
Keesokan harinya.
Vina sudah siap untuk ke boutique.
Keadaannya sangat buruk, matanya sembab habis menangis semalaman.
Hari ini Vina berencana ke boutique hanya untuk menyampaikan bahwa ia berhenti kerja.
Semalam Vina sudah memutuskan untuk berhenti dan pulang ke kampung halamannya.
Tinggal di kota ini hanya akan mengingatkannya pada kenangan buruk itu.
Vina cukup sadar diri dengan posisinya yang hanyalah seorang biasa dari keluarga sederhana, karna hal itu juga Vina memutuskan untuk pulang ke kampungnya.
Percuma juga, sudah tidak ada lagi yang bisa ia perjuangkan. Sekarang hanya ada bayi dan ayahnya yang Vina miliki di dunia ini.
“Huh, apa ayah masih akan mengakui ku sebagai anaknya?” Gumam Vina.
Vina takut tapi dia tetap harus pulang.
***
Vina sampai di boutique.
“Pagi.” Sapa Vina dengan nada suara serak.
“Pagi.” Balas pelayan lain menjawab sapaan Vina.
“Kamu kenapa Vin? Mata kamu kok bengkak gitu.” Tanya pelayan satu.
“Tidak apa-apa.” Elak Vina. Seperti yang diketahui Vina cukup tertutup tentang masalah pribadinya.
“Apa ibu Tiara sudah datang?” Lanjut Vina bertanya.
“Belum Vin, mungkin sebentar lagi.” Jawab mereka.
Vina hanya mengangguk lalu pergi ke ruang khusus karyawan untuk meletakan tasnya.
Karna Tiara belum datang jadi Vina memutuskan untuk membantu yang lainnya dulu sampai Tiara datang baru dia akan pergi menemui bossnya itu untuk menyampaikan keinginannya berhenti kerja.
Ini sudah hampir siang tapi Tiara belum datang juga.
Tidak biasanya ibu Tiara datang terlambat seperti ini. Gumam Vina.
Lama wanita itu menunggu, akhirnya Tiara datang juga.
Tok..tok..tok
“Masuk.” Sahut Tiara dari dalam.
__ADS_1
“Permisi bu, ada yang ingin saya bicarakan sama ibu.” Ucap Vina sopan.
“Bicara apa.” Ketus Tiara.
“Saya ingin berhenti kerja bu.”
“Kenapa memangnya?” Tanya Tiara sinis.
Jika berbicara pada karyawannya Tiara memang akan seperti itu, memandang rendah bawahannya.
“Saya ingin pulang kampung bu. Saya ingin merawat ayah saya di sana.” Jelas Vina masih berusaha sopan.
“Masih bagus saya pekerjakan kamu disini, kalau di kampung kamu mau kerja apa? Jadi pembantu?” Ucap Tiara dengan nada mengejek.
Tiara hanya diam menunduk tidak menanggapi ejekan bossnya. Ah tidak, lebih tepatnya mantan bossnya nanti.
“Tunggu sebentar!” Ucap Tiara sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
“Ini gaji kamu bulan ini, saya tidak kasih full karna kamu hanya bekerja setengah bulan saja.” Lanjut Tiara sambil memberikan beberapa lembar uang merah yang ia ambil dari dalam tasnya.
Vina pun menerimanya karna itu juga merupakan haknya walaupun Vina tidak bekerja sampai habis bulan.
“Terima banyak kasih bu. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.” Ucap Vina.
“Hmm. Kamu kurang beruntung karna tadinya saya ingin mengundang seluruh karyawan saya untuk menghadiri pernikahan saya bulan depan. Tapi karna kamu berhenti jadinya kamu tidak bisa saya undang.”
Deg.
Apa ibu Tiara yang akan di nikahkan bersama Devan. Batin Vina.
Tidak, tidak. Ini tidak mungkin. Jerit Vina dalam hati.
Mengingat Devan membuatnya sedih dan sakit.
“Kenapa kamu.” Tanya Tiara saat melihat raut wajah Vina yang tiba-tiba berubah.
“Tidak bu, tidak ada apa-apa. Saya doakan acara anda nanti lancar.” Ucap Vina tulus.
“Ya. Kalau sudah tidak ada yang ingin di bicarakan, kamu bisa keluar sekarang.” Usir Tiara.
“Bu, maaf kalau saya lancang. Apa saya boleh tau siapa calon suami anda nanti?” Tanya Vina memberanikan diri.
Entah kenapa Vina ingin menanyakan hal ini untuk meyakinkan tebakannya tadi.
“Untuk apa kamu menanyakan calon saya? Kamu ingin menggodanya?” Tanya Tiara dengan sorot mata tajamnya.
“Tidak bu, mana mungkin saya berani menggoda calon ibu sedangkan saya hanya wanita biasa.” Jawab Vina cepat.
“Iya juga. Devan pasti tidak akan tertarik melihat wanita seperti kamu.” Cibir Vina.
__ADS_1
Ternyata benar itu Devan. Ya Tuhan, kenapa hatiku seperti tidak rela mendengar kabar ini. Batin Vina.
“Kalau begitu saya permisi bu. Sekali lagi terima kasih karna selama ini ibu sudah mau menerima saya sebagai karyawan ibu di boutique ini.” Ucap Vina pamit.
Vina ingin cepat-cepat keluar dari ruangan itu.
“Ya. Sekarang kamu keluar.” Balas Tiara.
Vina pun beranjak keluar dari ruangan itu.
Sebelum pulang Vina menyempatkan diri untuk pamit pada teman-teman seperjuangannya itu.
***
Sementara di tempat lain.
Devan sedari tadi tidak fokus memperhatikan presentase yang dibawakan oleh pegawainya. Pikirannya selalu tertuju pada Vina dan hanya Vina.
Kejadian kemarin masih terekam jelas dalam pikirannya. Devan masih ingat detik-detik saat laki-laki itu meminta maaf pada Vina karna gagal memperjuangkan apa yang selama ini mereka perjuangkan.
“Demikian pemaparan saya. Terima kasih.” Ucap pegawai itu menyudahi presentasinya mengenai materi meeting tadi.
“Bagaimana pak. Apa ada yang perlu di rombak?” Tanya Viko pada atasannya.
Devan tidak merespon, tatapannya kosong ke depan.
“Pak, pak Devan.” Panggil Viko.
Devan terperanjat dan langsung berbalik pada Viko.
“Ya?” Beo Devan seperti orang kebingungan.
“Apa ada yang perlu di rombak dari presentasi tadi?” Tanya Viko ulang.
“Maaf, saya tidak memperhatikan tadi. Viko saya serahkan masalah ini ke kamu, tolong kamu urus.” Jawab Devan.
“Meeting selesai, kalian bisa kembali ke ruangan kalian masing-masing.” Lanjut Devan membubarkan peserta rapat itu.
Devan pun keluar lebih dulu menuju ruangannya.
“Hufft..” Desah Devan setelah tubuhnya mendarat pada kursi kebesarannya.
“Vina maafkan aku.” Gumam Devan sambil memijat kepalanya yang pusing akibat kurang tidur semalam.
Karna terlalu memikirkan Vina sampai Devan tidak bisa tidur, matanya terjaga hingga pagi datang menyapa.
Semalam Devan juga sudah mencoba menghubungi Vina tapi nomor wanita itu tidak aktif. Devan bingung apakah ponsel Vina yang mati atau karna Vina memblokirnya hingga Devan tidak bisa menelponnya.
Gelisah, tidak tenang itulah yang Devan rasakan sekarang.
__ADS_1
❤️
Jangan lupa like, vote dan komen😊