
Keesokan harinya.
Masih pagi-pagi buta dan Devan sudah datang bertamu di rumah Vina. Laki-laki itu bahkan meninggalkan Bayu di penginapan saat papahnya itu masih terlelap dengan tidurnya bersama pak Parto disana.
Devan berencana mengendarai mobilnya sendiri tanpa Parto. Ia ingin merasakan bagaimana menjadi sosok ayah yang sebenarnya.
Tujuannya untuk mengantar anak gadisnya itu ke sekolah, sekalian menawarkan diri nanti untuk mengantar Vina ke warung.
Sekaligus mengawasi pujaan hatinya itu agar tidak di ganggu oleh pria lain.
Devan tidak mau kalah start dengan laki-laki yang bernama Frans itu.
***
Vina terbangun dari tidurnya.
Setelah melirik jam yang ada pada dinding kamarnya, wanita itu pun beralih pada malaikat kecilnya yang masih bergelut di bawah selimut tebal.
“Naya sayang, ayo bangun. Nanti kamu terlambat ke sekolahnya.” Suara Vina begitu lembut di telinga.
Naya masih tetap pada posisinya.
Vina bangkit dan langsung mengangkat Naya dalam gendongannya, anaknya ini memang sangat sulit sekali untuk di bangunkan.
Benar saja, saat di gendong dan dibawa keluar dari kamar anak itu langsung bangun dengan mata sayunya.
“Mandi ya, nanti kamu terlambat ke sekolah.” Ucap Vina lagi.
“Hoam.. iya bunda.” Jawab Naya.
Vina pun menurunkan anak itu di depan kamar mandi. Setelah itu Vina berjalan ke depan berencana untuk membuka semua jendela dan pintu agar udara segar masuk.
Betapa kagetnya Vina saat melihat Devan duduk di depan rumahnya dengan tangan saling bertaut saking dinginnya pagi itu.
“Devan.” Gumam Vina pelan.
Mendengar bunyi pintu di buka laki-laki itu pun berbalik.
“Pagi.” Sapa Devan dengan senyum di bibirnya.
“Pa..pagi.” Gugup Vina menjawab.
Vina baru sadar saat melihat Devan yang duduk gemetar seperti orang kedinginan.
“Masuk dulu.” Tawar Vina karna kasihan melihat laki-laki itu yang pasti tidak terbiasa dengan cuaca di desa ini yang begitu dingin saat pagi dan malam hari.
Devan menurut lalu beranjak dari tempatnya menyusul Vina yang sudah lebih dulu masuk.
Devan mendaratkan tubuhnya di kursi kayu yang ada dalam ruang tamu itu. Bertepatan saat itu Adi keluar dari kamarnya.
“Nak Devan.” Kaget Adi saat melihat Devan sudah berada di rumahnya.
“Pagi ayah.” Sapa Devan.
“Pagi.” Balas Adi.
“Ada apa pagi-pagi sekali sudah disini?” Lanjut Adi bertanya.
__ADS_1
“Devan berencana untuk mengantar Naya ke sekolah, sekaligus mengantar Vina kalau di mau.” Jawab Devan.
“Oh.” Sahut Adi ber-oh-ria.
Tidak lama Vina datang dengan nampan ditangannya.
Setelah mengantarkan minum untuk dua pria yang memiliki masing-masing tempat di hatinya, Vina pun kembali ke belakang untuk membuat sarapan pagi itu.
Tidak berselang lama saat Vina ke belakang, tiba-tiba Naya muncul dengan rambut basah dan handuk yang melilit tubuhnya.
Devan ngilu melihat pemandangan itu, dengan cuaca seperti ini anaknya itu mampu bertahan dengan air dingin yang mengalir ke tubuhnya.
Aku saja mungkin tidak sanggup mandi di pagi buta seperti ini dengan air dingin, bahkan aku yang sudah besar seperti ini masih membutuhkan air panas untuk menghangatkan air mandi ku. Batin Devan miris.
Melihat itu Devan semakin bertekad untuk merebut hati Vina kembali agar mereka bisa bersama dan Devan bisa membawa mereka kembali ke kota. Dengan begitu anaknya itu tidak perlu merasakan dinginnya air di pagi hari saat ke sekolah.
Devan juga akan mencarikan sekolah terbaik untuk putrinya itu.
Tapi terlebih dulu Devan harus menaklukan hati wanita yang sudah terlanjur kecewa itu. Jika menggunakan paksaan, itu akan membuat mereka semakin jauh dan Devan tidak mau itu terjadi.
“Ayah.” Girang Naya melihat Devan saat itu.
