Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
DOOOOOOOOOOOOORRRRRRRR!


__ADS_3

        Kini tepat pukul 22:09 malam hari tak berbintang, tepat di sebuah rumah kecil nan sederhana di sisi jalan raya, yang berdempet dengan rumah tetangga, di kota penuh rahasia Artana, dengan nuansa hijau, Fihan serta neneknya tinggal di rumah itu. Rumah ini hanya memiliki lima ruangan sempit, lantainya masih dari semen, dindingnya masih belum dicat, seperti rumah baru jadi, bahkan sama sekali tak ada hiasan atau benda apapun di sini, kecuali di ke dua kamar, hanya terdapat lemari pakaian yang ditemani dengan kasur ukuran sedang. Fihan tengah duduk bersila di ruang utama, tepat di samping pintu masuk sambil asyik bermain ponsel, ia duduk dengan menyandarkan punggungnya ke dinding. Tak lama kemudian sang nenek datang dari kamar yang berada di samping kiri Fihan.


“Ini rumahmu sama rumah Eril ya?” tanya nenek dengan suara rentanya yang terdengar serak.


“Hem,” jawab Fihan dengan fokus pada ponselnya.


“Nek, duduklah lihat ini,” lanjutnya sambil menarik tangan kiri neneknya.


Maka tanpa ragu sang nenek duduk dengan melipat kedua kaki di hadapan Fihan. Fihan pun menunjukkan sebuah foto di ponselnya, foto rumah Sieren yang terbakar.


“Astagfirullah al'adziiiim...”


Sang nenek kaget, dan cemas, pasalnya cucunya justru bukannya menyelesaikan masalah melainkan malah menambah rumit masalah.


“Apa yang kamu lakukan?” cemas nenek.


“Ini membela diri namanya Nek,” jawab Fihan kembali menunduk menatap layar ponselnya.


“Astagfirullah, bukan begitu caranya! Bagaimana nanti kalau kamu dipenjara?” resah nenek.


Lalu Fihan menaruh ponselnya, meraih tangan kanan keriput sang nenek, dengan harapan sang nenek menjadi tenang, netra hitam Fihan yang dalam ia fokuskan menatap netra hitam sang nenek yang sayu, dengan harapan sang nenek dapat mengerti.


“Nek, kalau kita selalu menerima penindasan orang tanpa melawan dengan dalih sabar, itu namanya bukan perbuatan baik Nek, itu perbuatan bodoh...” kata Fihan dengan menatap sang nenek penuh makna.


“...Nek, sabar itu tindakan yang kita terima manis pahitnya tanpa meminta dia atau kita dibalas oleh Tuhan, bukankah ibu meninggal karena disiksa oleh ayah hanya karena ibu selalu menasehati ayah baik-baik, padahal ibu adalah seorang ustazah, dan ibu pasrah menerima tindakan keji ayah, ibu memang orang baik, tapi ibu juga orang bodoh... Nek, jika saja ibu benar-benar menegakkan hukum agamanya seharusnya dia pisah dengan ayah, bukannya malah berdalih ingin mengajak ayah kejalan yang benar... omong kosong sekali bukan Nek?” lanjutnya dengan tersenyum tipis.


“Cukup!” sergah nenek sambil melepaskan tangan cucunya.


Sang nenek tak terima jika cucunya berani mengkritik dan menyindir ibunya, bagi sang nenek perkataan Fihan sama sekali tak tepat.


“Wajah bonyokmu itu adalah balasan kurang ajarmu,” lanjutnya menyindir.


Fihan tak gentar ia kembali menghadapkan wajahnya pada sang nenek, bekas pukulan Derka sebenarnya masih tedas, bonyok itu tampak kentara kala cahaya menerangi wajahnya, namun sang nenek baru menyadarinya sekarang, mungkin karena mata sang nenek yang ikut menua bersama tulangnya. Dan Fihan sudah tak menggenggam tangan sang nenek.


“Kamu berkelahi kan, terus nanti polisi datang, kamu pasti menyesal,” ujar nenek menerka-nerka berharap Fihan menyadari kesalahannya.


Tapi, dengan kalem, Fihan mengembuskan napasnya sembari tertunduk, ia merasa perbuatannya sangatlah tepat dan benar, justru baginya sang neneklah yang salah dan tak mengerti, lantas ia menatap sang nenek penuh arti.


