
masih di rumah kediaman keluarga Nugroho. di ruang keluarga masih terdapat gelas dan hidangan yang masih tersisa dari menjamu tamu.
Max masih duduk menghadap ayah dan ibunya mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh ibu dan ayahnya.
"tanggal 10 bulan depan kalian akan menikah nak..."
ayah Max memberitahu hasil dari rembuk tadi kepada Max.
Max hanya mengangguk saja awalnya.
"hah! apa bulan depan?!"
tiba-tiba ia mengangkat kepalanya memandang kearah ayahnya. ia sedikit terkejut.
sebenarnya ia tak keberatan menikah dengan siapa pun dan kapan pun. karena harapanya untuk bersama Shanti kan memang sudah tidak akan pernah bisa terjadi.
hanya saja ia amat terkejut karena tanggal pernikahan yang di tetapkan itu terlalu cepat baginya.
"iya Max. jadi kamu harus persiapkan dirimu sebaik mungkin."
kali ini ibu Dira yang berbicara.
"tapi Bu apa ini tidak terlalu cepat?!"
"memangnya apa lagi yang kamu tunggu Max?!"
"ya tidak ada Bu..."
Max menunduk tak tau harus berkata apa lagi.
"dengar Max! umur mu sudah terlalu tua untuk terus bermain-main. sudah saatnya kamu memikirkan masa depan dan membina rumah tangga.!"
ayah Max berbicara dengan tegas. ia sangat menyayangi anak semata wayangnya itu. tapi ia juga tak mau terus di bantah oleh Max. apalagi perkara pernikahan.
bukan hanya kali ini saja Max bersikap seperti itu. Max sudah pernah beberapa kali akan dijodohkan oleh kedua orang tuanya dulu.
tapi Max selalu menolak. ia beralasan belum siap. tapi sekarang usianya sudah semakin matang.
tak mungkin kan jika dia akan terus menolak. apalagi dia anak satu-satunya.
"Max. dulu ibu dan ayah bisa memaklumi semua alasan mu yang belum siap untuk menikah. tapi sekarang sudah tidak bisa lagi nak..."
ibu Max menjeda sejenak perkataan nya.
"selain umur mu yang sudah tidak muda lagi. kamu juga sedang mencapai semua yang kamu cita-cita kan nak... jadi sudah saatnya sekarang kamu membina rumah tangga."
dengan penuh kesabaran ibu Max memberi pengertian kepada anak yang selalu menjadi kebanggaan nya.
Max hanya mendengarkan dan terdiam di kursinya. tak tahu lagi harus menjawab apa pada kedua orang tuanya itu.
__ADS_1
"ya sudah sana pergilah tidur. hanya itu yang ingin ayah bicarakan."
ayah Max segera beranjak dari sana membawa beberapa piring kue yang masih berceceran di meja. Karen memang belum sempat di bereskan.
begitu juga dengan ibu Max yang ikut memunguti satu per satu galas di sana membawanya ke dapur untuk di bersihkan.
tinggal lah Max seorang diri di sana. ia tak melakukan apa-apa. hanya diam dengan fikiranya yang entah berkelana kemana.
setelah bosan sendiri ia juga menyusul beranjak dari sana dan berjalan menuju kamarnya.
ia duduk di tepi ranjang. kantuk yang semula menyerang kini hilang begitu saja.
'shanti kau sedang apa?!'
tiba-tiba saja fikiranya melayang pada Shanti. bukanya dia harusnya memikirkan Rina. eh ini malah memikirkan istri orang.
dia tak bisa membohongi hatinya. dia tak pernah bisa berpaling. itu ia sendiri pun tak tau apa sebabnya.
diliriknya jam di atas nakas. 11.03 rupanya sudah hampir tengah malam.
ia duduk di bersandar di kepala ranjang dan memainkan hpnya. dilihatnya galeri foto di dalam nya.
ada beberapa foto Shanti yang ia bil secara diam-diam saat mereka bertemu di kafe dan di lapangan bola voli.
tiba-tiba saja ia teringat jika besok adalah pertandingan final bola voli. ia tersenyum sejenak dan terus memandang wajah di hp itu.
'jika kemarin-kemarin kau tak mau bertemu dengan ku tak apa Shan... karena aku bisa menemui mu besok!'
'kita pasti bertemu besok sayang...'
sekilas ia mencium foto Shanti di dalam hp. lalu mematikan benda pipih itu dan diletakkannya di atas nakas.
tiba-tiba semangat Max kembali berkobar. ia menyetel alarm pukul 6 pagi. ia tak ingin terlambat besok.
setelah itu ia segera berbaring dan memejamkan matanya terlelap. ia tak sabar menunggu hari esok untuk menemui belahan jiwanya.
kriiing.... kriiing..... kriiing....
suara alarm memekakkan telinga. meski begitu Meri belum juga terbangun. ia masih bergeming di dalam selimut.
karena memang cuaca sangat dingin sehabis hujan semalam.
toook... toook.... toook....
"Meri bangun ini sudah jam enam kamu bisa terlambat nanti di pertandingan!"
Mira berteriak dari balik pintu. ia gemas pada adiknya yang sejak tadi belum juga bangun.
Dook.... Dook... dook....
__ADS_1
"Meri! cepat banguuuuuuuuuun!"
kali ini bukan lagi ketukan di pintu. tapi gedoran yang membuat seisi rumah menjadi tambah siuh.
"biar ayah yang bangunkan. mbax siap-siap saja."
kali ini Ridho yang mengambil alih. ia menghampiri Mira yang masih berdiri di pintu kamar Meri yang masih terkunci.
ia mengambil kunci cadangan dari atas lemari dan segera membuka kamar anaknya.
ia berjalan menghampiri alarm dan mematikaya.
" Meri... bangun nak..."
ia menarik paksa selimut yang di kenakan Meri.
"ayah... aku masih ngantuk... semalam tak bisa tidur karena nerfes...."
Meri merengek dengan mata yang masih terpejam. ia kembali menarik selimutnya.
"nanti kamu terlambat sayang.. ini sudah hampir setengah tujuh...!"
"hah! apa!"
Meri segera bangkit. ia terkejut bukan kepalang. sudah pasti sang kakak sudah meninggalkannya berangkat ke sekolah.
"ayah kenapa tidak bangunkan dari tadi?!"
ia segera berlari menyambar handuk dan menghilang di balik pintu kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Ridho.
Ridho hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya itu. ia segera beranjak dari sana menuju ruang makan untuk sarapan.
"sudah bangun Meri yah?!"
"sudah. dia sedang mandi. kamu berangkat saja duluan. nanti biar ayah yang antar dia ke sekolah."
"nggak usah. biar ibu saja yang antar. sekalian kan ibu juga mau lihat pertandingan final hari ini."
"tapi masih jam 9 dek?! apa kamu nanti nggak kelamaan nunggunya?!"
"enggak mas. aku mau mampir ke toko mbax Nurul dulu ambil pesana. soalnya mbax Nurul sudah wa semalam."
"ya oke lah kalau begitu...!"
"ya sudah kalau begitu. Mira berangkat dulu ya ayah, ibu!
pamit Mira pada Shanti dan Ridho. ia meraih tangan kedua orang tuanya dan menciumnya dengan takzim.
"hati-hati bawa motornya jangan ngebut-ngebut!"
__ADS_1
"iya ibu...!"
ia segera berjalan keluar rumah. menghampiri motor kesayangannya lalu berangkat ke sekolah meninggalkan Meri yang masih berkutat di kamar mandi.