Bahagia Yang Tertunda

Bahagia Yang Tertunda
Chapter 42


__ADS_3

Malam hari di kediaman keluarga Devan.


Semua sudah berkumpul di meja makan.


“Bunda, aku ingin itu dan itu.” Seru Naya menunjuk beberapa hidangan yang gadis kecil itu inginkan. Vina melakukan apa yang anaknya mau. Setelah memberikan piring berisi apa yang Naya inginkan wanita itu beralih melakukan tugasnya sebagai istri dengan mengambilkan makanan untuk suaminya.


Makan malam itu begitu sangat nikmat rasanya, apalagi saat tiba di kota mereka langsung tidur dan belum sempat makan jadilah mereka kelaparan saat bangun.


Menurut sebagian orang meskipun makanan itu tampak biasa saja tapi jika kita menyantapnya dalam keadaan lapar, makanan itu pasti akan sangat enak dan nikmat di lidah.


“Jadi besok kamu sudah kembali bekerja?” Bayu membuka percakapan di antara mereka.


“Iya pah, sudah terlalu lama juga Devan meninggalkan perusahaan.” Jawab laki-laki itu.


“Lalu bagaimana dengan rencana resepsi kalian? Bukankah waktunya tinggal sebentar lagi? Lalu sudah sampai mana persiapannya?” Tanya Bayu lagi, matanya melirik dua pasangan itu.


“Sesuai kesepakatan, resepsinya tiga hari lagi. Dan untuk seluruh persiapan sudah di atur oleh Viko jauh-jauh hari.”


“Besok aku dan Vina akan ke butik untuk mencoba gaun dan jas yang akan kami pakai. Sekalian besok juga aku akan ke kantor untuk mengundang secara langsung karyawan ku. Dan untuk undangan buat para kolega juga sudah di bagikan oleh Viko, hanya saja saat itu aku menyuruh Viko untuk bilang pada mereka agar menyembunyikan berita ini sampai aku sendiri yang mengumumkannya.” Sambung Devan menjelaskan.


“Baguslah kalau begitu.” Sahut Bayu.


Mereka kembali melanjutkan makan malam mereka.


***


Semua kembali ke kamar masing-masing setelah makan malam itu.


“Naya mau punya kamar sendiri tidak? Nanti ayah buatkan kamar yang indah buat Naya, isinya semua sesuai dengan yang Naya inginkan.” Lagi-lagi Devan mulai meracuni pikiran anaknya agar tidur sendirian.


Sepertinya Devan tidak ingin di ganggu saat bersama Vina.


Istrinya itu hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah konyol suaminya.


“Mau ayah. Naya mau kamar yang isinya semua berwarna pink karna Naya suka warna pink.” Seru gadis itu.


“Oke. Besok ayah akan suruh orang untuk mengerjakannya.” Ujar Devan dengan seringai di bibirnya karna berhasil membujuk anaknya untuk tidur terpisah dari mereka.


“Hore.” Teriak Naya bahagia.


“Sudah malam, saatnya tidur.” Perintah Vina.


Ayah dan anak itu patuh, mereka merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur.


Vina berjalan dan mematikan lampu kamar, setelahnya wanita itu menyusul suami dan anaknya di atas tempat tidur.


Malam itu Devan dan Vina tidur memeluk gadis kecil mereka.

__ADS_1


***


Keesokan paginya.


Vina terbangun lebih dulu, matanya melirik jam dinding yang terpajang.


Sambil merenggangkan otot-ototnya perlahan wanita itu turun dari atas tempat tidur, gerakannya sangat pelan karna takut membangunkan dua orang kesayangannya yang masih lelap dalam tidur.


Vina berlalu ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya sebelum turun ke bawah. Wanita itu berniat membuatkan sarapan seperti kebiasaannya saat di kampung.


Sebelum membasuh wajahnya, lebih dulu Vina mengikat rambutnya asal.


Setelah membasuh wajahnya, Vina berjalan keluar dari kamar mandi. Sebelum benar-benar keluar dari kamar, wanita itu berhenti sejenak memperhatikan pemandangan indah di depan matanya.


Rasanya Vina masih belum percaya bahwa ia akan kembali dipersatukan dengan Devan dalam keadaan yang sulit di bayangkan.


Terima kasih Tuhan. Hanya itu yang bisa Vina katakan sebagai bentuk ucapan syukurnya atas apa yang Tuhan lakukan dalam hidupnya. Entah itu baik atau buruk.