“Terus nenek maunya apa? Kalau menunggu Tuhan yang membalas, itu sama saja memerintah Tuhan, lalu untuk apa kita hidup kalau semuanya dibebankan pada Allah?” heran Fihan dengan menyindir dan mengkritik keras sikap sang nenek.

__ADS_1


“Hukumnya Fihan, hukumnya, kita biarkan hukum itu bekerja,” sanggah nenek.


“Nenek, hukum Tuhan itu sangat keras, itu hanya rumah yang dibakar, jika hukum Tuhan yang bekerja maka bisa lebih dari itu, apa nenek mau ibu disiksa?” balas Fihan tak mau kalah.


“Yang nenek maksud bukan disiksa, tapi, dibukakan hati dan pikirannya,” bantah nenek.


Sang nenek pun tak mau kalah, ini semua dilakukan demi menyelamatkan nama baik sang cucu tercinta.


“Kalau begitu itu namanya hidayah Nek, sedangkan hidayah itu tidak berdasarkan hukum Tuhan, melainkan karena kasih sayang-Nya... nenek, kita tidak perlu membesar-besarkan masalah ini...”


“Jelas ini harus dipermasalahkan, itu rumah ibumu, dan di sana ada ibumu,”


Walaupun sang nenek tahu jika rumah itu diwariskan pada Fihan tapi, nama kepemilikan tanah atas nama Sieren, sehingga sehebat apapun Fihan berdalih, dia tetap salah, baik secara tindakan maupun secara hukum.


“Itu ibu tiri.”


“Tapi kita tidak boleh membalas dengan kejahatan, itu sama saja kalau kita jahat,” cemas nenek.


“Aku tidak membalas dengan kejahatan Nek, membalas orang jahat itu bukan kejahatan Nek, itu hukum Nek, membalas pada pembunuh dengan membunuh sang pembunuh, itu juga hukum Nek, kalau aku jahat, aku bukan membakar rumahnya, tapi aku bakar orangnya, paham enggak Nek?” papar Fihan dengan tegas dan mantap penuh keyakinan.


Sang nenek bergeming, ia menunduk dan merenung begitu dalam. Fihan masih betah menatap sang nenek, sepertinya nenek kalah dalam argumen, memang belum ada satu pun orang yang mampu membungkam argumen Fihan, bahkan seorang guru pun tak sanggup mengalahkan argumen Fihan, kecuali sang kepala sekolah di SMA-nya. Karena waktu juga sudah malam ditambah sang nenek yang betah dalam renungannya, sepertinya sang nenek masih mencari celah untuk membungkam persepsi serta cara berpikir Fihan, maka Fihan pun bangkit berdiri sambil menggenggam ponselnya, namun sorot matanya masih terarah pada sang nenek, ia tahu bahwa neneknya pasti akan kembali bicara.


Tebakan Fihan benar! Sang nenek tetap teguh dengan kebenarannya, apapun yang terjadi, neneknya tak mau cucunya bersalah, tepatnya tak mau cucunya balas dendam.


“Bagaimana pun kamu sudah salah,” imbuhnya kukuh.


Fihan terdiam sejenak, ia paham betul sikap sang nenek yang keras kepala, sama seperti mendiang ibu Fihan, bahwa menurut mereka kebaikan itu adalah menerima kejahatan orang dan terus bersabar dalam penindasan, jelas Fihan tak sudi lagi menerima nasihat sang nenek, bahkan Fihan sempat berpikir bahwa semua manusia di kota Artana ini tidak ada yang dewasa meski tubuh mereka tinggi nan berotot, kedewasaan mereka hanyalah angan-angan semata. Kemudian Fihan menunduk menatap wajah keriput neneknya, menatapnya dengan keseriusan tinggi.


“Nek, lihat mataku,” pinta Fihan.


Sang nenek jelas langsung mengarahkan netra sayunya dengan sorot kasihan namun penuh harap, dia rela mendongak demi menatap mata hitam Fihan.


