
Pagi itu semua orang berkumpul di depan rumah Vina.
Dua mobil mewah terparkir di halaman.
Ya, hari ini Vina dan keluarganya akan pindah ke kota mengikuti suaminya. Bu Romlah dan beberapa warga setempat berada di sana untuk menemui Vina yang terakhir kalinya.
Di sana juga sudah ada Bayu, Parto dan Viko.
Seluruh barang-barang juga sudah di angkat ke atas mobil, Vina dan keluarganya hanya membawa beberapa barang seperti pakaian dan beberapa surat penting. Barang-barang yang lain mereka tinggalkan karna rumah itu nantinya akan menjadi tempat mereka jika sedang datang berkunjung kembali.
Rencananya rumah itu akan direhab menjadi lebih baik. Awalnya Adi menolak tapi setelah di bujuk oleh Devan dan Vina akhirnya Adi menyetujui hal itu.
***
“Kami pamit ya, sekiranya kalau selama ini ada perbuatan kami yang kurang berkenan mohon di maafkan.” Ujar Vina pada warga setempat.
Vina, Adi dan Naya mulai menyalami satu persatu warga setempat yang selama ini telah membantu mereka meskipun ada beberapa yang sempat menghina mereka.
Devan dan yang lainnya sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
Setelah berpamitan pada warga, mereka pun masuk ke dalam mobil.
Mobil satunya berisi Parto, Bayu dan Adi. Sementara satunya lagi di isi oleh sekertaris Viko, Devan, Vina dan Naya.
Mobil mulai keluar dari halaman menuju jalan besar yang menghubungkan langsung ke kota.
***
Mereka tiba saat hari sudah sore.
Sampai di rumah, para asisten rumah tangga sudah berdiri untuk menyambut kedatangan mereka.
“Selamat datang tuan, nyonya.” Ucap mereka serempak.
Keluarga itu berjalan masuk ke dalam rumah dengan wajah lelah mereka, perjalanan itu cukup menguras tenaga mereka. Bahkan Naya, si gadis kecil mereka sampai tertidur saat tiba.
Viko dan Parto mulai bergerak mengangkat barang-barang bawaan tuan mereka masuk ke dalam rumah.
Mereka berkumpul di ruang tengah.
“Haahh, akhirnya sampai juga.” Desah mereka semua merasa lega.
Vina masih setia menggendong Naya yang terlelap di bahunya, Devan yang melihat itu langsung beranjak dari duduknya.
__ADS_1
“Ayah, kami akan langsung ke kamar saja untuk meletakkan Naya sekaligus kami juga ingin beristirahat sebentar.” Pamit Devan terlebih dahulu.
Adi dan Bayu mengangguk.
“Tolong antar ayah mertua ku ke kamarnya.” Perintah Devan lagi pada asisten rumah tangganya.
“Baik tuan.” Sahutnya cepat.
Devan meraih Naya dalam gendongan Vina, pasangan suami istri itu lalu berjalan menuju kamar Devan yang berada di lantai atas.
Setelah mengantar Adi menuju kamarnya, Bayu pun beralih ke kamarnya. Perjalanan itu membuat mereka semua lelah dan ingin beristirahat sejenak.
***
Kamar atas.
Vina terpukau melihat kamar Devan yang menurutnya lebih bagus daripada di apartemen dulu. Ini kali pertama wanita itu masuk ke dalam kamar Devan.
Mata wanita itu tertuju pada foto besar dirinya yang terpampang tepat di atas dinding tempat tidur mereka. Lalu di sisi lain ada foto dirinya dan Devan saat masih bersama dulu.
“Sejak kapan foto ku ada di kamarmu?” Tanya Vina pada laki-laki itu.
“Sejak dulu saat kamu menghilang tanpa kabar.” Jawab Devan sambil melangkahkan kakinya menuju wanita itu.
“Kamu tau setiap malam sebelum tidur aku akan memandang fotomu terlebih dulu, saking rindunya aku sama kamu.” Ucap Devan tepat di telinga wanita itu.
Hal itu membuat Vina bergidik merasa geli.
