
Tidak ada luka yang dengan cepat dapat di sembuhkan, begitupun dengan luka di hati
Qila pov
Qila tidak percaya dengan semua penuturan Aldo padanya, bahkan rasanya semua ini seperti mimpi, Aldo menyatakan perasaannya pada Qila di tengah banyak orang, membuat Qila enggan mendongkapkan pandangannya.
"Gua mau elu jadi pacar gua Qi" ucap Aldo
Tapi entah kenapa perasaannya justru sangat sesak mendengar penuturan Aldo, tidak Qila tidak senang dengan semua ucapan yang Aldo ucapkan yang seolah menyindir Rizky, ini bukan yang Qila inginkan, dia dekat dengan Aldo hanya sebatas teman bahkan rasanya tidak ada sedikitpun perasaan Qila pada Aldo, pukulan keras membuyarkan lamunan Qila dan Qila sangat terkejut ternyata Rizky juga berada disana bahkan sekarang dia sudah melenggang pergi begitu saja, apa Rizky juga mendengar semua yang Aldo ucapkan.
Sesak, hanya itu yang ada di hati Qila apalagi melihat tangan Rizky yang berdarah karna memukul meja dengan sangat kerasnya.
"Qi gua suka sama lu" lagi Aldo mengatakan itu lagi pada Qila
Qila tidak mau berada di posisi seperti ini, dia tidak menyukai Aldo ya dia menyukai Rizky bukan Aldo.
"Maaf Do" ucap Qila sangat pelan
"Maaf Do, aku minta maaf tapi saya gak bisa" jawab Qila dan langsung berlari meninggalkan Aldo
Qila memutuskan pergi ke rooftop sekolah
menenangkan hatinya, Qila tahu jawaban yang dia berikan pasti akan melukai hati Aldo tapi dia tidak bisa memaksakan hatinya, walaupun selama sebulan ini dia
begitu dekat dengan Aldo tapi tetap tidak ada rasa sedikitpun yang Qila rasakan pada Aldo, beda halnya dengan Rizky bahkan sampai sekarang pikiran Qila selalu di penuhi oleh Rizky.
Bukan, Qila bukan memberi harapan pada Aldo, tapi semua itu dia lakukan agar dia bisa menjauhi Rizky tapi nyatanya tidak dan sekarang Aldo malah mengira kalau kedekatannya selama ini karna Qila mulai tertarik pada Aldo padahal semua itu tidak benar.
Entah apa sekarang yang Rizky lakukan karna Qila tahu jelas kalau tadi dia sedang menahan emosinya, dan entah kenapa juga sekarng Qila malah khawatir dengan Rizky dia takut hal yang dulu terulang lagi.
"Qi?" panggil Bella
Qila langsung berlari menuju Bella dan memeluknya dengan erat.
"Bell" ucap Qila bahkan rasa perih sudah
menguasai matanya membuat dia menjatuhkan air matanya begitu saja.
"Qi, elo gapapa kan?" tanya Bella
"Bell aku gak bisa" jawab Qila
"Udah, gua udah pernah bilangkan jangan maksain hati elu Qi"
"Aldo juga bakalan terima sama jawaban elo" ucap Bella
Qila tidak menjawab dia memilih menangis di pelukan Bella sahabatnya, Qila tahu sekarang maupun Aldo dan Rizky pasti akan membencinya.
"Gua selalu bilangkan sama elu Qi, kalo elu harus ikutin apa kata hati lu bukan apa kata orang ya kan. Gua paham gimana perasaan elu mangkanya gua selalu bilang jangan pernah pilih apa yang enggak ada di hati elu"
"Iya Bell, tapi aku takut Bell aku takut Aldo marah sama aku, aku takut Rizky juga marah sama aku Bell"
"Udah gua yakin semuanya bakalan baik baik aja.
Kalo soal Rizky ya dia pasti kecewa liat semua ini tapi elu harus yakin dia juga bakalan ngerti nantinya Qi"
"Bell dia pasti marah banget sama aku Bell. Kamu liat kan gimana tadi reaksi dia"
"Wajar kalo dia marah Qi. Apalagi dia udah ngejar elu lama, udah elu jangan pikirin itu dulu.
