Bahagia Yang Tertunda

Bahagia Yang Tertunda
Chapter 22


__ADS_3

Vina sampai di puskesmas.


Setelah membayar ojek yang telah mengantarnya, Vina langsung bergegas masuk ke dalam.


“Sus, dimana ayah saya di rawat?” Tanya Vina saat berpapasan dengan seorang perawat.


Kebetulan perawat itu juga tau siapa Vina karna saat Naya sakit Vina akan membawa gadis kecil itu kesana.


“Ada di ruangan sebelah sana.” Jawab perawat itu sambil mengarahkan tangannya menunjuk sebuah ruangan yang terletak di ujung.


Setelah mengucapkan terima kasih, Vina pun bergegas ke ruangan itu.


Vina merasa jantungnya tiba-tiba berdetak sangat cepat. Tanpa sadar tangan kiri wanita itu memegang dadanya merasakan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat sementara tangan kanannya meraih ganggang pintu dan membukanya.


Klek.


Bunyi pintu yang di buka, semua orang yang ada di sana langsung beralih menatapnya.


Disana yang Vina lihat hanyalah Naya, seorang pria yang tidak ia ketahui dan Adi yang sedang berbaring di atas brankar.


“Bunda.” Teriak Naya menyabut sang bunda. Mata anak itu terlihat sangat bengkak.


“Sayang.” Vina bergegas meraih Naya dalam pelukannya sambil berjongkok mensejajarkan tinggi mereka.


Dengan erat Naya memeluk leher Vina.


Tangan wanita itu secara otomatis mengelus-elus punggung gadis kecil itu guna menenangkan Naya yang pasti masih syok dengan kejadian tadi.


Vina masih tetap pada posisinya.


Tanpa mereka semua sadari seorang pria keluar dari pintu kamar mandi yang ada dalam kamar rawat itu.


Pria itu berdiri tegak, tatapannya terpaku pada punggung wanita yang sedang membelakanginya.


“Jangan khawatir sayang, kakek pasti baik-baik saja.” Ujar Vina menenangkan.


Deg.


Suaranya.


Laki-laki itu masih berdiri terpaku di tempatnya.

__ADS_1


Vina pun melepaskan pelukannya pada Naya dan berdiri menghampiri brankar tempat Adi berbaring.


Lama Vina memperhatikan sang ayah yang terbaring lemah.


“Om baik, terima kasih sudah menolong kakek. Sekarang om boleh pergi karna bunda sudah ada disini.” Polos Naya berbicara.


Vina yang mendengar Naya berbicara langsung berbalik, ia baru teringat pada laki-laki yang tadi di lihatnya dalam ruangan itu.


Vina berniat mengucapkan terima kasih pada orang itu.


Dengan senyum tulus wanita itu berbalik ke belakang. Sedetik kemudian senyum itu luntur berganti dengan raut wajah pucat, kaget, sedih, kecewa dan panik semua bercampur menjadi satu.


Deg.


Mata Vina dan laki-laki itu bertemu.


Sama seperti Vina, ekspresi laki-laki itu tak kalah kagetnya melihat wanita yang selama bertahun-tahun ini ia rindukan berada tepat di depan matanya.


“Devan.” Lirih Vina dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Vina merasa tubuhnya tiba-tiba lemas, ingin rasanya ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai karna tidak mampu menopang berat badannya.


Mereka masih sama-sama terpaku di tempatnya, masing-masing belum percaya dengan apa yang mereka lihat.


“Bunda, om itu yang telah menolong kami.” Tiba-tiba Naya berucap membuat mereka semua melirik pada gadis kecil itu.


“Bunda?” Gumam Devan bertanya-tanya.


Vina bingung harus melakukan apa.


Devan meliriknya dengan sejuta pertanyaan dalam pikirannya, Vina tau itu.


Tidak. Jangan bilang apa yang papa katakan benar terjadi. Batin Devan berkecamuk.


“Vina.” Panggil Devan dengan suara yang bergetar.


Ingin rasanya Devan berlari memeluk Vina dan mendekap erat wanita itu dalam pelukannya.


Saat Devan ingin melangkah menghampiri Vina, langkahnya tiba-tiba terhenti dengan sadarnya Adi.


“Arrgghh..” Ringis Adi merasa sakit di kepalanya.

__ADS_1


“Ayah.” Vina berbalik dan menghampiri Adi.


Naya juga ikut menghampiri Adi dan berdiri disamping brankar tempat Adi berbaring.


“Ada apa? Kenapa ayah ada disini?” Tanya Adi bingung.


“Syukurlah ayah sudah sadar. Tadi ayah pingsan di jalan.” Jawab Vina.


“Ayah pasti belum makan, tunggu sebentar Vina belikan makan dulu di luar.” Lanjut Vina berbicara.


Wanita itu berjongkok untuk berbicara pada Naya.


“Sayang jaga kakek sebentar, bunda keluar dulu cari makan untuk kalian.” Tutur Vina lembut.


Devan terus memperhatikan interaksi dua orang itu. Banyak pertanyaan dalam kepalanya yang ingin ia tanyakan pada Vina.


Wanita itu kemudian berpindah menatap Devan "Terima kasih sudah menolong ayah saya, anda bisa pergi sekarang. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih." Vina berucap seolah-olah mereka orang asing yang tidak saling mengenal.


Setelah itu Vina berlalu keluar dari dalam kamar rawat itu.


Devan menggunakan kesempatan itu untuk mengikuti Vina. Banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan wanita itu.


“Tolong tunggu sebentar, jaga mereka sampai aku tiba.” Titah Devan pada sang supir.


Laki-laki itu berlalu keluar untuk mengejar Vina.


“Vina.” Panggil Devan dengan nada yang sedikit tinggi karna Vina yang sudah jauh di depannya.


Vina terus berjalan keluar tanpa mempedulikan panggilan Devan padanya, wanita itu berusaha acuh pada laki-laki itu.


Devan tidak menyerah, laki-laki itu terus mengejar Vina dan langsung menarik tangan wanita itu.


“Vina tunggu!”


“Lepas!” Kesal Vina sambil menghempaskan tangannya yang di genggam Devan.


❤️


Sorry author telat up karna ada urusan yang memang harus di selesaikan lebih dulu🙏


Author minta dukungannya biar author tambah semangat menulisnya🙏

__ADS_1


Dukung Vina dan Devan lewat vote, like dan komen kalian😊


__ADS_2