Bahtera Rumah Tangga

Bahtera Rumah Tangga
Masih Rina dan Max


__ADS_3

setelah penolakan Shanti di toilet tadi. mud Max sudah turun dan menjadi buruk. ia lalu mengantri ke kasir membayar semua barang belanjaan Rina.


sedang Rina sendiri ia sejak tadi hanya duduk saja di parkiran menunggu Max datang.


meski ia kesal pada Max tapi tak mungkin kan ia pulang sendiri?! mau naik apa dia? jalan kaki! itu jelas tidak mungkin. sedangkan ia kemari tadi bersama dengan mobil Max.


setelah urusan bayar membayar selesai Max segera menghampiri Rina di parkiran.


"ayo kita pulang!"


Max berkata sambil memasukkan barang belanjaan ke dalam mobil.


Rina hanya diam saja. ia langsung masuk mobil dan duduk di bangku penumpang dan membanting pintu mobil dengan sangat kuat.


Max hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Rina yang menurutnya sangat kekanakan.


mereka berkendara dalam diam. hanya sesekali Max melirik ke arah Rina, lalu ia fokus lagi mantap jalanan.


tak ada yang berniat membuka pembicaraan. Rina yang ngambek karena Max menolak ajakannya hanya menatap ke arah luar kaca mobil dengan fikiran-fikiran yang entah berjalan kemana.


sebenarnya ia sangat berharap Max akan membujuknya. tapi apa yang didapat! Max malah hanya diam saja seperti patung tak memperdulikan dirinya.


Rina memang sadar jika sebenarnya Max sangatlah cuek bahkan terkesan tak perduli apa pun tentang perjodohan mereka. entah apa yang membuat Max bersikap seperti itu ia pun tak tahu.


Max adalah orang yang ia kagumi sejak lama. mereka bertemu pertama kali di kampus tempat mereka kuliah dulu.


Rina yang saat itu adalah mahasiswa baru diganggu oleh seniornya dan Max lah orang yang menolongnya. sejak saat itu lah ia terus mengagumi sosok seorang Max.


Rina memanglah sangat cantik tubuh tinggi, rambut panjang dan juga wajah yang ayu membuatnya banyak di kagumi banyak pria.


ia tak menyangka jika ia dan Max berasal dari kampung yang sama.


suatu hari ia meminta kepada orang tuanya untuk berkenalan dengan keluarga Max. ia meminta agar mereka mau menjodohkan mereka berdua.


dan ternyata keluarga Max pun menyetujui keinginan keluarganya. karena menurut mereka Max memang sudah cukup matang dan sudah harus berumah tangga. jadi tak ada salahnya jika mereka di jodohkan.


tapi setelah Max tahu jika mereka di jodohkan. Max semakin bersikap dingin padanya. tak banyak bicara jika mereka sedang bersama.


meski begitu Rina tetap berusaha menggapai cinta Max.


"sudah sampai!"


tiba-tiba lamunan Rina buyar mendapati mereka telah berhenti di satu tempat. tapi bukan rumahnya ataupun juga rumah Max. melainkan di sebuah taman.


"kenapa kita kemari?!"


"ayo kita turun!"


Max mengabaikan pertanyaan Rina dan langsung saja turun dari mobil.


Rina pun ikut menyusul turun dan menghampiri Max yang berdiri bersandar di badan mobilnya.

__ADS_1


"mau apa kita kemari?!"


sekali lagi Rina mencoba bertanya.


"aku ingin bicara berdua dengan mu Rin! ayo kita duduk di kursi itu."


Max mengarahkan pandanganya ke sebuah bangku kosong tak jauh dari mereka.


Rina pun hanya mengangguk dan mengikuti Max yang telah melangkah lebih dulu.


"duduklah Rin!"


"apa yang ingin kau bicarakan Max?!"


"kau tau Rin mengapa aku menerima perjodohan ini?!"


Rina tak menjawab. ia hanya menggelengkan kepalanya. sebenarnya ia juga ingin tahu kenapa Max mau menerima perjodohan ini.


tapi sikap Max malah terkesan seperti tidak menerima dirinya.


