
Usai mengantarkan Naya ke sekolah, Devan mengemudikan mobilnya menuju warung Vina seperti biasanya.
Vina yang melihat kedatangan Devan langsung menyuruh pria itu untuk membantunya menyiapkan bahan-bahan yang akan ia olah untuk menu hari ini.
“Karna kamu sudah datang, bantu aku untuk mengupas ini.” Vina langsung menyodorkan plastik berisi bawang pada pria itu.
Daripada Devan hanya menatapnya saja, mending Vina memberikan sesuatu yang bisa laki-laki itu kerjakan.
Devan terperangah mendengar ucapan Vina barusan.
“Kenapa?” Tanya Vina dengan dagu terangkat. Setelah memutuskan untuk menerima laki-laki itu kembali, Vina mulai berani pada Devan.
Tiba-tiba senyum muncul di bibirnya, melihat Vina seperti itu perlahan Devan seperti melihat Vina yang dulu yang ia kenal saat mereka masih bersama.
“Tidak.” Jawab Devan tersenyum sambil meraih plastik itu.
Walaupun ini pertama kalinya Devan melakukan pekerjaan mengupas bawang yang ia anggap merupakan pekerjaan perempuan, tapi demi menunjukkan keseriusannya pada Vina akan ia lakukan.
Dengan semangatnya Devan mengupas satu persatu bawang itu, Devan menganggap itu hal yang mudah.
Tapi di pertengahan Devan mulai mengeluh karna matanya yang terus mengeluarkan air akibat kepedisan mengupas bawang itu.
“Aku tidak sanggup.” Devan mengangkat tangannya tanda menyerah.
Vina berjalan menghampiri laki-laki itu dengan satu tangan di pinggangnya.
“Hanya mengupas bawang dan kamu sudah menyerah. Bagaimana nanti kamu akan melindungi ku dan Naya jika begini saja kamu sudah mengangkat tangan.” Wanita itu mencibir.
“Tapi ini..” Devan hendak menyanggah ucapan Vina, tapi sedetik kemudian mata laki-laki itu berbinar dengan senyum menggembang di bibirnya.
“Tunggu, tunggu. Arti dari perkataanmu tadi, apa bisa lebih di perjelas.” Ucap Devan meminta Vina memperjelas ucapannya, laki-laki itu berharap apa yang ia pikirkan saat ini tentang perkataan Vina barusan benar-benar sesuai dengan yang ada dalam pikirannya.
__ADS_1
“Pikir sendiri.” Ucap wanita itu sambil berlalu meninggalkan Devan. Tanpa Devan sadari, wanita itu sedang menahan senyum di bibirnya.
Ingin rasanya Vina tertawa, tapi karna gengsi dan malu terpaksa Vina menahannya.
Belum sempat Vina sampai di tempatnya, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya.
Vina terpaku di tempatnya, hatinya berdesir merasakan pelukan tangan ini. Pelukan yang dulu membuatnya nyaman, pelukan yang ia rindukan setiap malam saat masih mengandung Naya.
“Terima kasih sudah mau menerima ku kembali.”
“Aku janji akan buat kalian bahagia mulai sekarang.” Devan memeluk Vina erat, matanya berkaca-kaca.
Akhirnya Tuhan, akhirnya apa yang ku doakan selama ini terjadi.
Terima kasih Tuhan.
Devan mengucap syukur dalam hatinya, penantiannya selama ini tidak sia-sia.
Vina menepuk tangan Devan yang melingkar di perutnya “Lepas, kamu mau warga melihat ini.”
Seketika Devan melepaskan pelukannya.
“Maaf.” Ucap laki-laki itu kemudian.
“Siapa bilang aku sudah menerimamu kembali? Aku akan menerima kamu kalau bawang itu bisa kamu selesaikan.” Vina sengaja mengerjai laki-laki itu.
“Baiklah, aku akan menyelesaikannya. Bawang itu tidak ada apa-apanya di banding kamu, kamu dan Naya lebih berharga.” Tutur Devan yakin.
Dengan semangat yang membuncah, Devan kembali ke tempatnya untuk berperang dengan bawang-bawang itu.
Harus bisa, aku harus bisa. Batin Devan menyemangati dirinya.
__ADS_1
Vina pun sama kembali ke tempatnya untuk melakukan pekerjaannya seraya mengalihkan rasa gugupnya akibat pelukan sesaat itu.
***
Siang hari.
Sudah waktunya Naya untuk di jemput.
“Aku harus menjemput Naya sekarang. Apa tidak apa-apa kamu sendiri disini?” Devan bertanya seolah-olah khawatir meninggalkan Vina sendiri di sana.
Vina memutar bola matanya malas. Apa Devan tidak tau kalau selama ini Vina selalu mengerjakan semuanya sendiri di warung itu.
“Tidak apa-apa. Lagipula aku sudah terbiasa sendiri, aku bisa mengerjakan semuanya sendiri. Jadi kamu pergilah menjemput Naya.” Jawab wanita itu.
Devan menganggukan kepalanya lalu berbalik hendak menuju mobilnya yang terparkir di depan warung milik Vina.
Melihat Devan sudah pergi, Vina pun kembali melanjutkan pekerjaannya menyiapkan pesanan para pengunjung.
Tidak lama Devan kembali menghampirinya.
“Aku cinta kamu. Aku pergi dulu jemput anak kita.” Devan membisikan kata yang mampu membuat wajah wanita itu merona.
Untung saja Devan mengucapkan itu dengan pelan hingga para pengunjung yang ada disana tidak mendengar apa yang ia katakan.
Setelah mengatakan itu, Devan kembali pergi menuju mobilnya. Rupanya laki-laki itu kembali hanya untuk mengatakan kata-kata manis itu.
Vina yang melihat tingkah Devan seperti itu hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dasar. Cibir Vina dalam hati.
❤️
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan komen, like dan vote sebanyak-banyaknya🙏😊🤗