Bahtera Rumah Tangga

Bahtera Rumah Tangga
Kebodohan Ridho


__ADS_3

jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Shanti sudah merasa sedikit tenang dan ia juga sudah kembali memperbaiki riasan wajahnya agar tak terlihat kalau dia habis menangis.


Shanti sampai kerumah tepat saat Ridho juga sudah menutup gudang dan sedang duduk di beranda samping menunggunya pulang.


"assalamualaikum mas..."


di raihnya tangan suaminya dan diciumnya dengan takzim.


"waalaikumssalam... baru pulang dek?!"


"iya mas... kalau udah ketemu kawan lama suka lupa waktu mas..."


di perhatikan ya sejenak wajah tirus istrinya.


" mas yakin cerita kalian tadi belum selesai!"


"hmmhnm mas tau aja hehehe"


"anak-anak sudah pada pulang mas?!"


"sudah dari tadi kayaknya. mas juga belum lama kok di rumah.."


"ya udah masuk yuk... aku tadi mampir ke "tempat cak Jo aku belikan bakso untuk mas dan anak-anak."


"wah mantap tuh sore-sore ngemil bakso..."


tiba-tiba Mira sudah ada disana ikut menyauti obrolan Shanti dan Ridho.


"iya dong. nih Bawak baksonya kedalam dan siapkan langsung ya sayang. ibu mau mandi dulu sebentar. gerah soalnya...!"


Shanti segera menyerahkan bungkusan bakso kepada Mira.


"siap ibu boss!"


dengan sigap Mira langsung meraihnya dan segera membawanya masuk. tak lupa juga ia menyiapkan ya kedalam mangkok satu persatu.


setelah mandi Shanti menyusul anak dan suaminya yang sudah menunggunya di ruang TV. mereka menikmati bakso sambil menonton acara pertandingan voli kesukaan Meri.


memang Meri sangat hobi dengan olahraga bola voli. dia juga merupakan anggota tim di sekolahnya.


"Mer.. katanya Minggu depan mau lomba voli di gedung balai pajak ya?!"


(balai pajak sebutan untuk aula hol di daerah setempat)


Mira bertanya pada Meri yang sedang memperhatikan layar datar itu dengan penuh konsentrasi.


"wah kamu juga ikut Mer?!"


Ridho yang ikut bertanya pada Meri.


"iya yah... aku kan pemain inti. jadi nggak mungkin aku ketinggalan!"


tatapannya tetap tak beralih dari sana.


"wah... kalau begitu kita semua harus nonton dong. biar anak ayah ini tambah semangat dan bisa menang!"

__ADS_1


"iya yah... nanti ada undangan untuk orang tua dan keluarga supaya bisa duduk di tribun..."


"oke lah kalau begitu! kalian pasti menang!"


Mira kembali memberi semangat pada adiknya


"harus dong...!"


Shanti hanya diam menikmati baksonya sambil memperhatikan interaksi keluarganya.


'aku harusnya bersyukur dengan kehangatan ini bukan?!'


dalam hati Shanti bergumam pada dirinya. meski banyak hal yang ia pikirkan. tapi ia juga setidaknya merasa lega saat ini.


dia bisa merasakan kasih sayang anak-anak nya dan suaminya.


setelah acara makan bakso berakhir Shanti kembali masuk ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuh dan kepalanya.


mungkin karena ia terlalu banyak menangis hari ini membuat kepalanya sedikit sakit dan pening.


"kamu kenapa dek?! sakit?!"


"Ridho yang juga menyusul Shanti terlihat bingung karena melihat Shanti yang sudah beranjak ke tempat tidur. tidak biasanya dia tidur di sore hari seperti ini.


"kepala ku agak sakit mas... mungkin karena terlalu banyak minum kopi hari ini."


Ridho menghampiri Shanti dan duduk di sampingnya. dirabanya kepala Shanti sejenak merasai panas tubuhnya.


"ya sudah kamu istirahat saja. badan mu agak panas!."


Ridho meraih selimut dan menutupi tubuh istrinya hingga sebatas dada. lalu beranjak dari sana.


