
seminggu sudah sejak pertemuan Shanti dengan Max. tapi belum juga ada kabar dari nya.
Shanti diam-diam memang sedang menunggu kabar Max. ia penasaran sekali dengan laki-laki yang dulu pernah ada di dalam hatinya.
pertemuan mereka kemarin membuat Shanti kembali mengingat kenangan indah bersama Max yang dengan terpaksa harus ia kubur dalam-dalam.
Shanti juga mengingat mengapa mereka terpaksa harus mengakhiri hubungan cinta mereka yang kala itu sedang bersemi bak bunga di taman.
flash back 18th yang lalu.
"Shan... aku akan melanjutkan kuliahnya ke pulau Jawa..."
"apa?! jauh sekali?!"
"hanya lima tahun Shan..."
"iya kenapa harus sejauh itu?! apa tidak bisa berkuliah disini saja?!"
"ini permintaan orang tua ku Shan... mereka ingin aku meneruskan usaha mereka. jadi mereka ingin aku kuliah di universitas yang bagus..."
"iya aku tau kamu memang penerus mereka. tapi disini juga kan banyak universitas yang bagus dan jurusan yang mau kamu ambil juga ada disini. jadi kenapa harus jauh-jauh ke Jawa sih?!"
"aku nggak bisa membantah keinginan mereka Shan.."
"hemmzzz. dan lagi kenapa lama sekali harus sampai lima tahun?!"
"ya itu sudah jadi keputusan orang tua ku. aku harus menamatkan S1 dan magang di tempat nenek setahun. baru bisa kembali kesini."
"terus aku gimana dong Max?! tega kamu ninggalin aku sendiri?!"
"ya bukan gitu.... atau kamu ikut aja ke Jawa kuliah di sana juga?!
"kamu kan tahu giman keadaan keluarga aku Max. jadi nggak mungkin lah aku kuliah disana..."
sambil cemberut Shanti terus saja protes dengan keinginan kekasihnya yang akan berkuliah di Jawa.
Max memang berasal dari keluarga yang berada. sedang Shanti sendiri berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja.
bagi keluarga Max pendidikan adalah hal yang utama dan harus memenuhi standar yang lebih baik. dan lagi Max adalah anak semata wayang mereka. jadilah tumpuan hidup dan harapan orang tuanya hanya pada Max seorang.
bukan perkara asing lagi dalam mencari ilmu pulau Jawa memang banyak menjadi tujuan para pemimpi untuk melanjutkan pendidikan dalam meraih cita-cita.
tapi bagi Shanti jarak yang terlalu jauh membutnya banyak berfikir tentang itu semua. selain keluarga nya yang tak mengizinkan. faktor biaya juga menjadi pertimbangan nya.
di tambah lagi, bagi keluarga Shanti anak perempuan yang telah menamatkan sekolah dan sudah cukup umur lebih baik menikah saja. karena kodrat wanita itu memang dirumah kan.
__ADS_1
"kapan kamu akan berangkat?!"
"besok pagi aku sudah harus berangkat..."
Dangan tertunduk lesu Max mengatakan kalau dia akan pergi sesegera mungkin.
"kenapa mendadak sekali?!"
sebenarnya ini tidak mendadak Shan. hanya aku saja yang lupa untuk memberitahu kamu. maaf kan aku ya Shan..."
"kamu memang jahat sekali Max! atau memang sejak awal kamu memang tak pernah menganggap aku sebagai pacar mu?!"
"bukan begitu Shan.. banyak hal yang harus aku persiapkan membuat aku lupa untuk memberitahu kamu..."
"aku heran sama kamu Max! kenapa hal sepenting ini harus kamu sembunyikan dari aku?!"
.... Max tak menjawab. ia hanya diam saja dan larut dalam fikiranya
"atau memang selama ini hanya aku saja yang mencintai sendiri disini? sedangkan kamu?! entah lah... aku tak tau"
Shanti menjeda ucapannya sejenak.
