Bahagia Yang Tertunda

Bahagia Yang Tertunda
Chapter 15


__ADS_3

7 bulan berlalu setelah Vina pindah ke kampung.


Banyak hal yang sudah Vina hadapi mulai dari cemoohan para ibu-ibu kampung sampai tatapan sinis orang-orang padanya.


Awalnya Vina merasa terpuruk sampai-sampai wanita itu tidak berani keluar dari dalam rumah, makan pun harus sang Ayah yang ke pasar.


Adi sebagai sang ayah juga kadang prihatin melihat kondisi sang anak yang jauh dari kata baik-baik saja.


Tapi lambat laun Vina mulai bangkit dan mulai menerima keadaan berkat perkataan Adi yang mengatakan “Asal kamu kuat dan sabar menghadapi ujian, ayah yakin kamu akan terbiasa bahkan tidak peduli dengan omongan orang-orang. Toh kita tidak akan selamanya bisa membuat orang suka dan percaya pada apa yang kita lakukan. Lebih baik sekarang kamu fokus pada anugrah yang Tuhan kasih, ayah yakin semua sudah di atur oleh Yang Diatas.”


Kata-kata sang ayah menjadi penguat bagi Vina sampai saat ini. Semua omongan yang mencela dirinya sebisa mungkin Vina hiraukan.


***


Pagi itu Vina terbangun dengan perut yang sakit luar biasa.


“Aww..” Ringis Vina.


“Ayah.. ayah tolongin Vina.” Teriak Vina memanggil sang ayah.


Tidak lama Adi datang dengan raut wajah khawatir.


“Ada apa nak?” Panik Adi saat melihat Vina yang sudah penuh dengan keringat.


“Perut Vina sakit yah, sepertinya Vina mau melahirkan.” Jawab Vina terbata-bata menahan sakit.


“Tahan nak, ayah ke sebelah dulu minta bantuan bidan Erni.” Balas Adi lalu berjalan cepat keluar untuk meminta pertolongan.


Untung rumah bidan Erni tidak jauh dari tempat mereka.


Tok..Tok..Tok


Tergesa-gesa Adi mengetuk pintu rumah bidan Erni.


“Nak Erni.. nak Erni tolongin bapak.” Teriak Adi dari depan pintu sambil tangannya tetap mengetuk pintu.


Tidak lama ada sahutan dari dalam “Iya sebentar.”


Pintu terbuka menampilkan seorang wanita yang tak lain adalah Erni.


“Nak Erni tolong Vina mau melahirkan sekarang.”


“Astaga, ayo pak kita kesana sekarang.” Balas Erni tak kalah paniknya.


Setelah menutup pintu rumahnya, Erni pun mengikuti Adi kerumah.


Untung saat itu masih terlalu pagi dan Erni belum pergi ke tempat prakteknya jadilah Erni masih sempat membantu Vina yang akan melahirkan.


Dari luar saja Erni bisa mendengar ringisan rasa sakit Vina, jiwa ingin membantu semakin besar.


Tanpa aba-aba Erni langsung masuk dalam kamar Vina.


“Astaga Vina.” Kaget Erni melihat Vina yang sudah basah dengan keringat.


“Tolong mbak.” Pintah Vina.


“Iya-iya.”


“Minta maaf pak tolong tunggu di luar ya, sekalian tolong siapkan keperluan untuk bayinya nanti.” Lanjut Erni berbicara pada Adi.

__ADS_1


Setelah Adi keluar, Erni pun menutup pintu.


***


Sementara di tempat lain.


Seperti biasa Bayu dan Santi akan bangun pagi untuk melakukan olahraga ringan di pagi hari.


Dan untuk Devan dan Tiara, mereka sudah pindah ke sebuah rumah yang di beli oleh orangtua Devan sebagai hadiah pernikahan.


Selama tinggal bersama Tiara, Devan tidak pernah menyentuh wanita itu. Tidur pun di kamar yang berbeda.


Entah kenapa dengan wanita lain Devan tidak pernah bergairah, dalam pikirannya hanya Vina dan Vina.


Jika di tanya tentang cucu oleh Santi, Devan akan beralasan kalau memang Tuhan belum memberi kepercayaan pada mereka.


Tiara ingin mengadu pada mamanya dan mama Devan kalau selama ini mereka tidak pernah melakukan hubungan suami istri pada umumnya tapi setelah di pikir-pikir Tiara merasa sangat malu kalau sampai mereka tau kalau selama ini Devan tidak tertarik padanya.


