
Malam itu Devan gelisah dalam tidurnya.
Entah kenapa bayangan punggung wanita itu dan wajah Vina silih berganti terus berputar dalam pikirannya.
“Kenapa bayangan orang itu terus saja datang dalam pikiran ku?” Gumam Devan bertanya-tanya.
***
Keesokan harinya.
Devan memutuskan pulang lebih dulu karna tidak ingin meninggalkan papanya terlalu lama. Apalagi perusahaan tidak ada yang urus lantaran Viko yang sedang cuti beberapa hari.
Semalam Devan juga sudah berbicara pada rekan-rekan yang lain bahwa ia akan kembali lebih dulu. Dan untungnya mereka semua memaklumi alasan Devan.
“Apa semua barang-barang saya sudah di masukkan?” Tanya Devan pada supir yang selama ini menemaninya di desa itu.
“Sudah pak.” Sahut sang supir.
“Kalau begitu kita bisa pergi sekarang.”
“Semuanya saya pamit duluan.” Lanjut Devan berpamitan pada semua orang yang ada dalam ruangan itu.
“Hati-hati pak Devan.” Balas mereka serempak.
Setelah berpamitan pada semua orang Devan pun keluar menuju mobil yang dimana sang supir sudah menunggu.
“Jalan pak.” Ucap Devan pada sang supir.
Mobil pun melaju meninggalkan penginapan.
***
Sementara di tempat lain.
Naya baru saja pulang dari sekolahnya.
“Kakek.” Sapa Naya sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sederhana itu.
“Cucu kakek sudah pulang.” Sahut Adi.
“Ganti bajumu, habis itu kita ke warung.” Lanjut Adi memberi arahan pada gadis kecil itu.
“Siap kakek.” Seru Naya sambil berjalan menuju kamar miliknya bersama Vina.
Setiap siang Adi akan menunggu Naya pulang, setelah itu mereka akan bersama-sama ke warung untuk makan siang disana.
Setiap pagi Vina akan membuat sarapan untuk Adi dan siangnya mereka akan makan di warung. Sementara untuk makan malam Vina akan membawanya dari warung saat pulang.
Kembali pada Naya dan Adi.
Setelah menganti seragam sekolahnya, Naya pun keluar menemui sang kakek yang sudah menunggunya.
“Ayo kek.” Seru Naya.
Mereka pun keluar dari rumah, sebelum pergi terlebih dahulu mereka mengunci pintu.
Adi dan Naya berlalu menuju warung.
Seperti biasa Naya akan bersenandung menyanyikan lagu anak-anak, saat Naya sedang asik bernyanyi tiba-tiba ia tertarik ke belakang dan jatuh menimpa Adi.
__ADS_1
Sontak gadis kecil itu kaget dan berbalik melihat sang kakek. Betapa kagetnya Naya melihat sang kakek yang tergeletak di tanah.
Naya panik hingga gadis kecil itu menangis memanggil-manggil sang kakek.
“Huuuaaaa, kakek.” Teriak Naya.
“Tolong.” Naya berteriak meminta tolong.
Jalanan saat itu sunyi karna semua warga sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing, ada yang berjualan di pasar bahkan ada yang sedang di sawah atau di kebun mereka.
“Kakek, bangun kakek.”
“Tolong, tolong kami.”
Naya terus saja berteriak meminta tolong dengan air mata yang meluncur keluar.
Tidak lama sebuah mobil berhenti di belakang mereka.
“Ada apa ini?” Tanya seorang pria yang baru saja turun dari mobil itu dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.
“Tolong om, tolong kakek saya.” Ucap Naya saat melihat orang datang.
“Ayo. Pak tolong bantu saya untuk mengangkat bapak ini ke dalam mobil.” Pintah laki-laki itu.
Mereka langsung mengangkat Adi dan membaringkannya di kursi belakang.
“Gadis kecil, kau bisa ikut dengan kami untuk menemani kakekmu.” Ucap laki-laki itu.
Naya mengangkat kepalanya menatap laki-laki yang telah membantunya itu.
“Terima kasih om.” Balas Naya.
Laki-laki itu terpaku di tempatnya.
Mata itu. Batin laki-laki itu.
Setelah mengucapkan terima kasih, Naya langsung saja masuk ke dalam mobil untuk menjaga sang kakek di belakang.
Hal itu membuat kontak mata antara Naya dan laki-laki itu terputus.
