Bahtera Rumah Tangga

Bahtera Rumah Tangga
Apakah Shanti menyesal?!


__ADS_3

"ingat ya Mira, Meri! ayah dan ibu bekerja keras banting tulang untuk membuat kalian bahagia. supaya kalian bisa sekola dengan baik, memakai pakaian yang baik, memakai kendaraan yang baik, dan tidak di permaluka oleh orang lain! dan yang paling penting agar kalian bisa meraih cita-cita kalian! jangan seperti ibu yang harus meninggalkan semua itu dulu!"


setelah mengatakan itu Shanti beranjak dari duduknya. ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


sarapannya tak jadi ia makan karena tiba-tiba saja selera makanya hilang begitu saja.


ia merasa kecewa pada dirinya! menurutnya ia kurang baik mendidik anak-anak nya. sampai-sampai ia tak tau kalau Mira sudah berani berpacaran di usianya.


orang tua mana yang mau mengakui bahwa anaknya telah dewasa. tak ada! mereka pasti akan menganggap anak mereka masih sama seperti dulu meski umurnya telah dewasa.


begitu juga Shanti. menurutnya Mira masih kecil jadi belum sepantasnya ia berpacaran. lagi pula sebenarnya Shanti ingin anak-anak nya bisa meraih cita-cita mereka. jangan seperti dia yang harus mengubur impiannya dan terpaksa menikah diusia yang masih sangat muda.


ia harus sibuk mengurus dan membina rumah tangga di usia yang masih belia. sedang teman-temannya masih asyik menikmati masa muda yang indah.


Shanti tak ingin anak-anaknya mengalami semua itu dan membuat mereka menyesal.


tiga puluh menit berlalu. waktu yang dihabiskan Shanti di kamar mandi. ia sengaja sedikit berlama-lama disana. ia tak ingin memperlihatkan wajahnya pada anak dan suaminya ketika sedang marah.


setelah berganti baju ia kembali menuju meja makan untuk membereskan sisa sarapan anak dan suaminya.


setibanya dia di sana ia menatap heran dengan meja makan yang sudah kelihatan rapi dan bersih.


piring sudah di cuci dan tersusun di rak wastafel.alat dapur yang ia gunakan untuk masak tadi juga sudah tergantung di rak.


"siapa yang membereskannya?!"


gumam Shanti sambil menengok kesana kemari memperhatikan keadaan dapurnya.


"kamu sudah selesai mandinya dek?!"


tiba-tiba suara Ridho mengagetkannya dari belakang.


"iya mas...! kamu yang beresin ini semua mas?!"


"iya. kelihatanya kamu capek banget dari kemaren dek! jadi aku bantu sedikit."


"enggak kok mas... aku biasa aja.!"


"udah kamu istirahat saja ya. biar kerjaan rumah nanti diberesin Mira sama Meri sepulang sekolah..."


"ya jangan gitu dong mas. kasian mereka capek pulang sekolah!"

__ADS_1


"jangan dipaksakan dek! nanti kamu sakit lagi.."


"iya mas..."


akhirnya ia mengalah dengan suaminya itu.


"ya sudah mas mau ke gudang dulu. Deri sudah sampai kayaknya dia Bawak kentang satu ton jadi harus di cek dulu."


"iya mas... kamu juga jangan kecapekan kerjanya.!"


"em...! Ridho hanya mengangguk menanggapi perkataan Shanti.


ia mencium sekilas kening istrinya dan segera berlalu ke gudang.


dalam hatinya berkecamuk banyak fikiran-fikiran tentang Shanti istri tersayangnya.


ia memikirkan kata-kata Shanti pagi tadi kepada anak-anaknya. ia merasa sedikit tersentil dengan pernyataan Shanti tadi. 'jangan seperti ibu yang harus meninggalkan semua itu dulu!'.


mengapa Shanti berkata seperti itu! apa selama ini ia menyesal dan tidak bahagia hidup bersamanya?!


awalnya ia mengira istrinya itu marah karena lelah dan bosan karena harus terus tinggal di dalam rumah setiap hari.


dan lagi kata-kata Shanti terus saja tengiang-ngiang bagai seekor nyamuk di telinganya. membuat Ridho semakin bingung.


