
Sekolah kembali berlangsung, tanpa Fihan si laki-laki dingin, Farka duduk termenung di kursinya dengan jendela kaca yang terbuka, memberinya udara segar siang ini, sebab pikiran peliknya kembali bekerja, penjelasan Eril tentang Fihan yang membakar rumahnya, telah menjadikan Farka merenung begitu dalam. Apa sebenarnya rencana Fihan?
Renungannya pecah kala seorang pria dewasa berumur 26 tahun masuk ke dalam kelas, Guru Gansa melenggang masuk dengan raut muka cueknya, tanpa sapaan, tanpa senyuman, dia sebenarnya guru paling misterius, dia tidak akan bisa ditemui di ruang Guru, ada dua cara untuk bertemu dengannya, di jam mengajarnya, dan membuat janji dengannya, satu hal yang unik, meja kerjanya di ruang Guru, selalu bersih dan rapi, bahkan keadaannya selalu sama dari bulan ke bulan, menurut guru-guru di sekolah ini, Guru Ganza tidak punya rumah, tidak akan menikah, tidak punya cita-cita, yang lebih anehnya Guru Ganza mengaku tidak digaji selama menjadi guru. Sebenarnya Guru Ganza menurut murid-murid sekitar adalah guru yang tampan, gagah, berkarisma, baik, pendiam dan tentunya misterius, dia punya perawakan tinggi, mata hitamnya yang bulat layaknya bulan purnama yang hilang sinarnya, wajahnya agak persegi dengan berewok yang terpahat indah, dia punya rambut hitam gondrong sebahu dan agak bergelombang layaknya Kurt Cobain, hanya saja ini versi orang timur, sebenarnya karakter suaranya juga sangat khas, agak serak namun terdengar lugas dan penampilannya sangat rapi, dengan setelan formal, ditambah parfumnya yang semerbak beraroma jeruk. Guru Ganza mengajar mata pelajaran Matematika, Seni dan Bahasa. Kali ini kami akan belajar Matematika. Seluruh murid sempat memberi hormat pada Guru Ganza. Guru Ganza langsung memulai pelajarannya tanpa ada kata yang terucap, ia juga tidak menanyakan keberadaan Fihan, bukan karena dia tidak sadar, justru karena dia tidak peduli, dan seluruh murid sudah terbiasa dengan sikap cuek Guru Ganza, sehingga tidak ada yang memberi tahu ketidak hadirannya Fihan. Pelajaran berlangsung seperti biasa, tak ada canda tawa, suasana berlangsung sangat serius, kecuali Farka yang tak peduli, dia menggambar kartun, seperti tengkorak atau monster-monster di buku tulisnya, hampir setiap pelajaran Farka hanya menggambar, sering sekali tak memerhatikan guru mengajar, dan tentunya kalau pun ada soal pelajaran, maka Kahji sang asisten yang siap sedia, mengisi semua soal pelajaran milik Farka, Kahji duduk di bangku tepat di depan Farka.
Di sudut kota Artana, di antara gedung-gedung komersil, Sieren tengah duduk sendiri di sebuah kursi panjang, di pinggir jalan, penampilannya masih rapi dengan setelan formalnya, namun raut mukanya begitu kusut, merenung tapi kosong, ia melamun layaknya orang yang telah kehilangan jiwanya. Tiba-tiba, seorang laki-laki muda duduk di samping kiri Sieren, namun Sieren masih terdiam dengan pandangan kosong. Fihan pun menyodorkan sebotol jus jeruk pada Sieren. Mendadak mata Sieren mengerjap, lamunan hampanya pecah dan pandangannya kembali fokus, seolah jiwanya telah kembali. Namun tatkala dia menoleh pada Fihan dia terperenyak kaget, hingga beringsut, raut wajah Sieren seketika berubah, kaget dan marah jadi satu, tapi dia terpaku memandang Fihan lekat-lekat, tanpa kata, tanpa berkedip.
“Minum ibu,” kata Fihan menawarkan masih menyodorkan sebotol jus jeruk.
Sieren termenung, ia kembali ke posisi duduknya semula, tapi, tak ada tanggapan berarti dari Sieren, raut mukanya masih kusut, ia senderut, dan hanya terdiam tanpa bicara. Maka Fihan menaruh botol jus itu di samping Sieren di atas kursi.
