Bahtera Rumah Tangga

Bahtera Rumah Tangga
Hampir Ketahuan


__ADS_3

"apa ibu di dalam?!"


Mira masih berdiri di depan pintu bilik yang tertutup rapat.


took...took...took...


sekali lagi ia mengetuk pintu itu.


"apa ibu sudah keluar ya?! tapi kok belum kembali ke tribun?!"


Mira bicara sendiri di sana. sambil berfikir sejenak.


"mungkin ibu sudah keluar!"


setelah lama tak mendapat sautan dari dalam ia pun memutuska untuk pergi dari sana.


sepeninggal Mira Shanti segera ingin beranjak dari sana tapi lagi-lagi Max menahannya.


Max memeluk pinggang Shanti posesif. ia menempelkan bibirnya tepat di telinga Shanti dan sengaja sedikit menghembuskan nafasnya disana.


"jangan keluar dulu. mungkin Mira masih di luar"


bisik Max tepat ditelinga shanti sambil sedikit memberi jilatan disana.


perlakuan Max membuat Shanti sedikit menahan nafasnya. ia memejamkan matanya menahan respon tubuhnya yang sedikit terbuai.


Shanti diam saja, ia tak menyahuti Max. dadanya yang masih berdebar bertambah bergemuruh karena perlakuan Max.


"Shan... aku menginginkan mu..."


Shanti sontak terkejut. mendengar perkataan Max membuatnya sadar sesadar-sadarnya.


ia segera menjauh dari Max dan melepaskan diri dari dekapan Max.


"kamu jangan gila Max! kamu lupa apa kita di mana?!"


"iya aku tahu. memangnya kenapa?! toh nggak akan ada yang tahu!"


"sepertinya otakmu emang sudah nggak waras Max!"


"aku memang sudah gila karena mu sayang..."


Max meraih wajah Shanti dan mengusap lembut pipinya.


"sebaiknya aku keluar dari sini! aku kesini bersama suami dan anak ku Max. mereka akan curiga jika aku terlalu lama disini!"


Shanti terdiam sejenak.


"lagi pula Max tempat ini tidak seharusnya kita berdua melakukanya disini. bila ada orang yang masuk kita akan ketahuan!"


"jika di tempat lain apakah boleh?!"


Shanti terdiam mendengar perkataan Max. ia tak menyangka jika kata-katanya di tanggapi berbeda oleh Max.


"jawab aku Shan...!"


"kita tidak seharusnya berbuat seperti itu dimana pun. karena kita bukan sepasang suami-isteri!"


Shanti menarik wajahnya dari tangan Max. ia segera berbalik siap akan membuka pintu.


"aku akan menunggu mu besok di taman dekat Fila. kita bertemu disana!"


Shanti tak jadi membuka pintu itu. ia kembali menoleh ke arah Max.


"aku tidak bisa Max!"


"kenapa?! apa suami mu tak memperbolehkan mu keluar rumah?!"

__ADS_1


"bukan seperti itu Max! kita memang tidak seharusnya terus bertemu!"


"kenapa kau terus memberi jarak diantara kita Shan?!"


"apa maksutmu Max?!"


"katakan dengan sejujurny! apakah cinta mu untuk ku sudah tak ada lagi,?!"


Shanti tak menjawab. ia menundukkan kepalanya melihat kedua kakinya di lantai.


"jawab aku Shan!"


Max meraih wajah Shanti mendongakkan kepalanya hingga tatapan mata mereka bertemu.


"kenapa kau hanya diam saja Shan?!"


"lalu aku harus berkata apa Max?!"


"jawab pertanyaan ku!"


"kau memang lucu Max! bertanya seperti itu kepada wanita yang sudah memiliki suami.!"


"aku tau kau tidak sepenuhnya mencintai suamimu..."


"kau tak perlu tau tentang itu. itu urusan ku!"


Shanti melepaskan dirinya dari Max dan segera berbalik. ia segera menggenggam gagang pintu.


"jangan lagi mengajakku bertemu jika kau terus seperti ini!"


Shanti memperingatkan Max sebelum membuka pintu.


"aku tak perduli!"


Shanti membuka pintu dan segera melangkah keluar dari bilik. sebelum ia benar-benar pergi Max kembali meraih tanganya.


