Bahtera Rumah Tangga

Bahtera Rumah Tangga
Hampir Celaka


__ADS_3

Shanti masih saja mematung di tengah jalan tanpa menyadari apa yang terjadi. hingga satu tangan menyentuh pundaknya menyadarkan nya dari ketakutan.


" mbak tidak apa-apa?!"


kata pengendara motor merah yang hampir menabrak Shanti dengan sambil menepuk bahu Shanti.


Shanti yang merasa bahunya di tepuk ia pun menoleh. dan betapa terkejutnya ia saat menyadari siapa orang yang hampir saja menabraknya.


wajahnya yang pucat kini semakin pias menatap orang yang ada dihadapannya. seolah-olah kini Shanti tengah melihat hantu saja.


Shanti masih tak menyahut. ia tetap diam dan terbengong sambil menatap tak berkedip orang yang sedang berusaha menyadarkan nya.


karena tak segera mendapatkan jawaban pria itu membawa Shanti ke tepi jalan. untuk menghindar dari kendaraan yang lewat.


"mbak bisa bahaya kalau menyeberang jalan sembarangan! apalagi sambil melamun seperti tadi!"


"Max..."


bukanya menjawab. Shanti malah bergumam sendiri sambil terus memperhatikan orang yang ada di hadapannya itu.


"Mbak oy..!!! kalau diajak bicara itu nyaut dong! malah bengong!!!"


habis sudah kesabarannya karena merasa diacuhkan. Max pun meninggikan suaranya untuk menyadarkan Shanti.


"eh...! iya iya maaf..."


hanya itu yang mampu Shanti ucapkan karena ia masih tegang. ia pun menundukkan kepalanya tak berani lagi menatap orang itu.


Max makin dibuat bingung dengan tingkah Shanti yang malah terlihat semakin ketakutan setelah ia bentak tadi.


"maaf mbak bukanya maksut saya seperti itu. saya hanya berusaha menyadarkan mbak agar tak melamun lagi. kenapa melamun sambil menyebrang?! bahaya mbak..."


Shanti yang mendengar kata-kata Max pun kembali menatap pria itu dengan pandangan yang sulit diartikan.


"kau tak mengenaliku?!"


bukanya menyahuti Max, Shanti malah menjawab pertanyaan Max dengan pertanyaan juga.


Max menatapnya bingung. karena suasana panas yang terik dan situasi yang menegangkan tadi Max tak menyadari siapa yang sedang berbicara dengannya saat ini.


lama ia menatap Shanti sambil memikirkan siapa gerangan orang yang ada dihadapannya itu.


"ya sudah tak perlu di bahas lagi. maaf sudah hampir membuat anda celaka."


Shanti segera berlalu dari hadapan Max. ia menuju ke bak sampah tempat awal yang ingin ia tuju.


ia meninggalkan Max yang masih berfikir, bukan lebih tepatnya melamun di sana.


sepertinya penyakit melamun sedang tenar. terbukti ia pun malah ketularan Shanti melamun disana.


Shanti menghembuskan nafas nya berat. sepertinya ia sedang kecewa. tapi ia pun tak tau apa yang membuatnya kecewa.

__ADS_1


ia tak lagi menghiraukan Max orang yang hampir menabraknya tadi. ia segera beranjak pergi.


"Shanti....!!"


sebelum ia menginjakkan kaki di aspal jalan Max memanggil nya. kakinya respek berhenti melangkah.


ia berdiri membelakangi orang yang memanggilnya itu.


mendengar suara Max memanggil namanya tiba-tiba dadanya bergemuruh, jantungnya berdetak kencang dan perlahan air matanya jatuh di pipi.


awalnya ia mengira Max sudah lupa padanya dan sudah tak mengenaliny lagi.


ia pun menyadari itu saat membuang sampah tadi. ia cukup sadar diri sudah berapa tahun mereka berpisah.


umur yang bertambah membuat banyak perbedaan diwajah mereka. dan lagi mungkin sudah banyak hal yang Max lalui juga kenangan banyak orang membuat Max sudah pasti melupakannya.


