
Beberapa hari kemudian.
Vina sudah kembali bekerja seperti biasanya. Hanya kadang rasa mual itu sering muncul, tapi sebisa mungkin Vina tahan agar teman-temannya yang lain tidak curiga.
Dari luar terdengar seorang pelayan datang menyambut pembeli yang datang berkunjung.
“Selamat siang bu. Ada yang bisa kami bantu?” Tanya pelayan itu.
“Saya mencari pemilik boutique ini.” Ucap orang itu.
Vina yang sedang berdiri membelakangi mereka karna sedang menata baju-baju itu pun mengerutkan dahinya.
Aku seperti mengenal suara ini. Batin Vina.
“Baiklah. Tunggu sebentar ya bu, saya panggilkan nona Tiara dulu.” Balas pelayan itu soapn.
Sementara itu, karena penasaran Vina pun berbalik untuk melihat orang itu. orang yang ia kenali suaranya.
Deg.
Bukannya itu mamanya Devan?
Cepat-cepat Vina langsung berbalik kembali, takut Santi melihatnya. Karna menurut Vina itu bukan waktu yang pas untuk Vina dan Santi bertemu seperti ini.
“Tante.” Tiba-tiba Tiara datang menyapa.
“Hai sayang. Kamu sibuk?” Tanya Santi dengan senyum merekah dibibirnya.
“Untuk tante Tiara punya banyak waktu.” Jawab Tiara.
“Kamu memang anak baik.” Jelas Santi.
"Temani tante belanja ya." Sambung Santi.
“Boleh tante. Ayo!” Sahut Vina mengiyakan ajakan Santi.
Mereka pun keluar dari boutique itu.
Untuk Santi, dia memang sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Sebenarnya Santi masih butuh istirahat beberapa hari di rumah, tapi karna keras kepalanya itu hingga ia sekarang bisa ada di boutique ini mengunjungi Tiara.
Dokter hanya meminta Bayu agar menjaga emosi istrinya.
Vina pun bernapas lega setelah melihat mereka keluar, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Gedung BS Corp.
Devan gelisah, pikirannya tidak tenang.
“Aku harus mengatakan apa pada Vina.” Lirih Devan.
Beberapa hari ini tidurnya tidak nyenyak karena terus memikirkan Vina, Devan juga belum berani memberitahu Vina bahwa dirinya akan dinikahkan dengan anak dari tante Rita.
Malam itu di rumah sakit Devan terpaksa memenuhi panggilan mamanya untuk bertemu dengan keluarga tante Rita. Dan dari pertemuan itu sudah di tetapkan bahwa Devan dan Tiara akan menikah bulan depan.
Setiap Devan dan Vina berkomunikasi lewat telpon, Devan selalu ingin memberitahu masalah ini pada Vina tapi sedekit kemudian ia kembali mengurungkan niatnya karna tidak rela dan tidak mau Vina sedih.
__ADS_1
Tapi Devan juga berpikir kalau terlalu lama disembunyikan, cepat atau lambat Vina pasti akan tau. Dan itu pasti akan membuat Vina semakin membencinya.
“Argghhh.. aku harus bagaimana.” Teriak Devan memenuhi seluruh ruangannya.
Setelah terdiam cukup lama, Devan pun meraih ponselnya yang ia letakkan diatas meja kerja.
Tangannya dengan licah bergerak mengetikan sesuatu.
“Aku harap ini keputusan benar yang sudah aku ambil.” Gumam Devan dengan mata terpejam.
Seumur-umur baru kali ini Devan merasa gagal dan tidak bisa melakukan apa-apa. Devan juga merasa masalah hidupnya lebih rumit dibandingkan masalah perusahaan yang selama ini ia tangani.
***
Sore telah tiba, saatnya pergantian shift.
Vina tengah bersiap-siap untuk pergi ke apartemen Devan.
Tadi kekasihnya itu mengirim pesan agar Vina menunggunya di apartemen setelah pekerjaannya selesai.
Keluar dari boutique, Vina pun menyetopkan taksi yang lewat.
“Apartemen xxx.” Ucap Vina.
“Baik nona.” Sahut supir taksi itu.
Taksi itupun melaju pergi meninggalkan boutique menuju apartemen yang tadi di sebutkan oleh Vina.
Tidak lama taksi pun berhenti tepat di depan gedung yang menjulang tinggi.