Elu harus yakin semuanya bakalan baik-baik aja
Bagaimana mungkin semuanya akan baik-baik saja. Qila sangat paham dengan sikap Rizky, dia bisa saja langsung membenci Qila, di tambah tadi Qila lihat dia sangat emosi sampai memukul meja membuat tangannyapun berdarah. Ia takut Rizky akan menganggapnya wanita tidak baik. Jujur Qila juga tidak menyangka kenapa bisa Aldo melakukan itu.
Setelah cukup lama Qila menenangkan diri, Qila dan Bella memutuskan pergi ke dalam kelas.
Ya tidak ada Rizky disana entah dia pergi kemana setelah melihat Qila dengan Aldo, begitupun dengan Aldo dia juga tidak ada di dalam kelas.
Bukan niat Qila menyakiti keduanya jujur Qila juga tidak mau hal ini terjadi.
Dua hari sudah Qila tidak sekolah, dia mengatakan pada orangtuanya sedang tidak enak badan padahal bukan badannya yang sedang tidak enak melainkan hatinya yang lagi-lagi merasakan sakit, memang kemarin Qila sudah meminta maaf pada Aldo dan Aldo tidak mempermasalakan semua itu, Qila pikir Aldo akan membencinya tapi tidak Aldo memilih memaafkan Qila dan mengajak Qila untuk tetap bersahabat walaupun Qila sudah melukai hati milik Aldo, beda halnya dengan Aldo, Rizky entah akan seperti apa bersikap pada Qila, dan hari ini Qila memutuskan pergi ke sekolah karna tidak mau terlalu lama lagi berada dalam kondisi seperti ini. Ia harus bisa menceritakan semuanya pada Rizky, ia tidak mau hubungannya dengan Rizky menjadi renggang lagi. Walaupun memang tidak ada artinya juga dia menjelaskan pada Rizky karna mereka tidak ada hubungan apapun.
"Mau di anter?" tanya ayah Qila
"Enggak usah yah, Aldo udah di depan aku bareng dia"
Memang semalam Aldo mengirimi Qila pesan dan mengajak qila berangkat bersama karna dia tidak mau hubungannya berjarak karna hal itu.
"Do aku....."
"Udah jangan bahas itu Qi, gua udah dewasa ko wajar kalo lo nolak gua, itu hak lo. Gua juga gak mau maksain hati seseorang kan Qi, jadi wajar juga kalo hati elu gak nerima gua itu semua kan ada di elu" jawab Aldo tenang
__ADS_1
"Aku minta maaf Do sungguh minta maaf. Maaf kalo jawaban aku gak sesuai dengan yang kamu harapkan aku minta maaf
"Iya gapapa Qi, gua udah maafin elu tenang aja ya"
"Makasih ya Do"
Aldo hanya membalas dengan senyuman dan langsung memberikan helm pada Qila.
***
Pukul 06:50 WIB mereka sampai di sekolah. Banyak pasang mata menatap penasaran ke arah mereka berdua dan banyak sekali ucapan yang siswa maupun siswi ucapkan pada Qila. Membuat hati Qila sakit sebenernya karna ucapan itu seolah mengejek Qila.
Sok cantik banget
Ngakunya nolak tapi ko masih mau berangkat
bareng
Munafik
Sok alim
Gak nyangka aja gua sama dia
So-soan nolak Aldo
So cantik banget pake nolak Aldo
Aldo juga gak tau diri
Masih banyak lagi ucapan yang membuat hati Qila sesak. Qila hanya bisa menundukan kepalanya, ia paham pasti mereka kecewa pada Qila tapi tidak seharusnya mereka berkata seperti itu.
"Gak usah di dengerin Qi, anggap aja gak pernah terjadi apapun" ucap Aldo dan langsung menarik tangan Qila menuju kelas tapi saat ingin memasuki kelas Qila berpapasan dengan Rizky yang entah kenapa wajahnya sudah di penuhi dengan luka baru, ingin sekali Qila menanyakan itu semua tapi Rizky melewatkannya begitu saja membuat hati Qila sesak untuk kesekian kalinya.
