Bahtera Rumah Tangga

Bahtera Rumah Tangga
dirawat


__ADS_3

malam ini terpaksa Shanti harus tetap tinggal di rumah sakit untuk menjalani rawat inap. tak lama setelah Shanti tersadar dari pundaknya dokter dan satu perawat kembali memeriksa keadaan Shanti.


"selamat malam Bu Shanti..." sapa dokter Reno.


"selamat malam dok..."


"permisi ya saya mau periksa keadaan ibu sebentar."


"bagaimana rasa perutnya sekarang? apa masih terasa panas?"


sambil terus memeriksa sesekali dokter Reno mengajak bicara Shanti.


"sudah tidak begitu panas seperti tadi dok..."


"tolong untuk saat ini jangan makan makanan yang pedas dulu ya Bu. karena lambung ibu juga terluka."


"baik dokter."


"baiklah kalau begitu saya permisi dulu. mari pak."


dokter Reno juga tak lupa berpamitan pada Ridho yang sejak tadi ikut menyimak.


"iya dokter. terimakasih dokter."


"sama-sama pak..."


setelah itu dokter Reno berlalu dari ruangan tempat Shanti dirawat.


"tuh dek. dengar apa kata dokter. jangan makan sambel lagi ya..."


"iya mas... aku juga nggak nyangka kalau gini jadinya. padahal biasanya juga aku makan sambel tiap hari."


"iya sih. tapi mungkin tadi sore itu terlalu banyak dek..."


"iya mungkin mas... oh iya anak-anak mana mas?!"


"waktu kamu dibawa kesini tadi Meri belum pulang, jadi aku minta Mira nunggu Meri pulang dulu baru nanti nyusulin kita kesini."


"owh... berarti lama juga ya mas aku pingsan?"


"mas sih nggak tau berapa lama kamu di kamar mandi. tapi pas sudah di bawa ke sini ya lumayan lama dek. ini aja udah lewat magrib!"


sedang asyik mengobrol tiba-tiba pintu didorong seseorang. ternyata Meri dan Mira sudah sampai. Meri terlebih dahulu masuk kemudian disusul Mira sambil menangis.


"ibu sudah sadar?" Meri sedikit berlari menghampiri bangkai ibunya.


"Alhamdulillah sudah. gimana tadi acara makan-makan nya seru nggak?"


"ih... ibu mah. katanya sakit. masih sempat aja nanyain gituan!"


"pasti seru lah Bu. makanya kami lama ke sini karena jam setengah enam Meri baru pulang!"


Mira berkata sambil menyeka air matanya.

__ADS_1


"kamu kenapa kok nangis mbak?"


"habisnya aku hawatir banget sama ibu. tiba-tiba aja aku nemuin ibu pingsan di kamar mandi!"


Mira malah semakin terisak melihat ibunya yang terbaring lemah di bangkar. meski sudah banyak bicara tapi keadaan Shanti masih terlihat sangat lemah.


""udah jangan nangis lagi. yang penting ibu sekarang sudah nggak apa-apa."


kali ini Ridho yang menyahuti Mira sambil mengusap kepalanya sayang.


"iya ayah. oh iya ini aku bawa makan malam untuk kita."


Meri mengangkat satu renteng rantang berisi makanan yang di sudah disiapkan Mira dirumah tadi.


"nanti dulu makanya Meri. tunggu makanan ibu datang biar kita makan sama-sama."


"iya mbak! apa kata dokter tadi bu!?"


"ibu cuma kebanyakan makan sambal makanya pingsan karena lambungnya juga luka."


Ridho yang menjawab pertanyaan Meri. ia menjeda sejenak ucapannya.


"mbak Mira mulai sekarang jangan makan sambal yang terlalu pedas ya.! jangan sampai tumbang juga kayak ibu."


"iya yah..." Mira hanya bisa menganggukan kepalanya menjawab kurang semangat pada sang ayah.


"permisi... ini saya mengantarkan makan malam pasien!"


"terimakasih Bu."


Mira segera menyambut tempat makan yang disodorkan ibu-ibu tadi dan membawanya ke arah ranjang sang ibu.


