Bahagia Yang Tertunda

Bahagia Yang Tertunda
Chapter 37


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang dari sekolah Devan terus bersenandung ria membuat Naya yang duduk di samping menatap heran padanya.


“Ada apa ayah? Tidak biasanya ayah seperti ini.” Tanya Naya bingung, ayahnya hari ini bersikap aneh tidak biasanya ayahnya itu bernyanyi dan bersenandung ria bahkan senyum-senyum seperti orang gila.


“Sebentar lagi kita akan tinggal sama-sama sayang, jadi ayah bahagia.” Seru Devan dengan senyum yang terus terpampang di wajahnya.


“Sungguh?” Tanya Naya ingin memastikan bahwa apa yang di dengarnya barusan benar adanya.


“Ya.” Jawab Devan cepat.


“Yeyyyy..” Teriak Naya memenuhi mobil itu. Meskipun Naya tidak tau mengapa ayahnya bertingkah seperti itu, tapi begitu mendengar mereka akan segera tinggal bersama membuatnya senang karna ini merupakan salah satu impiannya selama ini.


Sepanjang perjalanan pulang Devan terus bernyanyi sementara Naya bertepuk tangan mengikuti irama lagu yang di putar oleh Devan.


***


Sesampainya di rumah.


“Selamat siang.” Sapa Devan dan Naya serempak.


Mereka berjalan masuk ke rumah, raut bahagia tidak pernah pudar dari wajah mereka.


“Kalian sudah pulang?” Adi berjalan keluar dari kamar saat mendengar suara mereka.


“Iya.” Lagi-lagi mereka serempak menjawab.


Adi mengerutkan dahinya melihat tingkah aneh anak dan ayah itu.


“Ada apa dengan kalian?” Tanya Adi lagi.


“Sebentar lagi Naya, bunda dan ayah akan tinggal bersama, kakek.” Jawab Naya kegirangan.


“Hah?” Beo Bayu. Laki-laki paruh baya itu balik menatap Devan yang sedari tadi menahan senyumnya.


“Sayang, sekarang ke kamarmu dan ganti bajumu.” Titah Devan menyuruh Naya untuk mengganti pakaiannya.


Setelah Naya pergi, Devan pun menuntun Adi untuk duduk terlebih dahulu.


“Duduk dulu ayah, nanti Devan jelaskan.” Ucap Devan.

__ADS_1


Adi duduk di bantu Devan.


Dengan senyum mengembang “Ayah, Vina menerima ku kembali.”


“Sungguh? Ayah turut bahagia untuk kalian berdua.” Balas Adi.


“Ayah harap kamu tidak akan menyakiti anak ayah lagi, kalau tidak ..”


“Tenang saja ayah, aku janji tidak akan menyakiti Vina lagi. Aku juga berjanji akan membuat mereka bahagia seumur hidup ku.” Ucap Devan memotong ucapan Adi.


“Baguslah. Jadi apa rencanamu ke depannya?” Sahut Adi.


“Tentu saja aku akan menikahinya ayah dan rencananya aku mau langsung besok menikahnya.” Tutur Devan dengan wajah cengengesan. Laki-laki itu sudah tidak sabar mengikat Vina dalam satu ikatan suci yang selama ini mereka impikan.


Impian itu tertunda akibat restu yang terhalang oleh mama Devan waktu itu. Devan berharap kali ini bahagia yang sesungguhnya datang menghampiri mereka.


“Semua tergantung Vina.” Balas Adi.


“Iya juga sih. Nanti Devan bicarakan lagi sama Vina.”


Siang itu Devan kembali ke warung untuk menemui pujaan hatinya, hari ini terasa sangat membahagiakan bagi Devan.


***


Setelah berberes-beres, Devan dan Vina pun memutuskan untuk pulang.


Ini pertama kalinya Vina bersama Devan berdua dalam satu mobil setelah sekian lama ia dan Devan berpisah. Jika sudah begini Vina akan mengingat kenangan dulu saat Devan selalu menjemputnya pulang kerja.


“Ayo besok menikah.” Dengan gampangnya Devan berbicara.


“Jangan gila Devan.” Vina merasa Devan terlalu gila, apa laki-laki itu berpikir menyiapkan pernikahan hanya membutuhkan waktu satu hari.


Yang benar saja. Batin wanita itu.


“Serius.” Sahut Devan.


“Aku tidak siap.” Celetuk Vina.


“Minggu depan bagaimana?” Devan ingin kepastian.

__ADS_1


“Akan aku pikirkan.” Sahut Vina.


Devan kembali diam dan fokus pada jalanan.


“Kenapa lewat sini?” Tanya Vina saat sadar Devan melewati jalan lain, bukan jalan menuju rumahnya.


“Sengaja, aku ingin lebih lama berdua denganmu. Lagipula masih banyak yang perlu kita bahas.” Jawab Devan santai tanpa rasa bersalah.


“Ya memang banyak yang perlu kita bahas, termasuk tentangmu dan mantan boss ku itu.” Sindir Vina tepat sasaran.


Ucapan Vina membuat Devan meneguk ludahnya kasar.


Dalam hati laki-laki itu bertanya-tanya darimana Vina tau kalau wanita yang di jodohkan dengannya dulu adalah boss tempat Vina bekerja.


“Untuk apa membahas wanita itu, tidak penting!” Ketus Devan. Moodnya tiba-tiba hancur saat Vina membahas wanita iblis itu.


“Kenapa? Apa ada kenangan manis kalian yang tidak bisa kamu lupakan?” Sindir Vina lagi.


“Bagaimana malam pertama kalian? Pasti sangat menyenangkan.” Melihat wajah Devan yang tertekuk seperti itu semakin membuat Vina senang menggodanya.


“Jangan mulai deh, kamu bikin mood aku hancur tau. Malas ah ngomong sama kamu.” Kesal Devan.


“Ya udah.” Balas Vina malas tau.


Wanita itu mengalihkan pandangannya keluar jendela memperhatikan betapa indahnya alam mereka yang hijau.


Sementara Vina sedang sibuk menikmati pemandangan hijau, Devan malah memberengut kesal karna Vina tak kunjung membujuknya.


Orang marah di bujuk kek. Ucap Devan dalam hati.


Niat hati ingin menikmati waktu berdua dengan Vina malah begini jadinya. Padahal mereka baru saja berbaikan tapi sudah bertengkar kembali hanya karna masalah sepele.


Masalah sepele? Sepertinya tidak, wanita iblis itu akan menjadi penghalang besar dalam kebahagiaan mereka.


❤️


Jangan lupa dukung author lewat vote, like dan komen kalian semua🙏😊🤗


Maaf kemarin author nggak up karna author waktu itu lagi di fase jenuh berpikir dan melakukan sesuatu🙏

__ADS_1


__ADS_2