"apa sebenarnya yang kamu rasakan saat ini Shan?! apa kamu tak bahagia?!" ia bermonolog sendiri.


ia duduk di meja kasir sambil memperhatikan anak buahnya kesana kemari mengangkut kentang yang baru tiba dari ladang.


awalnya ia memperhatikan untuk memper mudah ia menghitung berapa jumlah kentang yang masuk. tapi fikiranya tak bisa fokus, lama kelamaan ia malah memikirkan masalah yang terjadi pagi ini di meja makan.


"mas Ridho sudah selesai semuanya sudah diangkut."


tiba-tiba Deri telah berdiri di hadapannya mengagetkan Ridho yang tengah asyik melamun.


"loh kapan kalian selesai?! kok aku nggak tau?!"


"abisnya mas Ridho melamun terus sih!!"


"lagi mikirin apa sih mas?! hutang bank ya?! heehee"


"enak aja! biar gini-gini aku nggak pernah ambil pinjaman ke bank tau!"

__ADS_1


"iya-iya... cuma bercanda tau! abisnya dari tadi aku perhatikan mas melamun terus!"


"mas lagi mikirin kenapa akhir-akhir ini pelanggan gudang kita belanjanya hanya sedikit-sedikit tidak seperti dulu. dan lagi banyak juga pelanggan yang jarang lagi datang ke sini.!"


"iya mas aku juga agak aneh sih. Oya mas apalagi pak Dedi bos dari kota itu yang hampir tiap hari dia belanja kesini. kok sekarang tidak pernah lagi kesini?! malah kemaren aku lihat dia sedang belanja di tempat pak haji!"


ya memang sejak ketahuan bahwa Dedi memiliki hati dengan Shanti. Ridho langsung menghubungi nya dan mengatakan tak lagi bisa menerimanya belanja di gudang.


ia tak ingin istrinya terlibat lebih jauh dengan laki-laki itu. jadilah sekarang Dedi harus mencari langganan baru untuk berbelanja.


dan Ridho juga harus rela kehilangan pelanggan besarnya itu demi keutuhan rumah tangganya dengan Shanti.


"ya mungkin dia bosan belanja dengan kita!" jawab Ridho asal. ia tak mungkin mengatakan bahwa ia sendiri yang menolak Dedi untuk berbelanja kemari.


"lagian mungkin ini pengaruh dari harga BBM yang naik. jadi penjual sayuran di pasar harus menurunkan belanja mereka karena harga barang juga kan sudah mulai naik."


"iya juga ya mas..."


"emm... ya sudah lanjut lagi kerja. bentar lagi pelanggan pada datang!"


"siap bos!"


Deri seger beranjak dari sana meninggalkan Ridho yang masih memikirkan ini dan itu dikepalanya.


hari sudah menjelang siang pukul 10.30. Shanti masih asik memasak menyiapkan makan siang untuk suami dan anak-anak nya nanti sepulang mereka dari sekolah.


hpnya tiba-tiba berbunyi. ada pesan masuk disana. sejenak ia berhenti dari aktifitasnya dan membaca pesan tersebut.


"kamu akan datang kan?!" (Max)


ia tak langsung menjawab pesan dari max itu. diletakkannya kembali hp itu dan melanjutkan kembali memasaknya.


"aku akan tetap menunggu mu!."(Max)


lagi-lagi Max mengirimi ia pesan. Shanti hanya meliriknya saja dan kembali memasak.


masakannya sebentar lagi selesai menurutnya tanggung jika ia harus berhenti dan membalas pesan Max.


sebenarnya juga ia sambil berfikir apakah ia harus datang atau tidak. ia tak memiliki alasan yang tepat untuk berpamitan dengan suaminya.


ia juga masih ragu dengan perasaanya sendiri saat ini.

__ADS_1


__ADS_2