Setelah taksi itu pergi, Vina pun berjalan masuk ke dalam lalu menaiki lift menuju kamar apartemen milik Devan.
Setelah menekan sandi, pintu pun terbuka.
Vina langsung saja masuk dan pintu pun tertutup dengan sendirinya.
Kamar itu sedikit berantakan.
“Apa Devan beberapa hari ini tidur disini?” Gumam Vina bertanya-tanya. Karna tempat itu seperti habis di pakai oleh orang.
Vina selalu membersihkan kamar itu, pastilah ini kerjaan Devan.
Dengan sendirinya Vina pun bergerak membersihkan kamar itu.
“Hufft, beres.” Lega Vina saat melihat kamar itu sudah rapi.
Langit mulai gelap tapi Devan belum juga muncul.
Vina pun memutuskan untuk berbaring sebentar sambil memainkan ponselnya untuk mengusir kebosanan.
Hari itu Vina berencana untuk memberitahu kabar bahagia tentang kehamilannya pada Devan. Entahlah itu kabar bahagia atau kabar buruk.
Lama-lama Vina mulai bosan, mana perutnya lapar lagi.
Samar-samar Vina mendengar suara pintu yang di buka. Bisa di tebak itu pasti Devan.
“Vina.” Panggil Devan dari arah depan.
__ADS_1
“Aku disini.” Sahut Vina.
Tidak lama Devan pun muncul di depan Vina dengan tangan memegang plastik.
Devan datang dengan raut wajah seperti orang yang menanggung beban berat.
“Ada apa?” Tanya Vina langsung.
“Ehh.. tidak, tidak ada apa-apa. Kita makan dulu, aku tau kamu pasti belum makan.” Jawab Devan gugup.
Vina hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
Mereka pun makan dalam diam.
Sedari tadi Vina perhatikan Devan seperti tidak fokus dengan makannya, lelaki itu kadang melamun dan menatap kosong ke bawah.
Ada apa sebenarnya. Batin Vina bertanya-tanya.
***
Setelah menghabiskan makanan mereka, Vina pun berniat memberitahu Devan tentang kehamilannya.
Vina berdiri untuk menghampiri Devan sambil berbicara “Devan aku ha..”
“Vina tolong maafkan aku. Mama meminta ku untuk menikah dengan anak sahabatnya, aku ingin menolak tapi aku tidak bisa. Keadaan tidak mendukungku saat itu.” Sela Devan memotong ucapan Vina.
Deg.
Vina merasa jantungnya di hantam oleh batu besar hingga tanpa sadar ia terhuyung kebelakang karna kaget mendengar perkataan Devan tadi.
“Mama sakit dan aku tidak boleh membuatnya marah ataupun emosi hingga sesaknya kembali muncul. Aku sungguh mencintaimu, tapi aku tidak bisa menolak permintaan mama.” Ucap Devan tertunduk. Devan tidak berani menatap mata Vina, Devan tidak sanggup.
“Aku kalah, aku gagal memperjuangkan cinta kita.” Lirih Devan.
Vina tidak tau harus merespon seperti apa.
Mulutnya tiba-tibu kelu dan susah untuk di gerakkan.
Tadinya Vina berniat untuk memberitahu kabar bahagia tentang kehamilannya pada Devan, tapi siapa yang menyangka Devan akan mengatakan kabar buruk ini
Tanpa pikir panjang Vina langsung mengambil tasnya dan berlari keluar dari apartemen itu dengan air mata yang sudah meluncur keluar membasahi seluruh wajahnya.
Sementara Devan, pria itu tertunduk lesu di tempatnya.
Frustasi itulah yang Devan rasakan sekarang. Devan merasa frustasi tidak bisa melakukan apa-apa.
Untuk mengejar Vina saja kakinya sudah tidak mampu.
Bukan hanya Vina yang hancur, tapi Devan juga merasa hancur. Ia harus rela melepaskan cintanya demi kesehatan sang mama.
Ini bukan akhir yang diinginkan Vina dan Devan.
“Maafkan aku, maafkan aku Vina.” Lirih Devan. Tanpa sadar sebening kristal jatuh dari pelupuk mata laki-laki itu menandakan pukulan berat yang ia rasakan.
❤️
Jangan lupa like, komen dan vote ya😊
__ADS_1