
Tepat pukul 16:55 senja hari, di kelas 12.
“Nah... tujuannya sederhana, kita menulis kehidupan kita, jika itu aib, kalian boleh menyamarkan nama kalian, lalu nanti Guru Sukada akan menceritakan kisah kita pada murid-murid terpilih, yaitu murid-murid yang kehilangan harapannya, atau adik kelas yang beruntung, dengan tujuan pembelajaran mental, sekaligus pembentukan karakter, kita adalah generasi pertama yang memulai pembaruan autobiografi, sementara untuk tulisan khayalannya itu adalah bentuk otak kita bekerja, atau karakteristik bagian cara berpikir kita...” ungkap Farka.
”Maksudnya bagaimana sih? Bagaimana caranya tulisan kita bisa membentuk mental atau karakter seseorang?“ heran Areny.
”Jadi, sebelum kita, kakak kelas kita dulu, telah menulis seperti kita, tapi hanya untuk memberikan kesannya selama bersekolah, malah dulu bukan autobiografi, sebutannya masih pengalaman bersekolah, dan seiring berjalannya waktu, kepala sekolah meminta dibuatkan autobiografi murid-murid sebagai bagian perpisahan kelulusan kelas 12 digabung dengan album foto, anehnya ada kisah-kisah yang memilukan dan saat Guru Sukada masih menjadi pelajar di sini, ia mengetahui masalah teman-temannya tepat dari buku autobiografi mereka, maka ia berusaha membantu mereka, dan ia mendapat pencerahan dari kejadian itu, beberapa tahun kemudian Guru Sukada menjadi guru di sini, pencerahan itu ternyata, mengubah fungsi atau tujuan buku autobiografi SMA Liliy Kasih dibuat, sehingga dibuat bukan hanya untuk kesan perpisahan yang digabung dengan album foto, melainkan untuk pembelajaran hidup para murid-murid di sekolah, baik sekarang maupun yang akan datang, namun karena banyak yang malas menulis dan malas membaca sepertiku, maka tiga tahun lalu, diputuskan pembaruan sistem, sang penemu pintu rahasia di perpustakaan atau murid yang terpilih oleh sang wali kelas, akan ditunjuk sebagai penulis pertama autobiografi sekaligus menjadi utusan sekolah untuk mencari lagi murid yang layak menulis sejarah, jadi hanya murid terpilih yang menulis autobiografinya...“ penjelasan Farka dipotong.
”Tunggu, itu berarti, kelas sepuluh dan sebelas juga menulis autobiografinya?“ sela Areny menyelidik.
”Tidak, tak ada yang terpilih, atau belum ada yang terpilih, dan aku hanya boleh memilih temanku yang sekelas denganku,“ jawab Farka.
Areny mengangguk paham.
”Nah... lalu buku itu diceritakan nantinya pada kelas yang memiliki murid kacau, atau menjadi bagian pelajaran dari sekolah, contohnya seperti kita, saat Guru Sukada menanyakan soal teman yang bunuh diri karena kehilangan pacarnya, nah... guru akan melihat siapa yang serius menghadapi kehidupan sosial dan siapa yang kepedulian sosialnya kurang, simpelnya ada guru yang menilai muridnya dari sikap sosial, ada pula guru yang menilai dari segi akademis, jadi sebenarnya itulah yang dilihat agar bisa lulus, aku peduli pada semua orang karena aku akan lulus dengan nilai sosial tinggi, sementara Fihan akan lulus dengan nilai akademis, tapi, Derka sulit untuk lulus karena... dia masih belum berubah, baik akademis maupun sosialnya sangat rendah...“ lanjut Farka.
”Jadi kamu banyak menolong orang adalah...?“ tanya Eril mengusut.
__ADS_1
”Agar aku lulus sekolah,“ jawab Farka dengan tegas dan mantap.
Maka semua murid langsung memalingkan pandangan dari Farka, dengan raut murung, bukan tanpa alasan mereka berubah murung, Farka sang ketua kelas, yang dibangga-banggakan sebagai manusia paling peduli di sekolah ini, kini telah diketahui kedok busuknya, bahwa semua kebaikan atau kepeduliannya hanyalah penipuan publik semata, yang disebut omong kosong, mereka mengira Farka menolong dengan tulus, tapi nyatanya, hanyalah permainan politik semata. Jelas ada rasa kekecewaan menyeruak dari dalam hati setiap teman Farka di sini, jadi Farka menolong bukan karena ikatan pertemanan? Jadi Farka menolong hanya demi bisa lulus?