"karena itu kamu!"


"maksudnya Max?!"


"aku tahu kamu orang yang sangat pintar dan sangat baik dalam bersikap, juga tau menempatkan diri."


"aku masih belum mengerti."


Rina semakin bingung dibuatnya.


"tentu saja aku tahu!"


"maka dengarkan aku bicara sekarang!"


Rina hanya mengangguk dan menatap sekilas Max yang duduk di sebelahnya.


"aku mencintai seseorang. dari dulu hingga sekarang. aku tak tahu kenapa aku tak bisa berpaling dari nya."


"memang dulu semua kesalahanku yang meninggal dirinya. tapi kini akhirnya kami kembali bertemu!"


"meski begitu kami takkan mungkin bisa bersama karena dia telah memiliki keluarga dan cintanya sendiri."


"aku tak ingin membodohi diriku sendiri jika aku sebenarnya sangat merindukan dirinya. dan aku juga tak ingin membohongi mu tentang perasaan ku Rin!"


panjang lebar ia mengatakan semua isi hatinya pada Rina.


"apa maksudmu mengatakan semua itu Max?!"


"meski kita menikah. mungkin kau bisa memiliki ragaku. tapi tidak dengan hati ku!"


Max mengangkat kepalanya menatap Rina yang semakin gundah dibuatnya.

__ADS_1


"Max. tidak bisa kah kau untuk diam saja dengan semua perasaan mu itu?! kenapa kau harus memberitahu aku tentang semuanya?!"


"aku tak ingin kau terlalu banyak berharap dari ku!"


"heh... lucu sekali"


Rina tertawa sinis. ia menertawakan dirinya sendiri saat ini.


"kau seharusnya tak perlu memberi tahu aku Max! dengan begitu aku tak akan banyak berfikir tentang mu. meski aku tau kau tak mencintai aku. setidaknya dengan kau menerima perjodohan ini sudah membuat aku bahagia.!"


Rina menjeda sejenak ucapannya. ia menarik nafasnya dalam.


"setidaknya cinta bisa tumbuh setelah kita menikah."


"kau tidak seharusnya berharap aku akan mencintaimu."


"yah sekarang kau sudah mematahkan harapanku! apa kau puas?"


Rina sedikit emosi di buatnya. menurut nya Max sangat tak masuk akal.


"jika kau memang tidak menginginkan aku sebaiknya kita batalkan saja perjodohan ini!"


"aku tidak bisa Rin!"


"haahaaahhhaaa...."


Rina tertawa miris. ia tak menyangka Max akan berkata begitu.


"lalu apa mau mu?!"


Max diam tak menjawab. dia hanya memandang lurus kedepan menatap ilalang yang bergoyang tertiup angin.


"apa kau ingin menikah dengan ku tapi juga kau tetap ingin mencintai orang lain?!"


Rina mantap Max dengan tatapan benci saat ini.


"jika memang itu mau mu maaf aku tak bisa! karena aku ingin menikahi seseorang Max bukan kayu lapuk!"


Rina menundukkan kepalanya. ia menahan air matanya agar tak tumpah. ia tak ingin Max mengetahuinya.


ia akan sangat malu jika itu terjadi. karena Max pasti akan berfikir dia sudah tergila-gila pada dirinya.


"terserah apa yang kau fikirkan Rin! tapi yang jelas semuanya telah aku katakan. dan juga aku minta maaf pada mu. aku tak akan membatalkan perjodohan ini"


Max beranjak dari duduknya. ia merasa sudah tak ada lagi yang perlu ia katakan pada Rina.


ia percaya jika Rina adalah orang yang berfikir rasional.


tapi Max melupakan bahwa sebenarnya Rina juga seorang perempuan yang selalu mementingkan perasaan dan hati nya.


Rina hanya menunduk kan kepalanya. air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga setelah kepergian Max dari sana.

__ADS_1


ia meratapi nasibnya yang sangat buruk itu. mencintai tapi hanya sendiri. diinginkan hanya menjadi topeng saja.


ia merasa hancur dan sakit di hatinya bagai seribu jarum yang menghujam ke ulu hatinya.


__ADS_2