“Mau apa kau kemari? Apa kau belum puas menyiksa ibu tirimu ini?” tanya Sieren tiba-tiba.
Pandangan Fihan tertuju ke depan, pada mobil-mobil yang melintas di jalan raya.
“Aku sudah memaafkan semua kesalahanmu ibu... jadi... ibu juga harus memaafkan perbuatanku...” ucap Fihan dengan penekanan disetiap kata penuh keseriusan.
Namun Sieren hanya terdiam, duduk agak membungkuk dengan tertunduk kuyu, hatinya sudah sakit, pikirannya sudah tak fokus, harapannya sudah lenyap, jiwanya terasa berat, dan entah apa mungkin dia bisa bertahan hidup. Satu hal yang penting, Sieren anak yatim piatu, sebenarnya dia punya kehidupan yang normal, tapi, sikap rakusnya membuatnya merusak semua kehidupannya. Suasana di tempat ini tak seramai di pusat kota, cuaca cukup cerah dengan awan-awan yang menghiasi langit biru, di belakang Fihan adalah toko buku, sedangkan Hadra tengah berdiri menyandarkan tubuhnya pada sisi mobil, tepat di seberang jalan, di parkiran restoran.
“Asal ibu tahu, seluruh aset milik ayah sudah disita pemerintah, aku membakar rumah waktu itu, agar ibu tidak tertangkap oleh penegak hukum, itu sebabnya...” tutur Fihan menggantung kalimatnya.
Fihan meraih sebuah amplop dari saku kiri celananya.
“...pergilah ke rumah pertama ibu, rumah itu sudah jadi milik ibu, semua aktenya sudah ada di sana dan... ambil uang ini...” lanjut Fihan sambil menaruh amplop berisi uang tepat di samping botol di kursi.
“Berhentilah sok baik pada ibu!” kata Sieren masih tertunduk kesal.
“Aku mengusir ibu, aku tidak mau kota ini dipenuhi sampah seperti ibu...” jelas Fihan dengan kalem dan cuek.
“...jadi pergilah, dan jalani hidup selayaknya saja...” imbuhnya sambil bangkit berdiri.
Sieren masih tertunduk tak menanggapi, dia benci, benci pada Fihan, pada keluarga Fihan dan benci pada dirinya sendiri. Fihan telah pergi, kembali melanjutkan tujuannya bersama Hadra. Lalu Sieren menoleh pada amplop yang tergeletak di sisinya, menilik dengan menimbang-nimbang keputusan apa yang akan diambilnya.
Di pukul 14:10 seluruh murid SMA Lily Kasih diperbolehkan untuk pulang sebab jam pelajaran telah selesai. Seperti biasa Areny dan Farka pulang bersama-sama, diperjalanan mereka membicarakan tentang Fihan yang pergi bersama pengawalnya dan Zeni yang ternyata bisa tertawa. Jauh dari sekolah, di rumah Fihan, Eril serta nenek Fihan tengah duduk di lantai menunggu kedatangan Fihan, sebelumnya Eril telah menceritakan kepergian Fihan bersama Hadra, jelas sang nenek cukup khawatir, mengingat Fihan pernah menyuruh Hadra untuk membakar rumah Sieren. Satu hal yang penting, bahwa mereka masih menyebut Hadra dengan sebutan Andy. Semenit kemudian, Fihan pulang, ia masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam, ia masuk sendirian, sedangkan Hadra menunggu di dalam mobil, penampilannya masih sama. Eril serta nenek sontak langsung bangkit berdiri, memandang Fihan dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Kamu dari mana?” tanya Eril dengan khawatir.
“Dari mana kamu Fihan?” timpal sang nenek ikut khawatir.
“Dari rumah Pak Hadra,” jawab Fihan sambil melangkah menuju dapur.
“Hadra?” heran Eril dengan mengernyitkan kening.
“Itu nama asli Pak Andy,” balas nenek.
__ADS_1
“Baru tahu aku.”
Setelah Fihan melakukan kegiatan penting di dapur, yaitu minum, tanpa merasa bersalah ia melangkah menuju kamarnya, mengganti pakaiannya.
“Kenapa harus bolos? Padahal pulangnya kan bisa ke rumah Pak Hadra?” selidik nenek Fihan sambil berdiri di depan pintu kamar Fihan.
