Bahtera Rumah Tangga

Bahtera Rumah Tangga
sambal terasi


__ADS_3

flash back off


sinar mata yang teduh dan menenangkan milik seorang Ridho sedang memandang ke arah Shanti.


ia memperhatikan istrinya yang ada di dalam pelukannya saat ini. memperhatikan wajah Shanti dengan sedikit keheranan. semakin ia perhatikan semakin ia penasaran.


"Shan... kenapa pipimu nampak sedikit merah ini yang sebelah kiri?!"


Shanti terkejut dan reflek saja ia segera melepaskan pelukan Ridho dan memegangi pipi bekas tamparan Rina.


meski sudah tak terasa sakit tapi ia tak menyangka jika bekas kemerahanya masih tertinggal di sana.


"ah.. ap..pa iya mas?;"


Shanti tergagap menjawab pertanyaan Ridho. dia beranjak dari sana menuju ruang TV. disana ia meraih kaca yang tergeletak di atas meja.


meraba dan memperhatikan pipinya yang memang masih terlihat sedikit merrah di ujungnya. ia memandangi bekas itu dengan perasaan yang rumit dan was was tentunya.


Ridho yang juga mengikutinya ke ruang TV terheran melihat ke arah Shanti. entah apa yang tengah ia fikirkan saat ini.


"apa kau berkelahi dengan seseorang dek?;"


"tidak kok mas..."


dia menggeleng lalu meletakkan kembali cermin itu di meja dan ia duduk di sofa.


"tadi itu ada ibu-ibu yang duduk di sebelah aku. dia itu kegirangan banget waktu anaknya bisa smash dengan sempurna waktu pertandingan. dia heboh banget Sampek nggak sengaja sikutnya kena pipi aku mas..."


Shanti memikirkan alasan yang dirasa sangat masuk akal. ia takkan mungkin mengatakan bahwa ia di tampar oleh Rina kan pada suaminya.


bisa-bisa Ridho akan mengorek-ngorek alasanya lebih dalam. lalu dia harus menjawab apa?.


"ya ampun dek. kok kamu nggak ngehindar sih?!"


Ridho terlihat khawatir mendengar alasan yang di ucapkan Shanti.


"ya mana sempet mas orang aku juga nggak nyangka bakalan kena sikut dia mas..."


"masih sakit nggak?!"


Ridho mengulurkan tangannya mengusap pipi yang masih sedikit merah itu.


"enggak lagi kok mas. tadi orangnya udah minta maaf dan dia juga bantuin aku ngomores pakek es."


Shanti semakin berbohong pada Ridho. mana ada Rina meminta maaf. yang ada pastilah Rina akan semakin memakinya iya kan!


"ya sudah kamu istirahat aja dulu sana..."

__ADS_1


"aku lapar mas. belum sempat makan tadi soalnya"


"ckckck .... kamu itu ya. teledor banget ini udah mau sore Lo. kok belum makan sih?;"


"ya mana sempet lah mas ...."


"ya sudah kamu makan dulu sana. mas mau balik lagi ke gudang!"


"iya mas..."


Ridho segera beranjak di ikuti Shanti yang berjalan di belakangnya menuju ruang makan.


sebelum makan ia mencari-cari sesuatu di lemari es. setelah ketemu di raihnya beberapa buah cabe merah dan segenggam cabe rawit bawang putih tomat dan terasi.


ia ingin makan samabal yang pedah sekarang ini. ia ingin meluapkan emosinya yang sedari tadi ia tahan.


ia membakar terasi di atas tungku dan mencuci cabe-cabean dan tomat. setelah itu menggiling ya di atas cobek. setelah jadi ia juga menggoreng telur dan beberapa potong tempe.


Shanti makan sendiri di sana. ia sengaja makan sengan cepat. ia ingin melupakan hal-hal yang bari saja terjadi menimpa dirinya hari ini.


keringat bercucuran di dahinya bibirnya terasa sedikit kebas karena pedas sambal yang ia buat tak main-main.


