Bahagia Yang Tertunda

Bahagia Yang Tertunda
Chapter 12


__ADS_3

Semua urusan telah selesai.


Devan dan Tiara baru saja keluar dari toko perhiasan langganan Santi.


“Aku akan mengantarmu ke boutique.” Ucap Devan.


Ada tujuan lain di balik perkataannya tadi.


“Baiklah, ayo.” Ucap Tiara dengan senangnya.


Tiara pikir Devan mulai suka padanya.


Mobil pun melaju cepat meninggalkan toko itu, Devan seperti ingin cepat-cepat sampai di boutique milik Tiara.


15 menit kemudian.


Devan menghentikan mobilnya tepat di depan boutique milik Tiara.


“Terima kasih Devan. Aku turun ya, kamu hati-hati di jalan.” Ujar Tiara sambil turun dari mobil itu.


Dengan cepat Devan juga turun menyusul wanita itu.


“Tunggu.” Teriak Devan menghentikan langkah Tiara yang hendak masuk ke dalam boutique.


“Devan, kamu tidak pulang?” Bingung Tiara heran melihat Devan turun dari mobil itu.


“Ada apa?” Lanjut Tiara bertanya.


“Mmm itu, apa aku boleh masuk dan melihat-lihat boutiquemu?” Ragu Devan bertanya.


“Kamu mau mampir di boutique ku?” Beo Tiara.


“Iya, memangnya tidak boleh?” Devan balik bertanya.


“Tidak, tidak. Tentu saja boleh, bagaimana pun juga boutique ini milik calon istrimu. Tentu saja kamu boleh kapan saja kemari.” Balas Tiara.


“Kalau begitu ayo masuk.” Sambung Tiara.


Devan pun masuk ke dalam. Ini kali pertama Devan masuk ke dalam boutique tempat mantan kekasihnya bekerja.


Matanya melirik kesana kemari mencari wanita yang beberapa hari ini tidak bisa ia temui bahkan untuk menanyakan kabar wanita itu saja sudah tidak bisa karna nomor wanita itu yang terus berada diluar jangkauan jika dihubungi.


Dimana Vina? Bukannya Vina selalu masuk pagi. Batin Devan bertanya-tanya.


Disaat Devan celingak-celinguk mencari Vina, tiba-tiba Tiara datang menepuk pundaknya.


“Devan, ayo ke ruangan ku.”


“Ahh.. iya.” Pasrah Devan.


Sebenarnya Devan mau kesini hanya untuk mencari Vina, bukan untuk berurusan dengan Tiara.


Di dalam ruangan.


“Duduk dulu Devan.” Ucap Tiara lalu pergi mengambil kaleng soda dari kulkas mini yang ada di ruangannya.


“Minum dulu.” Lanjut Tiara menyodorkan kaleng itu lalu duduk tepat di samping Devan. Mereka duduk sangat dekat hingga membuat Devan risih.

__ADS_1


“Terima kasih.” Balas Devan sambil bergeser memberi jarak di antara mereka.


Tidak lama Tiara juga bergeser medekat pada Devan sambil tangannya mengelus-elus paha lelaki itu.


Cepat-cepat Devan berdiri “Sepertinya aku harus segera kembali ke kantor.”


Devan lalu keluar dari ruangan itu tanpa mau mendengar bujukan Tiara yang ingin Devan tinggal lebih lama.


Di luar Devan masih sempat-sempatnya melirik kesana kemari mencari keberadaan Vina. Devan pun menghampiri salah satu pelayan yang ada di sana.


“Permisi, apa boleh saya bertanya? Apa ada salah satu teman kerja kalian yang pindah shift dari pagi ke malam?”


“Oh iya ada pak. Katanya ada urusan keluarga jadi dia minta tukar shift dengan teman saya yang itu.” Jawab pelayan itu sambil menujuk salah satu pelayan yang lain.


“Oke, terima kasih.” Balas Devan lalu keluar dari boutique itu.


Vina pasti pindah shift. Tapi urusan apa yang Vina lakukan hari ini. Kata Devan dalam hati.


“Aku akan kembali nanti malam.” Gumam Devan bertekad.


Devan pun kembali ke perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.


Sementara di dalam, Tiara tampak senyum-senyum tidak jelas.


“Devan pasti mulai menyukai ku.” Ucap Tiara dengan pedenya.


“Sebentar lagi status ku akan berganti menjadi nyonya Devan. Aku tidak sabar menunggu hari itu tiba” Sambung Tiara dengan bangganya.


Tiara beranjak dari duduknya lalu pergi ke meja kerjanya untuk menyelesaikan beberapa rancangan untuk pesanan pelanggan.


Malam telah tiba.


Saat Tiara akan bersiap-siap pulang, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


“Aku akan menjemputmu.” Bunyi pesan teks yang ternyata dari Devan.


