
"ayolah Shanti. aku merasa tidak enak meninggalkan kamu begitu saja dalam situasi seperti ini."
Max terus saja merengek karena Shanti menolak memberikan nya no HP.
"hmmzz... baiklah. kemarikan hpnya!"
"nah gitu dong dari tadi kan enak!"
sambil tersenyum manis Max menyerahkan benda pipih berwarna merah ke tangan Shanti.
segera saja Shanti meraihnya dan mengetik beberapa nomor di sana lalu mendial no tersebut agar nomor hap Max juga masuk ke hpnya .
"nah sudah. hubungi saja bila kau sudah senggang!"
ia lalu menyerahkan HP Max kembali kepada pemilik nya.
"oke terimakasih. tapi maaf ya aku harus pergi sekarang!"
"iya tak apa pergi lah. mungkin tamu mu sudah menunggu!"
"em...! lain waktu kita ketemu lagi."
tanpa menunggu persetujuan dari Shanti, Max pun beranjak dari hadapan nya menuju motor kesayangannya terparkir.
ia segera berlalu dari sana dengan kecepatan tinggi meninggalkan Shanti sendiri di tepi jalan.
Shanti hanya memperhatikan kepergian Max yang sedikit tergesa-gesa menjauh dan hilang dari pandanganya.
ia menarik nafas dalam menyadarkan fikiranya yang masih saja berkelana entah kemana. ia juga segera melangkah ke seberang jalan untuk kembali kerumah ibunya.
"wah... wah...wah... yang buang sampah lama amat! kejonggol kali ya buangnya!"
baru saja ia masuk ke teras belakang sudah disambut dengan suara Friska yang cempreng menyindirnya.
"heeheehee tadi ketemu teman disana jadinya ngobrol dulu Fris..."
"pantesan! tapi kita udah lama nungguin bibik tau. Friska udah laper bik...!!"
"kenapa tidak makan duluan saja?!"
"mas Diwan nggak mau. katanya nggak sopan kalo kita makan duluan!"
sambil cemberut Friska menjelaskan kepada Shanti.
"owh... iya maaf deh... ya sudah yuk kita masuk dan makan!"
Friska tak lagi menyautinya ia hanya menganggukkan kepala dan segera berlalu dari sana menyusul sepupu dan juga neneknya di ruang makan.
"kenapa lama sekali Shan buang sampahnya?!"
kali ini ibu yang bertanya pada Shanti.
"tadi ketemu teman Bu di depan. jadi ngobrol dulu sebentar. kan nggak enak Bu kalau langsung pergi"
__ADS_1
"owh gitu. ya sudah sana cuci tangan mu dan kita makan. Friska sudah mengomel dari tadi karena lapar!"
"iya Bu..."
Shanti pun segera menuju wastafel untuk mencuci tangannya dan kembali lagi ke meja makan yang suasananya kini sudah kembali ramai dengan canda tawa keponakan dan ibunya.
"bik... setelah ini bibik mau kemana lagi?! bibik sibuk tidak?!"
Friska bertanya pada Shanti yang sedang menikmati makanannya.
"tidak ada tapi mungkin bibik mau pulang soalnya ini sudah siang sebentar lagi Meri pulang sekolah."
"owh begitu... ya sudah lah..."
"memangnya kenapa Fris?!"
"tidak apa-apa. tadinya aku mau ajak bibik ke toko kue mau memesan beberapa kue untuk acara hantaran besok."
"yaahh... gimana dong?! bibik nggak bisa. lagian tadi bibik pamit sama om mu hanya pergi sampai siang saja. !"
" ya sudah pergi dengan nenek saja nanti."
kali ini ibunya yang menyahut. ia sangat mengerti dengan keadaan anaknya. meski ia tahu Ridho sangat menyayangi Shanti tapi tak mungkin juga Shanti bersikap semena-mena.
sementara Dona sudah diwanti-wanti oleh dokter agar tidak sering berkendara baik motor maupun mobil karena mehamilanya yang masih sangat muda.
"oke deh... nenek ku Ter sayang..."
"Oya mas Diwan boleh aku pinjam mobilnya ya... soalnya motor ku masih di bengkel tu belum selesai dari tadi pagi!"
