
Pagi-pagi sekali Devan sudah bangun hanya untuk pindah ke kamar miliknya tempat Tiara sekarang berada.
Devan tidak mau mama dan papanya melihat mereka tidur terpisah di malam pertama mereka, bisa-bisa Devan akan diomeli oleh mamanya yang ingin segera memiliki cucu.
Pelan-pelan Devan membuka pintu kamar, disana wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu tengah lelap dalam tidurnya.
Perlahan Devan masuk lalu menutup pintu dengan pelan agar Tiara tidak bangun. Cepat-cepat Devan menuju lemari lalu mengambil satu stel pakaian kantornya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tidak lama Devan sudah keluar dengan pakaian lengkap, saat itu matahari sudah mulai menampakkan sinarnya.
Saat Devan keluar ternyata wanita itu sudah bangun dengan posisi duduk menyandar pada kepala tempat tidur.
Mungkin karna terganggu mendengar bunyi gemercik air dari dalam kamar mandi hingga wanita itu terbangun.
“Tadi malam kamu tidur dimana?” Tiara bertanya dengan tangan mengucek-ucek matanya. Kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul.
“Di kamar.” Datar Devan menjawab.
“Masa sih. Kok aku nggak rasa ada kamu ya?” Tanya Tiara tidak percaya.
“Terserah.” Putus Devan lalu beranjak ingin keluar dari ruangan itu. Saat tangan Devan hendak membuka pintu, tiba-tiba gerakannya terhenti karna suara wanita itu.
“Devan kamu mau kerja? Kan harusnya kamu cuti beberapa hari.” Tanya wanita itu lagi.
“Ya, banyak yang harus aku urus di kantor.” Jawab Devan. Setelahnya Devan keluar dari kamar tanpa peduli dengan kata-kata protes yang di lontarkan oleh Tiara.
“Devan..” Teriak Tiara kesal.
Diluar para asisten rumah tangga sudah mulai menjalankan aktivitas mereka membersihkan dan memasak.
“Kamu mau kemana sepagi ini Devan?” Tanya Bayu yang saat itu baru saja keluar dari kamar bersama Santi.
Biasa memang Santi dan Bayu akan bangun pagi untuk duduk diluar menghirup udara segar sambil berolahraga ringan.
“Devan mau ke kantor pa.” Jawab laki-laki itu.
“Ke kantor? Jangan bercanda Devan, kamu baru saja menikah seharusnya kamu di rumah bersama Tiara menikmati waktu berdua.” Kali ini Santi yang bicara.
“Ada pekerjaan penting yang harus Devan urus, Devan berangkat.” Pamit Devan tanpa mau meladeni omongan Santi. Jika Devan ladeni yang ada nanti emosi laki-laki itu tidak terkontrol dan malah berdampak buruk pada kesehatan Santi.
Saat Santi ingin berteriak menahan Devan pergi, cepat-cepat Bayu menahan sang istri yang ingin menyusul Devan ke depan.
“Sudah ma, mungkin memang ada urusan penting yang harus Devan urus di kantor. Ini juga demi keluarga kita, Devan bekerja demi kita juga.” Bayu mencoba memberi pengertian pada sang istri.
“Tapi pa..”
“Lebih baik sekarang kita ke depan terus jalan-jalan sebentar, itu baik untuk kesehatan ma.” Ucap Bayu memotong ucapan Santi.
__ADS_1
“Ya sudah.” Balas Santi sedikit kesal.
Kapan mau dapat cucu kalau Devan sibuk dengan pekerjaan. Batin Santi mencibir.
Suami istri itu lalu pergi keluar untuk melakukan olahraga ringan sambil menghirup udara pagi yang belum tercemar oleh polusi.
Sementara di kamar atas milik Devan.
Tiara masih tetap pada posisinya “Apa yang kurang dariku? Kenapa Devan seperti tidak tertarik padaku?”
“Dari awal memang Devan seperti terpaksa dengan ini.”
“Ah bodo amat. Mau Devan terpaksa atau tidak, yang penting aku suka sama dia dan laki-laki itu harus jadi milikku. Akan ku buat Devan menyukai ku.” Ucap Tiara bertekad untuk membuat Devan suka padanya.
Dari awal melihat Devan memang Tiara sudah mulai tertarik pada laki-laki itu. Bahkan saat mendengar orangtua Devan ingin menjodohkan mereka pun dalam hati Tiara bersorak senang.
Sekarang Tiara sudah mendapatkan Devan, hanya tinggal menunggu waktu sampai laki-laki itu menyukainya.
Tiara juga akan berusaha.
***
Sementara di tempat lain.
Suara kicauan burung dan ayam mewarnai pagi yang indah di sebuah desa kecil yang masih sangat terjaga keindahan alamnya, sangat berbeda dengan kondisi kota.