Ridho duduk sendiri di beranda rumahnya. pandanganya lurus kedepan menikmati kegelapan malam yang dingin.


ia sedang memikirkan istrinya. sebab sejak sepulangnya dari kafe Shanti tak begitu banya bicara.


biasanya orang akan menampilkan wajah cerianya saat telah bertemu dengan teman-teman nya.


tapi tadi tanpa sengaja Ridho memperhatikan raut wajahnya Shanti yang sedikit sembab membuat Ridho semakin resah.ada apa gerangan yang terjadi pada istrinya itu.


'siapa sebenarnya kawan yang kau temui tadi Shan?! kenapa sepertinya membuat mu sedih? dan sepertinya ada yang tidak beres!'


dalam hati Ridho bicara. ia penasaran setengah mati saat ini dengan apa yang dialami istrinya tadi hingga membuatnya menjadi seperti itu.


sedang Shanti sendiri tak dapat memejamkan matanya barang sebentar saja.


setiap kali ia mencoba memejamkan matanya maka bayangan Max menciumnya siang tadi terus saja muncul di fikiranya. membuatnya semakin frustasi.


hingga pagi tiba Ridho tak menyusul istrinya di kamar. ia memutuskan tidur di ruang TV sambil memikirkan ini dan itu.


begitu pun dengan Shanti yang akhirnya terlelap saat fajar menyingsing. membuat ia tak dapat membuat sarapan untuk keluarganya karena ia bangun sangat siang.


"mas anak-anak sudah berangkat?!"


Shanti menghampiri Ridho yang sedang sibuk membuat kopi di dapur.

__ADS_1


"sudah Deri tadi dek!"


tanpa menoleh ke arah Shanti ia terus melanjutkan kegiatannya. ia tak pernah membuat sendiri kopi di pagi hari. karena biasanya Shanti yang akan menyiapkan ya.


ini untuk pertama kalinya ia melakukan ini.


meski begitu ia tetap mencoba mengerti tentang keadaan istrinya saat ini. ia juga membuatkan susu hangat untuk Shanti.


"terimakasih mas..."


Shanti meraih susu yang disodorkan Ridho dan ikut duduk di meja makan.


"mas nggak buka gudang hari ini?!"


"anak-anak sudah datang jadi mereka yang menunggu gudang!"


"owh..." Shanti hanya menganggukkan kepalanya.


"Shan, boleh mas tanya sesuatu?!"


"boleh mas mau tanya apa mas?!"


"apa kamu sangat bosan tinggal sepanjang hari di rumah?!"


"kenapa tiba-tiba mas tanya gitu?!"


"ya mas merasa kamu semakin terlihat kurus dan juga..."


Ridho menjeda ucapannya. ia melihat kearah Shanti sejenak.


"mas merasa sejak kemarin kamu diam saja tak banyak bicara...! apa pertemuan dengan teman mu tidak berjalan dengan lancar?!"


"owh... enggak kok mas. semuanya lancar dan baik-baik saja."


"kamu boleh kok Shan keluar rumah bertemu teman-teman dan melepas kebosanan mu.!"


"aku beneran nggak papa mas dirumah."


sejenak suasana menjadi hening. Shanti hanya


menunduk memandang susu hangat yang belum sempat ia minum.


Ridho pun begitu. ia tenggelam dalam fikiranya yang berkecamuk.


"Shan... apa kau tak bahagia?!"


entah apa yang merasuki Ridho saat ini. pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya.


"kamu kenapa sih mas tiba-tiba seperti ini pagi-pagi?!"


Shanti merasa terkejut dan juga tak menyangka jika ridho akan bertanya seperti itu padanya.


"bukan begitu maksut ku Shan... aku takut saja jika sebenarnya kamu menderita hidup dengan ku dan kamu hanya diam saja tak berani mengatakannya pada ku!"


Shanti tak menjawab lagi pertanyaan Ridho yang baginya sangat tak masuk akal. ia segera beranjak dari sana dan berlalu meninggalkan suaminya sendiri di meja dapur.

__ADS_1


sepeninggal Shanti di sana Ridho merutuki kebodohannya yang telah lancang melontarkan pertanyaan yang bisa saja memicu pertengkaran diantara mereka.


__ADS_2