
Vina menepis kasar tangan Devan. Wanita itu sudah siap berbalik untuk pergi meninggalkan Devan.
“Vina tunggu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Ucap Devan sambil berpindah ke depan menghalangi Langkah wanita itu.
“Apa!” Ketus Vina, matanya menatap tajam laki-laki itu.
Bagaimana pun juga rasa sakit dan kecewa akan peristiwa masa lalu masih terasa sampai saat ini. Apalagi orang dari masa lalu itu sekarang muncul di hadapannya.
Devan terperangah melihat perubahan sikap Vina padanya. Dulu wanita ini sangat lembut dan penuh perhatian padanya, sekarang tidak ada lagi tatapan lembut meneduhkan dari wanita itu yang ada hanya tatapan tajam yang menusuk hati laki-laki itu.
“Cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan.” Ucap Vina lagi.
“Bagaimana kabarmu?” Pertanyaan awal yang dilontarkan Devan.
“Baik. Lebih baik daripada saat bersamamu!” Jawab Vina dengan menekan setiap kata-katanya.
Ada rasa sakit yang Devan rasakan dalam hatinya, rasa teriris-iris mendengar jawaban Vina.
“Oh iya sekali lagi terima kasih sudah menolong ayahku. Kau pasti sibuk disini, kau bisa pergi sekarang. Setelah aku kembali, aku tidak ingin melihatmu lagi dalam ruangan itu.”
“Aku sudah menjawab pertanyaanmu kan. Minggir aku mau lewat!” Lanjut Vina hendak pergi dari hadapan Devan.
Lagi-lagi tangan Vina di cekal oleh laki-laki itu.
“Aku akan membiarkanmu pergi. Tapi, setelah kau menjawab pertanyaan ku yang ini.” Devan masih kekeh menahan Vina.
“Siapa anak itu? Kenapa dia memanggilmu dengan sebutan bunda? Apa kau sudah menikah?” Laki-laki itu mengeluarkan semua pertanyaan yang sedari tadi ia tahan dalam pikirannya.
“Dia memanggilku bunda karna dia memang anakku. Dan ya, aku sudah menikah.” Bohong Vina tidak ingin memberitahu Devan kebenarannya.
Vina takut Devan akan mengambil Naya darinya.
Tidak boleh. Naya adalah hidupku, takkan kubiarkan orang lain mengambilnya dariku. Tegas Vina dalam hati.
“Apa kau menikah sesaat setelah kita berpisah?” Tanya Devan lagi. Hatinya belum siap menerima ini.
Bagaimana bisa Vina memiliki anak secepat itu. Anak yang sudah berumur 5 tahun.
Apa Vina bisa melupakan semua kenangan kita secepat itu. Batin Devan bertanya-tanya.
Dalam perjalanan tadi saat ke puskesmas Devan yang entah kenapa merasa hatinya seperti ada yang aneh saat melihat Naya. Entah perasaan apa itu, Devan sendiri bingung menjelaskannya.
Devan yang penasaran dengan umur anak itu pun bertanya.
Ternyata anak itu berumur 5 tahun.
__ADS_1
Devan salut dengan anak itu yang begitu menyayangi kakeknya padahal umurnya masih terbilang sangat kecil.
***
“Apa maksudmu?”
“Anak itu sudah berumur 5 Tahun. Dan tepat lima tahun yang lalu kita berpisah, apa secepat itu kau melupakan semuanya? Atau ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?” Jelas Devan.
Wajah laki-laki itu begitu serius. Dan itu membuat Vina takut, takut kalau Devan curiga.
“Tapi sayangnya perkiraanmu salah. Anakku bukan berumur 5 tahun tapi 4 tahun.” Elak Vina. Wanita itu tidak tau bahwa Devan sudah tau umur anak itu dari Naya sendiri yang sudah memberitahu Devan.
Vina pikir Devan hanya mengira-ngira.
“Aku salah?” Ulang Devan sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Ya.” Jawab Vina cepat.
Lama-lama Vina merasa tidak nyaman berada di dekat Devan. Otoritas dan dominasi laki-laki itu terlalu kuat.
“Gadis kecil itu sendiri yang mengatakan bahwa umurnya 5 tahun. Kenapa kamu berbohong? Apa yang sedang coba kamu tutupi dariku.” Tanya Devan dengan tatapan penuh selidik.
“Ya. Aku menikah setelah berpisah darimu dan setelah itu aku hamil dan melahirkan buah cintaku bersama suamiku. Apa kau pikir hanya kau sendiri yang bisa menikah dan aku tidak!” Lama-lama emosi Vina semakin diambang batas.
“Secepat itu kamu melupakan semua yang telah kita lalui bersama.” Seru Devan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya Vina bisa secepat itu melupakannya.
