
"dia sepertinya kelelahan dan kelaparan jadi pingsan."
Jojo hanya menyimak dan menganggukkan kepalanya saja.
"aku sudah mengoleskan salep. aku akan memasang infus dan memberinya vitamin. sebelum itu aku akan mengganti bajunya dulu karena ini sepertinya basah"
"lakukan saja. aku tak akan mengganggu.!"
"apa kau punya baju untuk nya.?"
"sebentar aku Carikan dulu."
Jojo melangkah menuju lemari dan mencari sesuatu yang bisa di pakai oleh Rina.
dia mengambil kaos dan celana olahraga dan membawanya kepada Jingga.
"hanya ini yang aku punya."
"letakkan di situ dulu. apa kau punya air hangat?"
"ada. tunggu sebentar biar aku ambilkan."
sekalian Andik kecilnya juga ya Jo."
"siap Bu bidan!"
Jojo berlalu ke kamar mandi menyiapkan semua yang di minta oleh Jingga. tak lama iapun kembali dengan handuk kecil dan sebaskom air hangat di tanganya.
"kau bisa keluar dulu Jo. dan tolong tutup pintunya.!"
"oke."
setelah Jojo pergi hingga segera saja membuka pakaian yang dikenakan Rina. sebenarnya alasan utamanya bukan hanya sekedar ingin mengganti pakayrina yang basah karena keringat.
tapi lebih tepatnya dia ingin memeriksa seluruh tubuh Rina. apakah ada bekas kekerasan yang lain di sana. dan besar kemungkinan juga meninggalkan bekas.
setelah sekitar 15 menit dia memeriksa dan membersihkan tubuh Rina akhirnya Jingga bisa bernafas lega. karena tak ada lagi bekas kekerasan yang lain di sana.
meskipun Rina bukan lah orang yang dia kenal tapi rasa kemanusiaan lah yang membawanya mau melakukan itu.
dia keluar kamar dan mendapati Jojo sedang duduk di depan TV dengan mie instan dan ayam goren di hadapannya.
"kau ini belum juga meninggalkan kebiasaan makan mie instan Jo!"
"heehee..."
Jojo hanya tersenyum saja. mereka berdua memang kenal sejak kecil karena memang rumah mereka yang berdekatan.
"kalau kau mau masih ada itu di meja. aku sengaja buat dua tadi.!"
"huuh... kau memang tidak berubah.!"
Jingga lalu mengambil sepiring mie instan yang sudah disiapkan Jojo untuknya dan ikut duduk di sebelahnya.
mereka makan sambil nonton acara komedi yang tayang di TV.
"bagaimana wanita itu Ji?"
__ADS_1
"kita tunggu sampai infusnya habis. mungkin dia akan sadar setelah itu."
"apa ada bekas luka yang lain saat kau mengganti bajunya?"
"tidak ada. hanya di pipinya saja."
"kasihan sekali dia itu. saat aku menghampirinya dia sedang menangis sambil memeluk lututnya di pinggir jalan."
"apa kita perlu melapor kepada polisi. siapa tau dia korban kekerasan atau mencoba melarikan diri dari orang jahat?"
"tidak perlu sepertinya Ji. kita tidak tahu cerita yang sebenarnya. lebih baik kita tunggu dia sadar dulu saja."
sudah satu jam mereka duduk di depan TV sambil menunggu Rina sadar. Jingga beranjak untuk memeriksa nya tapi ternyata Rina belum juga bangun.
Jingga melepaskan selang infus karena sudah habis. dia membereskan semua barangnya.
dia ingin pulang untuk istirahat karena hari semakin malam.
"Jo. dia belum sadar. tapi aku mau pulang ya. ini sudah malam."
"baiklah... apa yang harus aku lakukan jika dia sudah sadar Ji?"
"ini obat yang harus dia minum. dan jangan lupa beri dia bubur untuk makan. baru setelah itu minum obat."
"oke!"
"kalau begitu aku pulang dulu ya. aku sudah mengantuk."
"aku akan mengantar mu sampai rumah."