“Sama dong.” Gumam wanita itu pelan tapi masih bisa di dengar oleh Devan.
“
Sama? Jadi kamu juga melakukan hal yang sama setiap malam karna merindukan ku?” Devan begitu senang mendengar apa yang Vina katakan barusan. Itu artinya selama ini mereka saling merindukan dan tidak bisa saling melupakan.
“Tapi itu dulu saat aku masih mengandung, mungkin karna efek janin di dalam perutku.” Elak wanita itu tidak ingin mengakui kalau sebenarnya wanita itu juga merindukan laki-laki itu bahkan sampai wanita itu harus menangis melampiaskan rasa rindunya pada Devan.
“Benar apa kata orang, ikatan batin antara anak dan orangtua memang begitu kuat.” Tutur Devan.
Vina dan Devan sama-sama memandang gadis kecil mereka yang sedang lelapnya di atas tempat tidur.
“Pasti sulit bagimu melewati masa-masa itu. Maaf, maafkan aku yang saat itu tidak berada di sampingmu.” Lirih Devan.
“Kenapa dulu kamu tidak memberitahukan kehamilanmu pada ku? Kenapa kamu menyembunyikan berita penting itu?” Tanya Devan beruntun. Laki-laki itu tidak berniat menyalahkan Vina hanya saja rasa penasaran membuatnya ingin mengetahui alasan wanita itu menyimpan rahasia besar ini sendiri.
__ADS_1
“Awalnya aku ingin memberitahu hal ini padamu. Tapi..”
“Tapi apa?” Tanya Devan memotong ucapan wanita itu.
Vina mencubit tangan laki-laki itu yang berada di perutnya.
“Awhh, sakit sayang.” Teriak laki-laki itu mengeluh kesakitan.
“Makanya jangan potong penjelasan orang, dengar dulu kek sampai selesai.” Kesal wanita itu.
“Hehe, maaf aku penasaran.” Ucap Devan cengengesan.
“Lanjutin ceritanya sayang.” Lagi-lagi Devan berbicara.
“Kamu masih ingat hari dimana kita berpisah?” Tanya Vina.
“Masih. Itu hari paling buruk yang ku benci sepanjang hidup ku.” Sahut Devan cepat.
Memang menurutnya hari itu adalah hari buruk dalam hidupnya, saat itu Devan merasa menjadi laki-laki lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa.
“Sebelum kamu mengatakan kata-kata itu, aku sempat ingin memberitahu kalau aku hamil tapi lagi-lagi kamu memotong ucapan ku saat itu. Itu sifat burukmu yang paling ku benci, memotong ucapan orang sebelum orang itu menyelesaikan ucapannya.” Cebik Vina kesal.
Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, salah tingkah? Jelas saja laki-laki itu salah tingkah, seumur-umur baru kali ini ada orang yang berani menegurnya telak selain orangtuanya.
“Iya maaf.” Hanya itu yang bisa laki-laki itu katakan.
“Mulai sekarang rubah sifat burukmu itu, di kantor pun sebisa mungkin dengarkan apa yang bawahanmu ucapkan hingga selesai.” Ujar Vina memperingatkan.
“Iya istriku, sayangku, cintaku.” Gemas Devan.
“Apasih, lebay kamu.” Cibir Vina.
“Aku mau tidur, capek.” Sambung wanita itu.
Vina meletakan tasnya di atas meja lalu berlalu menuju tempat tidur menyusul gadis kecilnya yang sudah lebih dulu masuk dalam alam mimpinya.
Rupanya Devan sengaja meletakan Naya di ujung agar Vina berada di tengah dengan begitu laki-laki itu bisa bebas memeluk wanitanya.
Melihat Vina sudah berada pada posisi yang di inginkan, Devan pun menyusul mengambil tempat di ujung.
Tangannya terulur memeluk wanita itu, Vina sendiri hanya membiarkan. Terserah laki-laki itu ingin melakukan apa, yang ia inginkan sekarang hanya tidur dan tidur.
❤️
__ADS_1
Author sedih nih, kok like dan votenya semakin sedikit ya😞