
ada istilah yang mengatakan akan ada mentari setelah badai.
agaknya istilah itu memang benar. setelah semalaman bumi diguyur hujan lebat. pagi ini mentari bersinar dengan cerahnya.
Shanti sudah sibuk di dapur sejak pagi. ia menyiapkan segala keperluan anak dan suaminya.
Meri sendiri memang hari ini diberikan izin untuk beristirahat karena pertandingan kemarin.
"Mira buruan ini sudah siang. kamu nanti terlambat Lo..."
Shanti berteriak dari dapur memanggil Mira yang memang sedikit kesiangan pagi ini.
"kamu kenapa sih kok bisa kesiangan nggak biasanya begini?!"
"semalam ngerjain PR Sampek jam 11 Bu. jadinya kesiangan dech!"
"makanya PR itu dikerjain siang sepulang sekolah biar kamu tidurnya nggak kemalaman."
"iya Bu. biasanya juga kan gitu. tapi kemaren kan kita nonton pertandingan Meri Bu. jadi Mira nggak sempet ngerjain PR."
"ya sudah buruan habisin sarapanya terus langsung berangkat."
"iya... loh Meri mana Bu?!"
Mira menoleh ke kanan dan kekiri mencari sosok adiknya.
"masih tidur. dia libur hari ini. pihak sekolah yang memberikannya izin!"
Mira hanya menganggukkan kepalanya sambil menghabiskan nasi goreng sarapan paginya.
"ya sudah aku berangkat dulu Bu!"
"iya hati-hati dijalan. jangan ngebut-ngebut bawa motornya."
"siap Bu bos!"
Mira segera meraih tangan Shanti dan diciumnya dengan takzim. lalu ia berangkat ke sekolah.
jam sudah menunjukkan pukul 10 siang. Ridho sudah sejak pagi sekali sibuk di gudang.
sedang Meri belum juga bangun dari tidurnya. membuat Shanti sedikit cemas. karena tidak biasanya Meri seperti ini.
meski kecapekan ia pasti akan bangun selambatnya jam 8 pagi.
tapi ini sudah sangat siang tapi belum juga ada tanda-tanda Meri akan bangun.
akhirnya Shanti memutuskan untuk membangunkannya. ia segera masuk ke kamar Meri dan menghampirinya di ranjang.
"Meri sayang bangun dulu yok... kamu belum makan Lo dari pagi!"
dengan sedikit menggoyangkan tubuh Meri, Shanti mencoba membangunkan anaknya itu.
"udah jam berapa sih Bu?!"
sambil menggeliat Meri menjawab. meski dengan mata yang masih tertutup.
"ini sudah hampir jam 11 Lo nak! emang kamu nggak lapar apa?!"
"lapar sih Bu... tapi ngantuk dan capek jugan."
"ya bangun dulu mandi air hangat terus makan. nanti bisa lanjut tidur lagi!"
"hemmmh..."
dengan malah akhirnya ia beranjak bangkit dari tempat tidur.
"ibu sudah siapkan air hangat di kamar mandi. kamu mandi dulu ya. biar pegal-pegal di badanmu hilang."
"iya Bu...!"
__ADS_1
dengan mata yang sedikit masih terpejam Meri menyeret kakinya ke kamar mandi.
Shanti hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang anak
ia juga segera bangkit dari duduknya dan membereskan tempat tidur Meri. setelah itu iya beranjak ke dapur untuk menyiapkan makanan Meri.
setelah selesai mandi dan berganti baju Meri menghampiri Shanti di meja makan.
"Bu.. masak apa?!"
"itu ibu sudah siapkan sambal telur ceplok kesukaan mu dan sup bayam."
"wah asyik... jadi makin lapar aku!"
"ya sudah makan saja dulu!."
Meri segera menyantap hidangan yang ada diatas meja.
"Bu! kemarin ada om Jojo dan juga Kawanya di tempat pertandingan!"
"iya ibu juga ketemu kok!"
"Bu! kata teman om Jojo dia dulunya sahabat ibu. apa benar begitu Bu?!"
"Shanti tiba-tiba terbatuk tersedak ludahnya sendiri mendengar perkataan Meri.
"ibu tidak apa-apa?"
Meri segera menyodorkan minum kepada Shanti.
