Bahagia Yang Tertunda

Bahagia Yang Tertunda
Chapter 24


__ADS_3

Vina kembali ke dalam ruang rawat Adi dengan menenteng plastik kresek di tangannya.


Saat Vina masuk dan melihat ke dalam, ternyata sudah tidak ada Devan dan pria yang tidak Vina ketahui identitasnya itu.


Saat tiba Vina sudah melihat Adi yang duduk dengan Naya di depannya. Sepertinya tadi kakek dan cucu itu sedang bermain.


“Bunda datang.” Teriak Naya kegirangan saat melihat kedatangan Vina dalam ruangan itu.


Vina berjalan seperti orang yang merasa kehilangan sesuatu dalam dirinya. Entah kenapa Vina menginginkan Devan untuk pergi tapi hatinya seperti menolak dan kesepian saat laki-laki itu tidak ada.


Konyol memang tapi itulah yang dirasakannya.


Vina berjalan menuju meja yang ada dalam ruangan itu, tangannya mengeluarkan dua bungkus nasi yang tadi di belinya.


“Ayah sudah baikan?” Tanya Vina sambil membuka bungkus nasi itu dan meletakkannya di sebuah piring yang tadi sempat ia minta kepada perawat yang ada disana.


“Sudah.” Jawab Adi.


“Makan dulu ayah.” Tutur Vina sambil menyerahkan piring yang berisi makanan itu.


“Naya juga makan.” Lanjut Vina.


“Kamu tidak makan?” Tanya Adi saat melihat hanya ada dua bungkus yang dibawah Vina.


“Vina sudah makan ayah.” Balas wanita itu sambil tersenyum hangat pada sang ayah.


Adi hanya mengangguk-anggukan kepalanya lalu melanjutkan makannya.


Vina disana hanya duduk sambil memperhatikan mereka, pikirannya masih berputar seputar pertemuannya tadi dengan Devan.


Semoga Devan tidak curiga, semoga Devan percaya dengan kata-kata ku tadi.


Apa yang dia lakukan disini? Kenapa Devan bisa ada di sini.


Vina sibuk dengan pikirannya sampai-sampai wanita itu tidak sadar sedari tadi Adi memperhatikannya.


“Ada apa nak? Apa kamu ada masalah?” Ucap Adi.


“Ha, t-tidak ayah. Tidak ada apa-apa.” Gugup Vina menjawab.


“Ayah dan Naya tunggu disini ya, Vina mau keluar untuk menemui dokternya dulu. Mau tanya ayah sudah bisa keluar atau belum.” Lanjut Vina mengalihkan topik.


“Iya.” Balas Adi dan Naya serempak.


Vina pun beranjak keluar dari ruang rawat Adi menuju ruangan dokter.


***

__ADS_1


Setelah menemui dokter tadi, Vina di perbolehkan membawa pulang Adi kembali ke rumah. Dokter hanya mengatakan Adi hanya butuh istirahat apalagi di umurnya yang sudah rentan seperti itu.


Mereka sampai di rumah saat waktu sudah sore.


Warung juga sudah di tutup oleh bu Romlah atas perintah Vina.


Saat sampai di rumah, bu Romlah sudah menunggu mereka disana.


“Syukurlah keadaan ayahmu sudah lebih baik.” Ucap bu Romlah sambil membukakan pintu rumah mereka lalu membantu Vina memapah Adi masuk.


“Terima kasih bu sudah membantu kami.” Ucap Vina tulus.


“Sama-sama Vina. Sesama tetangga memang harus saling menolong.” Balas bu Romlah.


“Oh iya Vina, saya baru tau ternyata orang yang menolong ayah kamu adalah orang yang juga mengenalmu saat di kota. Tadi orang itu sempat singgah di warung untuk membeli makanan, katanya sih mau dibawa untuk makan dalam perjalanan kembali ke kota.”


“Orang itu banyak bertanya tentang kehidupanmu selama disini. Dia mengira bahwa kamu sudah menikah.” Lanjut bu Romlah menjelaskan.


“Ibu bilang apa saja pada orang itu?” Tanya Vina was-was.


Vina takut bu Romlah menceritakan semuanya dan Devan akan mengetahui kebohongannya.


“Semua. Dari awal kamu tiba di kampung ini, maaf ya saya jadi menceritakan semuanya tentang kehamilanmu dan cacian warga saat itu.” Ucap bu Romlah merasa tidak enak.


“Soalnya orang itu bertanya, dan karna dia bilang dia adalah teman dekatmu saat di kota jadi saya berpikir tidak apa-apa menceritakan semuanya.” Lanjut bu Romlah menjelaskan.