"aku akan terus menunggu mu besok hingga kau datang!"


ia melepaskan paksa tangan yang di genggam Max dan segera keluar dari sana.


sesampainya di taman ia duduk sebentar di kursi Yang dan di sana. ia menarik dalam-dalam nafasnya. mengatur kembali detak jantung yang saat ini tidak karuan.


ia mengedarkan pandanganya kesana kemari mencari sosok Mira. besar kemungkinan ia masih ada di sana.


tak berselang lama ia mendapati Mira sedang berdiri di pintu masuk dengan wajah yang sedikit hawatir.


Shanti tahu pasti anaknya itu menghawatirkan dirinya. ia segera beranjak dari sana untuk menghampiri Mira.


di tengah perjalanan nya menuju Mira tiba-tiba ia melihat kedai Boba yang terlihat sedikit sepi karena memang orang-orang sedang menikmati pertandingan yang sedang berlangsung saat ini.


ia segera saja menghapiri nya dan memesan empat buah minuman Boba.


"mbax pesan empat rasa strawberry ya..."


"iya mbax. tunggu sebentar ya..."


'untung saja ada orang jualan minuman ini. jadi ada alasan aku nanti sama mas Ridho karena terlalu lama di kamar mandi'


dalam hati Shanti berbicara pada dirinya.


ia mendapat alasan jika suaminya nanti bertanya mengapa ia sangat lama di toilet.


"ini mbax pesananya!"


"berapa semuanya mbax?!"


"40ribu mbax!"

__ADS_1


Shanti menyodorkan uang pecahan 50 ribu pada sang penjual.


"ini kembaliannya mbax!"


"terimakasih..."


diraihnya minuman yang telah ia pesan dan juga uang kembaliannya. ia pun segera berjalan cepat menuju Mira.


"Mira! ngapain kamu disini?!"


" ibu kenapa lama sekali. ayah nyuruh aku buat jemput ibu di toilet..."


"maaf ya. ibu ngantri beli Boba dulu hee"


"pantesan Mira susulin ke toilet tadi nggak ada! ibu malah ngantri Boba to?!"


"iya. soalnya kelihatanya seger banget diminum pas cuaca panas-panas gini."


ya sudah yok Bu balik ke tribun. ayah pasti udah nungguin."


"em..."


Shanti hanya berdehem dan menganggukkan kepalanya.


mereka berdua akhirnya kembali menghampiri Ridho yang duduk di tribun menunggu mereka datang.


"kanapa lama sekali dek?!"


"aku ngantri beli minuman dulu mas!"


"pantesan. pertandingan nya udah mulai dari tadi Lo!"


"iya maaf. ini untuk mas..."


Shanti menyodorkan minuman yang ia beli tadi pada Ridho.


"terimakasih dek."


"iya mas..."


"Bu. ini satu lagi untuk Meri kan?!"


"iya Mir..."


"aku bawa ke lapangan ya! mumpung Meri lagi istirahat tuh!"


"ya sudah antar ke adikmu sana!"


Mira segera meraih minuman yang disodorkan Shanti dan membawanya ke arah lapangan untuk diberika pada adiknya.


"siapa yang menang mas?!"


"kayaknya timnya Meri bakalan menang dek. selisih skornya sudah lumayan jauh."


"mudah-mudahan ya mas mereka menang."


"iya dek!"


Shanti melihat ke arah lapangan dimana anaknya sedang bertanding. tanpa sengaja ia melihat ke arah Max yang juga sedang melihat kearahnya dari lapangan.


rupanya memang sejak tadi Max sudah berada disana memperhatikan interaksi antara Shanti dan Ridho.


Shanti tiba-tiba tersedak minumannya. ia menjadi gugup karena tatapan tajam Max dan ekspresi nya yang sulit di artikan. ia segera memutus tatapannya dan melihat kearah suaminya.


"dek kamu nggak papa?!"


ia hanya menggelengkan kepnya sambil mengusap dadanya.

__ADS_1


"pelan-pelan lah dek minumnya. mas nggak bakalan minta kok. kan mas udah punya sendiri."


Shanti hanya tersenyum menanggapi candaan Ridho untuk nya.


__ADS_2