“Salah atau tidak ini masih jadi ambigu Nek, ini semua masalah sudut pandang, jika nenek ada di posisi ibu Sieren, nenek pasti akan berpikir bahwa kebakaran rumahnya adalah karena dia selalu jahat pada kita, itu hukum karma, tapi kalau nenek jadi dirinya, maka kebakaran rumah adalah musibah baginya, itu kegagalannya, dan di posisi kita ini adalah korban yang menegakkan hukum,” jelas Fihan dengan penekanan di setiap kata.


Tapi sang nenek menggeleng tak terima, bagi Fihan neneknya tak mengerti, sedangkan bagi sang nenek Fihan salah. Cucu dan nenek itu masih menganggap persepsi mereka adalah yang paling benar.


“Jangan bawa-bawa hukum! Hukum seperti apa yang kamu maksud?!” sergah nenek tak terima.


“Nah kan, aku sudah bilang semua ini ambigu, sudahlah Nek, lagi pula ini juga salah ibu Sieren,” balas Fihan tetap merasa benar.

__ADS_1


“Jangan membuat nenek pusing, dan jangan berkilah tindakan jahatmu itu adalah berdasarkan hukum, hukum mana yang kamu maksud?” kukuh nenek.


“Loh, kan aku sudah bilang, ini semua ambigu Nek.... paham nggak sih maksudnya?” keluh Fihan berusaha menghentikan perlawanan kata sang nenek.


“Kalau masih membingungkan kena...” ucapan nenek dipotong.


“Sudah, kita tidur Nek, besok aku sekolah. Met malam,” potong Fihan sambil melangkah menuju kamarnya.


Fihan memungkas, dia benar-benar tak sudi berargumen dengan neneknya, karena Fihan tahu, otak sang nenek begitu lamban untuk mencerna maksud ucapan Fihan, sama seperti perasaannya pada ibu kandungnya, Fihan tak sayang pada neneknya, dia tak begitu paham tentang perasaannya pada sang nenek, seperti apa rasa sayang itu? Perasaannya hanya terasa dingin setiap kali melihat wajah renta sang nenek, bahkan melihat sang nenek dari ujung rambut sampai ujung kaki saja, membuat batin Fihan bertanya-tanya, untuk apa menyayangi nenek tua yang hampir tumbang itu? Baginya menyayangi sang nenek hanya akan membuat nenek semakin renta, namun, satu hal yang pasti, Fihan masih belum mampu menemukan bentuk perasaannya, seperti apa cinta itu? Atau seperti apa rasa sayang itu?


Selama Fihan hidup, keluarganya selalu disibukan oleh dunia mereka masing-masing, pertengkaran dan acuh tak acuh adalah hal yang biasa Fihan lihat sejak kecil, dan sejak saat itu, Fihan telah menyimpulkan, bahwa cinta itu hanya akan menimbulkan kecemburuan dan rasa ingin memiliki yang berakibat peperangan, dan kasih sayang hanyalah tipu daya agar sang musuh mau tunduk. Seperti apa dan harus bagaimana Fihan menerima perasaannya, bukankah ayahnya kejam? Bukankah ibunya bodoh? Bukankah neneknya lemah? Bukankah teman-temannya egois? Lalu untuk apa mengikuti perasaan dingin yang penuh rahasia di dalam hatinya? Itu tidak ada gunanya!


Sang nenek mengangguk pasrah tanpa senyuman, ia biarkan dirinya kalah dalam argumen melawan cucunya, padahal sang nenek sangat menyayangi Fihan, dia hanya tak mau menjadi anggota keluarga yang gagal dalam menangani masalah keluarganya, sang nenek paham betul perasaan cucunya, Fihan adalah anak yang terabaikan, kasih sayang orang tuanya hanyalah sebatas harta benda, sehingga Fihan tak bisa menyimpulkan mana yang benar, mana yang baik dan mana yang tepat, cucunya hanya menduga-duga cara hidup yang benar, berpikir bahwa apa yang dilakukannya adalah kebenaran mutlak, padahal sang nenek selalu bersama Fihan sejak Fihan dilahirkan di dunia ini, tapi tetap saja sang nenek tak mampu berbuat apapun, tak mampu membuat Fihan mengerti bahwa cara berpikirnya tidak tepat! Fihan adalah anak keras kepala, sama seperti mendiang ayahnya.


“Kamu memang mirip seperti ayahmu,” gumam sang nenek bukan bermaksud memuji, justru, menegaskan bahwa Fihan telah melakukan kesalahan yang sama seperti ayahnya.