Devan hari ini benar-benar memperlakukan aku seperti putri. Sangat perhatian. Batin Tiara senang.


“Baiklah, aku tunggu sayang.” Balas Tiara.


Sementara di tempat lain.


Devan yang menerima balasan pesan Tiara tiba-tiba merinding di buatnya. Apalagi mengingat kejadian siang tadi, itu cukup membuatnya jijik berada dekat dengan wanita itu.


“Kalau bukan demi untuk melihat Vina, mana mau aku capek-capek mengantar jemput wanita itu.” Cebik Devan kesal.


Meskipun kesal, pria itu tetap pergi ke boutique untuk menjemput Tiara.


Sesampainya disana, Devan langsung masuk ke boutique. Bertepatan saat itu Tiara tengah berbicara pada para karyawannya.


“Karna besok kamu sudah kembali masuk pagi, jadi kamu yang akan memegang kunci ini.” Titah Tiara pada salah satu karyawannya yang tadi sempat izin untuk pindah shift karna ada urusan di pagi hari.


Devan tidak peduli dengan apa yang Tiara bicarakan pada karyawannya. Sekarang tujuan hanya satu, yaitu mencari Vina. Devan hanya ingin melihat Vina untuk mengobati kerinduannya beberapa hari ini.


Dimana Vina? Kenapa dari pagi aku tidak melihatnya disini.


Vina kamu dimana, izinkan aku untuk melihatmu sebentar saja.

__ADS_1


Devan melamun memikirkan Vina.


Beberapa hari ini Devan tersiksa ingin melihat Vina, beberapa kali Devan mencoba menahan itu tapi tetap tidak bisa. Rasa rindunya terus bertambah dan bertambah hingga membuat Devan tidak bisa tidur karnanya.


Devan bahkan baru-baru ini pergi ke apotik hanya untuk membeli obat tidur untuk membantu masalah tidurnya.


“Sayang, kamu sudah datang?” Suara Tiara membuat Devan tersadar dari lamunanya.


Semua pelayan yang ada disana memperhatikan mereka berdua. Bahkan ada yang berbisik-bisik entah membicarakan apa.


“Ayo aku antar kamu pulang.” Balas Devan dengan raut wajah kecewa karna tidak menemukan apa yang ia mau.


“Kita singgah makan ya, aku belum makan malam.” Kata Tiara lagi sambil meraih tangan Devan untuk ia genggam dan pamerkan pada karyawannya.


Perlahan Devan menepis tangan Tiara sambil menolak halus permintaan Tiara tadi.


“Maaf Tiara, aku capek dan ingin cepat istirahat. Kamu makanlah di rumah nanti.”


Karna penolakan Devan tadi, semua karyawan Tiara saling menatap dengan bibir terkatup menahan senyum.


Sementara Tiara, wanita itu berusaha bersikap biasa saja atas penolakan Devan walaupun dalam hati Tiara kesal dan malu.


Devan pun berjalan duluan meninggalkan Tiara ke mobil.


“Jangan lupa matikan semua lampu, lalu kunci pintunya.” Ujar Tiara pada karyawannya lalu pergi menyusul Devan ke mobil.


Dalam perjalanan mengantar Tiara pulang.


“Karyawanmu sepertinya kurang, kenapa tidak di tambah saja?” Tanya Devan mencoba memancing Tiara untuk membahas tentang semua karyawannya.


“Aku memang sedang mencari karyawan baru karna salah satu karyawan ku ada yang resign.” Jawab Tiara santai.


“Resign?” Beo Devan.


“Memang kenapa dia resign?” Lanjut Devan semakin penasaran.


Apa itu Vina?


“Katanya sih dia mau kembali ke kampung untuk merawat ayahnya yang sudah tua. Bodoh memang, sudah bagus dapat pekerjaan di kota malah pulang ke kampung. Mau kerja apa dia disana selain jadi petani atau pembantu di rumah orang-orang.”


“Memang dimana kampungnya?” Devan masih mencoba mengorek informasi dari Tiara.


Belum ada info spesifik yang mengatakan kalau itu Vina.


“Aku tidak tau dan tidak akan pernah mau tau. Tidak penting juga.” Jawab Tiara angkuh.


“Tapi kerjanya bagus?” Tanya Devan lagi.


“Bagus. Vina itu kerjanya bagus, displin juga. Tapi tidak tau kenapa setiap kali melihatnya, ada rasa tidak suka dalam hatiku.” Dengan gamblangnya Tiara menjawab.


Devan membulatkan matanya kaget.


Jadi Vina sudah keluar. Apa sebegitu marahnya Vina sampai pergi dari kota ini.


❤️


Jangan lupa vote, like dan komen ya😊😘

__ADS_1


__ADS_2