Selama ini juga Devan akan pergi pagi dan pulang larut saat Tiara sudah tidur. Itu sengaja Devan lakukan karna malas jika harus berhadapan dengan wanita itu.


Kembali pada Bayu dan Santi.


“Mama mau ke kamar mandi dulu cuci muka.” Ucap Santi sambil berjalan menuju kamar mandi.


“Iya. Jangan lama-lama ma, nanti mataharinya naik dan semakin panas.” Sahut Bayu.


Sambil menunggu Santi keluar, Bayu menyalakan televisi untuk melihat berita.


Beberapa menit berlalu tapi Santi belum juga keluar.


“Katanya cuci muka tapi kok lama.” Gerutu Bayu.


Tidak ada sahutan dari dalam.


“Ma, mama.” Panggil Bayu lagi.


Lagi-lagi tidak ada sahutan.


Karna kesal Bayu pun berjalan menyusul Santi ke dalam kamar mandi.


Ceklek.


“MAMA.” Teriak Bayu kaget melihat Santi yang sudah tergeletak di bawah lantai kamar mandi.


Cepat-cepat Bayu mengangkat Santi keluar dari sana.


“Parto, Parto.” Teriak Bayu memanggil orang yang biasa membawa mobil mereka.


Dari belakang Parto muncul dengan nafas tersenggal-senggal habis lari.


“Iya pak.” Sahut Parto cepat.


“Siapkan mobil kita ke rumah sakit. Ibu sepertinya jatuh di kamar mandi.” Balas Bayu panik.


Tanpa banyak bertanya, Parto pun keluar untuk menyiapkan mobil.


Bayu juga keluar dengan Santi dalam gendongannya.


Mobil melaju kencang menuju rumah sakit, keadaan jalan pagi itu cukup lenggang hingga membuat mereka tiba dengan cepat di rumah sakit.

__ADS_1


Bayu turun menggendong Santi masuk ke dalam sambil berteriak meminta bantuan para medis.


“Tolong, tolong istri saya.” Teriak Bayu.


Para petugas medis pun dengan cepat membantu Bayu. Mereka membawa Santi ke ruang UGD menggunakan brankar.


“Mohon tunggu di luar.” Cegah salah satu perawat saat Bayu hendak ikut masuk ke dalam.


Bayu pun menunggu dengan gelisah di depan ruangan. Hanya sebentar saja dan dokter sudah keluar lagi.


Dokter itu keluar dengan wajah yang sulit di artikan.


“Bagaimana istri saya dok?” Tanya Bayu.


Dokter itu hanya menggelengkan kepalanya.


“Maaf pak, dengan berat hati harus kami katakan istri anda sudah meninggal. Menurut perkiraan istri anda sudah tidak ada setengah jam yang lalu sebelum di bawah kemari.” Jelas dokter itu.


“Apa?” Bayu langsung terduduk di lantai.


Cepat-cepat dokter itu menahan tubuh Bayu yang tiba-tiba lemah.


“Kami turut berduka cita pak, bapak yang kuat.” Ucap dokter itu lagi.


Bayu terduduk dengan air mata yang mengalir.


Setengah jam yang lalu, itu berarti istrinya sudah tidak ada saat di kamar mandi.


Dengan tangan bergetar Bayu meraih ponselnya dari dalam kantong celana untuk menghubungi Devan, anaknya.


“Pagi pah.” Terdengar suara berat khas bangun tidur dari seberang sana.


“Mama sudah tidak ada Devan, hikss.” Ucap Bayu langsung.


“Papa, apa maksudnya pah?” Devan mulai panik disana mendengar papanya menangis tiba-tiba.


“Ada apa ini pah?” Tanya Devan lagi.


“Mama..mama meninggal nak.” Lirih Bayu.


“Apa?” Kaget Devan.


“Papa dimana sekarang?” Tanya Devan lagi.


“Di rumah sakit xxx.” Jawab Bayu lemah.


Setelah itu sambungan telpon di putus dari sebelah sana.


***


Disaat keluarga Devan sedang bersedih dengan meninggalnya Santi.


Di tempat lain justru Vina dan ayahnya sedang bahagia dengan lahirnya seorang bayi perempuan cantik di tengah keluarga mereka.


Takdir tidak ada yang tau, semua sudah di atur oleh Yang Diatas.


❤️


Jangan lupa vote, like dan komen sebanyak-banyaknya😘 Oh iya kasih bunga sekebon juga nggak papa, author terima kok😜🤭😂😂

__ADS_1


__ADS_2