
Hari pernikahan Devan dan Tiara akhirnya tiba.
Semua orang sudah berkumpul dalam satu gedung besar dan megah dengan dekorasi yang super mewah khas pernikahan orang-orang kaya.
Hari ini menjadi hari yang sangat indah bagi Tiara tapi tidak bagi Devan.
Devan memang menginginkan pernikahan tapi bukan wanita di sebelahnya sekarang yang ia harapkan akan menjadi istrinya.
Hanya Vina dan hanya Vina yang lelaki itu mau.
Sedari tadi Devan hanya berdiri tegap dengan wajah datar tanpa ekspresi. Di saat Tiara dengan senyum mempesona menyambut para undangan yang datang memberikan doa-doa mereka, Devan justru hanya diam dengan tatapan kosong ke depan.
Di saat sang mempelai laki-laki tidak bahagia, di bawah Santi sang mama mempelai laki-laki tampak sibuk berbicara dengan para sahabatnya, wanita paruh baya itu sibuk membanggakan Tiara yang hari ini telah resmi menjadi anak mantunya.
“Aku ingin ke toilet sebentar.” Tiba-tiba Devan pamit pada Tiara dengan alasan ingin ke toilet.
Pria itu turun dari atas lalu menghilang di balik pintu samping.
Devan bukan ke kamar mandi tapi pria itu malah pergi ke lantai atas dari gedung itu.
“Vina, maafkan aku.” Kata yang selalu Devan keluarkan.
“Kamu dimana?” Lirih Devan sambil menunduk sedih.
Devan tidak tau dimana Vina sekarang, yang Devan tau Vina pulang ke kampungnya tapi laki-laki itu tidak tau nama kampung Vina.
Selama bersama Vina mereka sangat jarang membahas soal kampung halaman Vina karna itu akan membuat kekasihnya sedih mengingat ayahnya yang jauh.
Vina memang sempat memberitahu nama kampungnya, tapi sepertinya laki-laki itu lupa dan tidak peduli saat itu.
Sekarang hanya penyesalan yang Devan rasakan, ia menyesal karna tidak menggali lebih dalam tentang wanita itu.
Devan saat itu terlalu di mabuk cinta sampai hal lain pun tidak ia pedulikan, termasuk seluk beluk keluarga Vina.
***
“Kamu darimana Devan, semua orang mencarimu.” Ucap Santi saat Devan kembali ke dalam gedung pernikahannya.
“Devan dari kamar mandi ma.” Jawab Devan datar lalu pergi meninggalkan mamanya dan kembali naik menyusul Tiara di altar.
Lagi-lagi sampai di diatas Devan mendapat pertanyaan yang sama.
“Kamu darimana sayang?” Tanya Tiara.
“Seperti yang aku bilang tadi aku ke kamar mandi.” Jawab Devan datar.
__ADS_1
“Kamu terlalu lama, hampir saja semua orang berpikir kamu pergi meninggalkan pesta ini.” Tiara mencebikan bibirnya kesal.
Devan hanya diam, lelaki itu terlalu malas meladeni omelan Tiara.
Waktu terus berjalan, satu persatu tamu mulai pulang meninggalkan pesta.
Keluarga Devan dan Tiara juga sudah bersiap akan pulang.
“Kamu dan Tiara pulangnya naik mobil pengantin ya.” Titah Santi lalu menarik Bayu untuk segera pulang.
Dengan malas Devan berjalan bersama Tiara turun menaiki mobil yang sudah di sediakan. Dalam perjalanan pun Devan hanya diam tanpa meladeni ocehan Tiara yang terus berbicara tentang negara yang akan mereka kunjungi untuk bulan madu nanti.
“Devan kamu mau anak berapa?” Oceh Tiara.
Anak? Hanya Vina yang boleh mengandung darah daging ku. Ucap Devan dalam hati.
***
Di tempat berbeda.
Vina sedang berdiri menatap ke atas memperhatikan beribu-ribu bintang yang menghiasi langit malam.
“Vina.” Panggil Adi dari belakang.
“Sudah malam nak, ayo masuk. Udaranya juga dingin, nanti kamu sakit.” Ucap Adi penuh perhatian.