"wah ibu makan enak sendirian..."


tiba-tiba Mira duduk di sebelahnya mengagetkan Shanti yang memang terlihat sangat kepedasan itu.


"iya... jadi laper lait sambal terasi ibu."


"emang mbax belum makan siang?!"


"udah sih makan sate di kantin. tapi liat sambal terasi ti kayaknya menggiurkan. dia melambai-lambai minta di colek Bu..."


pandangan Mira terus tertuju pada sambal yang ada di meja. air liur nya serasa ingin tumpah dari mulut.


"ya udah sana cuci tangan terus makan lagi bareng ibu."


"siap bos!"


ia segera berlari ke wastafel untuk mencuci tangannya dan mengambil piring untuk makan.


Shanti dan Mira asik menikmati makan siang yang terbilang sangat hot. keduanya berkeringat dan kepedesan.


tapi tak ada yang mengeluh. karena hobi Mira dan Shanti pada makanan pedas memang sangat kompak.


berbeda dengan Ridho dan Meri yang lebih menyukai makanan berkuah.


setelah makan siang pedas itu usai Mira membantu Shanti memberikan sisa-sisa makanan di meja dan memcuci piring.

__ADS_1


"Meri belum pulang Bu?!"


"belum. tadi masih ada acara makan-makan katanya."


"oh iya gimana pertandingannya tadi Bu? seru nggak? terus katanya tim adek menang ya Bu?!"


"seru banget mbax... apa lagi pas babak terakhir ibu sama pendukung yang lain Sampek sorak-sorai nggak jelas pokonya. tenggorokan ibu aja rasanya udahau jebol"


"hahaha.. ibu sih ada-ada aja!"


"abisnya seru banget. untung sekolah Meri menang. jadi nggak sia-sia ibu teriak-teriak sanpe tenggorokan nya sakit juga..."


"pasti adex seneng banget ini dapat piala dapat uang juga, terus bertanding ke profinsi bulan depan. wah wah... pasti padat tuh jadwalnya latihan."


"em... kayaknya sih gitu. eh kak terusin ya beres-beres nya ibu mau ke kamar mandi dulu. perut ibu mules .!"


"oke!"


sedikit berlari Shanti menuju kamar mandi dapur. ya gimana nggak mules coba makan sambel Sampek kalap gitu.


setelah selesai membereskan dapur Mira masuk ke kamarnya mengganti baju dan menyiapkan buku untuk membuat pr.


dia duduk di kursi belajar dengan serius. ia malas jika harus mengerjakan pr malam hari. karena pastinya dia tak bisa berkumpul dengan keluarganya.


apalagi Meri menang pertandingan hari ini. pasti dia akan dengan sangat heboh nanti menceritakannya. dia juga pasti ingin mendengarnya karena ia tak bisa melihatnya langsung tadi.


sekitar satu jam lebih dia baru selesai dengan tugasnya, tenggorokan nya terasa kering dan Mira pun kembali keluar kamar untuk mengambil air minum di dapur.


setelah minum tak sengaja pandanganya tertuju pada kamar mandi yang masih tertutup rapat dari dalam.


"apa ibu ke kamar mandi lagi?"


ia bertanya pada dirinya sendiri. karena memang sejak ibunya masuk kamar mandi ia tak mendengar ibunya keluar.


dengan sedikit penasaran ia mendekat dan menempelkan telinganya mencoba mendengar apakah ada suara dari dam atau tidak.


ia sedikit mengerutkan keningnya karena di dalam sepi. ia memegang gagang pintu dan mencoba membukanya. tapi tak bisa Shanti pasti menguncinya dari dalam.


door...door...door...


"ibu apa ibu masih di dalam?!"


Mira menggedor pintu kamar mandi dengan sekuat tenaga. tiba-tiba saja perasaanya tak tenang karena Shanti tak menyahut dari dalam.


door...door... door...


"ibu nggak kenapa-kenapa ka!"

__ADS_1


ia masih saja terus menggedor. tapi pintu tetap tak terbuka. juga Shanti yang tidak menyahut.


__ADS_2