Semua teman-teman Farka termenung agak kecewa, jelas kecewa! Karena mereka sudah percaya pada Farka sebagai murid yang jiwa sosialnya tinggi, mereka telah menaruh kepercayaan pada Farka bahwa dia adalah orang yang baik, setia kawan dan dapat dipercaya, namun kenyataannya semua hanyalah sandiwara, sedangkan teman-temannya berlaku baik tanpa alasan, mereka berbuat baik karena memang sudah kewajiban, tapi Farka? Bahkan Areny sampai tertunduk kuyu, dia orang yang paling kecewa pada Farka, karena, itu artinya, Farka menolong bukan karena kebaikannya, melainkan karena dibayar dengan kelulusan, menjual kepeduliannya hanya demi ijazah kelulusan.
”Jadi... kamu memberiku tumpangan di rumahmu, hanya agar kamu bisa lulus? Bukan karena ingin menolongku?“ usut Areny menunduk merenung.
Tiba-tiba saja tanpa ada angin, tanpa ada tanda-tanda, Farka berubah sikap, raut mukanya, alis hitamnya, rambut hitam pendeknya, kulit kuning langsatnya, sampai telinga lembutnya, berubah acuh tak acuh, pandangan matanya hampir menyerupai Fihan yang sombong.
Maka Areny bangkit berdiri, dengan raut muka marah, hati yang kecewa, dan pikiran yang kacau, dia memandang Farka penuh kekecewaan. Kekaguman pada Farka seakan hanyalah kebodohan Areny, dan rasa cintanya terasa hampa, karena mengetahui Farka tak peduli pada Areny, mungkin memang benar, cintanya telah bertepuk sebelah tangan, tapi perasaannya tetap saja ingin selalu memiliki Farka.
”Oke kalau begitu... aku akan pergi dari rumahmu, biar kamu bisa bermalas-malasan!“ papar Areny dengan hati terluka.
Dan sekonyong-konyongnya, Areny menjinjing tasnya sambil berjalan pergi meninggalkan kelas, namun Areny sempat berdiri di mulut pintu dengan mencengkram jemari yang mengepal, ia bergigit kesal, pandangan tunduknya menyiratkan kesedihan.
”Aku kecewa padamu! Aku kecewa!“ sentak Areny lalu kembali berjalan pergi.
__ADS_1
Disusul oleh Zeni yang ikut pergi tanpa ada kata-kata, raut mukanya tetap cuek, tak peduli, tapi, dia juga tampak kecewa.
”Aku akan menulis, tapi bukan karena mengikuti perintahmu Farka, aku menulis demi adik-adik kelasku! Aku menulis agar orang-orang tahu, bahwa bukan hanya mereka yang menderita!“ sindir Eril lantas berjalan pergi meninggalkan kelas sembari menjinjing tas gendongnya.
Kini tersisa Sazan yang masih menundukan pandangan dengan merenungi pengakuan Farka, dia bimbang, apa benar Farka begitu? Menjual kebajikannya demi ijazah? Tapi memang masuk akal juga jika Farka menjual kebaikannya, karena, tidak ada di dunia ini yang rela berlapar-lapar demi menunggu adik kelas di rumah sakit hingga pingsan, tak ada manusia yang rela memakan kotoran kucing demi membebaskan adik kelas bodoh yang disekap karena mencuri, dan tak ada manusia yang sanggup dicambuk demi menyelamatkan seekor kucing yang dikurung demi kesenangan, semua perbuatan Farka waktu itu hanyalah sandiwara belaka, kebajikannya hanyalah barang yang dijual, pikir Sazan begitu.
”Tulis autobiografimu demi adik kelasmu, jadi pulanglah Sazan, aku tidak mau kamu mati di sini, itu bisa merepotkanku...“ pinta Farka dengan raut muka cuek dan tak peduli.
