
Max masih tetap diam seribu bahasa. ia membuka sabuk pengaman Shanti dan menarik pergelangan tangan Shanti lalu membawanya turun dari mobil. mereka berjalan menuju pintu masuk Fila dari samping.
Shanti hanya bisa pasrah. berbicara pun tak di dengarkan oleh Max. ia takut Max berbuat kasar padanya. jadi dia hanya diam saja mengikuti keinginan nya.
setelah Samapi di dalam Max membawa Shanti ke dalam kamar yang tersedia di sana dan mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Max sebenarnya apa yang kau lakukan?! kenapa bersikap seperti ini?!"
Max berbalik berjalan menghampiri pintu kamar dan menutupnya dengan sedikit kasar dan menguncinya.
hal itu tentu membuat Shanti terkejut dan semakin takut dengan tingkah Max yang terbilang tidak biasa ini.
ia sangat cemas dan waspada dengan pria yang ada dihadapannya sekarang. fikiranya melayang jauh entah kemana.
tiba-tiba saja Max melangkah mendekati Shanti dan berlutut di hadapannya. membuat Shanti makin terbengong dan melongo dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Shan... maafkan aku. hanya ini cara satu-satunya yang bisa aku lakukan supaya kamu mau berbicara dengan ku."
Max meraih tangan Shanti dan di genggamnya erat. ia menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Shanti.
Shanti masih terdiam terpaku dengan perlakuan aneh max hari ini. ia menarik tangannya dari genggaman Max. tapi sia-sia, Max malah menggenggam nya semakin kuat.
"biarkanlah sebentar seperti ini Shan... aku mohon.!"
Shanti tak menjawab. tapi ia membiarkan saja Max di posisi itu. ia hanya diam saja tak pelak ikan apa pun.
sejenak ruangan itu hening tanpa suara. hanya ada deru nafas yang saling bersautan diantara mereka berdua.
setelah merasa puas si posisi itu Max beranjak dan menarik kursi meja rias dan duduk berhadapan dengan Shanti.
ditatapnya Shanti dengan mata sendu dan penuh kerinduan. ia mengulurkan tanganya dan mengusap pipi putih milik Shanti.
"aku sangat merindukan mu Shan..."
Shanti tertegun mendengar perkataan Max. menatap mata laki-laki itu dengan sejuta kebingungan yang melanda kepalanya.
"Shan... apakah kau juga merindukan aku?!".
"Max apa maksudmu?! tolong jangan bersikap seperti ini.!"
__ADS_1
Shanti mencoba menyingkirkan tangan Max dari pipinya dan mencoba berdiri.
tapi Max menarik lengannya dan membuatnya jatuh kembali terduduk di tempat tidur.
"tolong jawab aku Shan..."
ditatapnya lagi wajah Shanti. mata Max semakin sayu dan seperti banyak sekali hal di sana yang sebenarnya ingin Max katakan pada Shanti.
tapi entah mengapa firasat Shanti mengatakan bahwa ini tak akan menjadi hal baik untuk mereka.
"Max sudahlah. jangan bersikap konyol seperti ini.! aku harus segera pulang sekarang!"
"aku takkan membawamu jauh kesini jika kau hanya akan pulang setelahnya!"
"lalu apa yang kau inginkan max?! ingin berbicara? baik. kita bicara sekarang! apa yang kau ingin bicarakan?!"
Shanti membuang nafasnya kasar. ia frustasi dengan keadaan ini. ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Max tak mengizinkan nya pulang.
sejenak Shanti berfikir. pantas saja sejak pagi di balai pajak ia tak dapat menemukan keberadaan Max. rupanya ia sudah merencanakan semuanya.
"Shan... aku mencintaimu. apa kau tak mencintai aku lagi?!"
jujur saja saat ini Shanti sudah mulai sedikit jengah menghadapi Max.
"jawab saja Shan... aku mohon..."