"apakah benar itu kau Shanti?!"


tanya Max lagi memastikan. karena Shanti yang tidak menyahut kala ia panggil.


Shanti mengusap air matanya dan menghirup nafas dalam-dalam menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba melanda.


"ternyata kau masih tau namaku. kupikir sudah lupa."


ia menoleh ke arah Max berada sambil tersenyum kaku. ia tak berani menghapiri Max lagi. jadilah ia hanya berbicara dari jarak yang sedikit jauh.


"aku tidak lupa. hanya saja situasi tadi sedikit membuat fikiran ku entah kemana."


"owh begitu. maaf tadi aku memang tidak memperhatikan jalan sampai bikin kamu hampir celaka."


Shanti masih mencoba bersikap biasa saja. ia berusaha keras menyembunyikan perasaan aneh dan tak biasa yang kini melandanya.


pertemuan ini membuatnya Dejavu. ia kembali mengingat kenangan masa lalu saat SMA.


kenangan saat pertama kali mereka bertemu di parkiran sekolah saat Max yang saat itu juga hampir menabrak Shanti dengan motor merahnya.


mengingat itu ia pun segera menoleh kearah motor Max dan memperhatikan nya. motor besar dengan harga selangit berwarna merah terparkir di bawah pohon mangga di tepi jalan.


"sepertinya dia masih menyukai warna menyala itu"


gumam Shanti berbicara sendiri sambil mengamati motor itu.


"aku masih seperti yang dulu"


tiba-tiba saja Max sudah ada dihadapannya. hal itu membuat Shanti terkejut karena tak menyadari kedatangan Max di sana.


"kau membuat aku kaget saja"


"hemmheemm... maaf kamu. aku sengaja memang ingin mengagetkan mu. karena kuperhatikan kau sejak tadi melamun terus !"


"bukan melamun hanya sedikit memikirkan kenapa kau masih menyukai warna itu...?!"

__ADS_1


"entah lah... mungkin karena terlalu banyak kenangan dengan warna itu membuatku semakin menyukainya."


tiba-tiba suasana menjadi hening dan kaku. Shanti yang hanya terdiam sambil memikirkan entah apa. sedangkan Max tak tau harus berkata apa lagi, membuat keduanya dilanda serangan bisu disana.


Shanti yang tak lagi menyahut itu ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon.


"aku minta maaf tentang kejadian tadi yang hampir menabrak mu."


kata Max kembali memulai pembicaraan. setelah beberapa saat.


"em... tak apa. itu juga salah ku yang menyeberang jalan tidak hati-hati."


"iya tetap saja kau hampir celaka"


"sudah lah yang penting kan aku sekarang baik-baik saja."


"syukur lah..."


"kau sepertinya sedang terburu-buru tadi?!"


"astaga!! aku harus segera ke Fila ada tamu dari luar negeri datang!!"


Max baru tersadar kemana tujuannya tadi. ia juga baru teringat dengan pekerjaan yang sejak tadi memburunya hingga membuat ia terburu-buru dan mengebut di jalanan.


"Hem... pantas saja kau mengebut tadi!"


"Shan, sekali lagi aku minta maaf ya. sekarang aku harus pergi dulu. karena mungkin tamuku sudah lama menunggu di Fila."


"iya tidak apa-apa. ya sudah sana pergi"


sebelum beranjak Max mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya seperti mencaris sesuatu.


"kau sedang mencari apa?!"


"apa kau tinggal disekitar sini?!"


"em?... tidak. aku sedang mampir kerumah ibu ku. itu rumahnya."


Shanti menjelaskan keberadaan nya disini sambil menunjuk kearah seberang dimana rumah ibunya berada.


"owh begitu!"


tiba-tiba Max menyodorkan HP merah miliknya kearah Shanti.


"untuk apa HP ini?!"


"masukkan no mu. supaya aku bisa menghubungi mu lain hari untuk menebus kesalahan hari ini"


"ah... tidak perlu Max aku baik-baik saja kok."


Shanti menolak permintaan Max karena ia merasa tak ada yang perlu di cemaskan dari keadaanya yang baik-baik saja setelah hampir tertabrak tadi.

__ADS_1


__ADS_2