Mendadak, perkataan Farka membuat Sazan bangkit berdiri, ia merasa tersindir, tapi tak terlalu sakit hati, toh, dia memang akan mati, pun tak mau menyusahkan orang-orang disekitarnya, lantas mengenakan tas gendongnya.
”Aku pulang duluan...“ kata Sazan sambil menatap wajah berkarismatik Farka tanpa senyuman.
Namun Farka hanya acuh tak acuh memandang papan tulis tak peduli. Sazan pun pergi meninggalkan kelas, meninggalkan Farka sendiri di kelas. Farka tak berniat menghentikan teman-temannya, karena memang inilah kebenaran yang harus diterima. Kemudian Farka meraih tas gendongnya di atas meja Juvi, ia mengenakannya, dan melangkah pulang ke rumah.
Dan sejak saat itu, keempat teman Farka selalu menjauhi Farka, bahkan kini Areny telah tinggal di panti asuhan, tempat lahirnya dulu. Hari-hari di sekolah masih berlanjut seperti biasa, Zeni kini selalu bersama Areny, Sazan selalu bersama Aqada, dan Eril selalu didekat Fihan. Satu hal yang penting, bahwa Eril gagal menghentikan perjodohannya dengan Ustaz Alkan, bunuh dirinya gagal karena Eril bodoh dalam berakting, perdebatannya gagal karena Eril kalah dalam berdebat, bahkan ia gugup setengah mati, jadi dia mengadu pada Fihan, tapi tetap hasilnya nihil, sehingga Eril putuskan kabur dari rumah dan tinggal di rumah yang ia beli bersama Fihan, menjalani hari seperti biasa, ia melanjutkan bisnisnya di pusat kota, di sebuah toko elektronik, tentu saja bekerja bersama Fihan sang dambaan hati. Sementara ayah Zeni telah di penjara, sehingga kini, Zeni tinggal bersama ibunya, mereka hidup dengan damai, walaupun ada beberapa tetangga yang bergosip tentang keluarga Zeni, Zeni tampak kuat menghadapi semua gosip-gosip itu. Kini Areny adalah murid yang sering datang terlambat karena tempat tinggalnya jauh, keluarga Areny bahkan masih belum memberi tanda kerinduan pada Areny, yang memang sepertinya keluarga tiri Areny, memang benar-benar menginginkan Areny pergi, tapi, meski Areny tak dianggap lagi sebagai bagian keluarga dari keluarga tirinya, bahkan hingga selalu berjauhan dari Farka, dia tetap ceria, tetap terlihat bahagia, meski aura positifnya agak mem-buram, dia masih bisa tertawa terbahak-bahak, dan konyolnya, dia sesekali mengerling untuk memandang Farka, sebab bagaimana pun, meski logikanya menuntut untuk berpaling, namun hatinya, menuntut untuk mendekat, Areny masih mencintai Farka, dan akan selalu mencintainya. Dan Farka, telah berubah cuek, hampir-hampir seperti Fihan, namun tetap saja, dia masih menyempatkan untuk menolong orang-orang di sekitarnya, ia membantu Pak Queda membersihkan sekolah, mentraktir adik-adik kelas, hingga menyelamatkan seekor burung dari tangan Derka, sebab Derka tengah menyiksa burung tersebut, untungnya saja Derka takut dengan Farka, jadi dia hanya sanggup mengumpat tanpa ada baku hantam, meski banyak tolong-menolong yang Farka lakukan, namun tetap saja, Zeni, Eril, Sazan, telah mengetahui akal bulus Farka, jadi mereka tak peduli. Tak terasa, waktu telah berputar cepat, hari telah berlalu dan minggu telah berlalu, hingga akhirnya, kini telah memasuki bulan keempat, yaitu bulan April, bulan ini adalah bulan perlombaan, seluruh SMA telah mempersiapkan murid-muridnya untuk mengikuti perlombaan nasional, namun tak semua SMA bisa mengikuti kompetisi, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar dapat ikut, yang untungnya, SMA Lily Kasih telah memenuhi syarat, juga telah mempersiapkan putra putri terbaiknya untuk berjuang meraih kehormataan dalam perlombaan tahun ini. Futsal wanita serta tim cerdas cermat