Fihan sempat berhenti sejenak di mulut pintu kamarnya, tapi, dia kembali melangkah, enggan mengomentari pendapat sang nenek yang terkesan kekanakan hanya untuk membuat Fihan mengaku bersalah, jelas Fihan tak peduli, baginya ayahnya adalah penjahat, gelar atau pun sebutan ayah sama sekali tak memeberikan kesempatan untuk menganggap orang tuanya sangat berharga. Masih membekas kalimat penting sang ayah yang terpatri di kepalanya.


“Kamu harus rajin sekolah, dan jadilah juara kelas, lalu, kamu jajah teman-temanmu di sana, bahkan kalau kamu perlu, buat gurumu terlihat bodoh, karena penting bagimu untuk membentuk jati diri.”


Fihan sudah melangkah dengan tepat, jati dirinya sudah mulai terbentuk, penderitaan bersama ibu tirinya telah lenyap, dia tidak butuh bantuan Farka yang sok peduli itu, dia juga tak butuh nasihat nenek tua yang lemah itu, bagi Fihan bantuan yang benar adalah tindakan tepat dari pemikiran sendiri, dan nasihat-nasihat yang benar adalah dari perasaannya sendiri, apapun yang dilakukannya adalah perbuatan baik dan benar, sebab, perasaan dingin yang menyeruak di hatinya adalah kebenaran yang harus diterima, dan cara berpikirnya adalah jalan untuk mewujudkan perasaannya, tepatnya mengekspresikan perasaannya yang hidup.


Kamar Fihan bersebelahan dengan kamar neneknya, kamar yang kecil tak sebanding dengan kamar megah Fihan yang dulu, kamar ini bernuansa abu-abu, dengan jendela kayu yang terkesan kamar belum rampung, setelah Fihan menutup pintu kamarnya, ia pun berbaring dengan lelah di atas kasur, ponselnya pun ikut tergeletak di sampingnya seakan menemani istirahat malam Fihan.


Sedangkan sang nenek terpegun penuh pernungan, ia masih saja tak bisa menerima perbuatan keji Fihan, Fihan tetap salah, karena membakar rumah orang bukan perbuatan yang benar, ditambah balas dendam yang sama sekali tak menceriminkan penegakkan hukum. Sang nenek masih ingat didikan sang ayah Fihan yang terlampau keji, dulu saat ayahnya masih hidup, kala usia Fihan masih tujuh tahun, ia dibekali pemahaman kotor oleh ayahnya.


“Fihan, kamu harus sukses,” kata sang ayah sambil memangku Fihan dengan memandang taman bunga rumahnya.


“Sukses itu seperti apa?” tanya Fihan penuh kepolosan.


“Sukses itu... saat kamu bisa menarik pelatuk sebuah pistol, lalu kamu bidik tepat pada kepala ibumu, daaaaaannnnn DOOOOOOOOOOORRRRRRRRR....!” jawab sang ayah sambil menggelitik pinggang Fihan hingga Fihan terpingkal tertawa.


“Hahahaha....”


“Lalu ibu akan tidur dengan nyenyak,” lanjut sang ayah yang terdengar berguyon.


Mereka tertawa dengan guyonan itu yang pada dasarnya adalah perintah. Jadi sudah bisa ditebak apa yang dilakukan Fihan setelah itu, tapi, syukurnya sang nenek datang dan berhasil mengubah suasana menjadi candaan, walau tak ada tawa dari Fihan, setidaknya ibunya selamat.


Mungkin bagi beberapa orang itu bukanlah pemahaman atau masalah besar, namun bagi seorang anak kecil, kenyataan di hadapannya adalah kebenaran mutlak, dan ucapan-ucapan orang tua adalah ayat-ayat suci yang wajib dipatuhi, sehingga Fihan memiliki perasaan yang tak peka, dingin dan sombong, sang nenek paham betul bahwa karakter Fihan terbentuk dari lingkungannya, terbentuk dari ajaran orang tuanya, lalu mewujud dari cara dia berpikir menerima kejadian hidupnya, menguatkan semua sifat-sifat itu sebagai bukti kebenaran jati dirinya, padahal itu salah!

__ADS_1


__ADS_2