Bahagia Yang Tertunda

Bahagia Yang Tertunda
Chapter 43


__ADS_3

Siang harinya.


Sesuai apa yang Devan katakan pagi tadi, Vina bersiap-siap untuk menemui Devan di kantor.


Sebelum pergi wanita itu mengurus anak gadisnya terlebih dulu sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.


Vina berinisiatif untuk membawakan bekal makan siang untuk suaminya daripada mereka harus keluar mencari tempat makan lagi.


Setelah semua sudah siap, Vina pun berpamitan pada ayah dan papah Bayu.


Untuk Naya, gadis itu sudah di ajak untuk pergi bersama tapi Naya menolak dengan alasan ingin bermain di kolam renang bersama salah satu pelayan yang ada di rumah itu.


Maklum selama ini Naya hanya bisa melihat kolam renang di gambar atau televisi jadi saat melihat langsung gairahnya untuk bermain disana semakin meningkat.


Setelah berpamitan Vina pun beranjak keluar, disana Parto sudah menunggunya.


“Ayo pak.” Ucap Vina.


Parto menjalankan mobil meninggalkan kawasan rumah tuannya.


Dalam perjalanan Vina kepikiran, wanita itu takut dan ragu. Ini pertama kalinya Vina menginjakkan kakinya di perusahaan milik suaminya, pasti orang-orang di sana tidak mengenalnya.


Vina takut saat sampai di sana para karyawan suaminya akan berpikir bahwa ia datang untuk menggoda presdir mereka seperti cerita novel yang pernah ia baca.


“Hahhh.” Desah Vina mengeluarkan seluruh kegundahan dalam hatinya.


Tanpa terasa mereka sampai di depan gedung perusahaan milik Devan. Parto menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk perusahaan.


“Silahkan nyonya.” Ucap Parto sopan.


“Bapak tidak ikut masuk?” Tanya Vina karna Parto hanya diam tidak berniat turun dari mobil.


“Maaf nyonya tadi tuan Devan hanya menyuruh saya mengantarkan anda sampai di sini saja. Tapi kalau anda ingin saya antarkan masuk sampai ke dalam juga tidak masalah.” Jawab Parto sopan.


Tidak ingin merepotkan supir keluarga Devan, Vina pun memutuskan masuk sendiri.


“Tidak usah, biar saya sendiri saja. Hati-hati saat berkendara pulang.” Ujar Vina.


“Baik nyonya.” Sahut Parto.


Vina turun dari mobil. Tidak lama Parto kembali menjalankan mobilnya untuk pulang.


Ragu-ragu Vina berjalan masuk ke dalam.


Kebetulan Vina datang saat waktu istirahat tiba, jadilah saat itu lobby ramai dengan karyawan yang hendak keluar mencari makan.


Vina berjalan dengan paper bag di tangannya yang berisi bekal makan siang suaminya.


Karna Vina tidak tau di mana ruangan Devan, akhirnya wanita itu berinisiatif untuk menanyakan ruangan Devan pada pekerja yang ia temui.


Kebetulan saat itu ada rombongan para karyawan yang sedang berjalan bersama-sama.


“Permisi.” Sapa Vina sopan.

__ADS_1


Orang yang di sapa pun lantas berbalik mencari asal suara.


Betapa kagetnya mereka saat melihat orang yang menyapa mereka.


“Maaf, saya ingin mencari ruangan pak Devan.” Ucap Vina lagi.


Orang-orang itu masih diam, tatapan mereka sarat akan keterkejutan.


Vina sendiri bingung melihat ekspresi mereka yang menatapnya seperti melihat hantu.


“Permisi.” Ucap Vina lagi karna tak kunjung mendapat jawaban.


“Bukannya wanita ini begitu mirip dengan foto wanita yang ada di dalam ruangan pak Devan. Jangan-jangan…” Celetuk salah satu karyawan wanita yang ada di sana.


Wanita itu masih hafal betul wajah wanita yang fotonya terpampang nyata dalam ruangan presdir mereka karna wanita itu sudah beberapa kali masuk dalam ruangan presdir mereka untuk meminta tanda tangan jika perlu.


Vina mengerutkan dahinya mendengar celetukan wanita tadi.


Vina masih belum paham dengan maksud ucapan wanita tadi.