Shanti segera meraihnya dan meminum habis isi gelas yang di sodorkan Meri.
"siapa yang bilang kami bersahabat?!"
"om itu! siapa ya namanya... aku lupa"
"owh iya Max! iya om Max kalau tidak salah..."
"memangnya kalian sempat mengobrol Mer?!"
tanya Shanti penasaran.
"iya Bu sebentar. dia memberiku minuman dingin waktu itu.!"
Shanti terdiam sambil terus melakukan kegiatanya yang sedang mengelap piring. ia memikirkan apa maksud dari tindakan Max sebenarnya.
pertama ia berbasa-basi dengan mas Ridho menanyakan Mira.
dan setelah itu dia berbicara pada Meri memberi tahukan bahwa mereka sahabat.
apa tujuan Max yang sebenarnya.
"Bu! kenapa ibu diam saja?!"
"tidak ada.! cepat kamu gabiskan makanya. setelah itu kalau mau tidur lagi tidak apa-apa."
"aku sudah tidak mengantuk Bu. lagian badanku juga sudah tidak pegal-pegal seperti tadi pagi."
"owh ya sudah. setelah ini ibu akan pergi ke toko mau membeli beberapa perlengkapan rumah."
"aku ikut ya Bu! bosan hanya dirunah saja sendirian!"
"boleh. habiskan dulu makanya setelah itu di bereskan. ibu mau siap-siap dulu."
"oke ibu!"
Shanti segera beranjak dari sana meninggalkan Meri yang sedang makan. ia segera bersiap-siap untuk pergi ke toko.
sesampainya mereka di toko serba ada yang memang paling besar di daerah itu.
__ADS_1
Shanti segera mamilih beberapa keperluan rumah yang memang sudah habis. tak lupa juga ia membeli beberapa cemilan.
Meri dengan semangat membantunya memilih beberapa barang.
hingga tiba-tiba Meri menabrak seseorang karena terlalu asyik memilih hingga membuat dia tak memperhatikan jalan.
"aduh maaf tante Meri nggak sengaja."
meni membantu memunguti barang bawaan wanita yang ia tabrak tadi.
"iya nggak papa. Tante juga tidak melihat tadi."
"ada apa Rin?!"
suara seorang laki-laki di belakang mereka membuat Meri dan Rina sontak menoleh bersamaan.
"ini tadi aku ketabrak anak ini. tapi nggak papa kok."
"om Max! kok ada disini juga?!"
"Meri?! kamu nggak sekolah?! sedang apa disini?!"
"aku libur om hari ini. jadi aku ikut belanja sama ibu!"
"loh kalian saling kenal?!"
Rina merasa heran kenapa tunanganya itu bisa mengenal Meri.
ya! Rina adalah tunangan Max. mereka di jodohkan oleh kedua orang tua mereka.
Max menoleh ke kiri dan kekanan. seolah mengabaikan pertanyaan Rina.
"mana ibu mu?!"
"itu!"
Meri menunjuk kearah Shanti yang sedang sibuk memilih bumbu di rak tak jauh dari mereka.
karena terlalu serius Shanti tak menyadari kejadian Meri menabrak Rina di sana.
"ibu...! "
teriak Meri memanggil Shanti.
Shanti hanya menoleh dan tiba-tiba tubuhnya menjadi kaku mendapati anaknya sedang berdiri bersama dengan Max. tanpa menyadari bahwa ada orang lain juga disana.
mereka pun menghampiri Shanti yang hanya berdiri tak membeku seolah tak menanggapi kehadiran mereka.
" ibu ini ada om Max teman ibu"
Mira menyadarkan Shanti dengan bergelayut manja di lengan nya.
"o.. oh... hai Max apa kabar?!"
sedikit tergagap Shanti menyapa Max.
"aku baik saja. kalian berdua saja?!"
"iya... aku belanja keperluan rumah."
"ehkkheeem!"
suara deheman Rina yang sedari tadi diabaikan seolah tak terlihat oleh mereka di sana.
"eh Rin... kenalkan ini temanku saat SMA namanya Shanti. dan ini anaknya Meri."
"hai Shanti!"
Shanti mengulurkan tangannya kepada Rina yang juga disambut oleh Rina balas menyalaminya.
__ADS_1