Bahtera Rumah Tangga

Bahtera Rumah Tangga
Rina 3


__ADS_3

Rina meraihnya dan menekan beberapa nomor dan memanggilnya. beberapa saat telepon berhasil tersambung dan di angkat.


"hallo..."


suara sang ibu terdengar dari seberang.


"ibu ini Rina."


"ya Tuhan Rina, kemana saja kamu semalaman tidak pulang. tidak juga memberi kabar! apa kamu baik-baik saja nak?!"


"aku baik-baik saja ibu. aku semalam menginap di rumah teman. hp ku tertinggal di Fila Max karena terburu-buru."


"syukur lah kalau kau baik saja nak. kapan kau akan pulang?"


"nanti aku akan menghubungi ibu lagi. tapi mungkin belum hari ini Bu."


"baiklah. yang penting kau sehat dan baik-baik saja. ibu sempat hawatir semalam."


"aku baik-baik saja ibu tidak perlu cemas. kalau begitu aku matikan dulu ya Bu."


Rian mematikan sambungan telepon lalu menyerahkan hp itu kembali pada Jojo yang sejak tadi masih berada di sana.


"terimakasih..."


ia lalu melanjutkan menyantap buburnya yang muali agak dingin karena terlalu lama dibiarkan nya.


sebenarnya Jojo ingin bertanya tapi dia urungkan. ekspresi wajah Rina yang begitu sendu membuatnya berfikir ulang untuk bertanya ini dan itu.


"jika sedang selesai makan obatnya dan kau bisa istirahat lagi."


Jojo melangkah menuju pintu meninggalkan Rina sendiri di kamar.


dia membereskan dapur bekas dia memasak dan dan sarapan pagi ini.


tak lama setelah pekerjaan dapur selesai rupanya Rina sudah berdiri di belakangnya dengan mangkuk bubur dan gelas yang sudah kosong.


"kenapa hanya berdiri disitu? kemarikan piring dan gelasnya biar sekalian aku cuci."


Rina diam saja sambil menyerahkan piring dan gelas di tanganya pada Jojo. lalu dia duduk di kursi ruang makan sambil memperhatikan Jojo yang sibuk sendiri.


"kau tidak bertanya kenapa aku ada di sana semalam?"


Rina memecah kesunyian yang berlangsung beberapa saat di antara mereka.


Jojo tak langsung menjawab. dia mematikan keran wastafel lalu melangkah mendekat ke arah Rina.


dia mengambil kursi disebelah Rina dan duduk menghadap wanita yang sejak tadi memperhatikan nya.


"apa kau akan menjawab jika aku bertanya?"


Rina hanya menundukkan pandanganya menata ujung meja di hadapannya.

__ADS_1


"siapa nama mu?"


Jojo bertanya namanya karena memang sejak tadi mereka belum berkenalan. meski sudah banyak berbincang.


"Rina." cicitnya


"aku Jojo." di pandangnya sejenak wajah Rina yang masih tertunduk enggan menatap kearahnya.


"dengar Rina. aku tak akan bertanya apa pun padamu. aku yakin pasti ada alasannya yang membuat kau seperti ini. aku hanya ingin menolong mu itu saja."


Rina memandang ke arah Jojo dengan wajah yang sulit di artikan.


"aku yakin suatu saat nanti kau pasti akan bahagia. meski aku tak tahu masalah apa yang sedang kau hadapi. tapi kau harus ikhlas dan lapang dada menerima semua kenyataan hidup."


Jojo menjeda ucapannya. dia memandang wajah sendu penuh memar di hadapannya itu.


"jika kau bisa kau boleh membalas perlakuan tak adil yang menimpa mu ini. satu hal yang harus kau tau, tak selamanya wanita itu lemah."


secara tidak langsung Jojo memberi dukungan agar Rina membalas perbuatan Max padanya. tapi sebenarnya bukan niat Jojo berkata demikian.


dia sendiri tak tahu masalah seperti apa yang sebenarnya yang tengah di hadapi Rina saat ini.


"jika kau belum ingin pulang kerumah kau bisa tinggal beberapa hari disini hingga keadaan mu pulih."


"terimakasih Jo."


