Bahagia Yang Tertunda

Bahagia Yang Tertunda
Chapter 25


__ADS_3

Vina hendak menarik Naya kebelakang tubuhnya, tapi wanita itu kalah cepat. Naya sudah berada di pelukan Devan, laki-laki dengan sigap menggendong Naya sebelum Vina meraihnya.


“Lepaskan Naya! Kenapa kau ada disini? Bukankah seharusnya kau kembali ke kota.” Hardik Vina.


Naya bingung kenapa om yang baru ditemuinya siang tadi menggendongnya.


“Kenapa? Supaya kamu bisa pergi lagi dan menghilang dari hidupku, kamu ingin memisahkan kami lebih lama?” Sahut Devan.


“Jangan egois Vina. Anak ini juga butuh sosok ayahnya.” Lanjut Devan berbicara.


“Egois kamu bilang! Ya, aku memang egois. Lalu kenapa?” Tantang Vina.


“Naya, sini sama bunda.” Lanjut Vina menyuruh Naya turun dari gendongan Devan.


Naya ingin turun tapi Devan mendekapnya terlalu erat, sampai gadis kecil itu susah untuk bergerak.


“Om, Naya mau turun. Naya mau ke tempat bunda.” Kata Naya pada Devan.


Devan menggeleng-gelengkan kepalanya “Tidak sayang, ini papa. Ini ayah kandung Naya.” Ucap Devan sambil menunjuk-nunjuk dirinya.


Ada perasaan sedih yang terpancar dari auranya.


Semua perasaannya bercampur aduk menjadi satu antara bahagia dan sedih. Devan bahagia karna ternyata ia memiliki anak dengan perempuan yang sangat ia cintai tapi juga sedih karna terlambat mengetahui hal ini.


Naya diam mencerna apa yang di katakan Devan.


“Bukan Naya, dia bukan ayahmu. Ayahmu sudah tidak ada sejak dia mencampakkan kita.” Seru Vina menggebu-gebu.


“Vina!” Tiba-tiba Adi berteriak menghentikan drama di antara kedua orang itu.


“Kamu pikir bagus berbicara seperti itu, ayah tidak pernah mengajarkanmu untuk mengatakan hal-hal seperti itu.” Lanjut Adi berbicara.


“Tapi ayah, dia..” Balas Vina menimpali ucapan sang ayah tapi di potong oleh Adi.


“Jangan bertengkar disini, orang-orang sudah tidur. Apa kamu ingin mereka bangun dan menonton kalian.”


“Kembali ke rumah. Tidak ada gunanya lagi kita pergi kalau orang yang kamu hindari sudah ada disini.” Lanjut Adi berbicara.


Pria paruh baya itu mulai paham sekarang kenapa anaknya itu memohon bahkan sampai menangis untuk pindah dari desa ini. Rupanya orang dari masa lalunya datang, atau lebih tepatnya takdir mempertemukan mereka kembali.


Devan hanya diam, meskipun aura dan otoritasnya lebih tinggi dari mereka, tapi entah kenapa berhadapan dengan Adi justru membuatnya seperti merasa di bawah.


“Kamu ikutlah, banyak yang harus kalian bicarakan dan putuskan untuk kedepannya.” Titah Adi pada Devan.


“Iya a-ayah.” Sahut Devan gugup.


Deg.

__ADS_1


Vina merasa jantungnya berdetak cepat saat mendengar Devan memanggil ayahnya dengan sebutan ‘ayah’ juga.


Hal sederhana tapi mampu menggetarkan pertahanannya.


Naya sedari tadi hanya diam menonton pertengkaran mereka, gadis kecil itu masih belum terlalu mengerti dengan apa yang dibicarakan orang-orang dewasa itu.


Adi berbalik hendak berjalan kembali kearah rumah mereka, tapi dengan cepat Devan menahannya.


“Naik mobil saja ayah, biar barang-barangnya diangkat sama supir.” Ucap Devan.


Seolah mengerti dengan pekerjaannya, sang supir pun turun sambil memasukkan barang-barang bawaan mereka tadi.


“Silahkan masuk ayah.” Canggung Devan berbicara.


Ini merupakan pertemuan keduanya dengan ayah dari wanita yang ia cintai. Pertemuan sebelumnya mereka belum sama-sama tau.


Setelah Adi masuk, Devan berpaling pada Vina yang masih saja berdiri tanpa mau masuk ke dalam mobil miliknya.


“Kamu tidak masuk?” Tanya Devan lembut.


