Bahagia Yang Tertunda

Bahagia Yang Tertunda
Chapter 33


__ADS_3

Mereka sampai di depan rumah sederhana tempat Vina dan keluarganya selama ini tinggal.


Rombongan itu pun turun dari dalam mobil yang tadi membawa mereka.


“Selamat siang.” Salam Naya saat melangkahkan kakinya masuk lebih dulu.


“Siang.” Adi balas menyapa Naya.


“Cucu kakek sudah pulang? Siapa yang mengantarmu pulang?” Lanjut Adi bertanya saat melihat Naya sendirian masuk.


“Ayah.” Jawab Naya bersamaan Devan dan rombongannya masuk.


“Siang.” Sapa mereka.


“Siang, ayo silahkan masuk.” Ucap Adi mempersilahkan mereka masuk.


Sementara Naya sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya.


“Mau minum apa biar saya buatkan.” Tawar Adi.


“Tidak usah ayah, kita akan ke warung Vina untuk makan siang.” Cegah Devan saat Adi hendak berdiri dari tempatnya.


“Ah, baiklah.” Balas Adi.


Tidak berapa lama Naya keluar dengan pakaian santainya, pakaian yang sudah kelihatan pudar warnanya.


Mungkin dalam keluarga Devan pakaian seperti itu sudah tidak akan di gunakan, bahkan mungkin akan di buang.


Devan menatap sendu ke arah gadis kecilnya itu.


Tunggu sebentar lagi nak, ayah pasti akan memberikan yang terbaik untuk kalian. Ucap Devan dalam hatinya.


“Ayo pergi, Naya sudah lapar.” Seru Naya pada mereka.


Mereka tertawa mendengar ucapan Naya.


“Ya sudah ayo.” Mereka pun beranjak dari tempat mereka menuju mobil yang akan mereka gunakan.


Sebelum pergi lebih dulu Devan mengunci pintu rumah itu.


***


Suasana di warung siang itu cukup ramai sampai-sampai Vina kewalahan menyiapkan pesanan para pengunjung yang datang di warungnya.


Belum selesai menyelesaikan pesanan salah satu pengunjung, pengunjung lain sudah datang menyebutkan menu yang mereka inginkan.


Vina sampai sakit kepala harus melakukan yang mana lebih dulu. Meski pun begitu, Vina tetap bersyukur karna Tuhan mengirim berkatnya melalui orang-orang itu.


Setidaknya kerja kerasnya terbayarkan melihat orang-orang menikmati makanannya.


Saat Vina sedang sibuk-sibuknya mengantar makanan kepada pengunjung, rombongan Devan masuk ke dalam.


“Bunda.” Sapa Naya lebih dulu.

__ADS_1


Suara Naya sukses menarik perhatian Vina dan para pengunjung yang ada disana.


Betapa terkejutnya mereka melihat rombongan Devan yang mereka ketahui sebagai ayah dari Naya yang di sebut-sebut kaya bahkan memiliki perusahaan sendiri.


Sementara Vina, wanita itu tidak menyangka papa Devan akan menginjak warungnya yang sederhana ini.


Di saat Vina hendak ke depan menyapa mereka, seorang pengunjung dari meja ujung meneriakkan pesanannya.


“Astaga.” Gumam Vina pusing.


Seolah paham melihat Vina yang kelimpungan, Devan pun berniat membantu wanita itu.


“Parto tolong ajak mereka untuk duduk, carikan tempat kosong yang ada.” Titah Devan pada Parto.


“Baik pak.” Jawab Parto sigap.


Setelah itu Devan menuju tempat Vina untuk membantu wanita itu.


“Biar ku bantu.” Tawar Devan saat Vina akan mengantarkan makanan ke meja ujung.


“Tidak usah.” Tolak Vina merasa tidak enak.


Tidak mungkin kan seorang Devan harus melakukan hal seperti itu, pekerjaan seperti ini tidak cocok dengan derajatnya, pikir Vina.


Devan tau Vina pasti akan menolak tawarannya, daripada berdebat hanya karna hal ini dengan sigap Devan mengambil nampan berisi makanan itu dari tangan Vina dan langsung berlalu mengantarkan makanan itu ke meja ujung.


Devan bahkan tidak mempedulikan panggilan Vina yang ingin mencegahnya.