Devan pasti sudah tau semuanya. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan, aku takut Devan akan mengambil Naya dari sisiku. Batin Vina gelisah.


“Vina, Vina.” Panggil bu Romlah karna Vina hanya diam, tidak merespon apa yang dia jelaskan tadi.


“Ya. Emm itu bu, setelah ibu menceritakan semuanya. Apa yang dikatakan orang itu dan bagaimana ekspresinya?” Ragu Vina bertanya.


“Kaget, tapi saya juga melihat raut sedih di wajahnya. Setelah cerita-cerita lalu laki-laki itu pamit pergi karna supirnya sudah menunggu. Katanya sih mereka mau kembali ke kota karna harus menemani ayahnya yang sakit.” Jawab bu Romlah.


Mendengar penuturan bu Romlah, Vina jadi teringat pada Bayu yang selama ini baik padanya meskipun Bayu tidak bisa berbuat banyak karna Santi tapi Vina tetap menyanyagi Bayu seperti ayahnya sendiri.


“Saya kembali ke sebelah ya, kalau butuh bantuan panggil saja.” Lanjut bu Romlah pamit ingin kembali ke rumahnya.


“Iya bu. Sekali lagi Vina ucapkan terima kasih atas bantuan ibu pada keluarga kami.” Balas Vina.


Setelah bu Romlah pergi, Vina cepat-cepat masuk lalu menutup pintu rumahnya.


Wanita itu mondar-mandir gelisah memikirkan penuturan bu Romlah tadi.


“Devan pasti akan datang kembali, aku tau itu.” Gumam Vina gelisah.


Wanita itu tau Devan pasti tidak akan tinggal diam, apalagi setelah mengetahui bahwa Vina berbohong.

__ADS_1


“Bagaimana ini? Apa aku pergi saja dari sini dan membawa ayah serta Naya bersama ku.”


“Aku punya cukup tabungan dari hasil penjualan. Rumah ini biar di titip saja pada bu Romlah, dan warung itu bisa di berikan pada orang lain yang mau berjualan.”


“Ya, lebih baik pindah dari desa ini sebelum Devan kembali.” Tekad Vina mantap.


Vina menganggap ini kesempatan bagus selagi Devan kembali ke kota untuk melihat ayahnya. Dengan begitu mereka bisa pergi sebelum Devan kembali kesini atau menyuruh orang untuk menahan mereka disini.


Vina masuk ke kamar untuk membereskan beberapa barang penting yang akan mereka perlukan nanti.


Setelah itu Vina keluar menemui Adi dan membicarakan niatnya. Adi sempat kaget dan menolak, tapi saat melihat Vina yang memohon-mohon dan menangis di bawah kakinya akhirnya Adi setuju meskipun ia sendiri bingung kenapa Vina melakukan ini tiba-tiba.


Malam pun tiba.


Vina, Adi dan Naya sudah bersiap untuk meninggalkan desa itu.


Vina juga sudah menemui bu Romlah untuk menjaga rumah mereka dan memberikan warung itu pada bu Romlah untuk digunakan.


Wanita itu juga memohon agar bu Romlah tidak memberitahukan kepindahan mereka pada siapa pun.


Saat Vina, Adi dan Naya sudah berjalan agak jauh dari rumah mereka. Tiba-tiba sebuah lampu mobil menyorot mereka dari belakang.


Pippp.


Bunyi klakson mobil yang menghentikan langkah mereka.


Pintu mobil terbuka menampilkan seorang pria yang sangat Vina kenali. Pria itu berjalan menghampiri mereka, Vina terpaku di tempatnya.


Wanita itu kaget, bukankah pria itu seharusnya kembali ke kota.


“Mau kamu bawa kemana anakku. Sampai kapan kamu akan memisahkan anak dari ayahnya, Vina.” Ucap laki-laki itu menekan setiap kata-katanya.


Itu membuat Vina merinding.


“Om baik.” Panggil Naya. Anak itu tidak tau bahwa kondisi di sekitarnya saat itu sedang tidak baik.


Hanya mendengar apa yang dikatakan pria itu saja, Adi sudah bisa menebak bahwa dia adalah ayah kandung Naya.


Meskipun syok dan kaget, tapi sebisa mungkin Adi menyembunyikan ekspresinya.


Adi tidak menyangka ayah Naya ternyata bukanlah orang sembarangan, terlihat dari gaya orang itu.


Adi juga tidak menyangka ternyata orang yang menolongnya siang tadi adalah orang yang telah menghancurkan hidup sang anak.


Ternyata dunia ini sungguh sempit. Ucap Adi dalam hati.


❤️

__ADS_1


Terus berikan dukungannya lewat like, komen dan vote sebanyak-banyaknya ya😘😊


__ADS_2