"lebih baik kita putus saja Max. aku tidak mungkin bisa bertahan dengan hanya mencintai sendiri."
"kalau kamu juga mencintai aku. tidak mungkin kamu lupa memberi tahu aku hal sepenting ini. dan lagi aku tidak yakin apakah kamu bisa setia di sana."
"kamu bicara apa sih Shan?! aku pasti akan selalu setia untuk kamu Shan... percaya lah sama aku."
tiba-tiba HP Shanti berdering mengagetkan Shanti dari lamunanya akan masa lalu.
flash back off.
di raihnya benda pipih itu. dan tanpa fikir panjang ia segera menjawab panggilan itu.
"halo..."
"hai Shan apa kabar?!"
suara di seberang mengagetkannya. Shanti terdiam sambil memikirkan apakah benar itu suara Max?!
ia menjauhkan HP nya dari telinganya dan di lihatnya nama yang tertera di sana. benar saja itu Adah nomor Max yang menghubungi dirinya.
"Shan, apa kamu disana?!"
"eh... i.. iya Max aku masih disini... ada apa menghubungi aku?!"
__ADS_1
Shanti sedikit tergagap.
"owh tidak ada apa-apa aku hanya ingin bertanya apakah kamu ada waktu luang?!"
"waktu luang?!" Shanti balik bertanya pada Max Karen ia tak mengerti maksut pertanyaan nya itu.
"iya. apakah kita bisa bertemu?! aku ingin meminta maaf tentang tempo hari yang hampir menabrak mu..."
"owh... tentang itu aku sudah memaafkan mu Max jadi tidak perlu repot-repot meminta maaf lagi."
"bukan begitu Shan... selain itu juga aku memang ingin bertemu dengan mu..."
Max terdiam sejenak.
"aku merindukan mu Shan..."
tak ada jawaban dari Shanti. ia tak mampu berkata-kata. bibirnya kelu dan air mata nya tiba-tiba menetes begitu saja di pipinya.
entah apa yang ia fikirkan saat ini. tiba-tiba dadanya begitu sesak dan nafasnya tercekat di tenggorokan. seolah dunia berhenti sejenak.
"maafkan aku Shan... jika kau mau menemui aku. aku akan tunggu kamu besok jam 11 di kafe xx dekat Fila lama orang tua ku."
tuututt
tanpa menunggu persetujuan dari Shanti Max sudah memutuskan sambungan telepon nya. meninggalkan Shanti yang masih terdiam dengan fikiran-fikiran yang entah apa.
"apa yang harus aku lakukan?!"
ia bicara pada dirinya sendiri. ia tertunduk di kursi, bahunya berguncang dan air matanya pun tak mau berhenti mengalir. entah apa yang ia tangisi saat ini.
apa ia menangisi Max yang ternyata masih merindukan dirinya. atau ia menangisi kenyataan bahwa ia juga masih sangat mencintai lelaki itu. tapi bagaimana dengan Ridho yang telah memberikan dirinya kasih sayang dan keluarga yang begitu sempurna?
entahlah. fikiranya berkecamuk tak tentu arah membuatnya pusing dan lama kelamaan ia tertidur di kursi itu Karen lelah menangis.
hingga menjelang malam Shanti masih di sana hingga Ridho yang baru saja selesai mandi melihat iba pada istrinya yang terlihat lelah tertidur di sofa. karena tak biasanya Shanti tertidur di sana. meski hanya sekedar tidur siang Shanti pasti akan berbaring di kamarnya.
Ridho duduk di samping tubuh istrinya. diperhatikan wajah sembab itu. masih ada sisa air mata yang tertinggal di sana.
"apa yang membuat mu menangis Shan?!" tanya Ridho pada dirinya sendiri.
"apa aku membuat kesalahan?!" ia masih saja bermonolog sendiri.
"maafkan aku Shan..."
perlahan ia mengangkat tubuh Shanti, membopongnya masuk kekamar dan membaringkan tubuh mungil itu ke atas ranjang.
__ADS_1