
umurnya baru 33 tahun. orang bilang di usia ini seseorang akan merasakan istilah puber ke dua.
dimana seseorang bisa akan sangat mencintai pasangannya saat ini. atau seseorang akan kembali seperti saat remaja kembali kasmaran dengan orang yang mereka sukai
begitu juga bagi Shanti yang memang terlalu cepat kehilangan masa-masa muda yang sedang indah-indah nya untuk membina rumah tangga.
saat itu usianya baru 17 tahun dan baru lulus SMA. ia harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia harus memulai hidup berumah tangga.
ditambah lagi dia tak begitu mengenali orang yang akan menjadi suaminya. hingga membuat ia putus asa.
hingga membuat Shanti memutuskan untuk kabur dari rumah saat sebulan menjelang pernikahan. ia pergi ke luar kota menyusul kakak laki-lakinya yang pertama. (atau ayah Dona).
mungkin saja bila yang saat itu melamarnya adalah Max maka dengan senang hati Shanti akan menerimanya. dan tak perlu ia melakukan aksi nekat kabur dari rumah kan!
flash on
"kamu tak boleh bersikap seperti ini Shan... kasihan ibu dan bapak yang sudah terlanjur menerima lamaran Ridho..."
"tapi mas aku nggak mau menikah dengan orang yang tak aku kenal!"
dengan air mata yang terus berderai Shanti mengungkapkan segala isi hatinya kepada kakaknya itu.
"kalau kamu tidak mau menikah dengan Ridho kenapa kamu tidak menolaknya dulu?!"
"aku sudah mau menolak mas... tapi mbax Sintia (ibu Friska) malah melarang ku. dia bilang mas Ridho adalah jodoh yang tepat untuk ku!"
Gino hanya bisa memijit kepalanya pening menghadapi kelakuan adiknya yang menurutnya sangat kekanakan.
sedang istrinya hanya duduk sambil memeluk Shanti mencoba menenangkannya dari tangisnya.
"sekarang kamu mas antar pulang dulu. kita bicarakan ini lagi dengan ibu dan bapak!"
kata Gino tegas tanpa mau dibantah.
setelah mengatakan itu ia beranjak dari duduknya meninggalkan Shanti bersama Jian istrinya.
Shanti tak lagi menjawab. ia hanya terus menangis dalam pelukan kakak iparnya.
"kamu yang sabar ya... mungkin memang jalanya harus seperti ini..."
kali ini Jian yang memberi nasihat sambil terus mengusap punggung Shanti.
"tapi aku nggak mau menikah dengan orang itu mbax... aku nggak kenal dia!!"
"kamu kan bisa mengenal dia setelah menikah Shan... tak ada salahnya kan seperti itu?! lagian banyak juga kok pasangan yang menikah karena dijodohkan dan mereka hidup bahagia sampai maut memisahkan..."
__ADS_1
dengan sabar Jian terus memberi pengertian pada adik iparnya yang sedang dilanda kegundahan itu.
"tapi mbax... aku mencintai orang lain..."
dengan suara perlahan ia sekali lagi mengungkapkan isi hatinya. takut kakaknya akan mendengarnya.
"Shan... coba dengarkan mbax bicara..."
diangkatnya wajah sang adik agar menatapnya.
"laki-laki yang kau cintai itu saat ini ada dimana?! apa dia mau melamar mu?! apa dia berusaha memperjuangkan mu?! tidak kan! mbax memang tak tau pria seperti apa dia. tapi setidaknya jika memang dia memang mencintai mu dia pasti mau melamar mu pada bapak dan ibu!"
dihapusnya air mata sang adik.
"mbax yakin dan percaya kamu pasti akan bahagia hidup dengan Ridho. tak ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya agar tak bahagia shan. lagian Shan memang Ridho lah yang memang dengan tulus mencintai mu. dan juga satu hal yang pasti, dia telah berani melamar mu pada ibu dan bapak! itu artinya dia memang sangat tulus mencintai kamu..."
panjang lebar Jian menjelaskan pada Shanti.
meski belum yakin Shanti tak lagi membantah perkataan kakaknya itu. ia diam saja dengan wajah tertunduk.