Orang itu kaget melihat Devan sendiri yang datang mengantar pesanannya. Bagaimana tidak, orang yang memesan tadi adalah pekerja yang merenovasi pasar di sana yang tak lain adalah proyek dari perusahaan yang Devan sedang kerjakan saat ini.


“Pak.” Sapa pekerja itu canggung sekaligus malu.


“Tidak apa-apa, silahkan.” Balas Devan sambil meninggalkan mereka yang masih terkejut dengan keadaan itu.


Devan kembali menghampiri Vina yang masih sibuk dengan pesanan di tambah piring yang masih menipis karna belum sempat di cuci oleh Vina.


Vina bingung ingin mengerjakan yang mana lebih dulu.


“Ada apa?” Tanya Devan saat melihat wajah Vina yang seperti orang kebingungan.


“Emm itu, piringnya tinggal sedikit dan belum sempat aku cuci.” Jawab Vina ragu.


“Biar aku yang cuci, kamu fokuslah pada pesanan mereka.” Ujar Devan dengan senyum menawan di bibirnya.


Kesempatan ini akan ia gunakan sebaik mungkin di depan Vina, Devan mau Vina melihat perjuangannya demi untuk kembali bersama.


“Apa tidak apa-apa kamu melakukan pekerjaan seperti itu?” Ragu Vina bertanya.


Wanita itu kali ini tidak menolak tawaran Devan lantaran kondisi yang tidak memungkinkan.


“Sudahlah, serahkan padaku.” Sahut Devan membanggakan dirinya.


Vina pun kembali dengan pekerjaannya sementara Devan menuju ke belakang.

__ADS_1


Laki-laki itu menepuk jidatnya melihat tumpukan piring kotor di sana, ini kali pertama Devan melakukan pekerjaan seperti ini.


Saat di apartemen Vina yang biasa mencuci piring bekas makan mereka dan saat di rumah ada para asisten rumah tangganya yang melakukan pekerjaan ini.


Devan masih berdiri memperhatikan piring-piring itu, laki-laki itu bingung harus mulai dari mana.


Di saat Devan masih terpaku di tempatnya, Vina datang menghampiri laki-laki itu. Sejak awal Vina tau Devan pasti tidak akan bisa melakukan ini.


“Devan.” Panggil Vina sontak yang di panggil pun berbalik.


“Vina.” Balas Devan.


“A..aku baru saja akan mencucinya.” Sambung Devan.


“Devan tidak usah, biar aku saja.” Cegah Vina.


“Biar aku saja, kamu uruslah mereka. Ah iya, Naya juga tadi mengatakan kalau dia sudah lapar.” Balas Devan.


“Mereka sudah mendapatkan pesanan mereka, untungnya piringnya cukup. Hanya tinggal ayah dan yang lainnya yang belum dapat. Jadi kamu kembalilah kesana, biar aku yang mencuci ini sekaligus menyiapkan makanan untuk kalian.” Ujar Vina.


Devan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


“Hehe, maaf.” Hanya itu yang bisa Devan katakan.


Vina hanya menganggukan kepalanya lalu mengambil alih piring-piring itu, hanya membutuhkan waktu sebentar dan piring itu sudah bersih di cuci.


Devan terpukau melihat kepiawan Vina dalam melakukan pekerjaannya.


Benar-benar istri idaman. Batin Devan.


Vina berbalik dan mendapati Devan ternyata masih ada di tempat itu.


“Loh, aku kira kamu sudah berkumpul dengan mereka.” Vina membuka suaranya.


Devan hanya tersenyum membalas ucapan Vina.


Mereka kembali ke depan, lebih tepatnya Devan mengikuti Vina ke depan. Laki-laki itu sudah seperti anak yang mengikuti kemana ibunya pergi.


Vina hanya membiarkan saja, terserah Devan ingin melakukan apa.


Vina meraih kain bersih lalu mengeringkan piring-piring yang akan di gunakan. Setelah itu ia menyiapkan makanan untuk keluarganya.


Saat Vina hendak mengantar makanan itu ke meja tempat mereka berada, lagi-lagi Devan mencegahnya dan langsung mengambil makanan itu untuk di bawanya.


“Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membantumu.” Kata Devan sebelum berlalu dari hadapan Vina.


Dan wanita itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Devan yang sangat berbeda dari sebelumnya.


❤️


Hari ini perkara piring kotor dulu ya😂Besok deh baru mulai jahat-jahatnya😜✌️


Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers dengan cara like, komen dan like kalian🙏

__ADS_1


__ADS_2