
Setelah perbincangan panjang antara dua keluarga itu, mereka pun memutuskan untuk kembali ke tempat masing-masing untuk beristirahat.
Bayu, Parto, Viko serta para asisten rumah tangga kembali ke penginapan sementara Devan tetap tinggal di rumah itu.
Vina sedang duduk di depan meja riasnya membersihkan segala make up yang menempel di wajahnya.
“Hhhh, akhirnya kita bisa bersama lagi. Kamu tau, ini seperti mimpi bagi ku.” Devan datang memeluknya dari belakang.
Jantung Vina berdetak sangat kencang saking gugupnya. Sementara Devan malah tersenyum merasakan irama jantung wanita itu.
“Kamu gugup?” Goda Devan sambil mengeratkan pelukannya.
“Devan, kamu ingin membuat ku sulit bernapas?” Ucap wanita itu merasa Devan terlalu erat memeluknya membuat ruang pergerakannya menjadi sempit.
“Suamiku, panggil aku dengan manis barulah aku lepas pelukan ini. Panggil sayang juga tidak masalah.” Ucapan Devan semakin membuat wajah Vina memerah malu.
Vina menarik nafas panjang “Suamiku, bisa tolong lepaskan aku.”
Devan tersenyum bahagia mendengar ucapan Vina barusan.
“Cup. Mendengarmu barusan membuat ku tidak sabar menunggu malam datang.” Devan mengecup pipi Vina sekilas sebelum melepaskan pelukannya.
“Mulai deh. Ingat ada Naya di sini.” Vina memperingati laki-laki itu.
“Malam ini Naya akan tidur dengan ayah.” Balas Devan santai.
“Siapa bilang?” Tanya Vina sambil tangannya kembali menghapus make up di wajahnya.
“Aku.” Sahut Devan santai.
“Naya tidak akan bisa tidur kalau tidak ada aku di sampingnya.” Ejek Vina.
Devan berpikir sejenak.
“Aku akan membujuknya, tunggu dan lihat saja.” Jawab Devan penuh percaya diri.
“Jadi bersiaplah untuk sebentar malam.” Lanjut laki-laki itu balik menggoda Vina yang wajahnya sudah merah merona akibat ucapan Devan barusan.
***
Malam harinya.
Setelah makan malam bersama, keluarga kecil itu memutuskan duduk di ruang tamu sekedar menurunkan makanan agar tercerna baik di dalam tubuh mereka.
Entah mengapa malam itu Naya terus menempel pada Vina dan Devan. Gadis kecil itu selalu berada di tengah-tengah mereka.
Kalau begini caranya malam pertama ku akan batal. Batin Devan gelisah melihat Naya yang ada di sampingnya sedang duduk sambil memeluk Vina dari samping, gadis kecil itu merasa nyaman dengan posisinya.
Lama mereka duduk bercerita tentang banyak hal, hingga “Hoam.. Bunda, Naya sudah mengantuk. Ayo kita tidur.” Ajak gadis kecil itu.
__ADS_1
Semua mata sontak memandang gadis kecil itu, terlebih Devan saat mendengar anaknya mengajak sang istri untuk tidur di kamar.
Vina menatap Devan yang saat itu juga sedang menatapnya, rasanya Vina ingin tertawa keras tapi ia urungkan.
“Mmmm sayang, malam ini tidurnya sama kakek dulu ya.” Ujar Devan membujuk gadis kecilnya.
Devan tanpa malu mengucapkan itu di depan ayah mertuanya, hal itu membuat Adi hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sementara Vina, mukanya sudah merah padam akibat tingkah Devan.
“Memangnya kenapa ayah? Biasanya juga Naya tidurnya sama bunda.” Elak gadis kecil itu.
Devan berpikir sejenak sebelum sebuah ide muncul dalam pikirannya.
“Sini ayah bisikin.” Ujar Devan yang di balas Naya dengan mencondongkan tubuhnya pada Devan.
Entah apa yang laki-laki itu bisikan, Vina yang berada di samping mereka saja tidak bisa mendengar.
“Baiklah, tapi ayah janji ya.” Ucap Naya setelah Devan selesai membisikan sesuatu di telinganya.
“Janji.” Sahut Devan cepat.
Naya pun mulai beranjak dari tengah-tengah mereka.
“Kakek ayo tidur, malam ini Naya akan tidur bersama kakek.” Ujar gadis kecil itu sambil menarik tangan sang kakek agar segera berdiri.