“Jangan lupa! Kau yang memutuskan hubungan kita, setelah itu kau bertunangan dengan wanita lain. Aku juga ingin melakukan hal yang sama, mencari lelaki yang lebih baik dan tidak sebrengsek dirimu saat itu.” Ucap Vina menggebu-gebu.
“Tapi aku melakukan itu bukan atas kemauan ku. Aku terpaksa, dan kau tau itu.” Tegas Devan.
“Bukan urusan ku lagi. Minggir!” Balas Vina sambil berlalu cepat meninggalkan Devan sebelum laki-laki itu menahannya lagi.
Devan hanya terpaku di tempatnya.
Gairah untuk mengejar Vina seakan sirna setelah mengetahui wanita itu telah menikah dan memiliki anak dengan orang lain.
Sialnya, wanita yang selama bertahun-tahun ini tidak bisa dilupakannya ternyata secepat itu menemukan penggantinya.
Devan merasa ini tidak adil.
Bertahun-tahun ia menderita karna merindukan wanita itu, tapi justru wanita itu sudah bahagia begitu lamanya dengan orang lain.
“Kenapa disaat semua penghalang itu tidak ada, justru orang yang ingin ku perjuangkan kembali telah menjadi milik orang lain.” Gumam Devan merasa miris dengan hidupnya.
“Aku tau aku yang salah saat itu. Tapi saat itu aku berada di tengah-tengah pilihan yang sulit, di satu sisi ada wanita yang sangat aku cintai tapi di sisi lain juga ada wanita yang telah melahirkan ku. Aku tidak punya pilihan lain, saat itu juga mama sedang sakit.”
__ADS_1
“Argghhh… Ini tidak adil Tuhan.” Teriak Devan frustasi.
“Kenapa hanya aku yang menderita disini.” Ucap Devan putus asa.
Devan melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang rawat Adi untuk menyuruh supirnya pulang. Toh tidak ada lagi gunanya mengejar Vina, wanita itu sudah memiliki kebahagiannya sendiri.
Devan sudah mantap untuk mengikhlaskan Vina bersama orang lain, meskipun itu sulit.
Sementara di tempat lain.
Vina berlari dan bersembunyi di bawah pohon. Air matanya sedari tadi meluncur keluar dengan tidak sopannya.
Hatinya belum siap untuk bertemu dengan Devan, laki-laki yang telah bersamanya cukup lama, laki-laki yang selama ini ada untuknya selama Vina merantau di kota.
Dan juga laki-laki yang telah memberikannya malaikat kecil yang sangat cantik.
Mustahil kalau Vina mengatakan ia sudah melupakan laki-laki itu, nyatanya perasaannya sampai sekarang masih sama hanya saja rasa kecewa dan sakit hati lebih mendominasi dalam hatinya saat ini.
“Kenapa kamu harus muncul di kehidupanku yang baru. Kenapa harus kamu yang menolong ayah.” Gumam Vina berbicara pada dirinya sendiri.
“Aku sudah berusaha lari dan menjauh dari hidupmu, tapi kenapa kita harus di pertemukan kembali. Aku belum siap.”
Vina menangis tersedu-sedu di bawah pohon itu.
Untungnya suasana saat itu cukup sepi jadi Vina bisa menumpahkan seluruh perasaannya disana tanpa harus takut dilihat orang.
Setelah merasa agak mendingan, Vina berdiri lalu menghapus sisa-sisa air matanya.
Kakinya mulai melangkah mencari warung terdekat untuk membeli makanan untuk Adi dan Naya.
❤️
Maaf banget beberapa hari ini author slow update🙏 Sumpah tugas kuliah online author menumpuk kek beban hidup😭
Ini pun disela-sela mengerjakan tugas author sempatkan untuk menulis cerita Vina dan Devan.
Dan kalau kalian lihat cover novel ini yang begitu cantiknya😍 Itu dari pihak Noveltoon yang membuatkan, dan author seneng banget karna memang covernya menunjukkan tiga orang yang menggambarkan Vina, Devan dan Naya. Covernya memang betul-betul menggambarkan "Bahagia Yang Tertunda" sesuai ekspetasi author😍😭
Sekai lagi author ucapkan terima kasih untuk Noveltoon yang telah mengapresiasi novel ini dengan membuatkan cover yang cantik.
Semoga dengan ini author semakin semangat berkarya dan menulis di platform ini👍🙏
Author juga mau minta dukungan para readers lewat vote, like dan komen sebanyak-banyaknya🙏
Jujur kalau author lihat yang like sedikit, komen sedikit, votenya juga sedikit. Rasa malas untuk berpikir dan mengetik itu ada🙏 Mohon pengertiannya ya🙏
__ADS_1