
Di dalam mobil ambulance menuju rumah sakit.
Devan rasanya ingin berteriak mengeluarkan seluruh amarahnya melihat Vina yang terluka akibat tembakan yang di lakukan wanita gila itu.
Aku mohon bertahan sayang. Harap Devan dalam hati. Tangannya memeluk erat Vina yang berada dalam dekapannya, Devan tidak peduli dengan darah yang mengotori bajunya.
“Tolong lebih cepat!” Pintah Devan pada sopir ambulance yang mengemudikan mobil itu.
Saat itu hanya ada Devan dan salah satu perawat di dalam, sementara Viko sedang menunggu Bayu dan Adi untuk bersama-sama ke rumah sakit saat Adi sudah sadar nanti.
Naya dan salah satu pelayan di rumah Devan di bawa pulang oleh Parto atas perintah tuannya.
Dalam perjalanan pulang ke rumah pun, Naya terus menangis dengan tubuh bergetar ketakutan. Bagaimana pun juga, mata anak kecil itu sempat melihat sendiri bagaimana sang bunda jatuh tersungkur memeluknya dengan bersimbah darah.
“Bunda.” Lirih Naya dalam tangisannya.
Pelayan yang bersamanya hanya bisa menenangkan gadis kecil itu. Mereka yang melihatnya turut merasa kasihan.
Apalagi Parto, laki-laki yang sudah beberapa tahun ini bekerja dengan tuannya tau persis bagaimana kehidupan Devan akhir-akhir ini.
Parto sendiri baru melihat betapa bahagianya Devan saat bersama Vina akhir-akhir ini, tidak seperti dulu yang hanya menghabiskan waktunya dengan kerja dan kerja. Devan sangat minim ekspresi, berbeda saat bersama Vina rasanya tuannya itu menemukan kebahagiannya kembali.
Tapi baru saja mereka merasakan bahagia, sebuah tragedi menimpa mereka.
Parto hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi keluarga tuannya, semoga nyonya mereka bisa lekas sadar dan sehat kembali.
***
Rumah sakit.
Devan berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi, hatinya gelisah dan tidak tenang.
“Tuhan, tolong istri hamba.” Gumam Devan lirih, tangannya menutup seluruh wajahnya.
Saat Devan tengah menutup seluruh wajahnya dengan tangannya, tiba-tiba dari jauh ada yang meneriaki namanya “Devan.” Panggil mereka sambil bergegas menghampiri laki-laki dengan pakaian bersimbah darah itu.
“Pah.” Sahut Devan lirih.
Bayu langsung memeluk anaknya, berusaha menguatkan Devan lewat pelukan yang di berikan.
Devan beralih pada Adi yang sedang berdiri menatap mereka “Ayah.” Suara Devan bergetar menyebut kata ‘Ayah’.
“Maaf, ini semua karna Devan. Vina terluka karna Devan, yah.” Laki-laki itu menyalahkan dirinya atas insiden ini.
__ADS_1
Devan merasa gara-gara dirinya yang dulu punya kaitan dengan Tiara hingga Vina yang terkena imbasnya karna obsesi gila wanita itu.
Adi tidak kuasa menahan air matanya, anak semata wayang sedang bertaruh nyawa di dalam.
“Sudahlah Devan, jangan menyalahkan dirimu nak. Ini sudah takdir Tuhan, mungkin Tuhan sedang menyiapkan sesuatu bagi kalian.” Adi berusaha menguatkan Vina, Adi tidak mau Devan menyalahkan dirinya atas kejadian ini.
Bagaimana pun juga tidak ada yang mau hal seperti ini terjadi.
“Tapi..” Devan hendak bersuara.
“Sudah, sudah. Lebih baik sekarang kamu berdoa agar Vina bisa selamat di dalam, berdoa semoga Tuhan memberi mukjizat.” Bayu memotong ucapan Devan yang hendak menyalahkan dirinya lagi.
Devan tersungkur ke bawah, rasanya kakinya sudah tidak kuat untuk berdiri. Lemas, itulah yang laki-laki itu rasakan.
“Kenapa Tuhan lagi-lagi menunda kebahagian kami. Apa lima tahun ini tidak cukup?” Kata-kata bodoh yang keluar dari mulut laki-laki itu.
Bayu refleks melayangkan tangannya tepat di pipi Devan.