Max terus saja menghiba. ia ingin sangat ingin bahkan mendengar kata cinta terucap dari bibir wanita terkasihnya ini.
"dengar Max! jika kau memang ingin aku berkata yang sebenarnya."
Shanti menjeda ucapannya. ia menatap kedalam mata Max sesaat. disana ia dapat melihat bahwa Max sunggu berharap padanya.
"Max aku sudah menikah dan kau pun sudah memiliki tunangan. jadi sebaiknya kita tidak perlu membahas hal seperti ini lagi. jika kau bertanya apa aku mencintaimu, oke aku akan menjawab tentu saja aku mencintaimu merindukanmu. tapi saat ini rasa itu sudah harus kita kubur dalam-dalam. aku tak ingin semua ini berlanjut lebih jauh!"
panjang lebar Shanti mengatakan hal yang sebenarnya ia rasakan saat ini pada Max.
rasa cinta yang memang sejak dulu telah ada tak mungkin ia akan menampiknya. tapi untuk saat ini pastilah sudah terlambat bukan!
Max beralih memeluk tubuh mungil Shanti sejenak rasanya dunianya hancur seketika mengingat kenyataan dari ucapan Shanti.
__ADS_1
benar adanya semua itu. tapi jika bisa Max ingin sekali mengubah semuanya.
andai saja, andai saja dan sekali lagi dia berandai. tapi tentu semua itu sia-sia bukan. karena nasi sudah jadi bubur.
"Shan... haruskah aku membawamu pergi jauh dari sini?!"
Shanti merasa syok dengan perkataan Max. dilepaskannya tubuh mungilnya dari dekapan Max dan ditatapnya wajah sendu itu .
"jangan gila Max! hidup ini bukan hanya berkutat tentang cinta saja!"
"Shanti apa kau tak ingin hidup berdua dengan ku?!"
Shanti beranjak dari duduknya dan mengepalkan tangannya geram menghadapi Max.
"aku rasa pembicaraan ini sia-sia Max. tidak akan ada titik terangnya. lebih baik aku pulang saja.
ia segera melangkah menuju pintu yang terkunci itu. tapi belum juga tanganya meraih gagang kunci Max telah lebih dulu menarik tangannya.
karena langkah yang tak seimbang membuatnya terjerembab jatuh terduduk. begitu juga dengan Max. ia pun terduduk di tempat tidur dan Shanti di atas pangkuan nya.
belum hilang rasa keterkejutan nya Max lagi-lagi melakukan aksi gilanya. ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
segera saja ia menyambar bibir merah delima milik Shanti dan di lumatnya dengan sedikit kasar.
tangan kanannya nmenahan pinggang Shanti sedang tangan kiri mendorong tengkuk Shanti agar ia tak bisa melarika diri.
awalnya Shanti hanya diam saja tak membalas siuman Max. tapi Max tak kehabisan akal. ia menggigit bibir bawahnya dan sontak saja hal itu membuat reflek Shanti membuka mulutnya.
Max semakin leluasa ******* dan menyesap bibir merah delima itu dengan ganasnya.
ia tak memperdulikan Shanti yang meronta dan berusaha melepaskan Pacitan mereka.
hingga Shanti akhirnya memukul kuat dada Max karena ia sudah kehabisan nafas dan merasa tercekik di tenggorokan.
Max pun dengan terpaksa melepaskan ya. dengan wajah yang memerah Shanti menghirup udara dalam-dalam mengisi rongga paru-parunya yang kosong. ia ingin marah tapi saat ini ia belum bisa melakukanya karena masih sibuk menghirup banyak udara.
Max memandang wajah Shanti dengan tatapan bersalah. dengan nafasnya yang juga masih terengah ia mengusap lembut bibir Shanti yang sudah membengkak karena ulahnya.
Shanti hanya diam saja dengan sedikit jengkel. dia sudah kehilangan banyak energi untuk melawan Max saat ini.
__ADS_1