekonyong-konyongnya Aqada bangkit berdiri.


“Loh, Hei-hei-hei Zeni,” kata Aqada yang tak terima.


“Zeni, kenapa Areny datang kamu ladeni sementara aku, kamu anggap aku angin lalu?” lanjutnya geram.


Zeni masih menilik Areny tanpa merasa Aqada hadir di sampingnya.


“Jangan terlalu cuek, kasihan tahu Aqada dari tadi enggak dianggap,” ujar Areny mencoba membuka suasana menyenangkan yang justru tidak sama sekali.


Namun Zeni tetap diam tak peduli. Aqada masih berdiri berkacak pinggang memandang Zeni berharap dianggap ada.


“Kamu sendiri ada apa?” tanya Zeni.


“Aduuuuh... ngomong sama kamu kayak ngomong sama sandal,” sindir Aqada lalu kembali duduk tapi ia memainkan ponsel pintarnya menyerah dengan sikap Zeni.


Areny pun berdiri tegap memandang Zeni menilik, mendadak sebuah ide muncul dalam kepalanya. Lalu tanpa pikir panjang, ia meraih tangan kiri Zeni, menariknya untuk ikut bersama Areny. Zeni sama sekali tak melawan, mereka pergi keluar kelas. Sedangkan Aqada hanya sanggup duduk menatap kepergian mereka.


Kini di dalam aula olah raga, Fihan dan Eril tengah duduk di bangku penonton, aula ini sangat besar, layaknya stadion Futsal. Mereka berdua hanya duduk sambil main ponsel pintar masing-masing, aula cukup sepi, hanya paman Queda sang penjaga sekolah yang terlihat tengah sibuk membersihkan bangku penonton.


“Fihan, kan rumahmu sudah terbakar, nah selanjutnya apa yang mau kamu lakukan?” tanya Eril.


Fihan masih bungkam tetap Fokus pada ponselnya. Maka dengan rasa penasaran tinggi, Eril pun mulai menoleh pada Fihan berharap mendapatkan jawabannya. Namun setelah lima detik berlalu Fihan sama sekali tak menanggapi.


“He, kamu ini kenapa sih, kalau diajak bicara bisanya diam-diam terus, kayak punya masalah sama semua orang,” sindir Eril.


“Coba-coba kamu ceritakan apa masalah kamu, siapa tahu aku bisa menambah masalah kamu,” guyonnya sambil memegang bahu kiri Fihan dengan mencondongkan tubuh ke hadapan Fihan.


Namun harapan Eril untuk membuat pujaan hatinya tertawa gagal total, bahkan senyuman pun tak sempat tersungging, Fihan diam tak peduli, masih agak membungkuk memegang ponselnya.


“Hehehe... bercanda-bercanda...” ucap Eril menegaskan perkataannya yang tadi tak serius.


Lalu Eril kembali duduk tegak sambil memandang ke area lapangan, raut mukanya tampak merenung, Eril masih memikirkan bagaimana caranya membuat Fihan tersenyum, sebab laki-laki pendiam itu cukup pelit dalam mengembangkan senyuman, namun Fihan pernah tertawa kala seekor kucing bersin di depannya, bersin kucing itu memang aneh, tapi tidak membuat Eril tertawa.


“Aku akan membuat ibu tiriku sadar,” ujar Fihan yang akhirnya bicara.


Eril melongo mendengar ucapan Fihan, tak disangka laki-laki itu akhirnya bicara juga, namun sudah tak aneh lagi Fihan bersikap dingin begitu, maka Eril mengangguk-angguk paham. Lantas Fihan memasukkan ponselnya ke saku celananya.


“Aku akan melanjutkan perjuangan ibuku,” imbuh Fihan dengan serius.


“Eh? Memangnya ibumu memperjuangkan apa?” usut Eril sambil memandang telinga kanan Fihan.


Fihan menegakkan tubuhnya mensejajarkan dengan badan Eril, sehingga Eril kini bisa memandang wajah tampan Fihan meski dari samping. Namun belum sempat Eril mendapat jawaban dari Fihan, sekonyong-konyongnya Fihan bangkit berdiri hendak pergi.


“Eh?!”

__ADS_1


“Ayo, istirahat akan selesai,” ajak Fihan sambil melangkah pergi.


Sontak Eril langsung bangkit mengejar Fihan, namun Eril tak lagi bertanya karena ia tahu Fihan orang yang tertutup. Mereka pun berjalan menuju kelas. Tak berselang lama, bel masuk berdering, memerintah murid-murid untuk bergegas melanjutkan pelajaran.


__ADS_2