Sementara Eril hanya sanggup berdiri di depan pintu keluar dengan penuh tanya. Dan kala Fihan telah keluar dari kamarnya, penampilannya telah berganti, setelan formalnya bernuansa hitam ditambah rambut hitam klimisnya yang tersisir ke belakang membuatnya nampak memesona, hingga Eril pun melongo tercengang-cengang melihatnya.
“Sekarang kamu mau ke mana lagi?” tanya nenek dengan cemas.
Fihan tak menanggapi, dengan kalem dia berjalan menuju pintu keluar. Tapi langkahnya terhenti tepat di depan mulut pintu, tak disangka Eril menggenggam tangan Fihan, dengan raut muka serius dan penuh harap. Sedangkan Fihan memandang jauh ke depan, ia cuek tak peduli.
“Aku ikut Fihan, aku ikut!” pinta Eril memaksa.
“Kamu mau ke mana lagi?” tanya lagi sang nenek yang cemas.
“Aku mau bekerja, kalau aku tidak kerja, kita bisa mati kelaparan,” jawab Fihan dengan tegas dan mantap.
Pandangan Fihan yang dingin masih ia pampang. Namun Eril masih menggenggam tangan Fihan dengan raut muka penuh harap.
“Aku mau ikut! Aku juga mau bekerja!” kata Eril dengan yakin.
“Apa kamu siap menanggung risikonya?” tanya Fihan memastikan.
“Ayo,” ajak Fihan.
Maka tanpa ragu, Eril berpamitan pada nenek, dan sang nenek tak dapat berbuat banyak, sebab apa yang dikatakan Fihan ada benarnya juga, terlebih, sang nenek hanyalah seorang pensiunan pabrik, untuk makan saja mikir-mikir. Fihan dan Eril pun pergi dengan mobil sedan Hadra menuju suatu tempat. Eril masih mengenakan seragam sekolahnya, ia duduk di jok belakang bersama Fihan, sementara Hadra menyetir di jok depan.
“Kita mau ke mana? Kerja apa memangnya?” tanya Eril penasaran.
“Nanti juga tahu, jangan banyak bicara,” jawab Fihan dengan lugas dan tegas.
Eril hanya mengangguk mengiakan dengan senyuman tipis. Eril hanya sanggup pasrah menerima semua permintaan Fihan, yang penting baginya hanyalah dapat selalu bersama Fihan. Eril pun menyandarkan kepalanya pada bahu kanan Fihan. Aroma parfum Fihan sangat semerbak, hingga wangi pengharum di mobil ini lenyap.
“Kamu wangi sekali Fihan,” sanjung Eril dengan manja sambil memeluk tangan kanan Fihan.
Namun sekonyong-konyongnya Fihan melepaskan tangan kanannya dari pelukan Eril.
“Bersikaplah layaknya wanita terhormat Eril,” tegur Fihan yang tak nyaman.
Eril terheran-heran hingga kedua alisnya terangkat ke atas.
“Kita akan bertemu dengan para pejabat, duduklah dengan tegap sekarang juga,” pinta Fihan dengan tegas namun wajah cueknya tetap kentara.
__ADS_1
Dengan terpaksa Eril duduk tegap, dengan raut muka senderut, tapi ia juga terkaget-kaget dengan perkataan Fihan.
“Ha? Yang benar? Para pejabat?” tanya Eril dengan tercengang hingga keningnya mengernyit.
Fihan tak membalas, namun Fihan mengangguk dengan satu anggukan mantap, dan Eril percaya.
“Ta-ta tapi! Aku belum ganti pakaian nih! Aduuuuuuhh... rambutku pasti kusut...” keluh Eril dengan panik.
Eril tiba-tiba menjadi rusuh sendiri, sebab orang yang akan dia datangi adalah orang-orang terhormat, mata Hadra hingga rela mengerling pada spion dalam, untuk melihat tingkah panik Eril. Lalu Eril maju ke depan menuju spion dalam mobil hanya untuk bercermin, hingga Fihan terpaksa beringsut ke samping kiri, Eril menyiah rambut hitamnya agar tetap tampil cantik nan elegan.
“Cukup! Di sana nanti kamu akan didandani!” ungkap Fihan dengan lantang dan lugas yang sebenarnya terganggu dengan sikap Eril.
“Eh?!” ucap Eril tercengang hingga menoleh pada Fihan.