Mau tidak mau Adi pun berdiri mengikuti langkah gadis kecil itu yang sepertinya sudah sangat mengantuk.
“Apa yang kamu bisikan padanya?” Tanya Vina penasaran.
“Rahasia.” Jawab Devan dengan tampang yang menurut Vina sangat menyebalkan.
“Ayo tidur, ini sudah malam.” Ajak Devan tidak sabaran, laki-laki itu menarik tangan Vina untuk berdiri.
Sebelum masuk ke dalam kamar, mereka lebih dulu mengunci semua pintu dan mematikan lampu ruang tamu.
Vina gugup bukan main, meskipun mereka sudah pernah melakukannya tapi tetap saja wanita itu tetap malu dan gugup.
Devan sudah mengunci pintu kamar mereka.
Laki-laki itu berjalan menghampiri Vina yang sedang duduk di pinggir ranjang, wanita itu bingung harus melakukan apa.
“Devan.. a-aku...” Vina terbata-bata dalam berucap.
“Kenapa? Kamu gugup? Bukankah kita sudah pernah melakukan ini sebelumnya hingga Naya sekarang hadir di tengah-tengah kita. Santai sayang.” Tutur Devan seolah mengerti dengan kegugupan sang istri.
“Tapi..”
“Sssttt.” Desis Devan mencegah Vina berbicara.
__ADS_1
Tangan laki-laki itu langsung merangkul wanita itu, perlahan Devan membaringkan Vina di atas kasur tipis yang hanya bisa di gunakan untuk dua orang.
Jemari tangan Devan menelusuri setiap lekuk tubuh wanita itu membuat Vina merinding di buatnya.
“Akhirnya kita bisa seperti ini lagi, sedekat ini.” Ucap Devan pelan, hembusan nafas laki-laki itu membuat Vina memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut Devan di tubuhnya.
Devan mulai mengecup seluruh wajah Vina dengan lembut, terakhir Devan berhenti di bibir ranum wanita itu.
Bunyi kecupan bahkan lum*t*n terdengar di kamar itu.
Meskipun gugup, tapi Vina mencoba membiasakan dirinya dengan sentuhan laki-laki yang sudah menjadi suaminya saat ini.
Saat Devan ingin melepaskan satu persatu baju yang di kenakan oleh Vina, tiba-tiba wanita itu mengeluh sakit pada perutnya.
“Awwwh, perutku.” Keluh Vina seraya memegang perutnya yang mulai terasa sakit.
“Ada apa?” Tanya Devan panik.
“Perutku sakit.” Keluh Vina.
“Kenapa bisa begini? Apa kamu salah makan tadi.” Tanya Devan menduga-duga.
“Tidak tau. Aku ingin ke kamar mandi sebentar.” Tiba-tiba Vina teringat sesuatu. Wanita itu langsung berdiri dan berlalu keluar menuju dapur dimana kamar mandi juga berada di sana.
Sementara Devan, laki-laki itu juga mengikuti Vina ke dapur. Devan takut terjadi apa-apa dengan wanitanya.
Devan berjalan mondar-mandir di dapur sambil menunggu Vina keluar.
“Sayang, apa terjadi sesuatu?” Tanya Devan dari depan pintu kamar mandi.
Tidak lama pintu terbuka, Vina mengeluarkan kepalanya dari balik pintu.
“Devan maaf aku harus mengatakan ini, aku kedatangan tamu bulanan. Bisakah kamu membantu ku untuk mengambilkan pembalut dan cel*na d*lam ku di dalam kamar.” Vina mengucapkan itu dengan wajah memerah malu.
Wanita itu malu harus meminta tolong Devan mengambilkan ‘barang penting’ yang selalu wanita butuhkan jika kedatangan tamu bulanan meskipun Devan sudah menjadi suaminya sekarang.
Devan memijat kepalanya yang tiba-tiba sakit, hasratnya yang tadi bergelora tiba-tiba padam seketika.
“Maaf.” Ujar Vina merasa bersalah.
“It’s okay. Masih banyak waktu.” Ucap Devan tidak ingin Vina larut dalam rasa bersalah.
Devan pun menuju kamar untuk mengambilkan sesuatu yang tadi Vina minta.
Hahhh, nasib-nasib. Desah laki-laki itu dalam hati.
❤️
Jangan lupa tinggalkan jejak lewat vote, like dan komen kalian👍
__ADS_1
Oh iya author mau tau dong, sekalian mau berinteraksi dengan para pembaca. Kira-kira readers semua dari kota mana aja ya. Kalau author sendiri dari Bekasi😊