“Iya ayah.” Jawab Vina lalu beranjak masuk ke dalam rumah.
Vina pun masuk ke dalam kamarnya setelah mematikan lampu ruang tamu rumahnya.
Dengan perlahan Vina membaringkan tubuhnya di atas kasur kecil tipis yang beralaskan tikar. Tangannya meraih benda tipis yang tergeletak di lantai samping kasurnya.
Layar ponsel menyala, tangannya bergeser membuka ikon galeri lalu mencari foto laki-laki yang sudah menghancurkan hatinya.
Meski kecewa dan marah tapi rasa rindu itu tidak bisa di bohongi. Vina rindu sangat rindu pada laki-laki itu, laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi ayah dari anaknya.
Tapi sayang, laki-laki itu tidak tau tentang keberadaan malaikat kecil ini. Bukan tidak tau, hanya saja Vina yang tidak memberitahu.
Kamu jahat Devan. Aku ingin membencimu tapi sepertinya anak dalam kandunganku tidak mendukung impianku untuk membencimu. Setiap malam, entah kenapa aku selalu ingin melihat wajahmu.
Sayang, tolong bantu bunda kali ini saja. Tolong bantu bunda untuk melupakan ayahmu.
Malam itu seperti biasa Vina akan tidur setelah melihat foto Devan dalam ponselnya.
***
__ADS_1
Kembali pada pasangan yang baru saja resmi menjadi pasangan suami istri.
Devan terlihat keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian tidur lengkap.
“Sayang, kemarilah.” Tiara berbicara dari atas tempat tidur dengan posisi tidur miring dan tangan menopang kepalanya.
Tiara menggunakan pakaian seksi hingga paha mulusnya terlihat. Wanita itu pikir Devan akan tergoda dan mendekat padanya, tapi semua itu hanya ada dalam khayalannya karna bukannya mendekat Devan malah pergi menuju pintu kamar.
“Aku harus keruangan kerjaku, ada hal yang harus aku selesaikan.” Ujar Devan lalu menghilang bersamaan dengan pintu yang tertutup.
“Sial! Seharusnya ini menjadi malam pertamaku yang indah, bisa-bisanya Devan pergi meninggalkanku hanya untuk mengurus hal tidak penting. Kurang ajar!” Umpat Tiara kesal.
Merasa kedinginan Tiara pun menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang terekspos tadi.
Sudah capek-capek menyiapkan baju kurang bahan itu untuk di pakai di malam pertamanya tapi malah berakhir di abaikan oleh Devan.
“Masih ada banyak waktu untuk menikmati permainan panas itu. Aku pastikan akan membuatmu bertekuk lutut di depanku dan memohon untuk dipuaskan, lihat saja.” Gumam Tiara sambil memejamkan matanya memikirkan hari itu tiba, hari dimana Devan memohon duluan padanya.
Di ruang sebelah.
Devan sedang duduk sambil memperhatikan foto wanita cantik dalam ponselnya. Sesuatu yang harus di urus tadi adalah ini, melihat foto orang yang dia rindukan setengah mati.
Orang yang dia cintai tapi harus dia lepaskan hanya karna perjodohan demi membuat sang mama senang.
“Aku sangat merindukanmu Vina.” Gumam Devan sambil mengusap-usap foto itu.
Devan tidak tau seperti apa rekasi Vina kalau tau tepat hari ini laki-laki itu telah menjadi suami orang.
Karna lelah Devan pun membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang.
Lebih baik tidur disini daripada harus tidur sekamar dengan wanita itu.
Devan berusaha memejamkan matanya meskipun rasa kantuk itu belum datang menghampiri, dengan erat Devan memeluk ponselnya yang menampilkan foto Vina.
Maafkan aku Vina.
Malam itu Devan dan Tiara tidur di tempat yang berbeda, tidak ada malam pertama seperti pasangan-pasangan yang lain.
Semua itu Devan lakukan karna tidak ingin bersama Tiara. Meskipun mereka telah resmi menjadi suami istri tapi Devan bertekad tidak akan menyentuh wanita itu.
Yang Devan inginkan hanya Vina, titik.
❤️
Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya🙏😘
__ADS_1