Wanita itu bersyukur karna Tuhan menyatukan mereka kembali dengan begitu anak mereka bisa merasakan yang namanya keluarga utuh seperti teman-temannya yang lain.


Setelah puas memandang suami dan anaknya, Vina pun keluar dari kamar.


Saat tiba di bawah rupanya sudah ada asisten rumah tangga yang sedang sibuk mengerjakan tugas mereka mulai dari bersih-bersih hingga masak. Hal itu membuat Vina bingung ingin melakukan apa, pasalnya saat tinggal di desa wanita itu sudah terbiasa bekerja.


“Selamat pagi.” Sapa Vina saat memasuki dapur.


Sontak semua pelayan berhenti dan berbalik melihat nyonya baru mereka.


“Ada yang bisa kami bantu nyonya?” Tanya salah satu pelayan yang ada di sana.


“Apa nyonya ingin di buatkan minuman hangat.” Seru pelayan satunya.


“Tidak, tidak perlu. Biar saya sendiri yang buat, kalian kembalilah bekerja. Maaf sudah menganggu pekerjaan kalian.” Balas Vina tidak enak hati atau lebih tepatnya wanita itu belum terbiasa.


Semua kembali pada pekerjaan mereka sementara Vina fokus untuk membuat tehnya.


Daripada hanya diam dan tidak melakukan apa-apa kan lebih baik bikin teh sendiri. Pikirnya.


Pagi itu semua keluarganya masih nyaman dengan tidur mereka, hanya Vina yang pagi itu terlalu cepat bangun dari tidurnya. Mungkin karna sudah terbiasa saat di kampung.


Karna bingung ingin melakukan apa pagi itu, akhirnya Vina memutuskan untuk berkeliling melihat setiap sudut yang ada di kawasan rumah itu.


Saat sedang berjalan-jalan, Vina seperti tertarik dengan sebuah taman kecil yang tidak terurus. Tanamannya hanya sedikit bahkan ada yang sudah mati.


“Sayang sekali, kenapa tidak di urus.” Gumam wanita itu.


Vina berniat menanyakan ini nanti pada Devan, siapa tau taman ini bisa Vina gunakan.

__ADS_1


Setelah berputar melihat-lihat rumah itu, Vina pun kembali masuk ke dalam rumah untuk membangunkan anak dan suaminya, apalagi hari ini Devan berencana masuk kerja kembali.


Saat di dalam Vina berpapasan dengan Adi dan Bayu yang saat itu tengah menikmati minuman mereka sambil menonton berita pagi.


“Pagi pah, ayah.” Sapa Vina.


“Pagi nak.” Balas mereka.


“Vina ke atas dulu mau bangunin Devan.” Pamit wanita itu.


Bayu dan Adi hanya mengangguk sebagai balasan.


Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga yang menghubungkan ke kamar mereka.


Sesampainya di atas, Vina tidak mendapati suaminya di tempat tidur.


“Mungkin sudah bangun.” Pikir Vina.


Wanita itu berjalan ke depan untuk membuka gorden kaca dan pintu balkon agar udara segar masuk ke dalam.


Vina beralih pada gadis kecilnya yang masih nyaman di bawah selimut.


Saat Vina hendak membangunkan Naya, tiba-tiba sebuah suara menghentikannya.


“Jangan dibangunin sayang, biarkan anak kita menikmati waktu tidurnya.” Tiba-tiba Devan datang dengan jubah mandi dan handuk yang melingkar di lehernya.


Vina menghentikan niatnya membangunkan Vina.


“Mending sekarang kamu siapin baju kantor aku.” Lanjut Devan berbicara.


Vina berlalu menuju lemari lalu mengambilkan satu stelan pakaian kantor untuk suaminya.


“Ini.” Ujar Vina sambil menyerahkan pakaian yang di bawanya.


“Terima kasih istriku.”


“Oh iya, siang nanti datanglah ke kantor ku. Parto yang akan mengantarmu.” Sambung Devan lagi.


“Untuk apa?” Beo Vina bingung.


“Makan siang bersama, habis itu lanjut ke butik untuk coba gaun yang akan kamu gunakan lusa.” Sahut Devan.


“Oh, baiklah.” Balas Vina paham.


Setelah membantu suaminya bersiap, mereka pun turun ke bawah untuk sarapan bersama. Mereka membiarkan Naya menikmati tidurnya tanpa gangguan sama sekali.


❤️

__ADS_1


Author mau ngucapin Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi readers yang merayakan🙏


Dan juga author mau ngucapin Selamat Merayakan Hari Kenaikan Isa Al-Masih bagi readers yang merayakan🙏


__ADS_2