"iya bawa saja. memangnya dibengkel mana motor mu?!"
" itu bengkel mas Eko seberang jalan."
"emm..."
Diwan hanya menganggukkan kepalanya menanggapi Friska.
setelah makan siang Shanti segera menghampiri ibunya yang duduk di depan TV.
"Bu... aku pulang dulu ya. besok-besok aku kesini lagi dengan anak-anak dan mas Ridho."
"iya... kamu baik-baik ya dengan Ridho..."
ibu memang sangat mengerti keadaan Shanti. ia tau betul jika sebenarnya Shanti sangat terpaksa menikah dengan Ridho suaminya.
dulu ia juga sempat tidak menyetujui pernikahan Shanti dan Ridho karena tau jika sebenarnya ada orang lain yang Shanti inginkan menjadi suaminya.
tapi mendiang suaminya dan seluruh anak-anaknya meyakinkannya jika Ridho adalah pilihan yang terbaik untuk Shanti.
dan setelah melihat Ridho yang notabene memang anak yang pekerja keras dan penuh tanggung jawab. maka ibu akhirnya pun merestui pernikahan mereka. meski ia pun harus susah payah membujuk Shanti saat itu hingga ia akhirnya mau juga menikah dengan Ridho.
"iya Bu... aku akan selalu mengingat nasihat ibu."
__ADS_1
ia meraih tangan ibunya dan menciumnya dengan takzim.
ibu mengusap lembut kepala anaknya itu. ia menyadari meski anaknya adalah orang yang paling keras kepala tapi ia juga tau jika Shanti bukanlah anak yang pembangkang dan tidak sopan.
"hati-hati dijalan. jangan ngebut-ngebut bawa motornya..!"
"iya Bu... aku akan hati-hati"
Shanti pun segera beranjak dari hadapan ibunya dan berlalu pergi keluar rumah menghampiri motornya yang terparkir di halaman rumah.
"bik... hati-hati dijalan ya..."
"iya Friska keponakan ku yang bawel..."
Shanti hanya menyauti Friska dari kejauhan.
"bik. besok kesini lagi ajak Meri ya... sudah kangen juga dengan anak bawel itu."
kali ini Dona yang berkata menghentikan kegiatan Shanti yang sibuk memasang helm di kepalanya.
"iya iya.. Minggu depan deh bibik ajak anak-anak kesini."
"oke dech.. hati-hati bik... da da ..."
Dona dan Friska kompak melambaikan tangannya kearah Shanti.
Shanti sendiri hanya mengangguk dan segera menstater motor metiknya dan berlalu pergi dari hadapan mereka berdua.
"Dona... kamu liat nggak wajah bibik Shanti tadi?!"
"emang kenapa dengan wajah bibik?!"
"ekspresi nya itu seperti menggambarkan orang yang sedang dilanda banyak masalah."
"masak sih... tapi kelihatanya tadi bibik biasa-biasa saja. ngobrol dan bercanda dengan kita."
"iya sih memang. tapi aku perhatikan bibik juga banyak melamun tadi."
"ah kamu sok tau aja Fris... nggak mungkin lah bibik punya masalah tapi nggak cerita sama nenek."
"iya sih... lagian masalah apa yang bisa menimpa keluarga yang amat sempurna itu. anak punya, harta banyak, suami ganteng juga sayang sama keluarga. sempurna pokoknya."
"nah itu kamu tau... jadi nggak mungkin bibik tidak bahagia iya kan?!"
"iya... iya... kamu benar Don. aku aja kali yang terlalu banyak fikiran."
"hemz... dasar... yuk lah masuk. katanya kamu juga mau ke toko sama nenek?!."
"eh iya lupa. yuk ah aku mau liat nenek udah siap apa belum."
mereka sebenarnya sangat menyayangi bibiknya itu. mereka juga sangat mengerti tentang kisah pernikahan bibiknya yang menurut mereka bisa membuat iri semua orang.
tapi mereka juga menyadari sebenarnya ada yang sedikit janggal dengan tingkah Shanti hari ini yang memang sedikit berbeda.
__ADS_1