"Qi" panggil Bella
Qila langsung menghampiri Bella dan melepaskan genggamannya pada Aldo.
Bella menampilkan wajah bingungnya.
"Qi?"
"Aku bisa jelasin semuanya Bell sama kamu?" "Iya jelasin sekarang Qi?"
"Iya Bell. Aku udah minta maaf sama Aldo, aku udah jelasin semuanya sama dia Bell, alhamdulillah dia ngerti kenapa aku nolak dia, dia juga yang mau kalo hubungan aku sama dia harus baik-baik aja walaupun aku udah nolak dia" jelas Qila
"Dia juga yang minta aku tetep jadi temen dia Bell"
Bella mengangguk mengerti.
"Rizky abis di pukulin, tapi gua juga gak tau kenapa dia di pukulin gitu soalnya gak ada yang tau siapa yang udah mukulin dia Qi" ucap Bella seolah mengerti yang sedang Qila pikirkan saat ini.
Qila hanya menganggukan kepala.
"Tapi tunggu deh Qi. Rizky pasti mikirnya elu nerima Aldo Qi apalagi ngeliat elu berangkat bareng Aldo kaya tadi sampe elu pegangan gitu sama Aldo" jelas Bella
Kalaupun benar Rizky menganggap seperti itu Qila hanya bisa diam, karna untuk apa dia menjelaskan semuanya pada Rizky sedangkan hubungannya dan Rizky pun hanya sebatas teman tidak lebih. Memang rencananya ia akan menjelaskan semuanya pada Rizky tapi ia pikir untuk apa, toh Rizky saja tidak pernah menganggap dia ada.
Qila memutuskan menyibukan diri dengan buku yang ia bawa, walaupun hatinya masih sedikit sesak.. Tapi ini akan sedikit mengurangi rasa sesak di hatinya.
Bel masuk berbunyi dan bu Mega sudah sampai di kelas.
"Pagi semuanya" Ucap bu Mega lantang
"Pagi bu" jawab mereka serempak "Kalian buat kelompok dua orang ya" ucap bu Mega
Semua siswa bersorak begitupun Bella dan Qila karna mereka akan menjadi kelompok.
"Tapi kali ini saya yang tentuin kelompoknya ya" ucapan bu Mega selanjutnya justru membuat Bella maupun Qila mengerucutkan bibirnya tidak suka.
"Yah ibu ko gitu si, biasanya juga kita yang nentuin?" Ucap salah satu siswa yang sama seperti Qila dan Bella tidak suka dengan ucapan bu Mega.
"Kalo kalian nentuin sendiri gak bakalan bener,"
"Udah nurut sama ibu. Bentar ibu bagi ya kelompoknya"
"Angga kamu sama Anjani"
"Aldo sama Bella"
"Gabriel Gabby'
__ADS_1
"Bimo Chintya"
"Gani Giska"
Qila sedikit cemas, karna hampir semua siswa pria tidak dekat dengannya. Apalagi dari tadi bu Mega memanggil semuanya berpasangan antara siswa pria dan siswi wanita.
"Rizky Syaqila"
Sontak ucapan bu Mega membuat Qila membulatkan matanya.
"Saya sama yang lain aja bu, emang harus pasangan apa bu gak bisa cowok sama cowok gitu?" ucap Rizky
Qila menarik nafasnya, lagi-lagi rasa perih menguasai matanya, apa begitu bencinya Rizky pada Qila sampai tidak mau satu kelompok dengan Qila, mendengar jawaban itu Qila hanya menundukan kepalanya. Bisa saja Rizky tidak berkata seperti itu bukan di hadapan Qila, kini jawabannya itu justru membuat Qila sakit.
"Tidak ada penolakan"
"Tapi bu....."
"Saya sudah bilang bukan, tidak ada penolakan semuanya harus setuju sama pilihan saya" ucap bu Mega dan langsung menyebutkan nama lain yang belum memiliki kelompok.
