Bahagia Yang Tertunda

Bahagia Yang Tertunda
Chapter 40


__ADS_3

Keesokan harinya.


Devan terbangun mendengar suara dering ponselnya di pagi hari. Merasa terganggu, laki-laki itu pun membuka matanya dan bangkit mencari asal suara tersebut.


Saat melirik ke samping, kosong tak ada orang.


Devan menduga istrinya itu pasti sudah berada di dapur sekarang.


“Hmm, hallo.” Sapa Devan pada si penelpon.


Laki-laki itu memejamkan matanya mendengar si penelpon berbicara.


“Hmm, baguslah. Setelah sarapan datanglah kemari!” Jawab Devan memberi perintah. Setelahnya sambungan itu terputus.


Sebelum benar-benar beranjak dari tempatnya, Devan terlebih dulu mengumpulkan seluruh kesadarannya.


Merasa kesadarannya sudah terkumpul Devan pun beranjak dari tempatnya keluar dari kamar mencari istrinya.


Devan berjalan menuju dapur tapi kosong tidak ada orang, samar-samar Devan mendengar suara dari halaman depan.


Disana ayah Adi dan Naya sedang duduk sambil menikmati minuman hangat mereka yang tadi di buatkan oleh Vina.


“Pagi semua.” Sapa Devan sambil berjalan menghampiri Naya dan mendaratkan tubuhnya di samping gadis kecilnya itu.


“Pagi.” Balas Adi dan Naya serempak.


“Minum dulu tehnya nak. Istrimu tadi sudah menyiapkannya.” Lanjut Adi berbicara.


“Ah, iya ayah.” Sahut Devan. Tangannya meraih gelas yang mengeluarkan asap gembul dari dalam, lalu meneguknya pelan dengan sesekali di tiup.


“Ngomong-ngomong Vina dimana ayah? Aku tidak melihatnya dari tadi.” Sambung Devan mengutarakan isi hatinya yang penasaran tidak melihat keberadaan istrinya pagi itu.


“Baru saja pergi bersama bu Romlah ke pasar untuk berbelanja bahan makanan.” Jawab Adi.


Naya yang berada di tengah-tengah dua orang dewasa itu hanya diam menyimak sambil sesekali meneguk minumannya.


***


“Duluan ya bu.” Ucap Vina pada bu Romlah sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan beberapa plastik di tangannya.


Saat masuk ke dalam, Vina bertemu dengan Naya yang sudah segar habis mandi.


“Bunda.” Teriak Naya semangat.


“Hai sayang. Ayahmu sudah bangun?” Tanya Vina.


“Sudah bunda. Ayah sedang mandi sekarang.” Seru gadis kecil itu sambil tetap mengekor Vina ke dapur.


“Mana kue yang tadi Naya pesan bunda?” Tanya gadis itu tidak sabar. Rupanya gadis kecil itu bahagia melihat kepulangan Vina karna ada sesuatu yang ia tunggu, apalagi kalau bukan kue pesanannya.


“Ada di dalam kantung plastik itu.” Jawab Vina, dagunya mengarah pada salah satu kantong berwarna biru yang ia letakkan di atas meja.


Dengan semangat 45 Naya menuju meja dan langsung meraih kantong itu.


“Yey, terima kasih bunda.” Ujar gadis kecil itu.

__ADS_1


“Sama-sama.” Balas Vina.


Naya mulai sibuk memakan kue-kue itu sementara Vina fokus pada bahan-bahan yang akan ia sulap menjadi hidangan lezat di pagi hari.


Tidak lama Devan keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya.


“Kamu sudah pulang?” Tanya Devan langsung.


“Ya.” Sahut Vina masih tetap fokus dengan pekerjaannya.


“Lalu apa yang kamu bawakan untukku?” Tanya Devan lagi saat melihat anaknya sedang duduk tenang menikmati kue-kue itu.


“Itu, aku bawa kue.” Jawab Vina santai.


Devan berjalan menuju Naya “Sayang, coba suapi ayah. Ayah juga mau rasa kue itu.” Pintah Devan.


Naya menyodorkan satu kue yang ada di tangannya ke mulut Devan.


“Enak kan ayah?” Tanya Naya dengan mata berbinar.


“Ya.” Jawab laki-laki itu.


