
Vina telah di pindahkan ke ruangan khusus yang penuh dengan peralatan medis khusus.
Langit hampir terang, Devan yang kasihan dengan kondisi orangtuanya menyuruh Viko untuk mengantar papa dan ayah mertuanya untuk pulang.
“Papa dan ayah kembalilah ke rumah, biar aku yang menjaga Vina disini.” Pintah Devan pada kedua orangtuanya yang masih setia berada di ruangan itu.
Bayu mengangguk sementara Adi sebenarnya enggan meninggalkan anaknya yang sedang terbaring lemah di sana. Tapi laki-laki paruh baya itu tetap mengikuti apa yang Devan katakan.
“Ya sudah kalau begitu, kami akan pulang. Jaga dirimu baik-baik, perhatikan juga kondisimu jangan sampai kamu juga sakit. Ingat, masih ada anak kalian yang perlu kamu urus!” Nasehat Bayu.
“Iya pah. Viko antar mereka pulang.” Titah Devan.
“Baik tuan.” Sahut Viko cepat.
“Oh iya, tolong suruh mbak persiapkan perlengkapan ku dan bawa kemari saat kau kembali. Banyak yang harus ku bahas denganmu.” Kata Devan lagi sarat akan makna.
Maksud Devan tadi adalah banyak yang ingin ia bicarakan mengenai kejadian tadi malam dan mengenai wanita iblis itu.
Viko mengerti dengan maksud tuannya.
Sambil menundukkan kepalanya “Baik tuan.” Sahut Viko lagi.
Mereka pun berlalu keluar dari ruangan itu.
Sepeninggalan mereka Devan tertunduk lemah dengan tangan menggenggam erat tangan Vina di sampingnya.
“Maafkan aku, hikss.”
“Tolong bangunlah. Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini.”
Devan mendadak berubah menjadi laki-laki lemah yang kehilangan separuh dari kehidupannya saat sendiri dalam ruangan itu.
Rasanya Devan tidak akan sanggup menjalani hari-harinya jika Vina tidak berada di sampingnya.
Devan juga bertanya-tanya kenapa disaat mereka ingin bahagia dan memulai kehidupan baru bersama, ada saja yang terjadi.
Devan merasa Tuhan belum ingin mereka bahagia. Apa Tuhan masih ingin menguji cinta mereka?
Devan selalu bertanya-tanya dalam hatinya mengenai hal itu.
***
Matahari bersinar terang.
Orang-orang mulai melakukan aktivitas mereka seperti biasa.
__ADS_1
Semua berita membahas kejadian semalam, bukan tentang aib Vina dan Devan tapi tentang Tiara yang menggila semalam.
Bahkan banyak yang menghujat wanita itu, semua orang menganggap Tiara gila dan stress karna Devan lebih memilih Vina.
Berita itu juga sampai ke telinga orangtua Tiara yang notabenenya adalah sahabat mama Devan waktu masih hidup, siapa lagi kalau bukan tante Rita.
Mereka mendapat panggilan dari polisi malam itu langsung untuk memberikan keterangan terkait anak mereka yang di tahan.
Rita dan suaminya cepat-cepat memesan tiket kembali ke Indonesia. Sekedar informasi, Rita dan keluarganya memutuskan untuk pindah ke negara lain tepat saat Devan dan Tiara dinyatakan resmi bercerai.
Mereka malu karna pernikahan anak mereka hanya bertahan beberapa bulan di tambah Tiara yang waktu itu stress dan harus di bawa berobat ke luar negeri.
Kondisi Tiara saat bercerai bisa di bilang sangat tidak baik, wanita itu sering berteriak memaki-maki Devan dan Vina.
Ada satu momen dimana, Rita mendapati anaknya di dalam kamar sedang menusuk-nusuk foto Vina yang ia tempel di dinding menggunakan pisau.
Rita tidak tahan melihat kondisi anaknya, ia pun meminta suaminya untuk memasukan Tiara ke rumah sakit jiwa untuk memulihkan kembali kondisinya. Bahkan orangtuanya rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk menyewa psikiater dan psikolog untuk merawat anaknya.
Berita ini hanya diketahui oleh keluarga mereka, semua sepakat menyembunyikan berita ini dari orang luar.