“Sadar Devan. Apa pantas kamu menyalahkan Tuhan yang sudah begitu baik mempertemukan kalian kembali. Segera pergi dan berdoa minta ampunan pada Tuhan dengan begitu kamu akan melihat mukjizat yang Dia buat.” Tutur Bayu.
Devan masih saja terduduk di tempatnya, laki-laki itu enggan bergerak dari tempatnya.
“Viko, bawa dia pergi dan ganti bajunya!” Bayu kembali berbicara memerintahkan Viko agar membawa anaknya pergi membersihkan dirinya yang kacau itu.
Viko beralih menunduk hendak mengangkat Devan berdiri dari duduknya, tapi Devan dengan kasar menghempaskan tangan Viko.
“Aku tidak mau! Aku mau disini menemani Vina.” Devan menolak keras.
“Apa kamu mau menemui Vina dalam keadaan kacau seperti itu? Setidaknya bersihkan dirimu. Papa yakin petugas juga akan melarangmu masuk ke dalam ruangan steril seperti itu jika dirimu saja kotor seperti itu.” Devan masih saja diam, tapi sebenarnya dalam hati pria itu membenarkan ucapan sang papa.
“Seret dia.” Bayu sudah kesal melihat tingkah Devan.
Adi yang melihat mereka hanya diam saja, pikirannya saat ini masih tertuju pada anak perempuannya di dalam.
Devan akhirnya menurut, laki-laki itu berdiri di ikuti Viko di belakangnya.
Bayu menarik nafasnya panjang, diumurnya yang sudah lanjut seperti ini harus menghadapi masalah seperti ini.
***
Semua berdiri cemas di depan ruang operasi tempat Vina saat ini di tangani.
Ini sudah hampir 4 jam mereka menunggu tapi dokter yang menangani istrinya belum juga keluar.
__ADS_1
Bahkan saat Devan kembali dalam keadaan sudah bersih, tetap saja ruangan itu belum juga terbuka. Lampu operasi masih saja menyala.
Mereka masih tetap menunggu dengan harap-harap cemas.
Beberapa menit berlalu, lampu operasi akhirnya padam tanda operasi telah selesai.
Mereka berdiri di depan pintu menunggu dokter itu keluar.
Tidak lama dokter itu keluar dari ruang operasi.
“Bagaimana istri saya dok? Dia baik-baik saja kan?” Devan langsung mencerca dokter itu dengan pertanyaan.
Dokter itu menarik nafas panjang.
“Maaf tuan, luka yang di alami istri anda begitu sangat serius karna mengenai tulang belakangnya. Beruntung kami berhasil mengeluarkan pelurunya, tapi…” Dokter itu ragu ingin mengatakan berita buruk selanjutnya.
“Tapi apa dok?” Mereka serempak bersuara.
“Maaf kami harus mengatakan ini tuan, istri anda selamat tapi masih dalam keadaan koma akibat luka tembak itu apalagi darah yang keluar cukup banyak saat itu.” Jelas dokter itu.
Devan merasa dunianya akan runtuh sekarang. Bagaimana bisa Vina yang harus merasakan ini, kenapa bukan dia saja yang berada di posisi itu.
Semua syok mendengar penjelasan dokter itu.
“Banyak berdoa, Tuhan pasti akan menolong istri anda.” Ujar dokter itu.
“Istri anda akan di pindahkan ke ruangan khusus oleh petugas. Kalau begitu saya permisi.” Pamit dokter itu lalu beranjak dari hadapan mereka.
Devan masih diam di tempatnya, tatapannya kosong ke depan.
Viko yang berada di sana turut prihatin melihat musibah yang menimpa keluarga tuannya.
❤️
Sorry Devan🙏 Bukan Tuhan yang menunda kebahagian kalian, tapi author yang buat. Soalnya author harus mengacu pada judul yang sudah author buat🙏😜
Sekali lgi author minta maaf untuk keluarga Devan dan Vina
***
Untuk para readers semua, author mohon setelah membaca chapter ini jangan lupa vote kalian karna itu sangat-sangat berharga buat author❤️
Setelah itu jangan lupa like dan komen ya🙏Ngasih saran juga boleh👍 Author udah bingung mau bikin gimana kelanjutan Devan dan Vina🙏
__ADS_1