
Malam harinya.
Devan masih memeluk Naya dengan erat, sementara gadis kecil itu meringkuk dengan isakan yang masih terdengar.
Ya, sore itu Naya merengek meminta opa dan kakeknya untuk mengantarnya ke rumah sakit demi melihat bundanya.
Naya betul-betul merindukan bundanya.
Karna kasihan melihat cucu mereka yang terus menangis dan memohon, Bayu pun menghubungi Devan untuk meminta izin membawa anak mereka ke sana.
Devan mengijinkan, lagipula laki-laki itu juga harus melihat keadaan anaknya saat itu. Devan tidak pulang ke rumah lantaran ingin menjaga Vina selama di rumah sakit, hal itu membuat waktunya untuk Naya tidak ada padahal di saat-saat seperti inilah gadis kecil itu membutuhkan sosok orangtuanya untuk menenangkannya.
“Sudah sayang, berhenti menangisnya. Baju ayah basah tuh.” Devan berusaha menenangkan anak gadisnya itu.
“Kalau Naya menangis terus bunda pasti akan ikut sedih, jadi berhenti menangis ya. Naya sayang bundakan?” Ucap Devan.
Gadis kecil itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya dalam pelukan Devan.
“Pulang sama opa dan kakek ya.” Bujuk Devan lagi agar Naya mau pulang bersama orangtuanya. Devan takut anaknya akan tertular penyakit atau apapun itu jika terlalu lama berada di rumah sakit.
“Hiks, Naya m-au disi-ni sa-ma bun-da.” Jawab gadis kecil itu terbata-bata akibat terlalu lama menangis.
“Sayang dengar, tidak baik anak kecil berlama-lama di rumah sakit. Banyak virus yang tidak kita lihat di sekitaran sini. Naya mau sakit juga? Naya mau di suntik juga?” Tutur Devan lembut, laki-laki itu harus extra sabar menghadapi anak gadisnya ini.
Secepat kilat Naya menggeleng mendengar kata di suntik. Setiap anak kecil pasti akan takut dengan yang namanya jarum suntik sama sepertinya.
“Nah, kalau tidak mau berarti harus pulang. Nanti besok baru datang lagi ya jenguk bunda.” Balas Devan.
Gadis itu masih diam, Naya enggan menjawab ucapan Devan barusan.
Adi dan Bayu menatap sendu ayah dan anak itu. Ini pasti berat untuk mereka berdua.
Adi tau Devan pasti lelah, tadi saat mereka datang Adi melihat Devan sedang sibuk dengan beberapa berkas dan laptop di pangkuannya. Di tambah sekarang sudah sejam Devan berdiri di samping brankar Vina dengan Naya di dekapannya.
“Naya, turun! Ayahmu pasti capek terus menggendongmu.” Titah Adi.
Devan berbalik menatap ayah mertuanya “Tidak apa-apa yah.” Tutur Devan lembut. Ia paham dengan kondisi anaknya.
Saat mereka sedang berbicara tiba-tiba Naya menarik kepalanya dari dada bidang laki-laki itu.
Bekas air mata masih tersisa disana, Devan mengulurkan tangannya menghapus sisa air mata itu lalu mengecup dengan gemasnya pipi gadis kecilnya ini.
“Pulang ya?.” Tanya Devan lembut.
Naya akhirnya mengangguk.
Sedetik kemudian “Tapi besok Naya kesini lagi.” Ucap gadis kecil itu.
__ADS_1
“Iya.” Sahut Devan.
Perlahan Devan menurunkan Naya dari gendongannya, tangannya rasanya mati rasa akibat terlalu lama menanggung berat dari Naya.
Adi dan Bayu berdiri dari duduknya, mereka lalu pamit pada Devan untuk kembali ke rumah.
***
Langit berubah menjadi gelap.
Devan membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja. Kemudian laki-laki itu beranjak menuju kursi yang terletak di samping brankar Vina yang memang sudah Devan siapkan.
“Sampai kapan kamu akan tidur seperti ini sayang?”
“Kamu tidak kasihan dengan kami?”
“Kamu lihat Naya tadi, dia menangis karna merindukanmu. Jadi kumohon bangunlah demi kami, kami selalu menunggumu untuk membuka mata kembali.” Devan terus berucap, meskipun Vina tidak pernah membalas ataupun memberi respon padanya tapi Devan terus saja berbicara berharap Vina mendengar ucapannya.
Saat Devan sedang sibuk memandangi Vina, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar. Devan beranjak dari tempatnya tadi, kakinya berjalan menuju pintu untuk melihat siapa tamu yang datang.
Saat pintu terbuka, tatapan Devan yang semula biasa saja kini berubah dingin. Matanya begitu tajam memandang tamu itu.
“Untuk apa tante dan om kemari?” Sinis Devan bertanya.
Orang yang ditanya hanya bisa menampilkan raut wajah tertekan dan sedihnya.
“Iya Devan, tante juga minta maaf atas apa yang sudah Tiara lakukan. Semua ini diluar dugaan kami.” Timpal Rita dengan suara bergetar.