"sekarang kamu istirahat dulu besok mas akan antar kamu pulang kerumah ibu!"
"iya mas..."
akhirnya Shanti menurut. dengan malas ia beranjak ke kamar tamu yang disediakan oleh kakak iparnya untuk beristirahat.
sesampainya di sana mereka disambut dengan tangis ibu yang merasa hawatir karena Shanti pergi tanpa pamit pada mereka.
"Shan... akhirnya kamu pulang nak..."
dengan terisak ibu memeluk anaknya itu. ibu memang tak tau apa yang membuat Shanti berbuat seperti itu.
"maafkan Shanti pergi nggak bilang sama ibu. Shanti cuma kangen sama mas Gino Bu..."
ibu melihat kearah anak sulung dan menantunya yang juga ada disana.
"ibu apa kabar?! sehat ka!?"
"sehat nak. ayo masuk nak... kalian pasti capek dari perjalanan jauh.."
mereka pun masuk kerumah bersama dan sisik bercengkrama di ruang tamu.
"ibu sudah sampai mana persiapan pernikaha Shanti?!
Jian yang bertanya pada ibu kali ini.
__ADS_1
" tinggal beberapa yang belum siap nak. oh iya kemarin Ridho datang mencari Shanti. katanya mereka harus foto prewedding."
"ibu bilang apa sama mas Ridho?!"
Shanti menyahuti ibu dengan penasaran.
"ibu cuma bilang kalau kamu sedang pergi kerumah kakak mu untuk mengambil beberapa keperluan untuk acara."
"ibu berbohong pada Ridho?!"
kali ini Jian ikut penasaran.
"iya terpaksa ibu berbohong. soalnya ibu tak tega melihat wajah kecewanya saat datang kemari dan Shanti tak ada dirumah."
"besok aku akan menemuinya Bu."
"sebaiknya begitu... supaya dia tidak berfikir yang tidak-tidak tentang dirimu."
"iya Bu..."
setelah hari itu Shanti menuruti semua keinginan keluarganya dan acara pernikahan berjalan dengan lancar tanpa ada hal rintangan yang menghalangi.
Shanti juga sudah berlapang dada menerima Ridho sebagai suaminya. karena lama ia mencermati perkataan Jian kakak iparnya tempo hari.
memang benar menurutnya juga bila memang Max sungguh mencintainya tak mungkin dia tega meninggalkannya begitu saja tanpa adanya ikatan yang membuat jarang yang jauh tak dapat menghentikan jodoh yang akan datang kepada mereka berdua.
lama ia memikirkan ya hingga membuatnya semakin yakin menerima kenyataan hidupnya ini.
jodoh hanya tuhan yang tau pasti. tuhan pasti tahu mana yang terbaik untuk kita.
meski begitu Shanti tetap yakin jika semuanya suatu saat tak akan sia-sia.
flash back off
kembali pada Shanti saat ini.
di taman Shanti duduk sendiri, setelah beberapa saat ia mengendarai motornya tanpa tujuan. akhirnya ia berhenti di sebuah taman yang sedikit sepi karena hari masih siang.
ia duduk di kursi tepi kolam,pandanganya jauh menerawang ke dalam air.
memikirkan mengapa baru sekarang Max kembali padanya. dulu saat Shanti memintanya untuk tetap disini ia lebih memilih mengejar cita-cita nya.
sedangkan kini setelah sekian lama berlalu ia datang kembali menyatakan cinta dan rindunya pada Shanti.
semua itu membuat Shanti sedikit goyah dan kembali dengan harapan-harapan hampa yang hanya ada di angan.
__ADS_1
"apa yang harus aku lakukan pada mu Max?!"
ia memejamkan matanya. kembali air matanya jatuh tanpa diminta.