"sama-sama. saya permisi dulu."


tanpa menunggu respon orang yang ada di dalam ruangan ibu-ibu paruh baya itu segera berlalu.


Ridho membantu Shanti duduk dan sedikit meninggikan bangkar di bagian kepala Shanti agar posisinya nyaman.


"ini kamu makan dulu dek."


Ridho meletakkan makanan itu di meja kecil di hadapan Shanti.


" iya mas. biar aku makan sendiri. kalian juga makan saja sana."


"ibu apa nggak mau aku siapin?"


Mira ingin menyuapi ibunya yang masih terlihat pucat dan tak bertenaga itu.


"ibu masih bisa makan sendiri Mira. tenang saja ibu sudah nggak papa kok."


Shanti mencoba meyakinkan sang anak agar tak begitu hawatir kepadanya. ia sangat tahu kalau anaknya sangat menyayanginya.


dan satu hal yang Shanti sadari pasti Mira sangat terkejut mendapati dirinya yang tengah terbaring di lantai kamar mandi karena pingsan. setidaknya itu lah yang ada di dalam fikiranya saat ini.

__ADS_1


"ya sudah aku temani ibu makan di sini. biar ayah sama Meri makan di kursi saja."


Mira mengambil nasi dan beberapa lauk yang dibawanya dari rumah dan membawanya makan bersama sang ibu di bangkar.


"oh iya. berarti ibu nggak boleh makan sambal lagi dong?"


Meri bertanya memecah keheningan di tengah makan malam mereka.


"iya. untuk saat ini belum boleh dulu. biar sembuh dulu ibunya. dan kalau pun sudah sembuh yam makan sambal juga nggak boleh seperti hari-hari kemarin. harus dikurangi. dan satu lagi. nggak usah lagi lah masak pakek cabe rawit setan itu yang pedasnya minta ampun. "


panjang lebar Ridho menjawab sang anak. dan juga sedikit memberi peringatan terutama pada Mira dan Shanti yang sangat hobi makan makanan pedas.


"iya ayah."


setelah selesai makan malam Mira dan Meri membersihkan sisa makan mereka. sedang Ridho di kamar mandi. ia ingin mandi sejak tadi sebenarnya.


mengingat hari ini dia sudah bekerja dan pastinya berkeringat karena sesekali ia juga membantu anak buahnya mengangkat sayuran.


"assalamualaikum mbak Shanti..."


pintu di dorong segerombolan orang yang ingin menjenguk nya. anak buah gudang beserta keluarganya datang menjenguk Shanti beramai-ramai.


"waalaikumssalam...! masuk mas Joni,mas Edi,mas Riswan." Mira mempersilahkan mereka masuk dengan ramah.


"gimana kepadanya mbak Shanti?"


"udah agak mendingan Jon...."


"syukurlah mbak. saya ikutan cemas tadi lihat mbak Shanti pingsan di kamar mandi."


"ini mbax kami bawa beberapa buah. mudah-mudahan cepat sembuh ya mbak!"


"iya. makasih ya Riswan..."


"mas Ridho kemana Mira?"


"ayah lagi mandi tadi. dari sore belum mandi soalnya."


tak lama Ridho keluar dengan penampilan yang sudah lebih segar.


"wah... banyak tamu ternyata."


"iya mas mau jenguk mbak Shanti. soalnya penasaran kalau lihat langsung udah baikan apa belum."


"terimakasih ya kalian sudah mau repot-repot kesini."


"sama-sama mas..."


mereka mengobrol ringan dan membicarakan beberapa hal juga tentang pekerjaan tentunya.


setelah hampir jam sembilan malam mereka segera berpamitan agar Shanti bisa segera beristirahat tanpa terganggu.


mereka semua berharap agar Shanti segera sehat kembali. walau bagaimanapun solidaritas dan rasa hormat mereka terhadap Shanti sangat lah tinggi. selain karena Shanti adalah istri bos mereka, tapi Shanti juga begitu baik kepada keluarga merek.

__ADS_1


__ADS_2