Setelah bertahun-tahun Tiara kondisi Tiara perlahan pulih, mereka pikir wanita itu sudah sembuh dari gangguan mentalnya.
Tapi siapa yang menyangka dibalik itu semua hanya tipu muslihat Tiara agar keluar dari tempat itu dan kembali ke Indonesia untuk membalaskan dendamnya.
Saat dokter yang bertugas merawatnya masuk untuk melakukan konsultasi dan terapi, Tiara akan berpura-pura baik dan berperilaku layaknya orang normal pada umumnya.
Wanita itu begitu sangat licik.
***
Viko kembali ke rumah sakit dengan satu tas besar berisi perlengkapan untuk Devan. Tidak lupa dengan beberapa makanan yang ia bawakan untuk tuannya itu.
Tok…Tok…Tok.
Viko mengetuk pintu beberapa kali lalu membuka pintu ruangan itu dan masuk ke dalam.
Viko melihat bossnya yang sedang tertidur di pinggir istrinya dengan tangan saling menggenggam. Karna tidak ingin menganggu bossnya yang baru saja beristirahat, Viko pun memutuskan untuk menaruh barang yang dibawanya ke sofa yang berada di sudut ruangan lalu laki-laki itu berlalu keluar dari ruangan itu.
Viko memutuskan untuk menunggu di luar sambil mengecek beberapa pekerjaan, meskipun tubuhnya lelah tapi Viko tetap bekerja sebagai bentuk kesetiaannya pada keluarga itu.
Detik berganti menit berganti jam.
Setelah menunggu dua jam lamanya, tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
“Tuan.” Viko refleks berdiri dari tempatnya.
__ADS_1
“Masuklah.” Perintah Devan.
Di dalam ruang rawat Vina.
“Bagaimana dengan wanita itu, apa polisi sudah memproses kasusnya?” Devan bertanya dengan sorot mata begitu marah.
Devan rasanya ingin sekali melenyapkan Tiara saat ini, kalau bukan karna menghargai hukum dan memikirkan keluarganya sudah pasti Devan akan merencanakan balik untuk melenyapkan wanita itu.
Tapi kalau Devan sampai melakukan hal itu bukankah itu artinya ia sama dengan Tiara?
“Untuk saat ini nyonya Tiara masih di tahan tuan, polisi masih melakukan penyelidikan melalui beberapa karyawannya di boutique dan polisi juga saat ini sedang menunggu kedatangan orangtua nyonya tiara untuk penyelidikan lebih lanjut.” Viko menjelaskan keadaan saat ini pada Devan.
Tiara memang untuk sementara masih di tahan dan belum di putuskan hukuman yang cocok, polisi masih mengumpulkan beberapa bukti dan saksi untuk kasus ini.
“Aku harap wanita itu di hukum seberat-beratnya!” Devan mengucapkan itu dengan tangan mengepal hingga urat-urat tangannya bermunculan.
“Pasti tuan.” Seru Viko.
Devan menarik nafasnya lalu menghembuskannya pelan, laki-laki itu harus mengontrol emosinya saat ini.
“Kau sudah makan?” Tanya Devan lagi.
Viko ragu untuk menjawab.
Melihat keterdiaman sekertarisnya itu Devan sudah bisa menebak bahwa Viko pasti belum makan karna sibuk mengurus mereka.
“Belum kan? Kalau begitu makanlah dengan ku, setelah itu pulanglah dan beristirahat sejenak. Hari ini kau tidak perlu ke perusahaan, kau bisa memantau mereka dari rumah. Aku tau kau juga pasti sangat lelah.” Titah Devan.
“Tapi tuan..” Viko merasa tidak enak, ia hendak menyanggah ucapan Devan.
“Aku tidak ingin ada bantahan atas perintahku tadi.” Ucapan telak yang Devan keluarkan, laki-laki itu tidak ingin ada sanggahan.
“Tubuhmu juga perlu di istirahatkan.” Devan
berucap lagi.
“B-baik tuan.” Viko akhirnya menyetujui perintah bossnya.
Mereka akhirnya sarapan bersama sambil sesekali membahas beberapa hal tentang pekerjaan. Tidak lama setelah itu Viko pamit untuk pulang meninggalkan Devan sendirian di sana.
❤️
Jangan lupa vote sebanyak-banyaknya karna itu berharga buat author🙏
Komen dan Likenya pun👍
__ADS_1