Mendadak Eril kembali duduk ke posisinya, namun pandangan matanya tetap melekat pada wajah tampan Fihan, memandang Fihan penuh rasa kagum dan senang, sebab untuk pertama kalinya, Eril akan bertemu dengan orang-orang terhormat, ditambah kebanggaannya meningkat mengetahui Fihan kemungkinannya akan menjadi bagian dari pria terhormat, tapi, Eril bingung, dengan perkataan Fihan yang menyuruh Eril bersikap layaknya wanita terhormat.
“Tapi Fihan, bagaimana caranya bersikap layaknya wanita terhormat?” tanya Eril mencari tahu.
Setengah badan Eril menghadap Fihan, memberi kesan serius.
“Bersikap tenang, sopan, berdiri tegap, ucapkanlah kalimat tegas dan penting, jangan membuang-buang waktu demi kesenangan semata, berpikir maju dan positif, wangi, cantik, pintar, elegan, jangan menyerah, jangan melamun, jangan menguap, jangan banyak bicara, jangan mengeluh, jangan meludah, jangan menunjukkan ketertarikan pada laki-laki, jangan menggoda, jangan berbohong, jangan bicara kasar, jangan menunduk malu, jangan manja, jangan tersenyum pada laki-laki lain kecuali bagian keluargamu, jangan bergosip, jangan berburuk sangka, jangan bicara lembut pada laki-laki lain kecuali suamimu, jangan merendahkan temanmu, jangan buang sampah sembarangan, jangan memuji pria lain kecuali suamimu, jangan menolak perintah suamimu kecuali dia memerintah hal buruk, jangan menolak kebaikan orang lain, jangan menikahi laki-laki bodoh dan mudah menyerah, jangan bersentuhan badan dengan laki-laki yang bukan suamimu, jangan menolak pekerjaan halal lagi baik, jangan makan dan minum saat panas, jangan makan buru-buru, jangan makan dan minum berdiri, jangan rakus, jangan membentak orang yang lebih tua darimu, jangan tertawa terpingkal-pingkal, jangan kentut sembarangan, jang...”
“Tunggu-tunggu-tunggu!” sela Eril.
“Apa sebanyak dan sesusah itu?” lanjutnya tak menyangka.
“Jangankan kamu yang kesusahan... aku pun sangat kesulitan untuk bersikap layaknya pria terhormat...” balas Fihan dengan menunduk merenung.
“Anjir.... ya sudah ya sudah, yang pentingnya saja,” kata Eril menyarankan.
“Lagian siapa sih yang membuat aturan seperti itu? Bukannya wanita terhormat itu adalah wanita yang berpendidikan?” sangka Eril.
“Memang wanita terhormat itu adalah wanita yang berpendidikan, namun, saat ayahku melihat seorang asistennya korupsi, maka ayahku menyimpulkan ada poin-poin penting yang harus dijaga agar citra hormat benar-benar sempurna, ayah dan ibuku mengumpulkan semua poin penting itu, mereka menjadikannya sebuah buku, semua yang tadi aku katakan bersumber dari manusia dan hukum agama, dan aku mempelajarinya... dan aku tidak sanggup melakukannya,” ungkap Fihan dengan pandangan ke depan.
“Wah wah... hebat orang tuamu...” sanjung Eril menggelengkan kepala penuh kagum.
“Tidak, aku dan keluargaku bodoh, sangat munafik lagi sangat jahat, rangkuman poin-poin tadi dibuat saat ayah ibuku sedang dimabuk cinta, mereka mengumpulkannya saat baru seminggu menikah, tujuan ibuku hanya agar aku anaknya bisa menjadi manusia terhormat, tapi ayahku, bertujuan untuk membuat nama baik pada citra buruknya... asal kamu tahu...” sanggah Fihan dengan memandang pada ketiadaan.
“...kisah cinta orang tuaku sangat rumit, ibuku keturunan para pemuka agama, kakekku adalah seorang kiai, sedangkan ayahku keturunan para mafia, pemabuk dan penjudi,” imbuhnya menegaskan betapa munafiknya keluarga Fihan.
“Ooooohhh....”
“Ya sudah, bersikap saja selayaknya wanita berpendidikan,” saran Fihan.
__ADS_1
Eril mengangguk mengiakan. Dan mobil terus melaju menyusuri bangunan-bangunan komersil menuju pusat kota.