“Hei, apa kalian ingin kena marah presdir.” Tiba-tiba salah satu dari mereka bersuara.


Seolah tersadar dari lamunan, mereka cepat-cepat memohon maaf karna membuat Vina menunggu.


“Maafkan kami. Mari saya antar ke ruangan pak Devan.” Salah satu menawarkan diri.


Vina terkejut dengan sikap mereka padanya, padahal tadi ia sudah berpikiran buruk akan tatapan sinis para karyawan padanya karna datang mencari boss mereka.


Samar-samar Vina masih bisa mendengar bisikan-bisikan para karyawan tentangnya. Bahkan semua tatapan mereka sama, seolah terkejut dengan keberadaannya.


Ada apa sebenarnya. Batin Vina bertanya-tanya.


Mereka menaiki lift menuju lantai atas tempat ruangan Devan berada.


Ting.


Pintu lift terbuka.


Mereka sampai di lantai atas dimana disana hanya ada ruangan Devan dan sekertaris Viko. Saat itu sekertaris Viko tidak berada di tempatnya jadi wanita itu menuntun Vina sampai di depan pintu ruangan Devan.


Tok..tok..tok.


Wanita itu mengetuk, sedangkan Vina hanya diam berdiri di samping wanita itu.


Tidak lama pintu terbuka menampilkan sekertaris Viko di sana. Rupanya Viko sedang berdiskusi saat itu dengan presdir mereka jadi laki-laki itu tidak berada di tempatnya.


Viko yang melihat kedatangan Vina langsung menunduk.


“Nyonya.” Sapa Viko sopan. Hal itu tidak luput dari perhatian wanita yang tadi membantu Vina sampai ke tempat itu.


Viko membuka pintu membiarkan Vina masuk ke dalam.


“Sayang.” Seru Devan saat melihat istrinya datang.

__ADS_1


Vina berjalan menghampiri Devan di mejanya.


Kembali pada sekertaris Viko.


“Kau boleh pergi sekarang.” Perintah Viko pada wanita tadi.


“Baik pak.” Sahut wanita itu dengan kepala menunduk ke bawah.


Wanita itu masih tidak percaya bisa melihat bagaimana Vina di perlakukan, bahkan presdir mereka memanggilnya dengan panggilan sayang.


Hal langkah bisa melihat hal seperti itu. Pikir wanita itu.


“Wah, ini bisa jadi berita besar. Anak-anak pasti tidak akan percaya jika ku ceritakan.” Gumam wanita itu dalam lift.


***


Vina menatap tidak percaya apa yang terpajang di dinding.


“Astaga.” Gumam Vina sambil menutup mulutnya tidak percaya.


“Kenapa?” Tanya Devan heran melihat ekspresi sang istri.


“Itu.” Tunjuk Vina dengan dagunya.


“Oh.” Balas Devan santai.


“Kenapa menaruh foto ku di sana?” Tanya Vina bingung.


“Memangnya kenapa?” Devan balik bertanya dengan wajah tanpa dosa.


“Aisshhh, kau ini. Berapa banyak karyawanmu yang masuk ke dalam ruangan ini?”


“Banyak. Tidak mungkin aku menghitung satu persatu orang yang masuk, seperti kurang kerjaan saja.”


“Pantas saja mereka menatap ku seperti melihat hantu tadi.” Gumam Vina pelan.


Wanita itu mulai paham sekarang mengapa yang ia pikirkan tadi tidak terjadi seperti cerita di novel, justru sikap karyawan suaminya berbanding terbalik tadi. Rupanya wajahnya sudah terpampang di ruangan ini yang otomatis setiap orang yang masuk akan langsung melihat fotonya.


Devan benar-benar gila. Batin Vina syok.


Devan menarik Vina yang masih berdiri untuk duduk.


“Aku sudah lapar. Kenapa malah melamun?” Tanya laki-laki itu.


“Tidak.” Sahut Vina.


Wanita itu mulai mengeluarkan satu persatu bekal yang tadi ia bawa dari dalam paper bag dan mengaturnya di atas meja.


Siang itu Vina dan Devan menikmati makan siang mereka bersama tanpa gangguan dari siapa pun.


❤️


Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya🙏

__ADS_1


__ADS_2