Devan tersadar dari lamunannya karna suara nyaring gadis kecil itu saat memanggilnya.
“Segera bersiap, ayah akan mengantarmu ke sekolah.” Balas Devan.
“Yes.” Seru Naya bahagia.
Gadis kecil itu langsung menuju kamarnya untuk mengenakan seragam sekolahnya.
Naya sudah tidak sabar menunjukkan pada teman-temannya kalau ayahnya itu ada.
***
“Ayo, biar ku antar sekalian dengan Naya.” Tawar Devan pada wanita yang masih saja bersikap datar padanya.
“Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri.” Tolak Vina dengan wajah datarnya.
Entahlah ini sudah yang ke berapa kalinya Devan di tolak oleh wanita itu, meskipun demikian Devan tidak akan pernah menyerah sampai Vina mau kembali padanya.
“Baiklah.” Balas Devan.
“Kami berangkat sekarang. Ayo sayang nanti telat.” Sambung Devan pamit.
Vina hanya mengangguk.
Wanita itu berdiri di depan pintu memperhatikan mobil yang digunakan mereka sampai mobil itu menghilang dari pandangannya.
Vina berjalan masuk ke dalam rumah untuk berpamitan pada Adi.
“Ayah, Vina berangkat sekarang.” Pamit wanita itu sambil mencium tangan Adi.
“Iya, hati-hati nak.” Balas Adi.
***
Mobil mewah berhenti di sebuah gedung sekolah kecil.
__ADS_1
Para mata memperhatikan mobil itu dengan tatapan penasaran.
Sang pemilik mobil itu keluar di susul gadis kecil yang duduk di kursi samping.
Betapa terkejutnya orang-orang di sana saat melihat gadis kecil yang taka sing itu.
“Bukankah itu Naya, kenapa dia bisa bersama orang itu dan naik mobil bagus.” Bisik-bisik salah satu ibu-ibu disana.
“Iya itu memang Naya dan katanya orang itu adalah ayah kandung dari Naya.”
“Wah si Vina itu bisa juga ya memikat lelaki kaya dari kota, tidak sia-sia perantauannya.” Cibir salah satu ibu-ibu yang ada disana.
“Iya, pake apa ya dia sampai laki-laki kaya dan tampan itu mau padanya.” Tambah ibu-ibu yang satu.
Mereka yang tadinya selalu merendahkan keluarga Vina bahkan menghina keluarga itu sekarang hanya bisa gigit jari iri melihat keluarga itu.
“Dimana kelasmu sayang?” Tanya Devan pada Naya.
“Disana ayah.” Ucap Naya sambil tangannya menujuk salah satu kelas yang berada di ujung.
Ayah dan anak itupun berjalan menuju ruangannya yang telah ditunjuk Naya.
Sepanjang jalan menuju kelas, banyak ibu-ibu yang sengaja menyapa Naya hanya untuk mencari perhatian Devan.
Sayangnya Devan tidak mempedulikan mereka, tatapannya hanya tertuju ke depan dengan wajah datar tanpa ekspresi. Hanya jika berbicara dengan Naya baru Devan merubah ekspresinya.
Devan mengantar Naya sampai ke dalam kelas, bahkan sampai Naya duduk di tempatnya.
Para teman-teman Naya mulai mengerumuni mejanya.
“Naya apa om ini ayahmu yang kamu ceritakan kemarin?” Tanya salah satu teman kelasnya.
“Iya, ini ayahku.” Jawab Naya percaya diri, sekarang tidak ada lagi yang akan mengejeknya tidak memiliki ayah.
“Wah ayahmu tampan seperti artis-artis yang ku lihat di Tv.” Celetuk salah satu teman Naya yang saat itu juga ikut mengejeknya.
Devan hanya tersenyum melihat mereka.
“Ayah tunggu di luar ya.” Ucap Devan.
“Iya ayah.” Jawab Naya.
Devan pun beranjak keluar dari ruang kelas itu.
Setelah Devan keluar, Naya mengeluarkan benda kotak yang menjadi favoritnya sejak kemarin.
Para teman-temannya menatap takjub apa yang Naya keluarkan.
“Wow.” Ucap mereka serempak.
“Ini pasti sangat mahal.” Celetuk salah satu teman kelas Naya yang menjadi salah satu orang terkaya di kampungnya.
Naya menyalakan iPad itu lalu membuka salah satu aplikasi belajar untuk dimainkannya sambil menunggu guru datang.
❤️
Jangan lupa tinggalkan jejaknya lewat vote, like dan komen😊
__ADS_1
Beberapa hari ini author udah berusaha up semaksimal mungkin😊 Mohon dukungannya🙏