Bahtera Rumah Tangga

Bahtera Rumah Tangga
Masih bersama Max


__ADS_3

Max terdiam sejenak. ia memejamkan matanya mengingat kenangan yang menyakitkan baginya.


saat itu di sebuah parkiran rumah sakit ia melihat Shanti sendiri di sana. duduk di samping mobilnya.


awalnya Max ingin menghampirinya tapi belum juga kakinya melangkah. tiba-tiba seseorang lebih dulu menghampiri Shanti.


Shanti berdiri menyambut laki-laki yang menghampirinya itu.


dan hal yang paling membuat max terkejut adalah saat melihat penampila Shanti yang sedikit berisi dan perutnya membuncit menandakan bahwa ia sedang mengandung.


hancur sudah harapan dan angan Max yang selalu berharap bahwa Shanti akan setia menunggu dirinya.


hancur sudah harapan Max saat itu. hingga ia memutuskan kembali melanjutkan kembali pendidikannya dan melupakan Shanti.


tapi semakin ia mencoba melupakan semakin wajah Shanti dan senyum indah itu terbayang di matanya. hingga saat ini Max masih melajang belum menikah.


karena hatinya masih sepenuhnya milik Shanti.


kembali lagi ke saat ini.


"kenapa kau tidak menyapa ku Max?!"


suara Shanti menyadarkan Max dari lamunanya.


perlahan Max membuka matanya menatap dalam wajah ayu yang sangat ia rindukan itu.


"aku tak bisa Shan... karena saat itu kau sedang bersama suami mu...dan lagi..."


Max menarik nafasnya berat.


"saat itu kau sedang mengandung."


tak terasa setetes air mata turun begitu saja di pipi Max. air mata yang menunjukkan bahwa ia amat sangat kecewa dan patah hati.


Shanti hanya terdiam tak tau harus berkata apa lagi. lidahnya seolah kelu dan seolah hatinya di remas mendapati kenyataan cerita Max.


"maafkan aku Max..."


hanya itu yang bisa ia ucapkan. ia semakin menundukkan wajahnya sambil meremas ujung kemeja yang ia kenakan menahan air mata yang sudah sejak lama ia tahan agar tak jatuh di pipinya.


"tidak Shan... aku lah yang salah telah meninggalkan dirimu tanpa ikatan. setidaknya dulu harusnya aku mengikuti keinginan mu untuk bertunangan."

__ADS_1


dulu memang Shanti sempat meminta Max untuk melamarnya. meski hanya sekedar bertunangan saja setidaknya ada yang akan mengikat mereka satu sama lain saat berpisah. hanya saja Max saat itu belum siap. ia tak berani mengatakannya pada orang tuanya. takut mereka akan menentang rencana Shanti.


makanya Max menolak ide Shanti.


dengan kecewa Shanti menerima keputusan Max saat itu. ia mengira mungkin sejak awal Max memang tak pernah serius menjalin hubungan dengan nya.


"Max... ku fikir kita sudah harus berhenti dari masa lalu. maafkan aku max..."


Shanti segera berdiri dari kursinya. ia menyambar cepat tas tangan yang ia letakkan di atas meja dan segera berlari ke luar kafe.


kakinya berjalan cepat menuju motornya yang terparkir sedikit jauh di lantai dasar parkiran kafe itu.


setibanya di sana ia berjongkok di bawah motornya, tiba-tiba kakinya lemas dan tanganya bergetar tak terkendali.


ia tak lagi sanggup jika harus terus mendengarkan kata-kata Max. ia merasa bersalah padanya karena tak bisa mempertahankan cinta mereka.


lama ia termenung disana tanpa melakukan apa-apa.


hingga tiba-tiba sebuah tangan menariknya paksa berdiri dan membawanya masuk kedalam gudang peralatan tak jauh disana.


awalnya Shanti meronta mencoba melepaskan paksa tangan kekar itu hingga ia melihat siapa kiranya yang memaksanya itu.


rupanya Max pemilik tangan itu. ia tak bisa berbuat apa-apa ia hanya mengikuti langkah Max yang masih menggenggam erat tangannya.


sesampainya di sana Max menghentakkan tanganya, membuat Shanti tertarik ke arahnya dan tubuh mereka bertabrakan tak terhindarkan.


dengan sedikit erat Max memeluk tubuh mungil yang hangat itu. dengan penuh kerinduan ia tumpahkan dalam pelukan itu.