Vina membuang wajahnya ke samping, wanita itu enggan menatap Devan.


Devan tersenyum kecut dengan perubahan sikap Vina padanya.


“Vina.” Panggil Adi dari dalam. Pria paruh baya itu sudah lelah dan ingin segera sampai di rumah dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah itu.


Dengan terpaksa Vina masuk dan duduk di samping Adi.


Devan seperti enggan melepas gadis kecil itu dari dekapannya.


***


Hanya sebentar dan mereka sudah sampai di depan rumah sederhana itu.


Mata laki-laki itu terus mengamati setiap sudut luar rumah itu, rasa bersalah menggerogoti hatinya.


Perhatiannya teralih pada Vina yang baru saja datang sehabis mengambil kunci yang sempat ia titipkan pada bu Romlah.


Setelah pintu terbuka, Adi mempersilahkan mereka semua untuk masuk.


“Ayah mau istirahat. Kalian bicarakanlah kelanjutannya, semua keputusan ada di tangan kalian. Ayah tidak akan ikut campur.”


“Naya, ikut kakek. Biarkan bunda dan ayahmu menyelesaikan masalah mereka.” Lanjut Adi berbicara pada Naya.


Gadis kecil itu menguap, sepertinya dia juga sudah mengantuk.


Dengan tidak rela Devan melepaskan Naya untuk mengikuti Adi.

__ADS_1


Tinggalah Devan dan Vina dalam ruangan itu, sementara sang supir memilih tetap di dalam mobil.


Dua orang itu masih tetap diam dengan pikiran masing-masing.


“Maafkan aku.” Tiba-tiba Devan bersuara.


Tatapannya sarat akan permohonan pada Vina.


"Maaf? Untuk?" Balas Vina sinis.


"Untuk semua yang telah kamu lalui atas perbuatan ku. Seandainya aku tau kamu hamil di awal, aku pasti akan bertanggung jawab dan saat itu mama pasti tidak bisa mencegah kita lagi untuk bersama."


"Bullsiths!" Timpal Vina.


"Terserah kamu percaya atau tidak. Dari dulu sampai sekarang memang hanya kamu yang aku cintai, hanya kamu yang selalu ada dalam hatiku, Vina." Ucap Devan putus asa atas respon Vina padanya.


"Aku ingin kita kembali seperti dulu bersama Naya, anak kita." Lanjut Devan berbicara.


"Sayangnya aku tidak ingin kembali padamu. Sudah cukup penderitaan yang aku rasakan dulu, jadi biarkan aku hidup bersama Naya seperti biasa tanpa kehadiranmu." Sahut Vina.


"Vina, aku mohon. Pikirkan perasaan Naya, anak itu pasti butuh sosok ayahnya." Mohon Devan berharap Vina mau menerimanya kembali.


"Tidak. Selama ini kami baik-baik saja tanpa kehadiranmu, itu artinya di masa depan kami juga masih akan baik-baik saja tanpa kehadiranmu."


"Lebih baik kamu pulang dan kembali pada orangtua dan istrimu itu." Sambung wanita itu.


Devan menggelengkan kepalanya, laki-laki itu berpindah dan berlutut di bawah kaki Vina memohon kesempatan baginya.


"Beri aku kesempatan untuk menebus semua penderitaanmu di masa lalu. Aku janji akan membuat kalian bahagia di masa depan." Mohon Devan dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu sudah punya keluarga Devan, pikirkan perasaan istrimu kalau tau kamu seperti ini."


"Aku sudah bercerai 4 tahun yang lalu Vina, itu semua karna aku tidak bisa melupakanmu." Seru Devan.


"Aku menceraikan wanita itu beberapa bulan setelah mama meninggal." Sambung Devan.


Vina membulatkan matanya kaget mendengar berita mengejutkan ini.


"Tidak mungkin." Ucap Vina tidak percaya.


Menyinggung soal Santi membuat ingatan Devan kembali saat dimana Santi menolak Vina mentah-mentah dengan ucapan kasarnya.


"Tolong maafkan kesalahan mama dulu yang menyakitimu." Ujar Devan dengan air mata yang menetes keluar dari pelupuk matanya.


Melihat Devan yang rapuh seperti itu membuat Vina tersentuh, dulu saat Devan ada masalah selalu Vina yang ada untuk menguatkannya.


Vina tidak sanggup membayangkan bagaimana laki-laki itu menghadapi masalahnya sendiri selama ini.

__ADS_1


❤️


Jangan lupa tinggalkan jejak👍😊


__ADS_2