"Tugasnya buka halaman 115, disana ada soal Sandi Ekspedisi, kalian buatkan Laporan laba/rugi, Laporan perubahan modal, Neraca, Jurnal penyesuaian dan Kertas kerja"
"Saya kasih waktu dua minggu, kerjakan di kertas polio"
"Minggu besok kita ulangan, kalian mengerti"
"Iya bu" jawab mereka serentak, cukup lama bu Mega menjelaskan kertas kerja dan selama itu juga Qila kehilangan konsentrasinya, perkataan Rizky kali ini benar-benar menyakiti hati Qila, dia seolah enggan menjadi satu kelompok dengan Qila.
"Qi elo gapapa kan. Jangan pernah dengerin apa yang Rizky bilang mungkin dia hanya bercanda Qi elu kan tau sendiri dia orang ya gak pernah serius?" tanya Bella
Qila hanya menggelengkan kepalanya, tidak mungkin Rizky bercanda, Qila yakini dia pasti serius dengan ucapannya barusan. Memang hatinya sangat sakit tapi lagi-lagi tidak ada haknya dia merasakan itu semua karna dia dengan Rizkypun hanya sebatas teman itupun kalau Rizky masih mau menganggap Qila teman.
***
Cukup lama mereka berkutat dengan pelajaran hingga sekarang bel pulang sudah berbunyi, Bella menghampiri Aldo untuk membicarakan tugasnya, begitupun dengan Jani yang menghampiri Angga, sebenarnya Qila juga ingin menghampiri Rizky tapi Rizky justru memilih keluar di banding membicarakan tugas bersama dengan Qila.
Qila hanya bisa menarik nafas pasrah.
"Qi, Rizky di luar tuh tanyain aja mau mulai kapan gapapa ko dia gak bakalan marah juga kan elu cuma nanyain tugas gak lebih" ucap Bella
Qila hanya menganggukan kepalanya dan lebih memilih duduk di kelas, tapi saat Qila ingin beranjak pulang Rizky menghampiri Qila.
"Besok jam 2 Perpus" ucap Rizky dan langsung melenggang pergi begitu saja.
Apa segitu jijiknya Rizky menatap Qila sebentar saja, hingga enggan memalingkan pandangnya pada Qila.
Sesak, kenapa harus sesak batin Qila padahal dia dengan Rizky tidak ada hubungan apapun jadi untuk apa harus merasakan sesak di hati.
Hari ini terasa begitu lama seolah tidak berpihak pada diri Qila.
"Qi elu mau pulang?" Tanya Bella
Qila menganggukan kepalanya.
"Pulang sama siapa?"
"Naik angkot Bell"
"Udah nanyain Rizky mau mulai kapan?"
Qila menjawab dengan menganggukan kepalanya. Kini Bella datang menghampiri Qila dan langsung memeluk Qila.
Ya hanya pelukan Bella kali ini yang mampu membuat Qila tenang. Dia menangis disana jujur hatinya sangat sakit melihat reaksi yang Rizky keluarkan itu tapi lagi lagi apa haknya dia tidak berhak sama sekali merasakan sakit ini.
"Udah Qi. Gua kan udah bilang semuanya bakal baik-baik aja nanti ada waktunya elu bisa jelasin semua sama Rizky"
"Buat apa juga Bell aku jelasin kedia aku aja gak ada hubungan apapun sama dia. Jadi untuk apa aku jelasin ke dia"
"Qi tapi kan elu orang yang dia suka"
"Enggak Bell. Dia gak mungkin suka sama aku apalagi tadi aku denger sendiri buat satu kelompok sama akupun dia gak mau. Mungkin sekarang dia benci bangat sama aku Bell"
"Qi wajar aja Rizky begitu kecewa sama elu. Kalo gua jadi Rizky pun akan sama mungkin lebih tapi elu jangan sama kaya dia elu harus jelasin kalo sebenarnya elu itu nolak Aldo"
Qila tidak menjawab dia hanya menganggukan kepalanya.
"Aku pulang dulu ya Bell. Takut kesorean nanti gak ada angkot"
"Yaudah hati hati ya Qi. Jangan galau lagi ya. Gua yakin semua masalah elu bakalan cepet selesai jangan nangis lagi ya Qi gua gak mau liat sahabat gua nangis"
Sebelum memutuskan pulang Qila memeluk Bella terlebih dulu.
__ADS_1