“Ade suka tidak tinggal disini?” Ucap Vina mengajak bicara janin yang ada di dalam perutnya. Tangannya dengan lembut mengelus-elus perutnya yang masih rata.
“Semoga suka ya dek, soalnya cuma disini rumah kita.” Oceh Vina.
“Disini juga lebih aman dan nyaman, tidak seperti di kota. Disini juga kita tidak ketemu sama orang-orang jahat seperti ayah kamu yang tega sama bunda.”
Ingatan Vina kembali pada kejadian saat di apartemen, saat Devan mengatakan hal menyakitkan tentang hubungan mereka.
“Kita mau sarapan apa pagi ini nak?” Tanya Adi sambil berjalan menghampiri Vina yang saat itu sedang duduk di ruang tamu berukuran kecil dengan pintu yang terbuka membiarkan udara pagi masuk ke dalam rumah itu.
“Belum tau ayah, nanti biar Vina ke pasar untuk membeli bahan-bahan.” Jawab Vina sambil beranjak dari duduknya.
“Kamu mau ke pasar? Apa kamu yakin nak?” Tanya Adi ragu. Pria paruh baya itu takut anaknya tidak tahan dengan bau yang ada di sana. Apalagi setiap pagi Adi akan melihat Vina muntah karna kehamilannya.
“Iya ayah. Sekalian Vina mau jalan-jalan, bosan juga di rumah terus.” Jawab Vina tenang.
“Ya sudah terserah kamu saja nak.” Pasrah Adi.
Vina pun melanjutkan langkahnya menuju kamar untuk mengambil beberapa lembar uang.
Untung saja selama empat tahun bekerja di kota Vina mengatur dengan baik gajinya yang dia tabung untuk di perlukan sewktu-waktu.
__ADS_1
Setidaknya tabungannya itu cukup untuk keperluan melahirkan dan makan sehari-hari. Vina juga sudah memikirkan kalau nanti anaknya lahir, dia akan kembali mencari kerja untuk kelangsungan hidup mereka.
“Vina pamit ya ayah.”
“Iya hati-hati.” Sahut Adi.
Vina ke pasar dengan berjalan kaki, itu sudah menjadi kebiasaan keluarga mereka sejak dulu. Selain karna tidak mempunyai kendaraan, berjalan kaki juga bagus untuk kesehatan.
Sepanjang jalan Vina bertemu dengan orang-orang yang ia kenal.
“Mau kemana Vin?” Sapa salah satu ibu-ibu dari teras rumahnya.
“Mau ke pasar bu.” Sahut Vina.
Selama beberapa minggu ini tinggal di kampung, semua orang kampung sudah tau kalau Vina telah kembali. Tapi soal kehamilan Vina, tidak ada yang tau karna itu masih di rahasiakan.
Sesampainya di pasar Vina memilih beberapa sayuran yang akan ia masak pagi ini.
Hari ini makan ikan bakar dengan sambal terasi pasti enak. Ucap Vina dalam hati.
Mengingat ikan bakar dengan sambal terasi membuat Vina beberapa kali menelan ludahnya.
Wanita itu lalu melangkahkan kakinya menuju salah satu tempat yang menjual ikan. Belum sempat Vina sampai di depan penjual itu, perutnya tiba-tiba mulas.
Hoek..Hoek..Hoek
Sejak tadi Vina sudah berusaha menahan rasa mual itu, tapi kali ini saat mencium bau amis dari ikan rasa itu sudah tidak bisa ia tahan.
Beberapa ibu-ibu melihat aneh padanya, bahkan ada yang mulai berbisik-bisik satu sama lain.
Samar-samar Vina bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, entah mereka tidak sadar atau memang sengaja membesarkan suaranya agar Vina mendengar apa yang mereka bicarakan.
“Itu Vina kenapa ya, kok gelagatnya kayak orang hamil.” Kata salah satu ibu-ibu yang ada di sana.
“Iya, tiba-tiba pulang ke sini meninggalkan pekerjaannya di kota padahal semua orang menginginkan kerja di kota. Aneh ya.” Timpal ibu-ibu yang satu.
“Jangan-jangan dia hamil. Mungkin si laki-laki tidak mau bertanggung jawab jadi dia kembali kesini.” Sahut ibu-ibu yang lain.
Dengan menutup hidungnya, cepat-cepat Vina membeli ikan tadi dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Vina hanya menunduk tidak berani menatap mata para ibu-ibu yang ada di sana.
Malu, itulah yang Vina rasakan saat ini.
Ingin menangis tapi tidak mungkin itu di tempat umum.
❤️
__ADS_1
Jangan lupa vote, komen dan like sebanyak-banyaknya ya readers tersayang ku❤️😘