Saat laki-laki itu masih diam terpaku di tempatnya, sang supir langsung memanggilnya hingga membuat lamunan laki-laki itu buyar.
“Pak, kita harus segera membawa bapak ini ke rumah sakit ataupun puskesmas terdekat.” Tutur sang supir yang juga kelihatan panik.
Laki-laki itu pun dengan cepat masuk ke dalam mobil. Saat laki-laki itu ingin menutup pintu mobilnya, tiba-tiba pintu itu di tahan oleh seseorang.
“Tunggu. Kalian mau bawa kemana Naya? Apa kalian ini penculik?” Cecar seorang wanita yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
Rupanya wanita itu adalah tetangga Vina yang sepertinya sedang berjalan hendak ke pasar.
“Tante, kakek pingsan. Kami harus segera membawa kakek ke puskesmas.” Tiba-tiba Naya berteriak dari belakang.
“Apa!” Kaget wanita itu.
“Ceritanya panjang bu. Kami harus segera membawa bapak ini untuk di periksa, tolong beritahukan pada kerabatnya.” Ucap laki-laki itu.
Wanita itu mengangguk setuju. Dan tanpa banyak bicara lagi wanita itu pun berlari menuju pasar, sementara itu mobil pun juga melaju mencari puskesmas terdekat atas arahan Naya di belakang.
Naya terus saja menangis di belakang.
__ADS_1
Entah kenapa laki-laki yang berada di kursi depan juga ikut merasakan kesedihan melihat tangisan gadis kecil itu.
Mata laki-laki itu terus memperhatikan Naya di belakang lewat kaca spion yang ada di dalam mobil itu.
Ada apa dengan perasaan ku ini. Kenapa hatiku ikut sakit melihat anak kecil itu menangis.
Dan mata itu, mata anak kecil itu persis sama dengan wanita yang selama ini aku cari.
Ada apa ini?
Laki-laki itu tenggelam dengan banyaknya pertanyaan dalam hatinya.
Tidak lama mobil pun sampai di sebuah puskesmas kecil. Dengan sigap laki-laki itu turun dan langsung meraih Adi dan mengangkatnya bersama dengan sang supir.
***
Sementara di tempat lain.
Tetangga Vina yang tadi melihat kejadian itu pun langsung berlari menemui Vina di warung untuk memberitahukan kondisi Adi.
Saat itu Vina sedang membersihkan meja dan piring bekas orang-orang tadi.
“Vina, Vina.” Panggil wanita itu yang sebut saja namanya ibu Romlah.
Mendengar namanya di panggil sontak membuat Vina berbalik mencari asal suara itu.
“Vina, cepat ayahmu tadi pingsan dan sekarang sedang di bawah ke puskesmas bersama Naya.” Ucap ibu Romlah buru-buru dengan napas yang tersenggal-senggal habis berlari.
“Apa!” Kaget Vina, piring yang ada di tangannya langsung jatuh saking syoknya wanita itu.
Prang.
“Ayah di bawa kemana bu?” Tanya Vina panik.
“Sepertinya ayahmu di bawah ke puskesmas. Mereka tadi di tolong oleh seorang pria yang menggunakan mobil mewah.” Jelas bu Romlah.
Vina langsung saja melepas apron yang di gunakannya, dan langsung mencuci tangannya di belakang.
“Bu saya minta tolong titip warung sebentar. Saya akan kesana menyusul mereka.” Mohon Vina dengan wajah memelasnya.
Merasa kasihan bu Romlah pun menyutujui permintaan Vina.
Dengan tergesa-gesa Vina keluar mencari ojek di pangkalan.
“Pak tolong antar saya ke puskesmas.”
Mereka pun melaju ke puskesmas. Sepanjang jalan Vina hanya berdoa agar Tuhan menolong dan menyertai ayahnya agar tidak terjadi hal-hal yang serius.
Vina takut, hanya sang ayah yang ia punya bersama Naya.
Vina tidak tau apa yang harus ia lakukan kalau sampai hal-hal yang tidak di inginkan terjadi. Vina tidak sanggup membayangkan hal itu.
❤️
Siapa laki-laki itu?
Author tau kalian pasti udah nggak sabar mau lihat mereka ketemu😜
Kita jumpa besok malam lagi ya. Jangan lupa vote, like serta komen biar author tambah semangat🙏😊
__ADS_1