"tidak perlu. kau berjaga saja disini."
"baik lah!"
Jingga hanya perlu berjalan sekitar 50 meter saja untuk sampai kerumahnya jadi Jojo tidak perlu cemas meski dia pulang larut malam begini.
malam telah berganti pagi. sinar hangat sang mentari menggantikan dinginnya embun malam yang menusuk tulang.
perlahan Rina membuka matanya. ia menatap sekeliling ruangan yang sangat asing baginya.
ia bangkit duduk menyandarkan punggungnya di kepala ranjang mencoba mengingat apa yang terjadi. dan dimana dia berada saat ini.
tak lama pintu kamar terbuka. menampilkan seorang pria asing yang tengah menatapnya.
"kau sudah bangun?"
Jojo mencoba bertanya pada Rina yang terlihat masih sedikit bingung.
"kau ada di rumah ku. aku menemukanmu pingsan semalam di kebun teh."
Jojo berjalan menghampiri Rina dan menjelaskan semua pertanyaan yang tergambar jelas di wajahnya.
"apa ini sudah pagi?"
Rina terkejut mengingat semalaman dia tidak pulang kerumah dan juga tidak memberi kabar orang tuanya. pasti mereka sangat hawatir saat ini.
"aku tidak tahu dimana rumah mu. jadi aku membawamu kesini. apa kau sudah merasa lebih baik?"
__ADS_1
"dimana tas ku?"
bukanya menjawab Rina malah sibuk memandang kesana kemari mencari tas sandangnya. ia ingin mencari hpnya dan menghubungi orang tuanya.
"kau tidak membawa apapun."
Jojo sedikit keheranan. karena memang Rina tak membawa apa-apa saat dia menemukanya.
"ya Tuhan. pasti ketinggalan di fila.!"
dia bergumam kecil mendapati semua barang-barang yang dia bawa tertinggal di Fila Max. dia pasti lupa membawanya karena tergesah pergi.
dia bergegas ingin beranjak. tapi tiba-tiba kepalanya berdenyut hebat dan membawanya kembali terduduk di atas ranjang.
"sebaiknya kau jangan dulu banyak bergerak. kau masih sangat lemah."
"aku ingin pulang. orang tua ku pasti sangat menghawatirkan aku."
dia menatap horor penampilannya yang tak sengaja terlihat dari pantulan cermin besar di depan ranjang.
"baju ku! siapa yang menggantinya?"
dia menatap Jojo dengan tajam penuh selidik. hawatir jika lelaki itu yang telah lancang mengganti pakaian nya semalam.
"eits... jangan memandangku begitu lah... bukan aku yang menggantinya tenang saja.
semalam aku meminta tolong pada temanku dia bidan di sini sekalian dia juga memeriksa keadaan mu."
"maaf."
Rina menundukkan pandanganya menyesal berfikir aneh tentang orang yang telah menolongnya.
"kau duduk dulu disini aku akan membawakan bubur untuk mu."
Jojo segera beranjak dan menuju dapur. tak lama dia kembali lagi dengan sangkok bubur dan segelas air minum hangat di tanganya.
"sebaiknya kau makan dulu lalu minum obatnya agar cepat pulih."
"baik."
Rina mengambil bubur dari tangan Jojo dan dengan perlahan menyiapkannya mengisi perutnya yang memang sangat terasa lapar.
dia tidak makan sejak terakhir sarapan di pagi kemarin sebelum pergi ke Fila Max.
"tapi aku ingin menghubungi orang tua ku pasti mereka sangat cemas saat ini."
Jojo merogoh kantong celananya dan menyerahkan benda pipih persegi kepada Rina.
"ini. telpon saja memakai hp ku."
Rina meraihnya dan menekan beberapa nomor dan memanggilnya. beberapa saat telepon berhasil tersambung dan di angkat.
"hallo..."
suara sang ibu terdengar dari seberang.
"ibu ini Rina."
__ADS_1
"ya Tuhan Rina, kemana saja kamu semalaman tidak pulang. tidak juga memberi kabar! apa kamu baik-baik saja nak?!"