telah siap diperlombakan, bahkan kini sedang sibuk-sibuknya berlatih dan terus berlatih dengan giat. Daftar peserta Cerdas Cermat tahun ini, hanya berjumlah tiga orang, diambil dari juara kelas, tentu Fihan masuk, lengkap dengan juara kelas dari kelas 10 serta 11, mereka berjuang demi membanggakan sekolah serta keluarga mereka, kecuali Fihan, dia punya tujuan hanya untuk melihat kekalahan lawan-lawannya, perlombaan bagi Cerdas Cermat diadakan setiap hari Senin, Rabu, Jum'at. Sedangkan futsal wanita, para pesertanya berjumlah 12 orang, yaitu dari kelas 12 ada, Areny, Zeni, serta Nitia, lalu dari kelas 11, ada Nakury, Rosila, Kunia, Muvia, serta Aminda dan dari kelas 10 ada, Tanty, Asila, Linie dan Eren, tak lupa sang pelatih yaitu Guru Kativia, mereka berlatih setiap pulang sekolah, atau dapat waktu khusus untuk berlatih, sebab hari sabtu serta minggunya mereka melangsungkan perlombaan. Hari-hari berlalu dengan latihan dan kompetisi, yang seperti tahun kemarin, SMA Liliy Kasih berhasil mengalahkan lawan-lawannya, baik dari Cerdas Cermat atau juga dari Futsal Wanita, kedua jenis lomba itu berhasil melaju hingga Grand Final, bahkan SMA Liliy Kasih sudah merayakan kemenangan seminggu sebelum Grand Final dilangsungkan, sepulang sekolah para guru telah membuat pesta, atau syukuran. Dan di lapangan sekolah, telah berjejer meja-meja lengkap dengan hidangan lezat, yang tentunya seluruh murid dan para guru hadir merayakan keberhasilan mereka, mereka makan-makan dengan lahap, semua wajah saat itu berseri-seri, bahkan Areny dan Fihan sempat tertawa terbahak-bahak saat melihat Derka kebingungan mencari kopi arabika-nya yang memang sudah diseruput habis, oleh Hurta sewaktu Derka sibuk dengan kue donatnya, yang untungnya tak ada baku hantam, karena Derka diberi lagi segelas kopi oleh Guru Kativia, hari itu menjadi hari menyenangkan bagi para murid setelah hari-hari perjuangannya yang melelahkan, apa lagi Eril sangat senang bisa melihat Fihan kembali tertawa, hampir-hampir Eril mengira Fihan memang tidak bisa tertawa, jelas Eril senang karena sang dambaan hatinya bisa terlihat begitu senang, malah teman-teman Fihan sampai terkaget-kaget bisa melihat Fihan tertawa, sebab Fihan itu memang orang yang dingin dan kaku, meski begitu, Zeni adalah orang yang jarang terlihat tertawa, senyum saja pelit, intinya mereka semua bersenang-senang pada hari itu, tak ada satu pun murid yang terlihat murung, baik Sazan atau pun Farka, hingga saking gembiranya sampai-sampai mereka melupakan masalah hidup mereka. Dan hari berlanjut, belajar seperti biasanya, Farka tak memerhatikan guru mengajar, dia sibuk menggambar kartun tengkorak atau seketsa wajah, di lembar kertas HVS yang nantinya akan diposting di media sosial, lagi pula, bagi Farka sendiri, pendidikan itu cukup ambil yang pentingnya saja, toh ujungnya, manusia itu ingin surga, ingin harta dan kenikmatan abadi, jadi, bagi Farka, pendidikan akan nikmat bila melakukan pekerjaan yang disukai, namun Farka lebih condong pada paham empirisme. Tapi, berbeda bagi Fihan, laki-laki itu tidak mengejar harta, atau kenikmatan semata, seperti kata John Lennon, bahwa, 'Aku tidak peduli pada uang, uang tidak dapat ku pakai membeli cinta.'
Fihan sendiri masih bingung tentang bentuk dari cinta, itu sebabnya ia mencari bentuk cinta lewat pendidikan bukan lewat uang, baginya pendidikan atau ilmu itu, adalah cahaya dari Tuhan yang paling nyata, siapa yang tidak berpendidikan dia akan kegelapan bahkan akan tersesat, tapi, Fihan lebih condong pada paham teosentrisme.
__ADS_1