Bahagia Yang Tertunda

Bahagia Yang Tertunda
Chapter 48


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Devan baru saja pulang dari kantor. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, laki-laki itu bergegas masuk ke dalam rumah.


“Ayah.” Seseorang menyambutnya di depan pintu.


Devan berjongkok lalu melebarkan tangannya pada orang itu yang tak lain adalah Naya. Entah kenapa setiap pulang kerja Devan selalu di sambut oleh Naya, rasanya seperti Naya menggantikan bundanya untuk menyambut sang ayah yang baru saja pulang kerja.


Inilah salah satu faktor mengapa Devan selalu merasa lelahnya akan hilang bila sudah sampai di rumah, malaikat kecilnya selalu menyambutnya dengan wajah ceria dan itu membuat hati Devan damai.


Mereka kemudian masuk ke dalam rumah, di dalam ada Bayu dan Adi yang sedang duduk bercerita sambil menikmati minuman hangat yang dibuatkan asisten rumah tangga.


“Sore.” Sapa Devan.


“Sore.” Balas mereka bersamaan.


“Duduk dulu, mbak Lala sedang membuatkan teh hangat untukmu.” Ucap Bayu lagi.


“Bilang dia untuk mengantar minuman itu ke atas.” Balas Devan.


“Sayang, ayo kita temui bunda di atas.” Ucap Devan lagi pada gadis kecilnya yang masih setia di sampingnya.


“Let’s go.” Seru Naya.


Sedikit demi sedikit gadis kecil itu sudah mengetahui bahasa inggris dasar, tepat satu bulan yang lalu Devan memasukkan Naya ke salah satu sekolah terbaik di kota mereka.


Dan sekedar informasi, Devan meminta rumah sakit untuk memindahkan Vina ke rumah mereka agar laki-laki itu bisa lebih leluasa dalam menjaga istrinya. Alasan paling kuat yang membuat Devan ingin Vina di rawat di rumah adalah anaknya, Devan tidak mau Naya bolak-balik rumah sakit hanya untuk menjenguk Vina sementara di rumah sakit banyak orang sakit dengan gejala penyakit yang berbeda-beda.

__ADS_1


Devan tidak ingin Naya tertular.


Selama beberapa bulan ini juga keadaan Vina masih sama, tertidur dengan lelapnya seperti putri tidur di sebuah dongeng. Hanya tubuhnya yang sedikit lebih kurus.


Ceklek.


Devan membuka pintu kamar mereka.


Keadaan kamar itu masih sama seperti bulan-bulan kemarin, sunyi itulah yang dirasakan.


“Hahhh.” Desah laki-laki itu tidak tahan, Devan tidak tahan melihat tubuh Vina yang diam seperti itu.


Kalau di suruh memilih Devan akan memilih Vina mengoceh ataupun memarahinya setiap hari daripada melihat Vina hanya diam seperti itu.


Sampai kapan Tuhan. Tanya laki-laki itu dalam hati.


“Ada apa ayah?” Tanya Naya saat melihat ayahnya hanya diam di depan pintu sambil melihat kearah tempat tidur dimana bundanya sedang berbaring.


Mereka menghampiri Vina yang terbaring di sana “Hai, bunda.” Celoteh Naya.


“Hai, sayang. Kami selalu menunggumu, jadi cepatlah bangun.” Ucap Devan.


Laki-laki itu menunduk lalu mengecup kening wanita itu, Naya juga mengecup pipi bundanya.


Tidak lama mbak Lala datang dengan nampan di tangannya.


“Permisi tuan.” Ucap mbak Lala dari depan pintu.

__ADS_1


“Masuklah, taruh minuman itu di meja.” Titah Devan.


Mbak lala masuk setelah di izinkan Devan, setelah menaruh nampan berisi teh itu mbak Lala langsung pamit untuk turun.


“Kalau begitu saya permisi tuan.” Pamit mbak Lala.


Devan hanya mengangguk.


“Ayah, Naya juga turun ya. Naya ingin bersama kakek dan opa.” Tiba-tiba Naya juga ingin turun.


“Baiklah.” Pasrah Devan, padahal laki-laki itu masih ingin bersama malaikat kecilnya.


Naya turun bersama mbak Lala, Devan lantas menutup pintu kamar dan menguncinya. Laki-laki itu hendak membersihkan tubuhnya yang lengket akibat keringat.


Devan melepas seluruh pakaiannya dan membuangnya ke tempat pakaian kotor. Devan lalu berlalu ke kamar mandi.


Beberapa menit berlalu.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya Devan keluar dengan wadah dan handuk kecil di tangannya. Seperti biasa, sehabis mandi Devan akan menyempatkan waktunya untuk mengelap tubuh Vina dan kadang mengganti baju wanita itu.


Devan mulai membersihkan tubuh Vina sambil bercerita mengenai pekerjaannya hari ini. Jika orang melihatnya seperti ini, orang mungkin akan berpikir Devan sudah gila.


“Selesai.” Seru Devan.


Berpura-pura menggangap Vina mendengarnya juga kadang membuatnya lelah, Devan ingin Vina yang asli yang bisa mendengar dan membalas ucapanannya bukan Vina yang diam seperti ini.


“Sayang please bangun.” Desah laki-laki itu frustasi.

__ADS_1


❤️


Jangan lupa vote sebanyak-banyaknya ya🙏Bunga sekebon juga jangan lupa😂


__ADS_2