“Tolong maafkan Tiara, Devan. Tante mohon jangan penjarakan dia, kamu boleh menghukumnya dengan caramu sendiri tapi tolong jangan masukkan Tiara ke dalam penjara. Penyakitnya pasti kambuh hingga dia bisa berbuat seperti itu, lebih baik masukkan saja dia ke rumah sakit jiwa ataupun psikiater. Tante mohon.” Ucap Rita lagi.
Devan membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang diucapkan Rita tadi, apa wanita paruh baya itu tidak bisa melihat dampak yang telah di lakukan anaknya itu. istrinya hampir kehilangan nyawa dan sekarang wanita paruh baya itu datang dan memohon untuk tidak memasukkan anak mereka dalam penjara.
Yang benar saja. Batin Devan mencemooh.
“Heh! Tante, istriku hampir kehilangan nyawanya! Apa pantas seorang calon pembunuh sepertinya berkeliaran di luar sana!” Hardik Devan.
Emosi membuatnya tak pandang umur dan sopan santun kali ini.
Perset*n dengan itu semua.
Rita menundukkan kepalanya dengan bahu bergetar, jelas saja wanita itu pasti menangis. Kenrick langsung merangkul istrinya untuk menenangkan wanita itu.
Kenrick juga tidak bisa menyalahkan Devan atas ucapannya tadi, siapa pun pasti akan marah jika dimintai hal konyol seperti tadi.
“Hukum akan tetap berjalan.”
“Seharusnya tante dan om bersyukur karna bukan Devan yang langsung menghukumnya, kalau saat itu Devan juga kehilangan akal sehat. Sudah dipastikan anak om pasti juga tidak akan ada lagi di dunia ini.” Sarkas Devan berbicara.
__ADS_1
Kedua orang itu masih diam.
Devan hendak menutup pintu ruangan karna ia malas meladeni dua orang itu. Tapi sebelum pintu tertutup Rita bersuara hingga Devan mengurungkan niatnya.
“Setelah kalian bercerai, Tiara mengalami gangguan mental yang membuat kejiwaannya terganggu. Selama ini kami menyembunyikan berita ini dari semua orang karna kami pikir Tiara akan kembali normal seperti dulu.” Seru Rita dengan air mata yang mengalir.
“Selama bertahun-tahun berada di rumah sakit jiwa, kami pikir Tiara sudah sehat kembali karna perilaku dan sikapnya yang baik-baik saja. Dokter juga mengatakan hal itu, Tiara saat itu sudah dianggap sehat. Tapi, ternyata itu semua hanya rekayasanya untuk memanipulasi kami.
Tiara beralasan ingin kembali ke Indonesia untuk melanjutkan usahanya, kami mengijinkan karna tidak pernah sedikitpun terbayang akan terjadi hal seperti ini.
Jadi tante mohon Devan, setidaknya beri dia perawatan khusus untuk kejiwaannya. Tante terima jika Tiara akan di penjara tapi setidaknya saat di penjara ada psikiater atau psikolog yang merawatnya.” Suara Rita semakin melemah.
Bagaimana pun juga Rita adalah seorang ibu yang pasti tidak ingin anaknya di penjara sekalipun anaknya itu sudah melakukan kesalahan besar.
Devan tercengang mendengar penjelasan Rita tadi, laki-laki itu tidak menyangka ternyata hilangnya Tiara beberapa bulan setelah mereka bercerai adalah ini.
Ada sedikit rasa kasihan dalam hatinya mendengar penjelasan Rita barusan.
Bagaimana pun juga semua ini terjadi karna perjodohan mamanya dulu, seandainya dulu mamanya tidak ngotot menjodohkan mereka pasti hal ini tidak akan terjadi dan Tiara bisa bertemu dengan pria lain bukan dirinya.
Mereka tidak akan terjebak dalam hubungan ini.
Arrgggh..
Rasanya kepala Devan ingin pecah memikirkan semua ini.
Huffttt.
“Devan maafkan apa yang telah dia lakukan, tapi proses hukum akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Biarkan mereka yang memutuskan hukuman apa yang pantas untuk Tiara.” Putus laki-laki itu.
“Terima kasih Devan, terima kasih.” Ucap Kenrick dan Rita bersamaan.
Setidaknya anaknya bisa menjalani hukumannya dengan tenang sekarang.
“A-apa kami bisa masuk untuk melihat keadaan istrimu?” Ragu Rita bertanya.
“Silahkan.” Sahut Devan sambil menyingkir dari depan pintu membiarkan pasangan paruh baya itu masuk.
Disana Rita juga tidak lupa meminta maaf pada Vina meskipun Rita tau tidak akan ada balasan, tapi setidaknya Vina bisa mendengar permintaan maafnya.
❤️
Santi biarpun udah nggak ada, tetap aja ya bikin masalah😂*Upss lupa, biangnya kan emang Santi😂
Maaf Santi, tenang disana ya🙏😂
Canda✌️
__ADS_1