“Devan pakai bajumu.” Perintah Vina.


“Siap istriku.” Goda Devan sambil berlalu dari tempat itu.


***


Setelah sarapan bersama. Devan, Adi dan Naya duduk di teras rumah sambil menunggu Vina yang tengah bersiap-siap.


Pipp.


Sebuah mobil memasuki Kawasan rumah sederhana itu.


Sosok Viko keluar dari dalam mobil.


“Pagi semua.” Sapa Viko menghampiri mereka.


“Pagi.” Jawab mereka serempak.


“Duduk dulu Viko, istriku sedang bersiap.” Ujar Devan.


Viko mengangguk sebagai jawaban, lalu mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi yang ada disana.


Devan dan Viko sesekali membahas masalah pekerjaan sementara Adi dan Naya hanya diam, mereka tidak mengerti apa yang di bicarakan dua orang itu.


Beberapa menit berlalu.


Vina keluar menghampiri mereka.


“Oh sekertaris Viko, ternyata anda sudah datang. Tunggu sebentar, aku akan ke dalam mengambil task u.” Ujar Vina, lalu kembali masuk.


Tidak lama Devan juga berdiri, laki-laki itu pergi menyusul istrinya ke dalam untuk mengambil dompet dan ponselnya.


Saat Vina akan keluar dari kamar, tiba-tiba dirinya di dorong kembali untuk masuk.

__ADS_1


“Devan.” Kaget wanita itu.


Tanpa banyak bicara laki-laki itu langsung mendaratkan sebuah kecupan di bibir ranum istrinya.


Cup.


“Morning kiss.” Ucap Devan cengengesan.


“Aishh, kau ini.” Kesal Vina sambil memukul lengan laki-laki itu.


Sementara Devan, laki-laki itu hanya tertawa menerima pukulan Vina. Lagipula tenaga wanita itu tidak seberapa baginya.


“Awas, aku ingin keluar.” Ujar Vina lagi.


“Tunggu dulu.” Tahan Devan, laki-laki itu menggenggam tangan Vina lalu menarik wanita itu untuk mengikutinya.


Setelah mengambil dompet dan ponselnya, pasangan suami istri itu pun keluar dari dalam kamar menghampiri mereka di luar.


Sedari tadi Vina selalu ingin melepas genggaman tangannya dari cekalan Devan karna malu jika di lihat ayah, Viko dan anaknya yang masih suci itu.


Vina tidak ingin menodai mata gadis kecilnya yang polos itu.


Padahal hanya menggenggam tangan.


“Ayo.” Ujar Devan tanpa malu sementara Vina hanya menunduk menyembunyikan wajahnya, wanita itu belum terbiasa.


“Ciee, bunda dan ayah pegangan tangan.” Celetuk Naya begitu saja.


Sontak hal itu membuat Viko menahan tawanya melihat bossnya yang kelihatan sangat ‘bucin’ kalau kata orang.


Dulu saja saat bersama nyonya Tiara, bossnya itu selalu memasang wajah datarnya. Ketika berjalan bersama dengan Tiara pun Devan selalu memberi jarak di antara mereka meskipun Tiara selalu ingin menempel padanya.


Tapi sikap itu berbanding terbalik saat bersama Vina, justru laki-laki itu yang selalu ingin menempel pada wanita itu.


Dasar. Batin sekertaris Viko mencibir tuannya.


“Ayah, kami pergi dulu.” Pamit Vina dan Devan.


“Ya, kalian hati-hati di jalan.” Sahut Adi.


Mereka pun berlalu memasuki mobil yang telah di bukakan pintunya oleh Viko. Sampai saat ini Vina masih bekum percaya bahwa sekarang ia telah menjadi istri dari seorang Devan.


Rasanya seperti mimpi, pikir wanita itu.


“Dadah kakek.” Naya melambaikan tangannya dari dalam mobil.


Perlahan mobil meninggalkan Kawasan rumah itu menuju sekolah tempat Naya selama ini belajar.


❤️


Jangan lupa dukungannya lewat like dan komen. Author juga butuh vote dari kalian semua🙏


Author ucapkan terima kasih bagi yang sudah vote novel ini❤️


Semoga Tuhan selalu melindungi kita di tengah pandemi seperti ini🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2