"Shan... ku mohon jangan menolakku saat ini. sekali saja biarkan seperti ini..."


karena memang Shanti sedikit memberontak dalam peluka itu. mencoba menolak tubuh kekar max mendekapnya.


"Shanti aku sangat merindukan mu. sejak tadi aku sudah menahan ingin memeluk mu. tapi sepertinya sekarang aku sudah tak bisa menahannya lagi..."


Shanti tak menjawab perkataan Max. ia hanya diam terpaku tanpa membalas pelukan itu.


tubuhnya perlahan bergetar. air mata yang sejak tadi ia tahan tumpah juga. tak ada kata yang mampu ia keluarkan, hanya suara sesenggukan dan air mata yang juga perlahan membasahi kemeja yang di pakai Max.


"aku masih sangat mencintai mu Shanti ku..."


perlahan Max mengusap rambut Shanti yang terurai indah membuat Shanti terus tenggelam dala dekapan dan tangisnya.

__ADS_1


perlahan tanganya membalas pelukan Max yang tak dapat ia pungkiri bahwa ia juga sangat merindukan tubuh itu.


setelah beberapa saat mereka berpelukan Max perlahan melepaskan tubuh Shanti. ia meraih wajah Shanti yang sembab oleh air mata.


perlahan ia hapus air mata itu dan memandang lekat wajah sendu Shanti.


"jangan menangis lagi... matamu bisa bengkak jika seperti ini..."


Shanti hanya mengangguk dan membalas tatapan lembut Max dengan penuh rasa haru.


"Max maafkan aku. aku tak bisa menunggu mu dan tak bisa menjaga cinta mu. aku sadar aku bersalah..."


Shanti diam sejenak menarik nafas nya berat.


"aku ingin kau juga bahagia Max Meski kita tak lagi bisa bersama karena aku sendiri sudah memiliki keluarga..."


lagi Shanti menarik nafasnya yang dirasa semakin sesak.


"lupakan lah aku Max... carilah wanita yang tulus mencintai....."


kata-kata Shanti terputus saat Max dengan berani mencium bibir Shanti.


Shanti diam terpaku. ia sangat terkejut tak menyangka Max akan melakukan hal itu. ia segara menjauhkan wajahnya dari Max dan hendak berbalik membelakangi Max.


tapi kalah cepat dengan tangan Max yang kembali menarik pundaknya dan kembali mencium bibir manisnya.


perlahan Max ******* dan menyesap bibir merah Shanti hingga Shanti ikut terlarut didalamnya dan membalas perlakuan Max.


ciuman yang manis dan penuh rasa rindu dan haru mereka tumpahkan disana. tak ada yang ingin mengakhirinya hingga berlalu beberapa saat.


hingga tiba-tiba Shanti melepaskannya paksa saat merasa nafasnya terasa mencekik.


sekelebat bayangan wajah suaminya melintas di fikiranya membuat Shanti segera berlari keluar dari gudang dan meninggalkan Max yang terpaku menatap punggungnya yang semakin menjauh.


Shanti segera berlari kearah motornya dan tanpa pikir panjang ia pun segera berlalu dari sana.


ia tak sanggup lagi jika harus terus berada disana. tiba-tiba saja fikiranya menjadi sangat kusut.


Shanti melajukan motornya tak tentu arah. ia tak mungkin langsung kembali kerumah dengan wajah yang sembab seperti ini.


suaminya pasti akan bertanya dan curiga apa yang terjadi padanya.

__ADS_1


ia pun juga tak mungkin kembali lagi ke kafe. ia sudah tak sanggup lagi menghadapi Max yang ternyata masih sangat mencintainya dengan tulus.


__ADS_2