"tidak perlu sungkan. kau istirahat saja aku ada beberapa pekerjaan yang harus aku lakukan."


"jika kau butuh sesuatu aku ada di ruangan itu."


Jojo menunjuk ruangan disebelah kamarnya yang ia jadikan ruang kerja.


"baik lah."


Rina segera beranjak dari sana menuju kamar tamu yang dia tempati. dia duduk di pinggir jendela menatap keluar.


ternyata kamarnya menghadap ke taman belakang rumah yang dipenuhi dengan bunga anggrek. juga ada kolam kecil dicana.


dia membuka jendela agar udara di dalamnya berganti. suara gemericik air kolam membuatnya sedikit tenang.


sepintas bayangan pertengkaran nya dengan Max kembali memutar diingatnya. dan lagi bayangan Shanti yang keluar bersama Max dari dalam kamar yang sama membuatnya semakin terasa hancur.


meski dia tak tahu apa yang mereka lakukan tapi pastilah bukan sesuatu yang baik. siapa orangnya pun pasti akan berfikir seperti dirinya jika mendapati situasi seperti itu.


lama dia meratapi semuanya. tapi iar matanya sudah lagi menetes. mungkin sudah mengering karena terkuras habis semalam.


'aku tidak boleh lemah begini!'


'aku harus bisa membalas perbuatan mereka berdua. terutama Max dia telah begitu dalam menorehkan luka ini.'


'sebenarnya ini akan menjadi mudah jika dia menolak perjodohan. tapi entah mengapa dia malah ingin memanfaatkan aku.....!'

__ADS_1


"memanfaatkan!" gumamnya.


tiba-tiba kepalanya mendapatkan satu ide. bagaimana dia akan membalas perbuatan Max terhadapnya.


senyum seringai tergambar jelas di wajah cantiknya. meski masih terasa sedikit ngilu bekas tamparan dari Max di pipinya. tapi sama sekali tak menyurutkan senyum penuh dendam itu.


dia duduk di depan cermin meja rias menatap wajahnya yang masih sedikit bengkak. juga bibirnya yang masih sedikit robek.


dia menarik laci yang ada disana mencari-cari sesuatu di dalamnya. dan tak berapa lama ditemukannya sebuah gunting kecil uang masih tampak baru.


perlahan dia membuka ikat rambutnya dan membuatnya terurai begitu saja. rambut panjang sepunggung dan hitam indah miliknya begitu cantik.


perlahan dia mengarahkan gunting itu ke rambutnya ingin memotongnya. tapi tiba-tiba saja gunting itu di rebut oleh seseorang.


"apa yang kau lakukan?!"


dengan sedikit terengah Jojo merebut paksa gunting dari genggaman Rina.


"sejak kapan kau ada disini?" Rina sendiri sedikit terkejut karena tiba-tiba saja Jojo sudah ada di sana.


"aku takkan membiarkan kamu mengambil langkah konyol ini!"


Rina mengernyitkan dahinya tak mengerti apa maksut perkataan Jojo yang menurutnya aneh.


"jangan berbuat yang tidak-tidak. hidup ini masih panjang!"


"kau fikir aku akan melakukan apa?"


"tentu saja bunuh diri iya kan?"


barulah Rina faham apa yang dimaksud oleh Jojo sejak tadi. dia hanya tersenyum menatap pria itu.


"kenapa kau malah tersenyum?"


"Jo. aku bukan mau bunuh diri. tapi aku hanya ingin memotong rambutku saja!"


"ap... apa?"


Jojo sedikit tergagap. ternyata wanita ini hanya ingin memotong rambut saja. huuuh... untunglah... fikiranya sudah sedikit aneh tadi.


"aku akan membantumu kalau begitu."


"kau bisa memotong rambut?"


"sedikit. meski takkan serapih jika kau memotongnya di salon tentunya."


"baiklah kalau begitu. aku ingin kau memotong rambutku segini!"


Rina menunjuk lehernya yang jenjang itu. ia ingin memotong habis rambutnya.


"ba... baik lah." Jojo menyayangkan rambut indah itu sebentar lagi akan menghilang. dia menarik nafas dalam dan bersiap memotong rambut Rina.

__ADS_1


__ADS_2